• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembangunan Peka Konflik dan Pro Bina Dama

Dalam dokumen Binder1 Buku MATASIRI 7 Mei 2014 kecil (Halaman 76-81)

Daftar Gambar

PETA LOKASI PROGRAM MATASIRI DI PULAU SERAM

B. Program MATASIR

C.1. Pembangunan Peka Konflik dan Pro Bina Dama

Sejak awal, berbagai kegiatan yang dilakukan Program MATASIRI dikerangkai sebuah cara pandang yang kami sebut dengan pembangunan peka konlik dan pro bina damai.

Istilah ini kami gunakan sebagai sebuah perspektif dalam mendialogkan berbagai gagasan dengan para stakeholder yang ada di Maluku mulai dari level pemerintah kabupaten/ kota, pemerintah kecamatan, pemerintah negeri atau kelurahan hingga kepada para fasilitator lokal. Dalam me- nyusun buku ini, kami juga menggunakan perspektif pem- bangunan peka konlik dan pro bina damai sebagai ke- rangka berpikir.

Upaya mendialogkan gagasan besar dengan pengetahuan lokal masyarakat tentang pembangunan peka konlik dan pro bina damai kami tempuh misalnya melalui diskusi dalam forum-forum pelatihan. Dalam kegiatan tersebut, selain mentransformasikan ide-ide pembangunan peka konlik dan pro bina damai dari berbagai teori atau perspektif, kami juga belajar dari masyarakat tentang apa itu prinsip pembangunan peka konlik dan pro bina damai. Paling tidak, kami menemukan lima hal yang menjadi pondasi penting dalam pembangunan peka konlik dan pro bina damai yakni rasa saling percaya, mengutamakan keadilan, menjalankan kesetaraan, bersikap anti kekerasan, dan toleransi atau saling menghormati antar pihak. Di antara kelima hal tersebut, rasa saling percaya antar pihak merupakan prinsip paling penting dan mendasar yang mengkerangkai semua prinsip yang ada.

Rasa saling percaya bisa dimaknai sebagai adanya keterbukaan antara semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat. Hal ini sejatinya mencerminkan bahwa masing- masing pihak tidak punya rasa curiga yang berlebihan sehingga bisa memicu ketegangan antar pihak. Dengan kata lain, adanya kecurigaan yang muncul bisa segera

dikonirmasi atau ditanyakan kepada pihak yang dicurigai

Bina Damai Melalui MATASIRI 13

mungkin terjadi. Pada akhirnya, hal utama yang mesti dilakukan adalah mendorong adanya komunikasi yang baik antar pihak. Tanpa ada komunikasi, maka mustahil bisa terbangun sebuah rasa saling percaya.

Selain itu, rasa aman dan damai adalah merupakan kebutuhan mendasar dan menjadi prasyarat awal bagi sebuah desain dan kebijakan pembangunan. Dengan be- gitu, menciptakan kondisi aman dan damai menjadi lang - kah awal yang penting bagi terlaksananya suatu tujuan pembangunan. Dalam konteks daerah pasca konlik, maka desain, kebijakan, dan praktik pembangunan seha- rusnya memberi kontribusi pada upaya bina damai dan menghindarkan masyarakat dari berbagai bentuk kekerasan seperti kemiskinan, penindasan hingga ketidakamanan. Tidak terpenuhinya rasa aman dan damai dalam mencapai kesejahteraan hidup akan mendorong masyarakat atau seorang warga melakukan praktik kekerasan yang pada akhirnya mengancam kelangsungan hidup manusia (Trijono, 2007: 27).

Terciptanya suatu pemerintahan yang mampu melayani dan melindungi warga juga sebetulnya mensyaratkan adanya kondisi aman dan damai serta terbebas dari adanya tekanan atau paksaan. Dalam pembukan Undang Undang Dasar (UUD) 1945, secara tersirat menjelaskan bahwa upaya membentuk suatu pemerintahan yang mampu melayani dan melindungi warga bisa dijalankan ketika diperoleh suatu kondisi bebas yang bisa dinikmati ketika tidak ada lagi penjajahan. Dengan kata lain, ketiadaan penjajahan pada akhirnya mengantarkan pada kebebasan untuk bertindak yang mampu melahirkan pada suatu tatanan pemerintahan yang diharapkan.

