• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembandingan Mutu Minyak Nilam Hasil Penyulingan IKM dengan Prototipe

C. PENELITIAN UTAMA

5. Pembandingan Mutu Minyak Nilam Hasil Penyulingan IKM dengan Prototipe

Mutu dan rendemen minyak nilam hasil proses penyulingan ditentukan oleh beberapa hal mulai dari varietas nilam yang digunakan, penanganan bahan pasca panen, proses penyulingan, dan penyimpanan. Varietas daun nilam menentukan jumlah rendemen dan aroma. Varietas yang dianggap unggul yaitu varietas nilam Aceh. Varietas nilam Aceh ini memiliki rendemen yang tinggi dan aroma yang lebih kuat dibandingkan dengan varietas lainnya. Kandungan Patchouly Alcohol (PA) nilam Aceh lebih tinggi.

Penanganan pasca panen daun nilam yang tepat juga dapat meningkatkan rendemen dan mutu minyak nilam (Guenther, 1947). Penanganan pasca panen yang dimaksud yaitu pengeringan dan perajangan yang dilakukan sebelum proses penyulingan. Pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air dalam bahan, sehingga minyak akan lebih mudah disuling. Selain untuk mempermudah penyulingan, pengeringan juga bertujuan untuk menghindari tumbuhnya jamur pada nilam kering yang

belum akan disuling (Santoso, 1990). Begitu pula dengan perajangan yang ditujukan untuk membuka kantung minyak dalam batang dan daun nilam agar minyak lebih cepat keluar saat disuling (Ketaren, 1985). Berikut ini contoh nilam kering yang siap suling.

Gambar 34. Daun dan batang nilam kering

Kondisi proses penyulingan juga memiliki peranan penting dalam menghasilkan kualitas minyak nilam baik dari segi warna, bau, tingkat keasaman, dan kandungan Patchouly Alcohol (PA). Bagian proses penyulingan yang dapat mempengaruhi kualitas minyak nilam hasil sulingan yaitu penerapan tekanan bertahap dalam ketel suling (Lesmayanti, 2004). Titik kritis dari penetapan tekanan dalam ketel adalah pengendalian uap air yang masuk ke dalam ketel dari boiler dan pengendalian laju destilat.

Penyulingan minyak nilam skala IKM umumnya tidaknya menggunakan perlakuan tertentu. Tekanan uap air yang diberikan dalam ketel suling skala IKM sesuai dengan kemampuan boiler skala IKM dalam menghasilkan uap air. Kemampuan boiler skala IKM tersebut tidak terlepas dari besar kecilnya nyala api dalam tungku. Penyulingan minyak nilam dengan peralatan prototipe menerapkan perlakuan tekanan bertahap dalam proses penyulingannya. Adanya perbedaan kondisi penyulingan memungkinkan adanya perbedaan mutu minyak nilam yang dihasilkan. Perbedaan mutu minyak secara keseluruhan hasil penyulingan skala IKM

dengan minyak hasil penyulingan hasil peralatan prototipe dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Perbedaan mutu minyak hasil skala IKM dengan prototipe

No. Parameter Skala IKM Prototipe SNI

06-2385-2006 1. Penampakan warna minyak nilam Kuning agak kecokelatan Kuning kecokelatan Kuning muda-cokelat kemerahan 2. Indeks bias (nD20) 1,488 1,414 1,507-1,515 3. Bobot jenis (t = 20 °C) 0,973 0,953 0,950 – 0,975 4. Putaran optik -53,6 -63,8 (-)48° - (-)65°

5. Bilangan asam 1,51 8,21 Maksimal 8

6. Kelarutan dalam

etanol 90 % 1 : 8,5 1 : 3,5

Maksimal 1 : 10

7. Bilangan ester 5,57 35,58 Maksimal 20

8. Kadar Patchouly

Alcohol (% PA) 35,54 34,45 Minimal 30

a. Pembandingan Rendemen Minyak Hasil Penyulingan Berdasarkan Tekanan dalam Ketel Suling

Efisiensi peralatan penyulingan tentunya akan berpengaruh terhadap rendemen karena rendemen merupakan output dari proses yang dilakukan peralatan penyulingan (Yuhono dan Shinta, 2006). Semakin tinggi efisiensi suatu alat maka semakin tinggi pula output yang dihasilkan dengan energi yang seminimal mungkin. Efisiensi yang tinggi pada proses penyulingan minyak nilam ditandai dengan tingginya minyak yang dapat tersuling dari nilam kering, sehingga mencapai batas maksimal minyak yang terkandung dalam nilam kering.

