BAB II. DESKRIPSI KAWASAN WILAYAH KPH BALI TENGAH
G. RPH Petang
3. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) Bedugul
Proses panjang birokrasi sampai keluarnya SKB (surat Keputusan Bersama) tiga menteri yaitu Pertambangan, Pertanian dan kehutanan No. 986/Kps/M.PE/1989 yang prematur cacat proses. Selanjutnya SK Direktur Geologi dan Sumberdaya Mineral No.
068/1011/DDJG/1996 jelas-jelas menyebutkan hanya untuk pemberian ijin pengeboran air bawah tanah dengan batas kedalaman 250 meter dengan penyadapan aquifer mulai kedalaman 160-240 meter dengan ukuran jamban sumur 9 5/8 inci. Jadi
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB II - 63 jelas bukan untuk pengeboran air bawah tanah dengan diameter dan kedalaman yang jauh melampaui dan membabat hutan lindung yang disakralkan. Tanpa melalui Dinas Kehutanan Bali, telah dikeluarkannya Rekomendasi Dirjen Kehutanan No. 892/A/VII-4/1996 tanggal 30 September 1996 dan rekomendasi inipun hanya sebatas eksplorasi geothermal sebagaimana yang telah dilakukan. Konsekuensinya muncullah Keppres No. 39/1997 status proyek dan kontrak kerjasama JOC (Joint Operation Contract) dan ESC (Energy Sales Contract) ditunda. Total proyek tertanggal 17/11/1995 dibekukan karena terjadi pelanggaran. Tiba-tiba muncul Keppres No. 15/2002 perihal pencabutan Keppres No. 39/1997, maka mulailah babak baru pembabatan hutan lindung yang disakralkan sebagai kawasan suci cagar alam Watukaru, kawasan hulu sumber air, kesuburan, kesegaran udara paru-paru Bali yang seharusnya tidak terjual semahal berapa pun.
Proses panjang birokrasi sampai keluarnya SKB (surat keputusan bersama) tiga menteri: Pertambangan, Pertanian dan Kehutanan No. 986/K/05/M.PE/1989 yang prematur cacat proses. Selanjutnya SK Direktur Geologi dan Sumber Daya Mineral No.
068/1011/DDJG/1996 jelas-jelas menyebutkan Pemberian Izin Pengeboran Air Bawah Tanah. Batas kedalaman 250 meter dengan penyadapan aquifer mulai kedalaman 160-240 meter, jambang sumur 9 5/8 inci.
Jelas bukan untuk pengeboran geothermal dengan diameter dan kedalaman yang jauh melampaui dan membabat hutan lindung yang disakralkan. Tanpa melalui Dinas Kehutanan Bali, dikeluarkan Rekomendasi Dirjen Kehutanan No. 892/A/VII-4/1996 tanggal 30 September 1996 hanya sebatas eksplorasi geothermal sebagaimana yang telah dilakukan.
Konsekuensinya telah dikeluarkan Keppres No. 39/1997 Status Proyek Ditunda dan Kontrak Kerja Sama JOC/ESC. Total proyek 17/11/1995 dibekukan karena terjadi pelanggaran. Tiba-tiba muncul apa yang disebut sebagai Keppres No. 15/2002 perihal Pencabutan Keppres No. 39/1997, namun perlu disadari, bukan berarti pelanggaran bisa dilanjutkan. Mulailah babak baru pembabatan hutan lindung yang disakralkan kawasan suci CA Batukaru, kawasan hulu sumber air, kesuburan, kesegaran udara paru-paru Bali yang seharusnya tidak di jual semahal berapa pun.
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB II - 64 Seluruh perizinan survai dan eksplorasi geothermal di Bedugul, mulai tahun 1982 sampai tahun 1998, sudah habis masa berlakunya pada tanggal 24 November 1998. setelah terbengkalai hampir enam tahun (1999-2004), Kepala Badan Planologi Kehutanan, Agustus 2004 memberikan izin kegiatan pengeboran eksplorasi panas bumi dan sarana penunjangnya seluas 53,88 ha, yang terdiri atas perpanjangan izin seluas 25,28 ha, dan tambahan izin baru 28,60 ha.
