PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
C. PembahasanTemuan
Hasil data dari lapangan dari hasil temuan data berdasarkan hasil wawancara, yang dilakukan bahwa proses penjualan produk di tempat relokasi sangatlah memperhatinkan dan tidak sesuai dengan harapan pedagang. Dilihat dari segi tempat, penjualan produk, keutungan harga, bahkan terhadap promosi kepada konsumen sangatlah menurun.
Banyak konsumen yang tidak mengetahui bahwa di dalam pasar ada beberapa lapak menjual barang yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas. Semua komponen tersebut menjadi satu acuan sebagai menurunnya suatu pendapatan mereka dengan berjalannya suatu proses yang di dalamnya terdapat suatu ketabahan pedagang untuk melangsungkan penjualannya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dalam mengetahui kondisi tingkat pendapatan yang dilakukan oleh pedagang kaki lima terhadap kegiatan pemasaran yang ada sistem pelaksanaannya baik dari segi menentukan harga, promosi, dan pendistribusian barang sangatlah kecil harapan yang dilakukan pedagang karena faktor tempat yang kurang strategis. Namun dalam sistem jual beli harus mengetahui suatu bentuk pemasaran baik dari segi tempat, penentuan harga, promosi, dan produk hal ini bertujuan agar konsumen atau pembeli bisa merasa puas dengan barang yang di dapatkannya.
Yang mempunyai suatu tujuan mempertahankan dan meningkatkan penjualan dipasar, perlu usaha penyempurnaan dan
perubahan produk yang dihasilkan kearah yang lebih baik, sehingga dapat memberikan daya guna dan daya pemuas serta daya tarik yang lebih besar.
Dari ulasan diatas bahwa kondisi pendapatan merekan sangatlah menurun disebabkan dari sepinya pembeli hal ini pedagang kaki lima merasa mereka dirugikan terhadap perpindahan tempat untuk melanjutkan usaha berjualannya perpindahan tempat baru ini membuat mereka sangat kecewa karena mereka dalam pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dari hasil berjualan itu sangatlah tidak cukup dalam pemenuhan kebutuhan pedagang kaki lima dalam sehari-harinya
B. Prospek Pendapatan Pedagang Kaki Lima Eks Relokasi Di Pasar Tanjung Kabupaten Jember Tahun 2014
Dari hasil pengamatan dan wawancara yang kami lakukan bahwa terhadap tingkat pendapatan pedagang kaki lima terdapat suatu faktor yang membuat prospek pendapatan pedagang kaki lima tentang tempat dimana tempat relokasi terutama dalam tatanan letak pasar baru ini haruslebih diperhatikan oleh aparat kepemerintahan terutama di Pasar Tegal Besar Jember tatanan pasar kurang strategis bahkan tidak sesuai dengan harapan pedagang kaki lima.
Karena tempat relokasi yang diberikan kepada pedagang kaki lima tidak sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. Waktu pertama direlokasi semua pedagang kaki lima sebanyak 166 pedagang kaki lima saling berebut untuk mendapatkan tempat namun dapat
beberapa bulan semua pedagang merasakan bahwa setiap harinya mereka berjualan sangatlah menurun pendapatannya disebabkan sepinya pembeli dan banyak pembeli yang tidak mengetahui bahwa didalam pasar itu terdapat pertokoan hal ini dipicu karena tatanan atau letak ditempat relokasi ini tidak sesuai, materi yang diberikan masih dasar-dasarnya saja.
Tetapi dengan rasa penuh keterpaksaan mereka tetap memilih, dan menyesuaikan diri terhadap menurunnya tingkat pendapatan pedagang kaki lima serta menyesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar agar mereka mengetahui dengan kondisi dalam pasar bahwa didalam terdapat toko-toko yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat luas.
Namun tempat relokasi ini bukan seperti pasar karena masih minimnya penataan pasar tapi dengan tindakan relokasi ini semua pedagang mengharapkan kedepannya terjadi perubahan yang lebih baik pada kehidupan pedagang. Kenyataannya, dari semua iming pemerintah yang akan di tata tatanan letak relokasi mulai bulan februari sampai agustus belum ada tanda perbaikan tatanan pasar hal ini dapat dilihat bahwa pedagang kaki lima melakukan jual beli tanpa adanya pembinaan terlebih dahulu oleh dinas yang terkait hal ini perlu oleh dinas yang terkait dalam pemerintahan bisa mengambil tindakan agar pedagang tidak merasa dirinya hanya menjadi korban penelantaran di dalam masyarakat sehingga pedagang merasa bahwa mereka orang
lemah yang selalu menjadi wabah penyakit dan pemerintah seolah-olah melakukan tindakan tanpa memikirkan rakyat kecil hal ini bukan membina tapi menindas rakyat kecil.
Dalam proses pembuatan kebijakan, pemerintah seringkali menggunakan perspektif sehingga tidak memberikan ruang terhadap proses negosiasi atau sharing informasi untuk menemukan titik temu antara dua kepentingan yang berbeda. Selama ini, pedagang kaki lima menganggap pemerintah kota tidak pernah memberikan rasionalisasi dan sosialisasi atas kebijakan relokasi yang dikeluarkan, sehingga pedagang kaki lima menaruh rasa curiga bahwa relokasi tersebut semata-mata hanya untuk keuntungan dan kepentingan Pemerintah Kota atas proyek tamanisasi. Selain itu, tidak adanya sosialisasi tersebut mengakibatkan ketidakjelasan konsep relokasi yang ditawarkan oleh pemerintah, sehingga pedagang kaki lima melakukan penolakan terhadap kebijakan relokasi.