Efisiensi dan kehilangan panas pada prototipe peralatan penyulingan tidak terlalu dipengaruhi oleh perlakuan tekanan yang dimaksudkan untuk

mempercepat proses penyulingan. Namun perlakuan tekanan dalam ketel selama proses penyulingan akan membawa dampak pada kualitas dan jumlah rendemen minyak nilam yang dihasilkan.

Menurut Yuhono dan Shinta (2006), minyak atsiri yang bermutu tinggi dengan harga pokok relatif rendah (rendemen ≥ 2 %) dapat diperoleh dengan menggunakan peralatan penyulingan yang efisien dan efektif. Rendemen minyak nilam hasil penyulingan skala IKM mencapai 2,30 % (db) dari 2,46 % (db) minyak yang terkandung di dalam nilam kering. Rendemen minyak nilam hasil penyulingan alat prototipe mencapai 2,5 % (db) dari 2,61 % (db). Kehilangan rendemen pada penyulingan skala IKM sebesar 0,16 % (db) sedangkan kehilangan rendemen hasil penyulingan dengan alat prototipe sebesar 0,11 % (db). Berdasarkan data kehilangan rendemen tersebut, penyulingan dengan alat prototipe lebih efisien dalam menghasilkan rendemen yang optimal. Selain itu, penyulingan dengan alat prototipe dapat menghasilkan rendemen yang optimal dengan waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan dengan peralatan penyulingan skala IKM.

Pada Gambar 35 menunjukkan adanya penambahan minyak yang tersuling seiring dengan peningkatan tekanan. Namun demikian, penambahan minyak tersebut akan mencapai batas tertentu dan tidak mengalami penambahan. Hal tersebut dikarenakan minyak dalam bahan telah habis tersuling. Berdasarkan Gambar 35, peningkatan tekanan dari 0,5 bar menjadi 1 bar akan menambah perolehan minyak sebanyak 305,6 gram. Peningkatan tekanan dari 1 bar menjadi 1,5 bar akan menambah perolehan minyak sebanyak 524,8 gram.

Pada tekanan 0,5 dan 1 bar gauge minyak yang tersuling cukup banyak. Hal ini dikarenakan jumlah komponen minyak yang diekstrak dengan titik didih lebih rendah dari 120,42 °C lebih banyak daripada jumlah komponen minyak yang bertitik didih di atas 120,42 °C. Selain itu, peningkatan tekanan menjadi 1,5 bar atau lebih, tidak dapat menyuling lebih banyak minyak. Hal tersebut dikarenakan kandungan minyak dalam daun dan ranting nilam sudah semakin sedikit.

955.4 1,261.0 524.8 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 0.5 1 1.5

Tekanan (bar gauge) Jumlah minyak

nilam (gram)

Gambar 35. Pengaruh peningkatan tekanan terhadap jumlah minyak

b. Pembandingan Warna Minyak Nilam

Warna minyak nilam merupakan salah satu daya tarik dari minyak nilam selain baunya yang khas. Warna minyak nilam dapat rusak bila proses penyulingan dilakukan terlalu lama. Selain waktu proses penyulingan yang terlalu lama, warna minyak nilam dapat rusak karena penggunaan suhu penyulingan yang terlalu tinggi. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan terjadinya kegosongan (burnt) (Lesmayanti, 2004).

Minyak nilam hasil penyulingan skala IKM memiliki warna yang lebih terang dibandingkan dengan minyak nilam hasil penyulingan dengan menggunakan alat prototipe. Perbandingan warna kedua minyak nilam tersebut dapat dilihat pada Gambar 37.

Minyak nilam hasil penyulingan skala IKM memiliki warna yang lebih cerah karena suhu uap yang digunakan tidak terlalu tinggi. Suhu uap yang tidak tinggi dikarenakan tekanan yang diterapkan dalam proses penyulingan tidak lebih dari 1 bar. Oleh karena itu, tekanan juga dapat mempengaruhi perubahan warna minyak (Lesmayanti, 2004).

