• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.3 Pembangunan Ekonomi Daerah

Secara umum,pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan umtuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang pengembangan kegitan ekonomi dalam daerah tersebut amat tergantung dari masalah fundamental yang dihadapi oleh daerah itu. Bagaimana daerah mengatasi masalah fundamental yang dihadapi

xliii

ditentukan oleh strategi pembangunan yang dipilih. Dalam konteks inilah pentingnya merumuskan visi dan misi,dan kemudian memilih strategi yang tepat (Kuncoro,2004).

Lincoln Arsyad (1977) mendefenisikan pembangunan ekonomi daerah sebagai suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada serta membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan ekonomi dengan daerah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses,yang mencakup pembentukan-pembentukan institusi baru,pembangunan industri-industri alternatif,perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik,identifikasi pasar- pasar baru,alih ilmu pengetahuan dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru (Lincoln Arsyad,1977).

Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa dianggap sebagai perencanaan untuk memperbaiki sumber-sumberdaya publik yang tersedia di daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumberdaya-sumberdaya secara bertangung jawab. Dalam pembangunan ekonomi diperlukan campur tangan pemerintah. Apabila pembangunan daerah diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme kepasar maka pembangunan dan hasilnya tidak dapat dirasakan oleh seluruh komponen atau daerah secara merata (Lincoln Arsyad,1977).

Menurut pendapat Arsyad (1977) perbedaan keadaan sosial ekonomi di sertiap daerah akan membawa impliaksi bahwa cakupan campur tangan pemrintah

ntuk setiap daerah juga berbeda. Perbedaan tingkat pembangunan antar daerah mengakibatkan perbedaan tingkat kesejahteraan antar daerah. Memusatnya ekspansi ekonomi di sutau daerah dapat disebabkan oleh berbagai hal misalnya konsisi dan situasi alamiah yang ada,letak geografis, dan sebagainya.

Menurut Kuncoro (2004),theory pembangunan yang ada selama ini memang belum berhasil mengupas secara tuntas mengenai kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi yang ada di daerah. karena itu sangatlah penting untuk melakukan perumusan ulang paradigma baru perencanaan pembangunan ekonomi daerah yang lebih komprehensif. Diperlukan suatu sintesis diantara berbagai pendekatan yang ada sehingga bisa dihasilkan rumusan baru tentang paradigma baru pembangunan ekonomi daerah secara lebih tepat.

Salah satu pokok yang harus diperhatikan dalam rangka menerapkan paradigma pembangunan ekonomi daerah yang lebih komprehensif adalah bagaimana proses identifikasi fundamental pembangunan secara lebih realistis. Sedangkan pokok-pokok yang harus diperhatikan untuk menyusun identifikasi fundamental ekonomi pembangunan daerah tersebut adalah

a. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi daerah b. Peningkatan pendapatan perkapita

c. Pengurangan angka kemiskinan,pengangguran dan ketimpangan secara signifikan (kuncoro,2004).

Mengikuti identifikasi yang dilakukan kuncoro (2004),yang dapat digunakan penerapannya di daerah-daerah di Indonesia untuk melakukan evalusi

xlv

atau penilaian pembangunan ekonmi daerah yang terjadi saat ini maka dapat dijelasakan sebagai berukut:

Pendekatan dan Konsep Baru Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah

Komponen Konsep Lama Konsep Baru

Kesempatan Kerja Semakin Banyak

perusahaan = semakin banyak kesempatan kerja

Perusahaan harus mengembangkan

pekerjaan yang sesuai dengan potensi penduduk daerah

Basis pembangunan Pengembangan sektor ekonomi

Pengembangan lembaga- lembaga ekonomi baru Aset-Aset Lokasi Keunggulan komparatif

