BAB II. LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran Inteligensi Ganda
Model pembelajaran inteligensi ganda merupakan sebuah model pembelajaran yang difokuskan kepada penemuan kecocokan gaya belajar siswa dan gaya mengajar guru. Inti dari model pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya mengajarnya agar mudah ditangkap dan dimengerti oleh siswanya (Chatib, 2009: 108). Gaya belajar yang dimaksudkan dalam hal ini adalah gaya belajar yang terbentuk sebagai akibat dari kecenderungan inteligensi yang dimiliki oleh siswa.
Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori Multiple Intelligences. Teori Multiple Intelligences ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang ahli Psikologi Perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University, Amerika Serikat (Suparno, 2004: 17). Menurut teori Multiple Intelligences, siswa dapat belajar dengan baik, memahami suatu materi bila disajikan sesuai dengan inteligensi mereka yang dominan (Suparno, 2004: 58). Gardner menggunakan istilah multiple untuk menujukkan bahwa inteligensi itu berkembang dan mungkin masih banyak lagi yang belum ditemukan (Chatib, 2012: 76). Hal ini dibuktikan Gardner dalam bukunya yang berjudul Intelligence Reframed, dimana dalam buku ini Gardner menambahkan adanya dua inteligensi baru selain tujuh inteligensi yang sudah ditemukan sebelumnya (Suparno, 2004: 19).
Menurut Gardner setiap manusia memiliki 9 inteligensi yaitu inteligensi linguistik, inteligensi matematis-logis, inteligensi ruang-visual, inteligensi kinestetik-badani, inteligensi musikal, inteligensi interpersonal, inteligensi intrapersonal, inteligensi lingkungan, dan inteligensi eksistensial. Masing-masing inteligensi diuraikan sebagai berikut:
a. Inteligensi Linguistik
Gardner menjelaskan inteligensi linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti yang dimiliki oleh para pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara, maupun orator. Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum (Suparno, 2004: 26).
Menurut Thomas Armstrong (2002: 77), cara belajar anak dengan inteligensi linguistik yang menonjol adalah dengan mengucapkan, mendengarkan, dan melihat kata-kata, sehingga cara terbaik untuk memotivasi mereka belajar adalah dengan mengajak mereka bicara, menyediakan banyak buku, rekaman, kaset kata-kata yang diucapkan, dan menciptakan peluang untuk menulis.
b. Inteligensi Matematis-logis
Gardner menjelaskan inteligensi matematis-logis sebagai kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, termasuk juga kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan seperti yang dipunyai oleh matematikus, saintis, programer dan logikus (Suparno, 2004: 29).
Menurut Thomas Armstrong (2002: 77), anak dengan inteligensi matematis-logis belajar dengan membentuk konsep dan mencari pola serta hubungan abstrak dan menyukai permainan yang melibatkan daya penalaran logis sepeti catur, teka-teki logika, dan permainan komputer.
c. Inteligensi Ruang-visual
Gardner menjelaskan inteligensi ruang-visual sebagai kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat, termasuk di dalamnya adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan suatu benda dalam pikirannya dan mengenali perubahan tersebut, menggambarkan suatu hal/benda dalam pikirannya dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta mengungkapkan data dalam suatu grafik seperti yang dipunyai para pemburu, arsitek, navigator, dan dekorator (Suparno, 2004: 31).
Menurut Thomas Armstrong (2002: 78), anak dengan inteligensi ruang-visual yang menonjol perlu diajari melalui gambar, metavora ruang-visual, dan warna, sehingga cara terbaik untuk memotivasi mereka belajar adalah melalui media seperti film, slide, video, diagram, peta, dan grafik.
d. Inteligensi Kinestetik-badani
Gardner menjelaskan inteligensi kinestetik-badani sebagai kemampuan mengunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan termasuk keterampilan koordinasi dan fleksibilitas tubuh seperti aktor, atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah (Suparno, 2004: 34).
Menurut Thomas Armstrong (2002: 78), anak dengan inteligensi kinestetik-badani yang menonjol belajar dengan menyentuh, memanipulasi, dan bergerak,
sehingga cara terbaik untuk memotivasi mereka belajar adalah dengan melibat mereka dalam berbagai pengalaman interaktif dan energik.
e. Inteligensi Musikal
Gardner menjelaskan inteligensi musikal sebagai kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, termasuk di dalamnya kepekaan akan ritme, melodi, dan intonasi (Suparno, 2004: 36).
Menurut Thomas Armstrong (2002: 79), anak dengan inteligensi musikal yang dominan belajar melalui irama dan melodi. Mereka bisa mempelajari apa pun dengan lebih mudah jika hal itu dinyayikan, diberikan ketukan, atau disiulkan, sehingga cara terbaik untuk memotivasi mereka belajar adalah dengan membiarkan mereka belajar dengan diiringi musik kesukaan mereka.
f. Inteligensi Interpersonal
Gardner menjelaskan inteligensi interpersonal sebagai kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain, termasuk kepekaan akan ekspresi wajah, suara, dan isyarat dari orang lain (Suparno, 2004: 39).