Gambar 36. Perbandingan minyak hasil penyulingan skala IKM dengan prototipe : (a) minyak nilam hasil penyulingan skala IKM, (b) minyak nilam hasil penyulingan alat prototipe

Warna minyak nilam hasil penyulingan dengan alat prototipe berubah seiring dengan peningkatan tekanan dapat dilihat pada Gambar 37. Pada gambar tersebut, minyak nilam akan cenderung semakin berwarna gelap seiring dengan peningkatan tekanan. Hal tersebut dikarenakan adanya kenaikan suhu yang cenderung membuat minyak menjadi gosong. Warna yang gosong pada minyak nilam sangat dihindari karena dapat menurunkan kualitas bau dari minyak tersebut (Ketaren, 1985).

Gambar 37. Perbandingan minyak nilam per tahapan tekanan : (a) minyak hasil tekanan 0,5 bar, (b) minyak hasil tekanan 1 bar, (c) minyak hasil tekanan 1,5 bar.

(a) (b)

Gambar 37 menunjukkan penerapan tekanan 1,5 bar gauge pada proses penyulingan prototipe akan merusak warna minyak nilam. Pada tekanan tersebut, warna minyak nilam menjadi gelap atau mengalami kegosongan. Dengan demikian, proses penyulingan sebaiknya dilakukan pada tekanan di bawah 1,5 bar gauge agar tidak merusak warna minyak nilam. Kelemahan warna minyak yang dihasilkan pada tekanan 1,5 bar

gauge dapat diatasi dengan mencampurkan minyak hasil penyulingan

dengan tekanan 0,5 bar, 1 bar, dan 1,5 bar dengan perbandingan yang sesuai dengan perolehan minyak tiap tahapannya. Selain itu, agar tidak terjadi kegosongan pada warna minyak nilam yang dihasilkan sebaiknya batas tertinggi penerapan tekanan dalam proses penyulingan kurang dari 1,5 bar

gauge.

c. Pembandingan Indeks Bias

Nilai indeks bias dipengaruhi oleh kekentalan dan kerapatan minyak, semakin tinggi kerapatan minyak maka nilai indeks biasnya semakin tinggi. Kerapatan minyak yang tinggi disebabkan banyaknya komponen minyak yang merupakan fraksi berat yaitu seskuiterpen (Nurjannah, et al., 1991). Menurut Deguerry, et al. (2006), komponen seskuiterpen minyak nilam mayoritas berupa patchoulol.

Berdasarkan data Tabel 16, fraksi berat hasil penyulingan skala IKM lebih besar daripada hasil penyulingan dengan alat prototipe. Hal ini dapat disebabkan oleh waktu penyulingan pada skala IKM yang lebih lama daripada penyulingan dengan alat prototipe. Peningkatan tekanan pada kondisi proses penyulingan prototipe menyebabkan nilai indeks biasnya meningkat. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah fraksi berat dalam minyak sehingga kerapatan molekul minyak semakin tinggi. Keterkaitan peningkatan tekanan terhadap nilai indeks bias dapat dilihat pada Gambar 38.

1.414 1.417 1.415 1.413 1.41 1.411 1.412 1.413 1.414 1.415 1.416 1.417 1.418 0.5 1 1.5 Campuran

Tekanan (bar gauge) Nilai indeks

bias

Gambar 38. Hubungan peningkatan tekanan terhadap nilai indeks bias minyak nilam

Pada Gambar 38 terlihat nilai indeks bias terendah dihasilkan dari kondisi proses penyulingan dengan tekanan 0,5 bar yaitu sebesar 1,413. Nilai indeks bias tertinggi diperoleh dari penyulingan dengan tekanan 1,5 bar sebesar 1,417. Hal tersebut menunjukkan pada tekanan 1,5 bar, komponen yang tersuling merupakan komponen berat yang menyebabkan nilai indeks biasnya tinggi. Selain itu, semakin lama waktu penyulingan maka nilai indeks bias akan semakin meningkat (Guenther, 1947). Pencampuran pada minyak hasil penyulingan prototipe dimaksudkan untuk memperoleh nilai indeks bias minyak secara keseluruhan dalam satu kali proses penyulingan dengan peralatan prototipe.

d. Pembandingan Bobot Jenis

Tinggi rendahnya nilai bobot jenis minyak bergantung pada komponen yang dominan di dalam minyak tersebut. Semakin tinggi bobot jenis minyak nilam maka semakin tinggi kandungan komponen fraksi beratnya. Fraksi-fraksi berat tersebut tentunya memiliki angka bobot molekul yang tinggi (Nurjanah, et al., 1991).