didasarkan pada asset fisik

Keunggulan kompetitif didasarkan pada kualitas lingkungan

Sumberdaya Pengetahuan

Ketersediaan Angkatan Kerja

Pengetahuan dan Inovasi sebagaipenggerak

ekonomi Sumber : H.M. Safi’I,Msi,2007, Hal 56

Dari pemetaan tersebut dapat dipahami paradigma baru pembangunan ekonomi daerah sangat mengandalkan pada adanya potensi penduduk setempat sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini ukuran keberhasilan bukanlah banyaknya perusahaan yang berdiri,tetapi seberapa besar angakatan kerja dilingkngan sekitar yang berhasil diserap oleh kegiatan pembangunan. Selain itu pertimbangan keberhasilan bukan terletak pada seberapa besar banyak asset fisik yang dimilki

melainkan pada kualitas lingkungan dan pengembangan kelembagaan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat ( Safi’i, 2007).

Proses pembangunan ekonomi daerah pada dasarnya bukanlah sekedar fenomena pembangunan ekonomi semata,pembangunan tidak semata-mata ditunjukkan oleh prestasi pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu Negara,namun yang lebih luas dari itu pembangunan memiliki perspektif luas,terutama perubahan sosial (Safi’I,2007).

Paradigma baru pembangunan ekonomi daerah mengandaikan pembangunan yang ada di daerah mencakup hal berikut :

 Pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi daerah bersangkutan,serta kebutuhan dan kemampuan daerah menjalankan pembangunan.

 Pembangunan daerah tidak hanya terkait dengan sektor ekonomi semata melainkan keberhasilnnya juga terkait dengan faktor lainnya seperti sosial,politik,hokum,budaya,birokrasi dan lainnya.

 Pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai dengan skala prioritas dan memiliki pengaruh untuk menggerakkan sektor lainnya secara lebih cepat.

2.3.1 Teori Albert Hirschman

Albert Hirschman dalam teorinya yang terkenal sebagai ungrowth balance mengatakan bahwa pembangunan berproses melalui difusi pertumbuhan dari leading sector menuju ke logging sektor. Investasi tidak mesti simultan dan diarahkan ke industry strategis,yakni industri yang berkait antara satu sektor dengan sektor yang lain (Hirschman,1958). Keputusan investasi pada sektor yang

xlvii

mempunyai kaitan paling panjang dengan sektor-sektor lain,baik forward linkage maupun backwardlinkage,karena investasi pada sektor lain akan mempunyai imbas yang terpanjang pada sektor lain. Dengan investasi tersebut,sektor tersebut bertumbuh,dan pertumbuhannya akan membantu menumbuhkan pula sektor- sektor yang terkait dengan sektor tersebut.

Dalam pemahaman Hirschman,pembangunan memerlukan prioritas,pilihan lokasi,individu mupun sektor strategis yang juga punya efek

forward dan backward. Hirschman (1958) mengemukakan bahwa di daerah

miskin banyak kendala yang dihadapi pada saat setiap sektor melaksankan strategi kebijakan pertumbuha berimbang. Kendalanya adalah ketakcukupan permintaan,ketakcukupan tabungan dan khususnya ketakcukupan kemampuan keusahawanan.

2.3.2 Theori Nurkse.

Pandangan atau teori Nurkse bertentangan dengan teori Albert Hirschman, Nurkse tekenal dengan The Big Push Theory-nya yang menetang upaya pembangunan yang bersifata gradulaisme dan inkrementalisme. Dimana menurut Nurkse untuk mengatasi diskontinuitas pembangunan perlu “dorongan Besar”melaui investasi simultan di berbagai sektor kegitan ekonomi. Investasi capital sinkronis pada aneka ragam industry merupakan tindakan tepat untuk mengatasi kegagalan pembangunan (Balance Growth).

Permasalahannya adalah bahwa untuk mendukung investasi secara besar- besaran itu memerlukan dana yang besar. Sementara di daerah-daerah miskin,investasi yang rendah justru karena kemiskinan mereka. Nurkse (1957)

dengan mengemukakan vicious circle of poverty menyatakan kemiskinan mengakibatkan rendahnya tabungan,yang pada gilirannya akan mengakibatkan rendahnya investasi. Investasi rendah akan mengakibatkan rendahnya produktivitas yang pada gilirannya akan mengakibatkan rendahnya pendapatan mereka. Sebabnya Nurkse mengusulkan tiga kebijakan meningkatkan tabungan,investasi dan produktivitas.