Izin eksplorasi panas bumi di hutan lindung oleh Ka. Badan Planologi perlu di uji keabsahannya dan dampak teknisnya, karena menurut pasal 39 ayat (3) Undang-undang No. 41/1999 tentang Kehutanan seharusnya izin untuk pertambangan yang diberikan adalah izin pinjam pakai oleh Menteri Kehutanan. Pada ayat (5) disebutkan pemberian izin pinjam pakai yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta
bernilai strategis dilakukan oleh Menteri atas persetujuan DPR. Sesuai ketentuan dalam proses izin pinjam pakai oleh menteri seharusnya berdasarkan rekomendasi Gubernur.
Sesuai Undang-undang 27/2003 tentang Panas Bumi, pemberian izin dan pengawasan pertambangan panas bumi diwilayah lintas kabupaten/kota adalah kewenangan Gubernur. Namun, seakan kebijakan di era otda dikesampingkan, investor mengacu pasal 41 Undang-undang 27/2003 yang menyebutkan “Pada saat Undang-undang ini berlaku, semua kontrak kerja sama pengusahaan sumber panas bumi yang telah ada sebelum berlakunya Undang-undang ini, dinyatakan tetap berlaku sampai berakhirnya masa kontrak”. Menurut investor mereka telah melakukan kontrak kerja sama, sebelum Undang-undang 27/2003 ditetapkan. Apakah Joint Operation Contract (JOC) Pertamina dan Bali Energy Ltd. serta Energy Sales Contract (ESC) dengan PLN ini dimaksudkan sebagai kontrak pengusahaan panas bumi ? Bila dikaji kronologinya Pertamina selalu melakukan kontrak kerja (JOC dan ESC) sebelum ada kepastian izin pertambangan dalam kawasan hutan.
Menteri Kehutanan dan atau pemda Bali belum pernah memberikan izin pengusahaan panas bumi (eksplorasi, studi kelayakan dan eksploitasi) di dalam kawasan hutan. Selama ini hanyalah izin penggunaan hutan untuk kegiatan eksplorasi oleh Ka. Badan Palnologi Kehutanan yang dasar hukumnya lemah dan tidak
RENCANA PENGELOLAAN HUTAN_TAHUN 2014 - 2023 – UPT KPH BALI TENGAH BAB II - 65 memperhatikan dampak ekologi dan sosialnya. Izin eksplorasi tidak menjamin adanya keberlanjutan eksploitasi. Bila izin eksplorasi diberikan untuk pengusahaan pertambangan panas bumi, kegiatannya akan membabat hutan untuk koridor jalan, tapak bor dan sarana penunjang lainnya. Seandainya setelah eksplorasi dilakukan studi kelayakan dan ternyata tak layak untuk dieksploitasi (membangun PLTP), lalu siapa yang bertanggung jawab mereklamasi atas hutan-hutan yang dibabat dan sudah diaspal tersebut ?
Kondisi izin seluas 25,28 ha yang sudah dieksplorasi tahun 1997/1998, hutannya sudah ditebang, sekarang berupa jalan aspal, tampak sumur bor dan tanah lapang yang direncanakan untuk sarana penunjang. Sedangkan tambahan izin baru seluas 28,60 ha kondisi sampai saat ini di lapangan masih merupakan hutan alam yang sangat lebat (virgin forest), belum ada kegiatan apa-apa, namun bila izin kepala Planologi dianggap sah, maka akan terjadi penebangan hutan seluas 28,60 ha untuk sarana jalan masuk, tampak bor, dan untuk pembangunan tiga unit turbin PLTP di dalam hutan lindung yang merupakan perekat/pemersatu dan sekaligus buffer zone tiga Cagar Alam (CA) Batukaru, Yaitu CA Gunung Tapak, CA Gunung Pohen dan CA Gunung Lesung.
Berkaitan dengan hal tersebut sesuai surat Gubernur kepada Menteri Kehutanan 1 September 2004 meminta mencabut/membatalkan izin tambahan (perluasan 28,60 ha) atas surat Kepala Badan Planologi Kehutanan Agustus 2004.
pernyataan Bupati/Wali kota se Bali pada tanggal 22 November 2004 bahwa Proyek Panas Bumi, dengan catatan tidak ada penebangan pohon. Hal ini sebenarnya sesuai dan searah dengan maksud surat Gubernur September 2004 yang pada intinya yang hanya mempermasalahkan adanya izin perluasan eksplorasi. (Bali Post, Sabtu, 30 Juli 2005).