I Gede Margunayasa,Putu Nanci Riastini
PENDAHULUAN
Penanaman nilai-nilai karakter bangsa saat ini menjadi isu utama dunia pendidikan. Salah satu landasan yang mendukung penanaman nilai karakter adalah pernyataan pada Pembukaan UUD 1945 alinea 4. Selanjutnya, ditegaskan pula penanaman nilai karakter dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Pada Bab I pasal 1 (1) UU No. 20 Tahun 2003 dinyatakan bahwa
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Mengacu pada pernyataan tersebut, pendidikan diamanatkan untuk membentuk manusia Indonesia yang cerdas dan berakhlak mulia. Artinya, pendidikan tidak hanya difokuskan pada kegiatan kognitif semata, tetapi juga pembentukan nilai-nilai karakter bagi generasi muda bangsa. Pendidikan merupakan salah satu strategi dasar dari pembangunan karakter bangsa yang dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara koheren dengan beberapa strategi lain. Strategi tersebut mencakup: sosialisasi atau penyadaran, pemberdayaan, pembudayaan, dan kerjasama seluruh komponen bangsa. Pembangunan karakter dilakukan dengan pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, masyarakat sipil, anggota legislatif, media massa, dunia usaha, dan dunia industri (Sumber: Buku Induk Pembangunan Karakter, 2010).
Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab (Sumber: Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10).
Menurut Baittstich (2008) bahwa pembangunan karakter yang efektif dapat dilakukan dalam lingkungan sekolah yang memungkinkan semua anak menunjukkan potensi mereka untuk mencapai tujuan yang sangat penting. Artinya, kegiatan-kegiatan di sekolah, khususnya proses pembelajaran, merupakan cara yang paling efektif untuk pembangunan karakter. Salah satu cara pembenahan dalam proses pembelajaran untuk mengembangkan nilai karakter pada anak adalah dengan penggunaan perangkat pembelajaran yang bersumber pada kebudayaan lokal. Pendapat ini didasarkan pada Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional. Instruksi ini mengamanatkan tentang kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa. Sebagai contoh implementasinya, satua Bali, yang sarat nilai-nilai moral dan nilai-nilai karakter. Penggunaan satua Bali dalam
proses pembelajaran sangat berdampak positif bagi karakter anak. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitian Riastini dan I Gede Margunayasa (2013), yang menunjukkan bahwa penggunaan media satua Bali dalam pembelajaran berpengaruh terhadap nilai-nilai karakter bangsa, khususnya aspek bersahabat/komunikatif, toleransi, disiplin, dan tanggung jawab.
PEMBAHASAN
Nilai karakter dalam satua bali
Berdasarkan hasil kajian, Satua Bali yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam pembelajaran untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter ada sebanyak 20 judul satua bali. Masing-masing satua memuat nilai-nilai karakter yang beragam dan materi yang berbeda pula. Hasil analisis satua Bali tampak pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil analisis “Satua Bali”
No Judul Materi yang dikandung
Pengetahuan Nilai karakter 1 I Lutung Teken I
Kekua
Bentuk tubuh hewan dan fungsinya
Buah dan kandungannya
Hubungan timbal balik antara manusia dengan hewan
Ciri-ciri khusus mahluk hidup
Tanggung jawab
Jenis-jenis sumber daya alam
Teknologi sederhana dan modern Keiklasan
Kejujuran
Berbagai jenis benda dan sifatnya Kesabaran
Keiklasan
Tanggung jawab 12 Anak ririh Pentingnya matahari bagi kehidupan
Teknologi sederhana dan manfaatnya
Kreatif, Jujur
No Judul Materi yang dikandung
Ciri-ciri hewan dan makanannya
Peduli
17 I Belibis Putih Jenis-jenis makanan dan kandungannya
Ciri-ciri hewan
Proses menanam padi
Jenis sumber daya alam hewan yang dimanfaatkan dan cara pemanfaatannya
Perdagangan sumber daya alam
Tidak iri hati
Peduli lingkungan
Menghargai milik orang lain
Penerapan nilai karakter dalam pembelajaran
