• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DI SEKOLAH DASAR

Dalam dokumen PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELAL (Halaman 38-46)

KELAS IV SDN KEDUNGKANDANG II MALANG

PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL DI SEKOLAH DASAR

Ari Metalin Ika Puspita

Program Studi Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Malang Email: [email protected]

Abstrak

Pembelajaran berbasis kontekstual merupakan proses dari belajar yang menghubungkan konsep yang dipelajari siswa dengan lingkungan terdekat siswa, sehingga menimbulkan sinergi antara penerapan pengetahuan yang telah didapat siswa dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pendekatan alamiah pengetahuan yang akan dipelajari. Pembelajaran kontekstual di sekolah dasar mampu memberikan penekanan pada siswa tentang penggunaan berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, pemodelan, informasi, dan data dari berbagai sumber yang mengaitkan dengan lingkungan sekitar siswa.

Kata kunci : Pembelajaran kontekstual, sekolah dasar Abstract

Contextual-based learning is a learning process that connect the concepts students learning and immediate students environment, it can make synergy between the application of knowledge that has been gained students with real-life students. Contextual learning can be regarded as a learning approach that emphasizes the natural approach to knowledge that will be studied. Contextual learning in primary school can give emphasis to the students about the use of higher-order thinking, knowledge transfer, modeling, information, and data from various sources that relates to the environment students.

Key words: Contextual-based learning, primary school PANDAHULUAN

Pada usia sekolah dasar masih berada pada tahap operasional konkret. Pemaknaan dalam materi pembelajaran pada usia ini masih secara utuh. Akan tetapi kenyataan di lapangan peran siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran kurang dimaksimalakan, keterlibatan siswa untuk memecahkan masalah terbatas. Guru masih memiliki peran dominan sebagai pengatur,

pelaksana, dan penilai di dalam

pembelajaran. Sedangkan peran siswa

mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru, tanpa diberi kesempatan untuk menggali pengetahuan yang mereka temui sendiri.

Permasalahan tersebut akan

berakibat siswa kurang kreatif, malas, konsumtif, dan pasif . Situasi pembelajaran yang demikian tidak memberi kesempatan

kepada siswa untuk mengembangkan

kompetensi yang dimiliki. Sehingga untuk

diharapakan cenderung hanya sebagai tulisan semata tanpa hasil yang diperoleh pada saat pembelajaran.

Pemecahan yang sesuai untuk

permasalahan tersebut adalah melibatkan siswa secara aktif untuk mengikuti proses pembelajaran. Sehingga guru harus mampu

mengolah proses pembelajaran yang

merangsang siswa untuk menggali,

menemukan, dan memecahkan

permasalahan yang siswa temukan.

Dalam sebuah pembelajaran,

pendekatan dalam pembelajaran sangat dibutuhkan untuk menentukan keberhasilan dari proses pembelajaran. Faktor-faktor yang menjadi dasar agar pembelajaran

dikatakan berhasil meliputi, kualitas

pengajar, strategi pembelajaran, penggunaan variasi mengajar, sarana dan prasarana yang mendukung, bahan pembelajaran, dan teknik penilaian yang tepat. Hal yang terpenting selain faktor-faktor tersebut yang juga harus diperhatikan adalah penggunaan pendekatan pembelajaran. Penggunaan pendekatan yang

sesuai akan menjadikan pembelajaran

bermakna.

Salah satu pendekatan yang sesuai

dengan prinsip pembelajaran yang

mengaktifkan siswa adalah pembelajaran berbasis kontekstual. Pembelajaran berbasis kontekstual membawa kehidupan nyata siswa di dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran berbasis kontekstual

membantu siswa mengembangkan aspek

afektif, kognitif, dan psikomotorik.

Pembelajaran kontekstual adalah

pembelajaran yang berusaha mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa mengubungkan

pengetahuan yang dimiliki dengan

kehidupan mereka sehari-hari (Blancard, 2001 dan Johnson, 2002).

Untuk mewujudkan pembelajaran yang memiliki karakteristik seperti di atas, proses pembelajaran harus menekankan pada:

making meaningful connection,

constructivism, inquiry, critical and creative thinking, learning community, dan using authentic assessment.

Menurut University of Washington, beberapa strategi pembelajaran berikut ini menempatkan siswa dalam konteks berbasis Kontekstual. Pembelajaran autentik, yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam konteks sebenarnya, yaitu kehidupannya sehari-hari (daily lives). Pembelajaran berbasis inkuiri, yaitu strategi pembelajaran yang berpola pada metode

ilmiah, observasi dilakukan, masalah

ditemukan, dirumuskan hipotesis, kemudian hipotesis diuji dengan eksperimen, sehingga

diperoleh kesimpulan. Pembelajaran

berbasis masalah, yakni pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah dunia nyata (real-world) sebagai konteks bagi siswa

untuk berpikir kritis dan melatih

Berdasarkan permasalahan di atas memunculkan beberapa pertanyaan:

1. Bagaimana pembelajaran berbasis kontekstual di sekolah dasar? Langkah pembelajaran berbasis kontekstual pada sekolah dasar 2. Bagaiamana pembelajaran berbasis kontekstual dapat memberikan pembelajaran bermakna di sekolah dasar? Pemaknaan pembelajaran berbasis kontekstual pada anak

usia dini dan sekolah dasar.