Menurut Thomas Armstrong (2002: 79), cara belajar anak dengan inteligensi interpersonal yang dominan adalah dengan berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain melalui interaksi yang dinamis, sehingga membiarkan mereka terlibat dalam komunitas, klub, kepanitiaan, program seusai jam sekolah, dan organisasi sukarelawan.
g. Inteligensi Intrapersonal
Gardner menjelaskan inteligensi intrapersonal sebagai kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasarkan pengenalan diri, termasuk kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri (Suparno, 2004: 41).
Siswa yang menonjol dalam inteligensi ini sering kelihatan pendiam, lebih suka bermenung di kelas, dan lebih suka bekerja sendiri (Suparno, 2004: 41). Menurut Thomas Armstrong (2002: 79-80), anak dengan inteligensi intrapersonal yang dominan paling efektif belajar ketika diberi kesempatan untuk menetapkan target, memilih kegiatan mereka sendiri, dan menentukan kemajuan mereka sendiri melalui proyek apa pun yang mereka minati, sehingga sangat penting untuk memberikan mereka kesempatan belajar sendiri.
h. Inteligensi Lingkungan
Gardner menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam dan mengunakan kemampuan tersebut secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam (Suparno, 2004: 42).
Siswa dengan inteligensi ini akan senang bila ada acara di luar sekolah, karena dia akan dapat menikmati keindahan alam (Suparno, 2004: 43). Menurut Thomas Armstrong (2002: 80), anak dengan inteligensi lingkungan yang menonjol akan menjadi bersemangat ketika terlibat dalam pengalaman di alam terbuka.
i. Inteligensi Eksistensial
Gardner (dalam Suparno, 2004: 44) menjelaskan inteligensi eksistensial sebagai kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Anak yang menonjol dengan inteligensi ini akan mempersoalkan keberadaannya di tengah alam raya yang besar ini. Mengapa kita ada di sini? Apa peran kita dalam dunia yang besar ini? Mengapa aku ada di sekolah, di tengah teman-teman, untuk apa ini semua? Anak yang menonjol di sini sering kali mengajukan pertanyaan yang jarang dipikirkan orang termasuk gurunya sendiri.
Meskipun dalam diri setiap individu terdapat kesembilan inteligensi tersebut, Gardner menjelaskan bahwa untuk orang-orang tertentu, suatu inteligensi lebih menonjol daripada inteligensi lainnya (Suparno, 2004: 45). Dalam ranah pendidikan, inteligensi yang menonjol dalam diri seorang siswa inilah yang akan turut membentuk gaya belajar siswa tersebut. Dengan menganalisis kecenderungan inteligensi pada siswa, maka guru dapat memiliki data tentang gaya belajar masing-masing siswanya dan kemudian guru dapat menyesuaikan metode mengajarnya dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui.
2. Dampak Teori Inteligensi Ganda Bagi Guru yang Mengajar Fisika Seorang guru fisika dalam menyampaikan materi pelajaran tentunya tidak hanya menggunakan metode yang matematis-logis ataupun metode yang linguistik saja, tetapi dapat memvariasikan metode mengajarnya dengan menggunakan metode mengajar lainnya yang dikembangkan berdasarkan teori inteligensi ganda.
Oleh karena itu, guru perlu memiliki data tentang inteligensi masing-masing siswanya sehingga guru dapat menyesuaikan cara mengajarnya dengan inteligensi siswanya. Dengan demikian, guru perlu mengembangkan inteligensinya sesuai dengan inteligensi siswanya sehingga guru tidak hanya mengajar dengan menggunakan metode yang sesuai dengan inteligensinya yang menonjol, melainkan dapat mengajar dengan berbagai metode mengajar yang sesuai dengan inteligensi siswanya sehingga semua siswanya merasa dibantu sesuai dengan inteligensinya (Suparno, 2004: 31-32).
Suparno (2004: 58) menjelaskan dampak inteligensi ganda bagi guru secara umum adalah sebagai berikut:
1) Guru perlu mengerti inteligensi siswa-siswa mereka,
2) Guru perlu mengembangkan model mengajar dengan berbagai inteligensi, bukan hanya dengan inteligensi yang menonjol pada dirinya,
3) Guru perlu mengajar sesuai dengan inteligensi siswa, bukan dengan inteligensi dirinya sendiri yang tidak cocok dengan inteligensi siswa,
4) Dalam mengevaluasi kemajuan siswa, guru perlu menggunakan berbagai model yang cocok dengan inteligensi ganda (Suparno, 2004: 58).
3. Dampak Teori Inteligensi Ganda Bagi Siswa yang Belajar Fisika
Fisika tidak hanya dapat dipelajari secara matematis-logis. Siswa dapat menggunakan inteligensi yang menonjol dalam dirinya untuk belajar fisika. Sebagai contoh, belajar fisika melalui kegiatan diskusi kelompok dan presentasi dapat membantu siswa yang berinteligensi interpersonal, atau belajar fisika melalui tarian dapat membantu siswa yang berinteligensi kinestetik-badani.
Untuk dapat membantu siswa belajar sesuai dengan inteligensinya, maka pertama-tama siswa perlu dibantu untuk mengerti inteligensi mereka masing-masing. Selanjutnya mereka dibantu untuk belajar dengan inteligensi yang menonjol dalam diri mereka. Dengan demikian, mereka dapat melihat kekuatan dan cara belajar mana yang cocok dan mana yang kurang. Segi yang kurang itulah nanti yang perlu dibantu oleh guru (Suparno, 2004: 59).