Penerapan nilai-nilai karakter dalam kurikulum dapat dilakukan melalui integrasi dalam mata pelajaran, integrasi dalam muatan lokal, dan integrasi melalui kegiatan pengembangan diri (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011). Untuk itu, maka penerapan nilai-nilai karakter pada “Satua Bali” juga dapat dilakukan melalui integrasi dalam mata pelajaran. Integrasi nilai-nilai karakter dalam mata pelajaran dapat dilakukan melalui pengembangan silabus dan RPP pada kompetensi yang telah ada sesuai dengan nilai yang akan diterapkan. Supaya silabus dan RPP yang dikembangkan memuat penerapan nilai-nilai karakter dalam satua bali, maka langkah-langkah dalam pengembangan silabus adalah: Menganalisis nilai karakter yang ada pada “Satua Bali”
dan menyesuaikan dengan materi yang ada. Kemudian menganalisis Indikator, baik kata kerjanya maupun materinya. Penganalisisan pertama menentukan kata kerjanya apakah ranah kognitif, afiktif, atau psikomotor, kemudian lihat tingkat kesulitannya, kemudian tentukan nilai karakter apa dan “Satua Bali” mana yang digunakan. Langkah berikutnya memasukkan nilai karakter dari “Satua Bali” yang terpilih kedalam silabus. Nilai Karakter yang terpilih yang telah dimuat sebelum kegiatan pembelajaran, satu demi satu secara berangsur dimasukkan kedalam langkah-langkah proses kegiatan pembelajaran, yang tentunya nilai-nilai karakter yang sesuai dengan kegiatan pembelajaran siswa, sehingga tercermin pada setiap langkah kegiatan pembelajaran, baik pada kegiatan exsplorasi, elaborasi maupun pada kegiatan konfirmasi.
Dalam RPP, “Satua Bali” dapat dimasukkan di kegiatan inti pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini, siswa diberikan “Satua Bali”, kemudian siswa diminta untuk membacakan sekaligus menghayatinya. Selain itu, guru juga dapat membacakannya dan siswa menyimaknya. Pada tahap elaborasi, siswa diminta untuk mendiskusikan secara berkelompok mengenai nilai karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita dan mendiskusikan materi pelajaran yang ada. Pada tahap konfirmasi, guru mempertegas nilai-nilai karakter yang ada dalam “Satua Bali”, meminta siswa untuk menceritakannya di depan kelas, dan mengkonfirmasi materi pelajaran dalam “Satua Bali”, dan menambahkan materi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, penerapan “Satua Bali” dalam pembelajaran dapat melestarikan kebudayaan lokal, menumbuhkan nilai-nilai karakter siswa, dan sangat berkaitan dengan materi yang ada di kurikulum. Disamping itu, dengan “Satua Bali”, maka dapat melatih kemampuan membaca dan kemampuan menyimak siswa.
Ada beberapa faktor perlunya Satua Bali digunakan sebagai media pembelajaran.
Pertama, keberadaan sebuah media pembelajaran, dalam hal ini Satua Bali, sangat penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Adanya media pembelajaran membuat materi pelajaran menjadi lebih kontekstual dan mendorong rasa ingin tahu siswa. Materi yang dimaksud adalah ditinjau dari ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Jika anak mengalami hal-hal yang bersifat kontekstual dan memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap sesuatu, maka anak akan belajar secara aktif dan bermakna. Implikasinya adalah pengetahuan dapat tersimpan dalam long term memory, sikap dapat dibudayakan, dan keterampilan pun dapat diasah secara tidak langsung. Dengan demikian, media pembelajaran membuat anak belajar secara kontekstual dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna. Penjelasan di atas sesuai dengan pendapat Willis (2012), yang menyatakan bahwa manfaat sebuah media diantaranya menarik minat siswa untuk belajar, siswa memperoleh gambaran nyata tentang sesuatu, mendorong keingintahuan siswa, dan membuat siswa riang belajar.
Kedua, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang melibatkan fisik dan jiwa siswa.
Untuk menciptakan terjadinya belajar yang demikian, maka siswa harus belajar aktif.