Pandangan Nurkse sangat berbedan dengan Hirschman (1958) yang menyatakan dalam konsepnya strategi pembangunan ekonomi adanya pilihan orientasi kebijakan antara investasi pada social overhead capital (SOC) atau

Direct Productive Activities (DPA). Pada saat ketesediaan dana pembangunan yang menipis,dan kenyataan bahwa “syarat minimal” ketersediaan prasarana sudah tersedia,cukup tepat untuk mempertimbangkan saran tentang development via shortage (pembangunan melalui kekurangan),sebagai pengganti strategi “pembangunan melalui kapasitas berlimpah” (development via excess capacity).

2.4 Pengertian dan Teori Pertumbuhan Ekonomi

Teori-teori yang menentukan laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan oleh para ahli ekonomi dimana pandangan mereka banyak diarahkan pada pembanguan di Negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijaksanaan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dibidang ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Pertumbuhan ekonomi terjadi apabila

xlix

terdapat banyak out-put yang dihasilkan. Sedangkan pembangunan ekonomi tidak hanya sekedar menekankan pada out-put semata,tetapi juga menekankan pada perusahaan perusahaan dalam kebudayaan dan pengetahuan teknik dalam menghasilkan out-put yang lebih banyak,baik dalam hal perubahan sosial,kebudayaan,dan kebiasaan yang tidak sesuai lagi dengan sasaran pembangunan. Pembangunan ekonomi selalu diikuti oleh pertumbuhan ekonomi tetapi pertumbuhan tidak sebaliknya. Atau dapat diartikan bahwa pertumbuhan merupakan bagian dari pembangunan ekonomi.

Menurut Samuelson (2001),pertumbuhan ekonomi merupakan GNP yang bersumber dari hal-hal sebgai berikut :

1. Pertumbuhan dalam tenaga kerja 2. Pertumbuhan modal

3. Pertumbuhan dalam inovasi dan teknologi

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.perkembangan tersebut dinyatakan dalam bentuk persentase perubahan pendapatan nasional pada tahun tertentu dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pengertian lain menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan suatu kondisi terjadinya perkembangan GNP potensial yang mencerminkan adanya pertumbuhan out-put perkapita dan meningkatnya standard hidup masyarakat. Dalam mengukur pertumbuhan ekonomi nasional,nilai GNP yang digunakan adalah GNP harga konstan,pengaruh perubahan harga (inflasi) tidak

lagi atau sudah dihilangkan dan hanya menunjukkan perubahan kuantitas barang dan jasa.

Teori-teori pertumbuhan ekonomi melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan factor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa teori mengenai pertumbuhan ekonomi :

2.4.1 Model Pertumbuhan Neo-Klasik (Neo Classic Growth Theory)

Robert Solow dan Trevor Swan secara sendiri-sendiri mengembangkan model pertumbuhan ekonomi yang sekarang sering disebut dengan nama model Pertumbuhan Neo-klasik (Boediono,1992). Model Solow –Swan memusatkan perhatiannya pada bagaimana pertumbuhan penduduk,akumulasi kapital,kemajuan teknologi dan out-put saling berinteraksi dalam proses pertumbuhan ekonomi. Dalam Model neo-klasik Solow-Swan dipergunakan suatu bentuk fungsi produksi yang lebih umum,yang bisa menampung kemungkinan berbagai substitusi antar kapital (K) dan tenga kerja.

Dalam sjafrizal(2008),model neo klasik dipelopori oleh George H.Bort (1960) dengan mendasarkan analisisnya pada Teori Ekonomi Neo-klasik. Menurut model ini,pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah tersebut untuk meningkatkan kegiatan produksinya. Sedangkan kegiatan produksi suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh potensi daerah bersangkutan,tetapi juga ditentukan oleh mobilitas tenaga kerja dan mobilitas modal antar daerah.

li

• Tingkat Teknologi dianggap Konstan (tidak ada kemajuan teknologi)

• Tingkat depresiasi dianggap konstan.