Dalam konteks pembangunan peka konlik dan pro bina damai setidaknya didasarkan pada tiga asumsi dasar (Trijono, 2007: 44). Pertama, tujuan pembangunan adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan dalam rangka memenuhi hak-hak dasar dan hak asasi manusia.

Kedua, struktur politik (pemerintahan), ekonomi (pasar), dan sosial (masyarakat) yang menjalankan pembangunan tidak bersifat menekan tetapi justru mendukung kapasitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk memperoleh kesejahtraan dalam bingkai perdamaian.

Ketiga, strategi, desain, dan praktik pembangunan harus peka konlik dan mampu mendorong adanya perdamaian.

Sebagai wilayah yang memiliki beberapa daerah pasca

konlik misalnya Ambon (Maluku), maka pendekatan pem- bangunan sebaiknya memasukkan pendekatan peka kon-

lik dan pro bina damai. Dalam konteks perencanaan

pem bangunan misalnya, maka pendekatan peka konlik dan pro bina damai perlu dikembangkan sejak dalam pro- ses perencanaan pembangunan. Tentu saja, kapasitas (terutama meliputi pengetahuan dan jaringan serta cara berkomunikasi) aktor atau agen sebagai pelaksana pembangunan harus sudah “diisi” dengan cara pandang perdamaian dan mampu memahami atau mengelola konlik.

Dalam sudut pandang perdamaian, desain dan kebijakan pembangunan seharusnya menjadi cara untuk memenuhi pelayanan dasar masyarakat sekaligus membebaskan manusia dari berbagai bentuk kekerasan. Dengan begitu, pembangunan digunakan sebagai sarana untuk mengatasi sumber konlik dan bukan sebagai sarana yang justru “memfasilitasi” berlangsungnya konlik (Trijono, 2007:46).

Secara deinisi, konlik sendiri sebetulnya hubungan

Bina Damai Melalui MATASIRI 15

(incompatibilities) dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Konlik sebetulnya hal yang normal dalam kehidupan. Konlik ini biasanya muncul akibat dari ketidakseimbangan

hubungan antar pihak, misalnya karena status sosial dan kesejahteraan yang timpang, ketidakseimbangan dalam hal akses terhadap sumber daya maupun ketidakseimbangan dalam pengelolaan kekuasaan (Fisher, 2000 : 4).

Salah satu bentuk praktik ketidakseimbangan ini mi- salnya tersisihnya masyarakat marjinal atau masyarakat eks pengungsi (IDPs) dalam kebijakan pembangunan. Sesuai dengan asesmen yang pernah dilakukan IRE (2012), kelompok masyarakat tersebut seringkali tidak terlibat dalam proses pembuatan ke bijakan yang dibuat untuk mereka. Dengan begitu, desain dan kebijakan pembangunan dimaksudkan untuk mempererat dan menyeimbangkan berbagai ke- lompok dalam masyarakat sehingga terjadi pemerataan pembangunan. Dengan kata lain, pembangunan adalah ikhtiar kreatif manusia untuk mengatasi berbagai masalah sosial-politik yang ada di masyarakat.

Dalam situasi yang demikian, desain dan kebijakan pembangunan sudah seharusnya mampu melibatkan semua pihak atau kelompok yang ada di masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan menciptakan skema perencanaan pembangunan yang mampu menyerap semua aspirasi atau usulan dari semua lapisan masyarakat. Keterlibatan masyarakat termasuk masyarakat marjinal diharapkan mampu menghadirkan praktik pembangunan yang membebaskan manusia dari kemiskinan maupun keterbelakangan.

C.2. Pelibatan Masyarakat dalam Perencanaan

Dalam dokumen Binder1 Buku MATASIRI 7 Mei 2014 kecil (Halaman 76-81)