• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAYARAN PAJAK

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 131-155)

Indikator Keberhasilan

 Merangkum batas waktu penyetoran atau pembayaran pajak untuk masa pajak dan tahun pajak

 Merangkum sanksi administrasi atas keterlambatan pembayaran pajak

 Menjelaskan batas waktu pembayaran STP, ketetapan dan keputusan

 Menguraikan ketentuan mengangsur atau menunda pembayaran PPh

tahunan

 Menjelaskan jika batas waktu bertepanan hari libur

 Menguraikan tentang ketentuan sarana, tempat, bentuk, dan tata cara melakukan pembayaran pajak

Uraian dan Contoh

Kedudukan pembayaran pajak dalam circumNavigation UU KUP sebagaimana

dalam Gambar 4­1.

Gambar 4­1 Kedudukan Pembayaran Pajak dalam CircumNavigation UU KUP

KEGIATAN BELAJAR 4

Bab ini akan membahas tentang pembayaran pajak yang diatur dalam Pasal 9 dan Pasal 10 Undang­Undang KUP. Skema pembayaran pajak adalah sebagaimana Gambar 4­2.

Gambar 4­2 Skema Pembayaran Pajak

Batas Waktu Pembayaran dan Penyetoran

Pasal 9 ayat (1) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing­masing jenis pajak, paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. Keterlambatan dalam pembayaran

dan penyetoran tersebut berakibat dikenai sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan. Atas kuasa Pasal 9 ayat (1) Undang­Undang KUP tersebut, Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dalam PMK Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetaran Pajak, Penentuan Tempat

KUP

Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak.

Batas Waktu Pembayaran dan Penyetoran Pajak Untuk Masa Pajak

Penetapan tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana Tabel 4­1.1

Tabel 4­1 Batas Waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak

No Jenis Setoran Disetor Paling Lama

1 PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong Pajak Penghasilan

tanggal sepuluh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.

2 PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak

tanggal lima belas bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan

3 PPh Pasal 15 yang dipotong

oleh Pemotong PPh tanggal sepuluh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

4 PPh Pasal 15 yang harus

dibayar sendiri tanggal lima belas bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

5 PPh Pasal 21 yang dipotong

oleh Pemotong PPh tanggal sepuluh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

6 PPh Pasal 23 dan PPh Pasal

26 yang dipotong oleh Pemotong PPh

tanggal sepuluh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

7 PPh Pasal 25 tanggal lima belas bulan berikutnya

setelah Masa Pajak berakhir

8 PPh Pasal 22, PPN atau

PPN dan PPnBM atas impor bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor

9 PPh Pasal 22, PPN atau

PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut oleh DJBC

Dalam jangka waktu satu hari kerja setelah dilakukan pemungutan pajak 10 PPh Pasal 22 yang dipungut

oleh bendahara pada pelaksanaan hari yang pembayaran sama dengan atas penyerahan barang yang dibiayai dari APBN/D, dengan menggunakan SSP atas nama rekanan dan ditandatangani oleh bendahara

No Jenis Setoran Disetor Paling Lama

11 PPh Pasal 22 atas

penyerahan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas kepada penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh Wajib Pajak badan yang bergerak dalam bidang

produksi bahan bakar

minyak, gas, dan pelumas

tanggal sepuluh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

12 PPh pasal 22 yang

pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan tertentu sebagai Pemungut Pajak

tanggal sepuluh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

13 PPN atau PPn dan PPnBM yng terutang dalam satu Masa Pajak

tanggal lima belas bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

13a PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena

Pajak tidak berwujud

dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean harus disetor oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena

Pajak tidak berwujud

dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean

tanggal lima belas bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak

14 PPN atau PPN dan PPnBM

yang pemungutannya

dilakukan oleh Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerintah yang ditunjuk

tanggal tujuh bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

14a PPN atau PPN dan PPnBM

yang pemungutannya

dilakukan oleh Pejabat

Penandatangan Surat

Perintah Membayar sebagai

Pemungut PPN, harus

disetor

pada hari yang sama dengan

pelaksanaan pembayaran kepada PKP Rekanan Pemerintah melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