Relokasi PKL seharusnya melibatkan PKL mulai dari tahap penentuan lokasi atau tempat baru dari relokasi yang akan dilaksanakan dan waktu kapan harus menempati. Rekomendasi kebijakannya adalah penciptaan pembangunan perkotaan untuk meningkatkan partisipasi dan akses ke proses pengambilan keputusan.
Dalam relokasi yang dilakukan bahwa tidakada suatu bentuk kompensasi terhadap pedagang kaki lima yang direlokasi dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah bahwa pedagang disuruh
menempati tempat relokasi hal ini terdapat suatu bentuk iming-iming yang diberikan oleh pemerintah daerah agar pedagang mau berpindah tempat untuk berjualan. Namun dari apa yang dijanjikan oleh pemerintah daerah sampai saat ini pedagang belum mendapatkan apa yang sudah dijanjikan oleh pemerintah.
Hal ini dirasakan oleh semua pedagang kaki lima terhadap keadaan pendapatan mereka ditempat relokasi, pedagang yang berada di pasar tegal besar mengeluh terhadap menurunnya tingkat pendapatan dengan secara drastis hal ini dilihat dari suatu perbandingan tingkat pendapatan ditempat yang lama terhadap tempat yang baru kalau diprosentasekan bahwa pendapatan pedagang turun sampai kurang lebihnya 50% setiap harinya kadang setiap harinya sesuai pendapat bapak sifaudin mengatakan bahwa setiap hari tidak mendapatkan uang.
Dari faktor inilah sehingga semua pedagang yang bermukim khususnya di pasar tegal besar memilih pergi dari tempat relokasi dikarenakan sepinya pembeli dan tatanan pasar kurang strategis.
Dari pembentukan tatanan ruang dan tatanan wilayah bahwa wilayah perkotaan dengan adanya pedagang kaki lima tersebut dianggap pedagang merusak fasilitas umum semestinya fasilitas tersebut dinikmati oleh masyarakat dengan adanya pedagang kaki lima fasilitas itu tidak dapat digunakan sebagai fasilitas umum hanya dapat digunakan atau dimanfaatkan sebagai fasilitas berjualan. Dari hal inilah dinas-dinas
terkait merelokasi karena mereka menganggap bahwa adanya pedagang kaki lima sangatlah mengganggu ketertiban dan tatanan keindahan kota.
Maka hal inilah pemerintah daerah merelokasi pedagang kaki lima ketempat pinggiran perkotaan bertujuan agar keindahan kota dan tatanan perkotaan menjadi bersih dan asri.
Namun kegiatan relokasi ini dianggap bahwa sangatlah kurang tepatterhadap suatu kebijakan publik yang meliputi tentang suatu bentuk komunikasi. karena apa yang dilakukan pihak dinas pasar terhadap kegiatan relokasi terdapat suatu bentuk diskomunikasi antara petugas pasar dengan pedagang kaki lima.
Faktanya kebijakan public yang dilakukan oleh pemerintah daerah bukannya untuk menentramkan, malah menyengsarakan pedagang. Sedangkan kebijakan yang dilakukan ini menindas kaum miskin, seolah menjadi hal yang lumrah
Dikarenakan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap tempat relokasi, bahwa pedagang kaki lima tidak melaksanakan kebijakan yang seharusnya dilakukan oleh pedagang untuk mentaati aturan yang sudah diberikan oleh pemerintah daerah namun aturan tersebut tidak dilaksanakan oleh pedagang hal ini mencerminkan bahwa kebijakan pemerintah dalam kegiatan relokasi tidak efektif.
Namun peristiwa ini juga dilihat dari suatu sistem pemasaran yang dilakukan oleh pedagang kaki lima belum berjalan secara kondusif
hal ini disebabkan dari sistem ataupun bentuk pemasaran itu sendiri diantaranya dari segi produk, tempat, promosi dan harga tidak berjalan sesuai sistem pemasaran yang ada.
Harapan pedagang setidaknya pemerintah menyediakan tempat terlebih dahulu sebelum melakukan relokasi karena pedagang merasa mereka direlokasi tidak diperhatikan terhadap kesejahteraan pedagang.
Berdasarkan kajian teoritik serta temuan yang disuguhkan dalam bentuk penyajian data serta analisis data mengenai upaya yang dilakukan pedagang kaki lima untuk meningkatkan pendapatan ditempat relokasi tahun 2014 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kondisi Tingkat Pendapatan Pedagang Kaki Lima Eks Relokasi Di Pasar Tanjung Kabupaten Jember Tahun 2014
Berdasarkan dari sebagian pedagang kaki lima di Pasar Tegal Besar Jember mempunyai tanggapan mengenai tingkat pendapatan ditempat relokasi, bahwa relokasi yang dilakukan terhadap pedagang kaki lima sangatlah merugikan pedagang. Dikarenakan pedagang merasakan menurunnya tingkat pendapatannya terhadap penjualannya hal ini diliputi berbagai faktor diantaranya pembeli atau konsumennya sangatlah sepi dibandingkan dtempat asal berjualan yaitu di Pasar Tanjung.
2. Prospek Pendapatan Pedagang Kaki Lima Eks Relokasi Di Pasar Tanjung Kabupaten Jember Tahun 2014
Prospek pedagang kaki lima eks relokasi dipasar tanjung kabupaten jember tahun 2014 bahwa relokasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pedagang kaki lima mendapatkan tindakan yang sangat merugikan terhadap pedagang karena tidak sesuai dengan sesuatu yang harapkan terutama dalam pembinaan rakyat kecil namun
pihak pemerintah melakukan suatu tindakan relokasi terhadap pedagang tidak mengetahui keinginan sebenarnya pedagang tanpa ada pembinaan terlebih dahulu karena tindakan relokasi ini sangat mempengaruhi pedagang yang melakukan kegiatan penjualan semata-mata untuk pemenuhan kebutuhan dalam setiap harinya