Pembelajaran kontekstual di sekolah dasar

Pembelajaran berbasis kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu

guru mengaitkan antara materi yang

diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota dan masyarakat (Trianto:2008). Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong

siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Depdiknas:2002). Pembelajaran berbasis kontekstual mengarahkan siswa untuk belajar dari pengetahuan yang siswa

dapatkan dan dihubungkan dengan

kehidupan sehari-hari. Pembelajaran

berbasis kontekstual menekankan siswa untuk belajar secara utuh sehingga informasi dan pengetahuan yang siswa temui dapat diserap dengan baik dan bertahan lama.

Permasalahan tentang perlunya

pembelajaran berbasis kontekstual

didasarkan adanya kenyataan yang ditemui di lapangan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan

bagaimana pemanfaatannya dalam

kehidupan nyata. Hal ini karena pemahaman konsep akademik yang siswa peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak,

belum menyentuh kebutuhan praktis

kehidupan siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Pembelajaran yang selama ini siswa terima hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian rentetan topik atau pokok bahasan, tetapi tidak diikuti dengan pemahaman atau pengertian yang mendalam, yang bisa diterapkan ketika siswa berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran berbasis kontektual mempunyai karakteristik yaitu: (1) membuat hubungan penuh makna, (2) melakukan pekerjaan penting, (3) belajar mengatur sendiri, (4) kerjasama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) memelihara individu, (7) mencapai standar tinggi, (8) penggunaan penilaian sebenarnya (Johnson:2002). Pada pembelajaran berbasis kontekstual guru

harus mampu merancang sebuah pembelajaran yang mampu membekali siswa

untuk membuat hubungan antara

pengetahuan, materi pembelajaran, serta aplikasi dari pembelajaran yang sudah diperoleh siswa. Pembelajaran berbasis kontekstual menekankan pada siswa bahwa selama proses pembelajaran, mulai dari awal

pembelajaran hingga penilaian, siswa

diarahkan mampu membangun pengetahuan

secara utuh, siswa dituntut aktif

memecahkan permasalahan berdasarkan

pengalaman siswa, serta diakhir proses pembelajaran siswa dapat menunjukkan

keproduktifan dan kekreatifan dengan

melihat hasil pembelajaran yang siswa peroleh. Sehingga harapan dan tujuan akan

pembelajaran bermakna dapat

tercapai.Terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks Kontekstual antara lain: (1) belajar bukanlah

menghafal, akan tetapi proses

mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman

maka akan semakin banyak pula

pengetahuan yang mereka peroleh,(2)

belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas.Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola

berpikir, pola bertindak, kemampuan

memecahkan persoalan termasuk

penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir, (3) belajar adalah proses

pemecahan masalah, sebab dengan

memecahkan masalah anak akan

berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga

mental dan emosi. Belajar secara

kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan,(4) belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa. (5) belajar pada hakikatnya adalah menagkap pengetahuan

dari kenyataan. Oleh karena itu,

pengetahuan yang diperoleh adalah

pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Sanjaya:2005).

Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi

setiap guru manakala menggunakan

pendekatan kontekstual yakni: (1) Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.

Kemampuan belajar seseorang akan

dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keleluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan.

Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian peran guru

bukanlah sebagai instruktur atau

‗‘penguasa‘‘ yang memaksakan kehendak,

melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. (2) setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal- hal

Langkah pembelajaran berbasis kontekstual pada sekolah dasar

Langkah yang perlu ditempuh guru

dalam melaksanakan pembelajaran

kontekstual: (1) guru mengkonstruk

pengetahuan siswa dengan menerapkan prinsip belajar mandiri, (2) melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan siswa tentang suatu topik permasalahan, (3) siswa

diarahkan untuk bekerjasama dalam

memecahkan masalah, (4) membuat media pembelajaran untuk mendekatkan siswa dengan apa yang siswa sedang pelajari, (5) refleksi di akhir pertemuan, (6) melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Menyusun rencana pembelajaran

berbasis kontekstual: (1) Program

pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru,

(2) langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa tentang tema yang yang akan dipelajari, (3) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (4)

menggunakan media pembelajaran yang

mampu menarik siswa mengikuti

pembelajaran dengan menyenangkan, (5) materi pembelajaran disusun dengan runtut, sehingga mudah dipahami siswa, (6) penilaian proses dan hasil pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian siswa selama mengikuti pembelajaran.

Di dalam pembelajaran berbasis kontekstual, komponen menemukan menjadi inti dari kegiatan pembelajaran. Melalui proses menemukan sendiri, siswa tidak hanya menghafal konsep-konsep tetapi mereka menemukan sendiri konsep tersebut, sehingga pembelajaran kontekstual akan memberikan kebermaknaan belajar pada siswa. Nurhadi (2004) menyatakan bahwa kegiatan menemukan sebenarnya adalah sebuah siklus. Siklus ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu: (1) merumuskan masalah, (2) mengumpulkam data melalui observasi, (3) menganalisis dan menyajikan data dalam tulisan, gambar, laporan bagan,

tabel dan karya lainnya, dan (4)

mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.