15 PPN atau PPN dan PPnBM

yang pemungutannya

dilakukan oleh Pemungut PPN selain Bendahara Pemerintah atau instansi Pemerintah yang ditunjuk

tanggal lima belas bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir

KUP

No Jenis Setoran Disetor Paling Lama

16 PPh Pasal 25 bagi Wajib

Pajak dengan kriteria

tertentu sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang­Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa

pada akhir Masa Pajak terakhir

17 Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib

Pajak dengan kriteria

tertentu sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang­Undang KUP yang melaporkan beberapa masa pajak dalam satu SPT Masa

sesuai dengan batas waktu untuk masing­ masing jenis pajak

Pasal 2A PMK­80/PMK.03/2010 sebagai perubahan PMK­184/PMK.03/2007

menetapkan tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak harus disetor paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan sebelum SPT Masa PPN

disampaikan. Hal ini untuk mengakomodasi ketentuan Pasal 15A Undang­

undang Nomor 42 tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang­undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa dan PPnBM yang diundangkan setelah UU KUP. Sehingga dalam UU PPN yang merupakan hukum material terdapat ketentuan hukum formal.

Batas Waktu Pembayaran Pajak dalam SPT Tahunan

Pasal 9 ayat (2) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum SPT Pajak Penghasilan disampaikan.2 Ketentuan ini berhubungan

dengan ketentuan batas waktu penyampaian SPT sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (3) Undang­Undang KUP.

Sanksi Administrasi Atas Keterlambatan Pembayaran Pajak

Pasal 9 ayat (2) Undang­Undang KUP mengatur bahwa pembayaran atau penyetoran pajak untuk masa pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan. Untuk jelasnya cara penghitungan bunga tersebut diberikan contoh sebagai berikut:

Angsuran masa Pajak Penghasilan Pasal 25 PT A tahun 2008 sejumlah Rp 10.000.000,00 per bulan. Angsuran masa Mei 2008 dibayar tanggal 18 Juni 2008 dan dilaporkan tanggal 19 Juni 2008. Apabila pada tanggal 15 Juli 2008 diterbitkan STP, sanksi bunga dalam STP dihitung satu bulan sebagai berikut:

1 x 2% x Rp 10.000.000,00 = Rp

200.000,00.

Pasal 9 ayat (2b) Undang­Undang KUP mengatur bahwa atas pembayaran atau penyetoran pajak untuk Pajak Penghasilan Setahun yang dilakukan setelah

tanggal jatuh tempo penyampaian SPT Tahunnan, dikenai sanksi

administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan penuh satu bulan.

Batas Waktu Pembayaran STP, Ketetapan dan Keputusan

Pasal 9 ayat (3) Undang­Undang KUP mengatur bahwa STP, SKPKB, serta SKPKBT, dan SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterbitkan.

Pasal 9 ayat (3a) Undang­Undang KUP mengatur bahwa bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu, jangka waktu pelunasannya dapat

KUP

diperpanjang paling lama menjadi dua bulan yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan PMK.3

Wajib Pajak usaha kecil terdiri dari Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan,4 harus memenuhi kreteria sebagai berikut:

1. Wajib Pajak orang pribadi usaha kecil:5

a. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri; dan

b. Menerima atau memperoleh peredaran usaha dari kegiatan usaha atau menerima penerimaan bruto dari pekerjaan bebas dalam Tahun Pajak sebelumnya tidak lebih dari Rp600.000.000,00.

2. Wajib Pajak badan usaha kecil:6

a. modal Wajib Pajak badan 100% dimiliki oleh Warga Negara Indonesia; b. menerima atau memperoleh peredaran usaha dalam Tahun Pajak

sebelumnya tidak lebih dari Rp900.000.000,00.

Sedangkan Wajib Pajak di daerah tertentu adalah Wajib Pajak yang tempat tinggal, tempat kedudukan, atau tempat kegiatan usahanya berlokasi di daerah tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.7

Mengangsur atau Menunda Pembayaran PPh Tahunan

Pasal 9 ayat (4) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Dirjen Pajak atas

permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau

menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran yang terutang

berdasarkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan paling lama 12 (dua belas) bulan, yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan PMK. Atas permohonan Wajib Pajak, Dirjen Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak yang terutang termasuk kekurangan pembayaran Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan meskipun tanggal jatuh tempo pembayaran telah ditentukan.

3 PMK dmaksud adalah PMK Nomor 187/PMK.03/2007 4 Pasal 1 ayat (1) PMK 187/PMK.03/2007

5 Pasal 2 ayat (2) PMK 187/PMK.03/2007 6 Pasal 2 ayat (3) PMK 187/PMK.03/2007 7 Pasal 3 PMK 187/PMK.03/2007

Kelonggaran tersebut diberikan dengan hati­hati untuk paling lama dua belas bulan dan terbatas kepada Wajib Pajak yang benar­benar sedang mengalami kesulitan likuiditas.

Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan secara tertulis kepada Dirjen Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak yang masih harus dibayar dalam STP, SKPKB, SKPKBT, SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang terutang bertambah, serta Pajak Penghasilan Pasal 29.

Permohonan tersebut, harus diajukan paling lama sembilan hari kerja sebelum saat jatuh tempo pembayaran utang pajak berakhir disertai alasan dan jumlah pembayaran pajak yang dimohon diangsur atau ditunda.8 Apabila ternyata batas

waktu sembilan hari kerja tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak karena keadaan di luar kekuasaannya, permohonan Wajib Pajak masih dapat dipertimbangkan oleh Dirjen Pajak sepanjang Wajib Pajak dapat membuktikan kebenaran keadaan di luar kekuasaannya tersebut.9

Dirjen Pajak menerbitkan SK atas permohonan berupa menerima seluruhnya, menerima sebagian, atau menolak, paling lama tujuh hari kerja setelah tanggal diterimanya permohonan.10 Apabila jangka waktu telah lewat, Dirjen Pajak tidak

memberi suatu keputusan, permohonan Wajib Pajak dianggap diterima.11 SK yang

menerima seluruhnya atau sebagian, dengan jangka waktu masa angsuran atau penundaan tidak melebihi dua belas bulan dengan mempertimbangkan kesulitan likuiditas atau keadaan di luar kekuasaan Wajib pajak.12 Terhadap utang pajak

yang telah diterbitkan SK tidak dapat lagi diajukan permohonan untuk mengangsur

atau menunda pembayaran.13

Jika Batas Waktu Bertepanan Hari Libur

Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pembayaran atau 8 Pasal 10 ayat (1) PMK-184/PMK.03/2007 9 Pasal 10 ayat (2) PMK-184/PMK.03/2007 10 Pasal 11 ayat (1) PMK-184/PMK.03/2007 11 Pasal 11 ayat (2) PMK-184/PMK.03/2007 12 Pasal 11 ayat (3) PMK-184/PMK.03/2007

KUP

penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.14 Hari libur

nasional tersebut termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.15

Sarana Melakukan Pembayaran Pajak

Pasal 10 ayat (1) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Wajib Pajak wajib

membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan menggunakan SSP ke kas

negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan PMK. SSP adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.16 Pembayaran dan

penyetoran pajak harus dilakukan dengan menggunakan SSP atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan SSP. 17 Surat Setoran Pabean, Cukai,

dan Pajak, yang selanjutnya disebut dengan SSPCP adalah surat yang digunakan untuk melakukan pembayaran dan sebagai bukti pembayaran atau penyetoran

penerimaan negara.18 Dalam UU KUP hanya menyebutkan sarana pembayaran

pajak adalah SSP kemudian dalam PMK disebutkan selain SSP juga bisa dengan sarana administrasi lain yang disamakan dengan SSP.

Pasal 10 ayat (1a) Undang­Undang KUP mengatur bahwa SSP berfungsi sebagai

bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan PMK. SSP atau sarana administrasi lain tersebut berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi.19 SSP atau sarana administrasi lain tersebut dianggap sah

apabila telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Pajak (NTPN).20

14 Pasal 3 ayat (1) PMK 184/PMK.03/2007 15 Pasal 3 ayat (2) PMK 184/PMK.03/2007 16 Pasal 1 ayat (1) PER-38/PJ/2009 17 Pasal 5 ayat (1) PMK 184/PMK.03/2007 18 Pasal 1 ayat (2) PER-38/PJ/2009 19 Pasal 5 ayat (2) PMK 184/PMK.03/2007 20 Pasal 5 ayat (3) PMK 184/PMK.03/2007

Pasal 10 ayat (2) Undang­Undang KUP mengatur bahwa tata cara pembayaran, penyetoran pajak, dan pelaporannya serta tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak diatur dengan atau berdasarkan PMK. Adanya tata cara pembayaran pajak, penyetoran pajak, dan pelaporannya, serta tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak yang diatur dengan atau berdasarkan PMK diharapkan dapat mempermudah pelaksanaan pembayaran pajak dan administrasinya.