• Tidak perdagangan luar negeri atau aliran masuk barang modal.

• Tidak ada sektor pemerintah.

• Tingkat pertambahan penduduk (tenaga kerja) juga dianggap konstan.

• Seluruh penduduk bekerja sehingga pendapatan = jumlah tenaga kerja

Dengan asumsi-asumsi tersebut,dapat dipersempit faktor-faktor penentu pertumbuhan menjadi hanya stok barang dan modal dan tenaga kerja. Lebih lanjut lagi,dapat diasumsikan bahwa PDB perkapita semata-mata ditentukan oleh stok barang dan modal per tenaga kerja.

Jika Q =out-put atau PDB , K= Modal ,dan L= Tenaga Kerja,maka : Y= f(k)

Dimana :

Y = PDB perkapita atau Q/L

2.4.2 Teori Schumpeter

Schumpeter berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kemampuan kewirausahaan (Enterpreneur). Sebab para pengusahalah yang mempunyai kemampuan dan keberanian mengaplikasikan penemuan-penemuan baru dalam aktivitas produksi. Dalam langkah-langkah pengaplikasian penemuan-penemuan baru dalam dunia usaha merupakan langkah inovasi. Termasuk dalam langkah-langkah inovasi adalah penyusunan tehnik- tehnik tahap produksi serta masalah organisasi manajemen,agar produk yang dihasilkan dapat diteriam dipasar.

Menurut pandangan Schumpeter,kemajuan perekonomian kapitalis disebabkan diberinya keleluasaan untuk para entrepreneur (Wirausaha). Namun kekuasaan tersebut cenderung memunculkan monopoli kekuatan pasar. Monopoli

Kurva Ketimpangan Regional

Tingkat Pembangunan Ketimpangan Regional

liii

inilah yang memunculkan masalah-masalah non- ekonomi,terutama sosial politik,yang pada akhirnya dapat menghancurkan system kapitalis itu sendiri.

2.4.3 Teori Pertumbuhan Kuznets

Menurut Kuznets,pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari Negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi pada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri akan dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi,institusional (kelembagaan),dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. Masing-masing dari ketiga pokok dari defenisi itu sangat penting yaitu :

1. Kenaikan out-put secara berkesinambungan adalah manifestasi atau perwujudan dari apa yang disebut dengan pertumbuhan ekonomi sedangkan kemampuan menyediakan berbagai jenis barang itu sendiri merupakan tanda kematangan ekonomi (Economic Matirity) disuatu Negara yang bersangkutan.

2. Perkembangan teknologi merupakan suatu dasar atau pra kondisi bagi berlangsungnya suatu pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan,tetapi tidak cukup itu saja masih dibutuhkan faktor- faktor lainnya.

3. Untuk mewujudkan potensi pertumbuhan yang terkandung didalam teknologi maka perlu diadakan serangkaian penyesuaian kelembagaan,sikap,dan ideology (Todaro,2000:144)

2.4.4 Teori Pertumbuhan Harrod-Domar.

Teori ini dikemukakan oleh Roy F.Harrod (1948) dan Evsey D.Domar (1975) di Amerika serikat. Teori ini berkembang pada waktu bersamaan dengan teori klasik, teori Harrod-Domar didasari pada asumsi :

1. Perekonomian bersifat tertutup

2. Hasrat menabung (MPs =s) adalah konstan.

3. Proses produksi memiliki koefisien yang tetap (Constan Return To Scale) 4. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja adalah konstan dan sama dengan

pertumbuhan penduduk.