Belajar aktif yang dimaksud adalah siswa berpikir, berkata, dan melakukan kegiatan yang dapat membuat mereka memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Untuk mewujudkan pembelajaran yang demikian, tidak bisa hanya dilakukan dengan mendengarkan penjelasan guru. Pembelajaran tersebut dapat terwujud bila siswa terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran, termasuk memanipulasi media pembelajaran.
Jika hal ini dapat dilakukan, maka pengetahuan dapat diperoleh dengan benar, sikap dapat diamalkan, dan keterampilan dapat dikembangkan. Pemaparan tersebut sesuai dengan pendapat Silberman (2007), yang menyatakan bahwa belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan pelajar itu sendiri. Cara belajar aktiflah yang dapat mewujudkan belajar tersebut, sehingga belajar dapat dikategorikan belajar yang sebenarnya dan tahan lama.
Ketiga, pendidikan karakter bukan sekedar sebuah pengaturan pembelajaran di sekolah. Implementasi pendidikan karakter lebih mengarah pada transformasi budaya dan perikehidupan sekolah, bukan sekedar menambahkan materi nilai-nilai karakter dalam kurikulum. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan bercerita sebagai salah satu cara efektif untuk mengimplementasikan nilai-nilai karakter bagi anak.
Melalui kegiatan seperti ini, siswa dapat membedakan sikap baik dan buruk dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, implementasi pendidikan karakter dapat terjadi dengan bantuan cerita. Pendapat tersebut sejalan
dengan pendapat Lickona (1991), yang menyatakan bahwa salah satu cara agar pendidikan karakter dapat berjalan efektif adalah dengan penggunaan cerita dalam pembelajaran.
SIMPULAN
Satua bali tidak saja berisi nilai karakter, akan tetapi sangat berkaitan dengan materi kurikulum di sekolah dasar. Begitu juga, Satua bali sangat cocok diterapkan pada kurikulum 2013 di sekolah dasar. Dalam pembelajaran, “Satua Bali” dapat dimasukkan di kegiatan inti pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini, siswa diberikan “Satua Bali”, kemudian siswa diminta untuk membacakan sekaligus menghayatinya. Selain itu, guru juga dapat membacakannya dan siswa menyimaknya. Pada tahap elaborasi, siswa diminta untuk mendiskusikan secara berkelompok mengenai nilai karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita dan mendiskusikan materi pelajaran yang ada. Pada tahap konfirmasi, guru mempertegas nilai-nilai karakter yang ada dalam “Satua Bali”, meminta siswa untuk menceritakannya di depan kelas, dan mengkonfirmasi materi pelajaran dalam “Satua Bali”, dan menambahkan materi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, penerapan “Satua Bali” dalam pembelajaran dapat melestarikan kebudayaan lokal, menumbuhkan nilai-nilai karakter siswa, dan sangat berkaitan dengan materi yang ada di kurikulum. Disamping itu, dengan “Satua Bali”, maka dapat melatih kemampuan membaca dan kemampuan menyimak siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Baittstich. History Teacher’s Discussion Forum, July 2008.
http://www.schoolhistory.co.uk (diakses tanggal 8 Oktober 2013).
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010.
Jackson, Paul. The Pop-up Book. Singapore: Anness Publishing Limited. 2000.
Kemdiknas. Buku Induk Pembangunan Karakter. Jakarta. 2010.
Lickona, Thomas. Educating for Character. New York: Bantam Book. 1991.
Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Nasional. 2011.
Pusat Kurikulum. Jakarta: Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah (hal. 9-10). 2009.
Riastini, Putu Nanci & I Gede Margunayasa. Pengaruh Satua Bali terhadap Nilai-Nilai Karakter Bangsa (Quasi eksperimen pada siswa kelas IV SD Gugus III Kecamatan Buleleng). Prosiding. Singaraja: Lembaga Penelitian Undiksha.
2013.
Schwartz, Merle J. Effective Character Education. New York: Mc. Graw-Hill Companies. 2008.
Silberman, Mel. Active Learning; 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Penerjemah: Sarjuli dkk. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. 2007.
UU No. 20 Tahun 2003. www.mandikdasmen.depdiknas.go.id (diakses tanggal 20 Agustus 2012).
Willis, Sofyan S. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta. 2012.