Berdasarkan data Tabel 16, bobot jenis minyak hasil penyulingan skala IKM sebesar 0,973 sedangkan bobot jenis minyak hasil penyulingan

0.953 0.987 0.975 0.914 0.86 0.88 0.9 0.92 0.94 0.96 0.98 1 0.5 1 1.5 Campuran

Tekanan (bar gauge) Nilai bobot

jenis

penyulingan dengan alat prototipe lebih rendah dari skala IKM. Hal ini membuktikan komponen fraksi berat dalam minyak hasil penyulingan dengan alat prototipe lebih sedikit. Hal tersebut juga didukung dari pengujian indeks biasnya.

Peningkatan tekanan dalam kondisi proses penyulingan prototipe dapat mengekstrak komponen fraksi berat. Fraksi berat dalam proses sistem penyulingan prototipe dapat terekstrak dengan menggunakan tekanan 1,5 bar gauge. Semakin tinggi tekanan yang diterapkan dalam kondisi proses penyulingan prototipe maka semakin tinggi bobot jenisnya. Selain itu, semakin lama proses penyulingan maka bobot jenis minyak yang dihasilkan akan semakin tinggi (Guenther, 1947). Hal ini terkait dengan semakin banyaknya komponen fraksi berat yang dapat terekstrak.

Gambar 39. Hubungan peningkatan tekanan terhadap nilai bobot jenis minyak nilam

Berdasarkan Gambar 39 bobot jenis minyak terendah diperoleh dari hasil penyulingan dengan tekanan 0,5 bar sebesar 0,914. Hal tersebut dikarenakan pada kondisi tekanan penyulingan 0,5 bar, komponen yang tersuling merupakan komponen ringan. Nilai bobot jenis tertinggi diperoleh dari proses penyulingan dengan 1,5 bar sebesar 0,967. Bobot jenis minyak secara keseluruhan sebesar 0,953. Bobot jenis minyak keseluruhan tersebut

diperoleh dengan menguji minyak nilam campuran dari hasil proses penyulingan dengan tekanan 0,5 bar, 1 bar, dan 1,5 bar. Dengan demikian, bobot jenis minyak keseluruhan dalam satu kali proses penyulingan dengan peralatan prototipe dapat diketahui.

e. Pembandingan Putaran Optik

Nilai putaran optik dapat dipengaruhi oleh komponen dalam minyak nilam dan lama waktu penyulingan saat proses penyulingan. Bila nilai negatif putaran optik semakin tinggi maka komponen yang memutar bidang polarisasi ke arah kiri lebih banyak. Demikian pula sebaliknya, bila nilai positif putaran optik semakin tinggi maka komponen yang memutar bidang polarisasi ke arah kanan lebih dominan (Ketaren, 1985).

Minyak hasil penyulingan skala IKM memiliki nilai putaran optik yang lebih tinggi daripada minyak hasil penyulingan dengan alat prototipe. Nilai putaran optik minyak nilam hasil penyulingan skala IKM sebesar -53,6 sedangkan minyak hasil penyulingan dengan alat prototipe sebesar -63,8. Dengan demikian, komponen minyak skala IKM lebih bersifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan.

Peningkatan tekanan dalam sistem penyulingan prototipe akan mengekstrak lebih banyak komponen yang bersifat memutar ke kiri. Dengan demikian, semakin tinggi tekanan yang diterapkan dalam kondisi proses penyulingan, maka semakin rendah nilai putaran optiknya. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 40.

-56.3 -66.5 -72.5 -63.8 -80 -70 -60 -50 -40 -30 -20 -10 0 0.5 1 1.5 Campuran

Tekanan (bar gauge) Nilai putaran

optik

Gambar 40. Hubungan peningkatan tekanan terhadap nilai putaran optik minyak nilam

Berdasarkan Gambar 40, nilai putaran optik tertinggi diperoleh dari proses penyulingan dengan tekanan 0,5 yaitu sebesar -56,3. Nilai putaran optik terendah diperoleh dari proses penyulingan dengan tekanan 1,5 bar sebesar -72,5. Komponen berat pada minyak nilam bersifat memutar ke kiri. Dengan demikian, dapat terlihat bahwa minyak nilam yang diperoleh pada tekanan 1,5 bar didominasi dengan komponen berat. Uji nilai putaran optik pada minyak hasil penyulingan dengan tekanan 0,5 bar, 1 bar, dan 1,5 bar dimaksudkan untuk mendapatkan nilai putaran optik dari minyak yang dihasilkan pada satu kali proses penyulingan.