Atas dasar asumsi-asumsi khusus tersebut,maka Harrod-Domar membuat analisis dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan jangka panjang yang mantap hanya bisa tercapai apabila terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut :

dimana :

o g = growth ( Tingkat pertumbuhan Out-put) o K= Kapital ( Tingkat Pertumbuhan Modal) o n = Tingkat pertumbuhan angkatan kerja

Harrod-Domar mendasarkan teorinya berdasarkan pada mekanisme pasar (market) tanpa campur tangan pemerintah. Namun kesimpulannya menunjukkan bahwa pemerintah perlu merencanakan besarnya investasi agar terdapat keseimbangan dalam sisi penawaran dan sisi permintaan barang.

lv

2.4.5 Teori Pertumbuhan Rostow

Menurut teori pertumbuhan Rostow pembangunan ekonomi atau transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern merupakan suatu proses yang berdimensi banyak. Dalam bukunya yang berjudul “The Stage

of Economic” (1960), Rostow mengemukakan tahap-tahap dalam proses

pembangunan ekonomi yang dialami oleh setiap Negara pada umumnya dihadapkan pada lima tahap yaitu :

A. Tahap masyarakat tradisional (the tradisional society )

B. Tahap peletakan dasar untuk tinggal landas (the preconditional society)

C. Tahap tinggal landas (the Take-off)

D. Tahap bergerak mennuku kematangan ( the drive to maturity)

E. Tahap era konsumsi tinggi massa ( the age of high mass consumption ) 2.4.6 Teori Jumlah Penduduk Optimal

Teori ini telah lam dikembangkan oleh kaum klasik. Menurut teori ini berlakunya The Law Of Dimisnishing Returns (TLDR) menyebabkan tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika dipaksakan,justru akan menurunkan tingkat out-put perekonomian (Rahardja,2004:127).

Total Produksi

(output)

Pada gambar 2.1,kurva TP1 menunjukkan hubungan antar a jumlah tenaga kerja dengan tingkat out-put (fungsi produksi). Kondisi optimal akan tercapai jika jumlah penduduk (tenaga kerja ) yang terlihat dalam proses produksi adalah L1 ,dengan jumlah Out-put (PDB) adalah Q1. Jika jumlah tenaga kerja

TP2 TP1 Tenaga Kerja 0 L1 L2 Q3 Q1 Q2

lvii

ditambah menjadi L2 PDB justru berkurang menjadi Q2. Hal ini terjadi karena cepatnya terjadi TLDR.

Ada tiga faktor ataupun komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa, ketiga hal itu adalah :

1) Akumulasi Modal

Akumulasi modal meliputi semua bentuk atau jenis investasi yang ditanamkan pada tanah,peralatan fisik,modal ataupun sumber daya manusia. Akumulasi modal terjadi apabila sebagaian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar out-put dan pendapatan dikemudian hari. Investasi produktif yang bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi penunjang yang disebut investasi infrastruktur ekonomi sosial.

2) Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja secara tradisional dianggap sebagain salah satu faktor produksi yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenga kerja yang lebih besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif,sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar yang berarti ukuran pasar domestiknya lebih besar. Dimana positif atau negatifnya pertambahan penduduk bagi upaya pembangunan ekonomi sepenuhnya tergantung pada system perekonomian yang bersangkutan.

3) Kemajuan Teknologi

 Kemajuan teknologi yang netral,terjadi apabila teknologi tersebut memungkinkan kita mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi menggunakan jumlah dan kombinasi faktor in-put yang sama,inovasi yang sederhana,seperti pengelompokan tenga kerja yang mendorong peningkatan output masyarakat.

 Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja,sebagian besar kemajuan teknologi pada abad kedua puluh adalah teknologi yang hemat tenaga kerja,jumlah pekerja yang dibutuhkan dalam berbagai produksi mulai semakin sedikit.

 Kemajuan teknologi yang hemat modal,merupakan fenomena yang relative langka,hal ini dikarenakan hamper semua penelitian dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan di Negara-negara maju dengan tujuan utama menghemat pekerja dan bukan penghemat modal.

Dokumen terkait