Tempat Pembayaran Pajak

Pasal 10 ayat (1) Undang­Undang KUP selain mengatur sarana pembayaran dan penyetoran juga tempat pembayaran, yaitu melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan PMK. Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan di Kantor Pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.21

Penunjukkan Bank sebagai bank persepsi diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 5/KMK.01/1993 tentang Penunjukan Bank Sebagai Bank Persepsi Dalam Rangka Pengelolaan Penerimaan Negara. Pengertian yang berhubungan dengan bank sebagai tempat pemabayaran pajak antara lain:22

a. Bank Persepsi adalah bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk menerima setoran penerimaan negara bukan dalam rangka impor, yang meliputi penerimaan pajak, cukai dalam negeri dan penerimaan negara bukan pajak;

b. Bank Devisa Persepsi adalah Bank Devisa yang menerima setoran penerimaan negara dalam rangka ekpor dan impor;

c. Bank Tunggal adalah Bank Indonesia yang mengelola penerimaan dan pengeluaran yang membebani Rekening Kas Negara;

d. Bank Operasional I adalah Bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk mengelola penerimaan dan pengeluaran yang membebani Rekening Kas Negara, dalam daerah dimana tidak terdapat Bank Indonesia.

KUP

Tidak semua bank dapat ditunjuk menjadi bank tempat pembayaran pajak. Untuk dapat ditunjuk sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi, Bank harus memenuhi syarat­syarat sebagai berikut:23

a. mempunyai status sebagai Bank Umum;

b. memenuhi kriteria tingkat kesehatan selama 12 (duabelas) bulan terakhir minimal tergolong cukup sehat;

c. didukung dengan peralatan yang memadai;

d. bersedia mematuhi ketentuan­ketentuan yang berlaku; dan

e. bersedia diperiksa atas pelaksanaan pengelolaan setoran penerimaan negara yang diterima.

Penunjukan sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berlaku baik bagi Kantor Pusat maupun seluruh cabang­cabang Bank yang bersangkutan.24 Untuk dapat menerima penyetoran penerimaan pajak,

Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi harus memenuhi syarat tambahan sebagai berikut:25

a. memiliki jaringan sistem informasi yang terhubung langsung secara on-line

antara kantor pusat dan seluruh atau sebagian kantor cabangnya;

b. memiliki sistem informasi yang dapat dihubungkan secara on­line dengan sistem informasi DJP dan Direktorat Jenderal Anggaran; dan

c. mendapatkan pertimbangan tertulis dari Dirjen Pajak.

Untuk dapat menerima penyetoran penerimaan Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, dan Pajak Dalam Rangka Impor, Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi harus memenuhi syarat tambahan sebagai berikut:26

a. memiliki jaringan sistem informasi yang terhubung langsung secara on­line antara Kantor Pusat dan Kantor Cabangnya;

23 Pasal 2 ayat (1) PMK No 5/PMK.01/1993 sebagaimana telah diubah dengan PMK No 296/KMK.03/2003 24 Pasal 2 ayat (2) PMK No 5/PMK.01/1993 sebagaimana telah diubah dengan PMK No 296/KMK.03/2003 25 Pasal 2 ayat (3) PMK No 5/PMK.01/1993 sebagaimana telah diubah dengan PMK No 296/KMK.03/2003 26 Pasal 2 ayat (4) PMK No 5/PMK.01/1993 sebagaimana telah diubah dengan PMK No 296/KMK.03/2003

b. memiliki sistem informasi yang dapat dihubungkan secara on­line dengan sistem EDI Kepabeanan; dan

c. mendapatkan pertimbangan tertulis dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Untuk dapat ditunjuk sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi, Direksi bank yang bersangkutan mengajukan surat permohonan kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Anggaran dengan tembusan disampaikan kepada

Direksi Bank Indonesia.27 Surat permohonan tersebut diajukan dengan

melampirkan dokumen sebagai berikut:28

a. mempunyai status sebagai Bank Umum;

b. memenuhi kriteria tingkat kesehatan selama duabelas bulan terakhir minimal tergolong cukup sehat;

c. didukung dengan peralatan yang memadai;

d. bersedia mematuhi ketentuan­ketentuan yang berlaku; dan

e. bersedia diperiksa atas pelaksanaan pengelolaan setoran penerimaan negara yang diterima.

