• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seorang lagi orang besar Islam yang membanting segenap fikirannya untuk menyelidiki sebab-sebabnya kemunduran ·dan kelemahan kaum Muslimin dan menyelidiki apakah ikhtiar mengobatnya, supaya ia sem-buh kembali, orang itu ialah ahli fikir, pengarang failasof dan alim yang masyhur, Sayid Abdurrahman Al Kawakibi. •

Di zaman hidupnya ahli yang besar itu, Sulthan Abdul Hamid tengah di dalam kuasa yang tidak terbatas, tidak ada kemerdekaan bersuara, ti-dak ada kemerdekaan berfikir. Berpuluh-puluh Ulama dan ahli fikir yang dibuang, dan berpuluh pula pemuda-pemuda Syria yang lari ke negeri Amerika, ahli-ahli siasat yang terbuka mata dibuang atau dibunuh dalam penjara dengan secara gelap, sebagai nasib yang diderita oleh Madhat.

Ulama pengambil muka bekerja keras mensensur kitab-kitab yang ke-luar, kitab Aththariqatul Muhammadiyah dilarang masuk ke Turki. Ha-dits Jihad dan ayat-ayat syahid dilarang keras, takut kena ancam bangsa asing. Menyebut ,,Antal Murad" dilarang, sebab Sulthan Murad disimpan di dalam istana, dituduh gila, dan dialah ymg digantikan Abdul Hamid.

Di mana-mana dipasang mata-mata, mengintip fikiran umum. Yang ber-oleh kemenangan hanyalah Ulama-ulama yang sanggup mengarang kitab-kitab memuji-muji. Maka panjang-panjanglah pujian kepada 'Khalifah di dalam kitab-kitab yang keluar masa itu.

Pada waktu kongkongan kemerdekaan itulah Sayid Abdurrahman AJ Kawakibi mengeluarkan kitabnya.yang pertama yang amat menggoncang-kan singgahsana raja-raja yang zalim. Nama kitab itu Thabai'ul Istibdad.

Dicelanya sekeras-kerasnya pemerintahan sewenang-wenang itu. Dije-laskannya dengan tidak merasa takut bagaimana kerusakan yang disebab-kan sewenang-wenang kepada agama, kepada fikiran, ilmu-pengetahuan, pemerintahan, kesenian, kebudayaan, politik, bahkan seluruh pri kehi-dupan ummat.

Amat hebat kesan kitab itu, yang diterbitkan di zaman ,,tangan besi"

Abdul Hamid. Baru saja keluar telah menggegerkan, dan Sulthan dengan kaki-tangannya dengan segera menjalankan penyitaan, sedangjiwa penga-rangnya terancam.

Tetapi ancaman yang demikian rupa atas dirinya, tidak menyebabkan orang besar itu merasa takut. Dikeluarkannya kitab yang kedua bernama ,,Ummul Qura", isinyapun mengeritik cacat-cacat masyarakat Islam yang telah bobrok itu. Dikhayalkannya satu Kongres dari ahli-ahli fikir Islam seluruh dunia berkumpul di Mekkah (Ummul Qura), mengupas sebab-sebab kemunduran dan kejumudan Ummat Islam di seluruh dunia, se-mua utusan memberitakan keadaan negerinya. Lalo dicari ikhtiar bagai-mana jalan mengobatinya.

Dengan kedua kitab itu saja sudah cukup untuk membangunkan kaum Muslimin daripada tidur nyenyaknya yang telah beratus tahun itu dan cu-kup pula buat menjadi cemeti untuk memukul Raja-raja Islam dan Ula-manya yang kolot, supaya bangun dan insaf akan kesalahannya.

47

Seperti Muhammad Abduh juga, mem . uc faham beliau, supaya dia menerima akan perubahan hidup, Tauhidlah yang harus ditegakkan di da-lam jiwa lebih dahulu. Dan untuk menghilangkan kepincangan pemerin-tahan Raja-raja sewenang-wenang, haruslah didirikan pemerinpemerin-tahan Demokrasi.