f. Pembandingan Bilangan Asam

Sebagian besar komponen minyak nilam terdiri dari komponen-komponen bersifat asam. Komponen-komponen-komponen bersifat asam ini terdapat pada komponen-komponen dengan bobot molekul tinggi (Zainuddin, Dadan, dan Yanyan, 2004). Komponen-komponen dengan bobot molekul yang tinggi tidak mudah diekstrak. Oleh karena itu diperlukan tekanan bertahap dalam proses penyulingan ini. Namun bila nilai bilangan asam

1.15 6.34 23.69 8.21 0 5 10 15 20 25 0.5 1 1.5 Campuran

Tekanan (bar gauge) Bilangan

asam

terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada minyak yang berupa perubahan bau minyak (Guenther, 1947).

Bilangan asam pada minyak hasil penyulingan skala IKM hanya sebesar 1,51 sedangkan minyak hasil penyulingan dengan alat prototipe bilangan asamnya mencapai 8,21. Tingginya bilangan asam minyak hasil penyulingan dengan alat prototipe disebabkan tingginya suhu penyulingan. Hal tersebut dikarenakan adanya perlakuan tekanan bertahap. Semakin tinggi tekanan yang digunakan selama penyulingan, maka suhu juga akan meningkat. Semakin tinggi tekanan yang digunakan, semakin tinggi bilangan asam minyak nilam (Ketaren, 1985). Fenomena ini dapat dilihat dalam data analisa minyak pada Lampiran 6 dan pada Gambar 41.

Gambar 41. Hubungan peningkatan tekanan terhadap bilangan asam

Pada Gambar 41 terlihat bahwa minyak nilam hasil penyulingan dengan tekanan 0,5 bar memiliki nilai bilangan asam yang terendah yaitu sebesar 1,15. Pada minyak nilam hasil penyulingan dengan tekanan 1,5 bar bilangan asamnya sangat tinggi. Hal tersebut dikarenakan komponen fraksi berat yang tersuling pada tekanan 1,5 bar bersifat asam (Zainuddin, Dadan, dan Yanyan, 2004). Oleh karena itu, agar nilai bilangan asam minyak nilam hasil penyulingan dengan alat prototipe tidak terlalu tinggi, maka diperlukan pencampuran minyak hasil dari ketiga proses penyulingan tersebut. Dengan

pencampuran tersebut, bilangan asam yang dihasilkan tidak terlalu tinggi yaitu sebesar 8,21. Selain itu, untuk mendapatkan minyak nilam dengan bilangan asam yang rendah dapat dilakukan dengan menurunkan tekanan kurang dari 1,5 bar gauge.

g. Pembandingan Kelarutan Alkohol 90 %

Minyak nilam hasil penyulingan skala IKM lebih sukar larut dalam etanol 90 %. Hal ini ditandai dengan tingginya nilai perbandingan kelarutannya yaitu 1 : 8,5. Fenomena sebaliknya terjadi pada minyak hasil penyulingan menggunakan peralatan prototipe. Minyak hasil penyulingan dengan alat prototipe lebih mudah larut dalam alkohol dengan perbandingan 1 : 3.

Kelarutan minyak nilam dalam etanol juga dipengaruhi komponen yang ada di dalamnya. Bila komponen yang lebih dominan di dalam minyak nilam adalah seskuiterpen dan terpen-Onya cenderung sedikit, maka minyak akan sukar larut dalam alkohol. Dengan demikian, komponen yang dominan dalam minyak hasil skala IKM seskuiterpen dan kandungan terpen-Onya kecil. Hal ini seiring dengan hasil pengujian bobot jenis dan indeks biasnya yang cenderung tinggi.

Pada minyak nilam hasil penyulingan dengan peralatan prototipe, peningkatan tekanan menghasilkan minyak nilam yang makin mudah larut dengan alkohol. Hal tersebut dikarenakan kadar patchouly alcohol makin meningkat seiring dengan perlakuan tekanan. Bila kadar patchouly alcohol dalam minyak nilam meningkat maka kelarutan dalam alkoholnya pun meningkat. Hal ini dikarenakan patchouly alcohol termasuk ke dalam golongan seskuiterpen alkohol (Zainuddin, Dadan, dan Yanyan, 2004).

h. Pembandingan Bilangan Ester

Bilangan ester dapat menurun karena adanya hidrolisa ester menjadi asam dan alkohol. Komponen ester dalam minyak nilam merupakan salah satu komponen yang membentuk bau khas pada minyak. Komponen ester

17.5 22.54 57.62 35.58 0 10 20 30 40 50 60 70 0.5 1 1.5 Campuran

Tekanan (bar gauge) Bilangan

ester

sehingga bau khas minyak nilam lebih terasa daripada minyak hasil penyulingan skala IKM.