Penilaian yang sebenarnya atau authentic assessment merupakan penilaian

yang digunakan dalam pembelajaran

kontekstual. Authentic assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa

memberikan gambaran atau informasi

siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. Dengan demikian, penilaian authentic diarahkan pada proses mengamati, menganalisa, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan hanya pada hasil pembelajaran. Penilaian hasil pembelajaran disini sebagai dasar untuk menentukan apakah proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa berhasil atau tidak. Guna penilaian juga sebagai acuan untuk remedial, jika hasil pembelajaran tidak sesuai yang diharapkan.

Istiqomah, Lailatul (2009)

menyebutukan prinsip-prinsip penilaian

autentik dalam pembelajaran sebagai

berikut: (1) penilaian autentik bukan menghakimi siswa tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa, (2) penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil, (3) guru menjadi penilai yang

konstruktif yang dapat merefleksikan

bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks, dan bagimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks, (4) penilaian autentik memberikan

kesempatan siswa untuk dapat

mengembangkan penilaian sendiri atau self assessment dan penilaian sesama atau peer

assessment, dan (5) penilaian dapat

dimanfaatkan untuk mendiagnosis kesulitan belajar.

Kesimpulan yang dapat diambil dari

penilaian pada pembelajaran berbasis

kontekstual adalah sebagai patokan guru

untuk merancang suatu rencana

pembelajaran, yang mampu

mengembangkan kompetensi siswa secara utuh. Hal ini akan menentukan keberhasilan

pembelajaran selanjutnya. Di dalam

penilaian guru mampu melihat kesulitan pembelajaran yang ditemui, kemudian guru merancang pemecahan masalahan yang ada.

Pemaknaan pembelajaran berbasis kontekstual di sekolah dasar.

Penggunaan pembelajaran berbasis

kontekstual mempunyai makna yang

mendalam. Pembelajaran berbasis

kontekstual siswa benar-benar didekatkan dengan dunia nyata. Siswa melihat materi yang dipelajari secara utuh bukan abstrak. Ketika siswa mengamati, menalar, mencoba, serta menyimpulkan sendiri sesuatu yang ditemui sendiri, hal tersebut akan membuat pengetahuan yang tersimpak di otak akan bertahan lama. Hal tersebut akan berbeda jika siswa mempelajari sesuatu yang abstrak, siswa hanya mempu membayangkan tanpa melihat sendiri apa yang dipelajari, sehingga respon siswa terhadap materi tersebut kurang menarik dan tentu dari kurang

pengetahuan yang dipelajari siswa tidak akan bertahan lama.

Pembelajaran berbasis kontekstual akan mampu merangsang siswa untuk berfikir aktif, kreatif, dan produktif. Menurut Johnson (2011), pembelajaran

kontekstual merupakan sebuah sistem

belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka

menangkap makna dalam tugas-tugas

sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. Hal ini senadadengan pendapat

Center for Occupational Research an Developmen (CORD) (1999) bahwa belajar yang bermakna itu harus terjadinya saling keterkaitan antara pengetahuan lama siswa dengan pengetahuan barunya, siswa harus mengalami sendiri dan membangun konsep

baru dengan cara mengkonsentrasikan

pengalaman baru dengan cara

mengkonstruksikan pengalaman yang terjadi di dalam kelas melalui eksplorasi, pencarian dan penemuan, menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah.

KESIMPULAN

Pendekatan kontekstual merupakan

pendekatan yang dianjurkan untuk

digunakan para guru dalam praktik

pembelajarannya di dalam. Landasan

filosofis pembelajaran berbasis kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya

sekadar menghafal, tetapi

merekonstruksikan atau membangun

pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen

utama, yaitu: Contructivism

(konstruktivisme), Questioning (bertanya),

Inquiry (menemukan), Learning community

(masyarakat belajar), Modeling

(pemodelan), Reflection (refleksi), dan

Authentic Assessment (penilaian yang

sebenarnya). Setiap komponen utama

pembelajaran berbasis Kontekstual

mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan ketika akan menerapkannya

dalam pembelajaran agar tujuan

pembelajaran tercapai dengan sebaik-

baiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2002.Pendekatan Kontekstual

(Contextual Teaching and

Learning/CTL). Jakarta: Dirjen

Pendidikan Dasar dan Menengah. Johnson, Elaine B. 2007. Contextual

Teaching and Learning. Bandung: MLC.

Kontekstual. Bandung: PT Refika Aditama

Sanjaya, Wina.2013.Strategi Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada Media Group

Trianto.2013.Desain Pengembangan

Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia Dini TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI.Jakarta:Prenada Media Group

Prosiding Seminar Nasional Tahun 2016

―Pengembangan Profesionalisme Guru Dan Dosen Indonesia‖

Malang, 07 Mei 2016

Dalam dokumen PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI MELAL (Halaman 38-46)