Karangan-karangannya itu baru dapat tersiar rata setelah kemenangan Revolusi kaum Turki di tahun 1909, setelah Turki beroleh ,,Undang-Un-dang Dasar" dan dapat jaminan rakyat menyatakan fikiran.

Politikus yang terbesar di Asia di masa ini, Pandit Jawaharlal Nehru, yang luas pula pandangannya tentang dasar-dasar Agama Islam, meskipun beliau bukan seorang Islam, menyatakan bahwasanya cuma di dalam agama Islamlah yang tidak ada ajaran ,,kependetaan", yaitu memberikan kedudukan istimewa dalam agama kepada kepala-kepala agama.

,, Tetapi," kata beliau dalam satu karangannya membicarakan pemben-tukan kota-kota Eropa di zaman tengah.

,,Akhirnya kalangan Islam pun kemasukan juga pengaruh ajaran yang demikian. Lihatlah bagaimana besar pengaruhnya Maulana-maulana, Ma-ulvi-maulvi, Mulla-mulla, Kiyahi-kiyahi, Pak Lebai di dalam agama, se-hingga di waktu belakangan tidak ada bedanya lagi masyarakat Islam de-ngan masyarakat agama-agama yang lain."

Itulah tim bangan yang amat adil daripada seorang pemimpin yang jauh pandangnya dan luas ilmunya.

PEMBANGUN ILMU PENGETAHUAN

Ada pula seorang lagi, yaitu Sir Sayid Ahmad Khan di India. Peranan yang beliau ambil a mat penting. Y aitu Ilmu Pengetahuan.

Pada keyakinan beliau setelah menilik dan menyelidiki jauh, bangsa Barat (sebut Inggeris) tidaklah akan sampai berkuasa sebesar tanah itu di tanah airnya, padahal India 20 kali lebih besar dari tanah Inggeris, kalau bukan kebodohan rakyat India sendiri dan ilmu pengetahuan Barat yang tinggi.

Sebab itu beliau membantah sikap bangsanya, terutama golongan Islam, yang lantaran kebencian dan dendam karena kekalahan, lalu men-jauhi ilmu pengetahuan Inggeris. Padahal golongan yang beragama Hindu lekas insaf dan banyak yang mencampungkan diri ke dalam kancah ilmu pengetahuan Inggeris itu.

Beratus-ratus tahun dahulu sebelum Inggeris datang, kaum Islam men--jadi bangsa yang dipertuan India, dia telah pernah mendirikan Kerajaan-kerajaan Besar. Kekuasaan atas India, diambil oleh lnggeris dari lmperi-um Islam yang besar. Kalau hanya termenung - mengingat kebesaran yang lama, dan tidak hendak mengejar ketinggalan itu dengan ilmu pe-ngetahuan dan hikmat Barat itu sendiri, celaka besarlah yang akan me-nimpa Muslimin. Sebab itu, walaupun menempuh berbagai kesulitan pu-la, sebagaimana kebiasaan hidup orang besar-besar yang bercita-cita

ting-48

gi., dilanjutkannyalah cita-citanya itu, lalu didirikannyalah Aligargh Uni-versity yang masyhur itu, untuk mendidik pemuda-pemuda Islam dengan pengetahuan tinggi, sehingga lantaran yakinnya berhasil juga maksudnya yang mulia itu .. Berpuluh-puluh bintang kebudayaan Islam India di akhir abad ke 19 dan sampai pertengahan abad ke 20 ini kebanyakan melalui Aligargh, seumpama Sir Sayeed Ameer Aly, Sir Mohammad Iqbal, Maula-na Mohammad Ali dan S1yaµkat Ali, Dr. Anshari dan lain-lain, hingga akhirnya kaum Muslimin pun ikut berpacu dalam kemajuan di anak Be-nua India.

49