Bilangan ester akan menurun bila terjadi hidrolisa ester dengan air dan suhu yang terlalu tinggi. Hidrolisa ester akan meningkatkan bilangan asam. Hal tersebut dikarenakan hidrolisa ester akan menghasilkan asam dan alkohol. Semakin tinggi tekanan yang diterapkan dalam kondisi proses, maka semakin tinggi pula suhu yang digunakan. Dengan demikian, semakin tinggi tekanan, semakin tinggi pula bilangan esternya (Guenther, 1947). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 42.

Pada tekanan 1,5 bar bilangan ester dari minyak nilam sebesar 57,62. Dengan demikian, kandungan minyak tersebut sebagian besar didominasi oleh komponen ester. Bau khas nilam lebih menyengat pada minyak hasil penyulingan dengan tekanan 1,5 bar. Hal ini dikarenakan komponen ester yang membentuk aroma khas dari minyak (Ketaren, 1985).

Gambar 42. Hubungan peningkatan tekanan terhadap bilangan ester

i. Pembandingan Kadar Patchouly Alcohol (PA)

Patchouly alcohol (PA) merupakan komponen yang paling penting

dalam minyak nilam. Semakin tinggi kadar PA minyak nilam, maka semakin tinggi harga jualnya. Kadar PA ditentukan dari kualitas jenis nilam yang disuling. Kadar PA minyak nilam hasil penyulingan skala IKM

8.57 49.31 50.86 34.45 0 10 20 30 40 50 60 0.5 1 1.5 Campuran

Tekanan (bar gauge) Kadar Patchouly

Alcohol (%)

hampir sama dengan kadar PA minyak nilam hasil penyulingan dengan peralatan prototipe. Hal ini disebabkan kesamaan penggunaan jenis nilam.

Patchouly alcohol merupakan senyawa seskuiterpen alkohol tersier.

Tidak larut dalam air, larut dalam alkohol, eter atau pelarut organik yang lain. Mempunyai titik didih 280,37 °C dan kristal yang terbentuk memiliki titik leleh 56 °C (Zainuddin, Dadan, dan Yanyan, 2004).

Komponen patchouly alcohol dapat tersuling pada suhu yang agak tinggi. Oleh karena itu, tingginya kadar PA dalam minyak nilam hasil penyulingan dengan peralatan prototipe terdapat pada perlakuan tekanan 1 bar dan 1,5 bar. Pada tekanan tersebut suhu menjadi lebih tinggi, sehingga PA dapat tersuling (Ketaren, 1985). Suhu yang tinggi dikarenakan tekanan yang semakin tinggi dalam ketel. Kadar PA ini dapat dianalisa melalui uji

Gas Chromatography. Hasil uji GC dari minyak hasil penyulingan skala

IKM dan minyak hasil penyulingan dengan peralatan prototipe dapat dilihat pada Lampiran 8 dan Gambar 43.

Gambar 43. Pengaruh tekanan bertahap terhadap kadar Patchouly Alcohol

j. Analisa α-copaene dan Besi (Fe)

Analisa α-copaene dan Fe tidak dilakukan dalam penelitian ini. Namun bila terdapat kandungan α-copaene dan Fe yang melebihi batas maksimum berdasarkan SNI 2006, maka minyak nilam akan mengalami penurunan. Berdasarkan gugus fungsinya α-copaene termasuk ke dalam

golongan terpen yang dapat teroksidasi. Kadar α-copaene yang terlalu tinggi dapat menyebabkan bilangan asam dalam minyak meningkat.

Kandungan Fe dalam minyak hasil penyulingan dengan peralatan prototipe diasumsikan sangat kecil. Hal tersebut dikarenakan penggunaan bahan stainless steel pada peralatan prototipe. Kontaminasi Fe pada minyak nilam dapat menyebabkan perubahan mutu warna minyak nilam (Guenther, 1947).

Dokumen terkait