Persetujuan atau penolakan atas permohonan untuk ditunjuk sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi harus sudah ditetapkan selambat­lambatnya dalam batas waktu tigapuluh hari sejak diterimanya kelengkapan surat permohonan dari Direksi Bank yang bersangkutan.29

Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi yang ditunjuk wajib melimpahkan setoran penerimaan negara kepada Bank Tunggal/Bank Operasional I setiap tiga hari sekali dan pada akhir bulan kecuali setoran penerimaan negara pada akhir tahun anggaran.30 Dalam hal batas waktu tersebut jatuh pada hari libur, maka waktu

pelimpahan dilaksanakan pada hari kerja berikutnya.31 Pelimpahan penerimaan

negara pada akhir tahun anggaran ditetapkan oleh Direktur Jenderal Anggaran.32

27 Pasal 3 ayat (1) PMKNo 5/PMK.01/1993 28 Pasal 3 ayat (2) PMKNo 5/PMK.01/1993 29 Pasal 3 ayat (3) PMKNo 5/PMK.01/1993 30 Pasal 4 ayat (1) PMK No 5/PMK.01/1993 31 Pasal 4 ayat (3) PMK No 5/PMK.01/1993

KUP

Terhadap Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi yang terlambat atau tidak melimpahkan setoran penerimaan negara sampai batas waktu yang ditetapkan, dikenakan sanksi administrasi berupa denda bunga sebesar 3% perbulan dari jumlah setoran penerimaan negara yang seharusnya dilimpahkan.33 Tata cara

penerimaan, penatausahaan, pelaporan setoran penerimaan negara, dan pengenaan saksi diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Anggaran, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Direktur Jenderal Pajak dan Direksi Bank Indonesia.34

Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi wajib memenuhi ketentuan penyetoran penerimaan negara.35 Dalam hal Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi melanggar

ketentuan tersebut, Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Anggaran memberikan peringatan sesuai dengan jenis dan tingkat kesalahan yang dilakukan.36 Apabila peringatan dimaksud telah diberikan sampai dengan tiga kali

dan belum juga diindahkan, maka Menteri Keuangan dapat mencabut penunjukan bank sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi.37

Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi dilarang mengadakan kerjasama dengan bank yang tidak ditunjuk/ditetapkan sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi atau dengan kantor pos dan giro dalam rangka pengelolaan setoran penerimaan negara.38 Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat berakibat dicabutnya

penunjukan sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi tanpa peringatan terlebih dahulu.39

Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi selama jam buka kas wajib menerima setiap setoran pajak dari Wajib Pajak tanpa melihat jumlah pembayaran.40 Dalam hal

Wajib Pajak membayar pajak melalui Teller, Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi

tidak dibenarkan mengenakan biaya atas transaksi pembayaran pajak.41 Dalam

hal Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi melanggar ketentuan tersebut, Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Anggaran memberikan peringatan sesuai 33 Pasal 4 ayat (4) PMK No 5/PMK.01/1993 34 Pasal 4 ayat (5) PMK No 5/PMK.01/1993 35 Pasal 5 ayat (1) PMK No 5/PMK.01/1993 36 Pasal 5 ayat (2) PMK No 5/PMK.01/1993 37 Pasal 5 ayat (3) PMK No 5/PMK.01/1993 38 Pasal 6 ayat (1) PMK No 5/PMK.01/1993 39 Pasal 5 ayat (2) PMK No 5/PMK.01/1993 40 Pasal 6A ayat (1) PMK 296/KMK.03/2003 41 Pasal 6A ayat (2) PMK 296/KMK.03/2003

dengan jenis dan tingkat kesalahan yang dilakukan.42 Pengawasan atas Bank

Persepsi/Bank Devisa Persepsi dalam rangka pengelolaan setoran penerimaan negara dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran dan Bank Indonesia, sesuai

dengan kewenangannya masing­masing.43 Bank­bank yang telah berfungsi Bank

Persepsi/Bank Devisa Persepsi pada saat keputusan ini mulai berlaku, secara otomatis tetap berstatus sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi tanpa mengajukan permohonan untuk ditunjuk sebagai Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi.44

Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi yang belum memenuhi persyaratan, tetap dapat menerima setoran penerimaan pajak sampai dengan tanggal 30 Juni 2003.45

Unit Pelayanan Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi seperti Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas dan sejenisnya yang telah dapat melakukan administrasi penerimaan pajak secara on-line wajib menerima setoran penerimaan pajak secara on-line.46 Unit pelayanan Bank Persepsi/Bank Devisa

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 131-155)