Repelita I (1969-1974) Tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah nasional dalam bidang pendidikan Kelima
2. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang terintegras
(Social studies teaching and learning are powerful when they are integrative) Pembelajaran IPS dalam penyampaian topik dilakukan melalui upaya mengintegrasikan dalam hal: a) lintas ruang dan waktu, b) pengetahuan, keterampilan, keyakinan, nilai dan sikap untuk dilaksanakan, c) teknologi secara efektif, d) melalui lintas kurikulum
3. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang berbasis nilai
(Social studies teaching and learning are powerful when they are value- based). Kekuatan pembelajaran IPS dengan mempertimbangkan berbagai dimensi atau topik-topik maupun isu-isu yang kontroversi, pengembangan dan penerapan nilai-nilai sosial. Pembelajaran IPS membentuk siswa menjadi: a) peka terhadap implementasi kebijakan sosial yang potensial serta keputusan berdasarkan nilai, b) sadar akan nilai-nilai, kompleksitas dan dilemma isu-isu, c) mempertimbang kan biaya dan keuntungan dari berbagai tindakan, d) mengembangkan rasional yang baik terhadap nilai-nilai sosial demokratis dan politik. Dengan demikian kekuatan pembelajaran sosial studies mendorong pengenalan pandangan yang berbeda, sensitivitas terhadap persamaan dan perbedaan budaya dan komitmen terhadap tanggung jawab sosial.
4. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang menantang
(Social studies teaching and learning are powerful when they are challenging). Siswa diharapkan mencapai tujuan pembelajaran secara individu dan kelompok melalui aktivitas berfikir siswa yang menantang.
5. Pembelajaran IPS yang baik adalah pembelajaran yang aktif (Social
studies teaching and learning are powerful when they are active). Pembelajaran IPS yang aktif mengharapkan adanya kemampuan berfikir reflektif dan membua keputusan (decision making) selama pembelajaran. Siswa mengembangkan pemahaman baru melalui sebuah proses pembelajaran aktif dengan mengkonstruk pengetahuan sosial yang penting. Guru mengawali kegiatan dengan memberikan bimbingan melalui modeling, penjelasan, untuk membangun pengetahuan siswa menjadi independent dan menjadi pembelajar yang memiliki kebijakan sendiri. Pembelajaran IPS ini menekankan pada kegiatan otentik yang diperuntukkan pada penerapan kehidupan nyata dengan menggunakan keterampilan dan konteks materi di bidangnya.
Ringkasnya, pembelajaran IPS di persekolahan perlu diupayakan secara optimal dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran IPS sebagai berikut :
Social studies teaching and learning are powerful when they are : 1)meaningful, 2) integrative, 3) value-based, 4) challenging, and 5) active. (Stahl, 2008:2)
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial
ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan
tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disebut juga sebagai synthetic science, karena konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian ditentukan atau diobservasi setelah fakta terjadi (Welton dan Mallan, 1988 : 66-67).
Hingga saat ini, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) hanyalah sebuah program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social sciences), maupun ilmu pendidikan (Somantri, 2001 : 89).
Social Science Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS) menyebut IPS sebagai "Social Science Education" dan "Social Studies". Pada tahun 1992, NCSS telah mendefinisikan IPS sebagai berikut :
“Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archaeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world” . (Stahl dan Hartoonian, 2003)
Sementara itu berdasarkan hasil rumusan Forum Komunikasi II HISPIPSI di Yogyakarta (1991) dan menurut versi FPIPS dan Jurusan Pendidikan IPS, dapat diformulasikan pengertian IPS sebagai berikut : “Pendidikan IPS adalah penyederhanaan adaptasi, seleksi, dan modifikasi dari disiplin akademis ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis untuk tujuan institusional pendidikan dasar dan menengah dalam kerangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila Pendidikan IPS adalah seleksi dari struktur disiplin akademik ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila” Somantri, (2001:103).
Menurut Depdikbud (1994), IPS yang diajarkan di jenjang pendidikan menengah didasarkan pada bahan kajian pokok Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, Tata Negara, dan Sejarah
Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 35, menyatakan bahwa : "Setiap satuan pendidikan jalur
pendidikan sekolah, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar" .
Pendidikan tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik bilamana para tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan.
Tujuan Pembelajaran IPS di Persekolahan
Menurut Schnuncke (1988) tujuan IPS didasarkan atas tiga karakteristik, yaitu : manusia mampu berpengetahuan, manusia mampu mengatur kehidupannya, dan manusia mampu memelihara nilai-nilai. Atas dasar ketiga karakteristik tersebut tujuan pengembangan mencakup tujuan : pengetahuan (knowing), proses (doing), dan afektif (caring). Tiga tujuan IPS, yaitu meliputi aspek : (1) pengertian (understanding) yang berkenaan dengan pemberian latar pengetahuan dan informasi tentang dunia dan kehidupan, (2) Sikap dan Nilai (attitudes and values), “ dimensi rasa” (feeling) yang berkenaan dengan pemberian bekal mengenai dasar-dasar etika masyarakat yang nantinya menjadi orientasi nilai dalam kehidupan dirinya, (3) Keterampilan (skills), khususnya yang berkenaan dengan kemampuan dan keterampilan IPS, yaitu meliputi keterampilan sosial, keterampilan belajar dan kebiasaan kerja, keterampilan kelompok, dan intelektual.
Muhammad Numan Somantri (Somantri,2001:259) mengemukakan setidaknya terdapat 4 pendapat mengenai tujuan pengajaran IPS di sekolah ;
a. Pendapat pertama, tujuan pengajaran IPS di sekolah ialah untuk
mendidik para siswa menjadi ahli ekonomi, politik, hukum, sosiologi, dan pengetahuan sosial lainnya. Golongan yang diwakili oleh Charles Keller dan Barelson (Massialas & Smith,1965:13) ini lebih menyetujui pembelajaran IPS di persekolahan disebut dengan istilah “social sciences” daripada istilah “social studies”
b. Pendapat kedua, berpendapat bahwa tujuan pengajaran IPS di
persekolahan ialah untuk menumbuhkan warga negara yang baik. Pengajaran di sekolah harus merupakan : “a unified coordinated holistic study of men living in societies”(Hanna, 1962:63).
c. Pendapat ketiga, merupakan kompromi dari pendapat pertama dan
pendapat kedua. Tujuan program pengajaran IPS merupakan “simplifikasi dan distilasi dari berbagai ilmu-ilmu sosial untuk kepentingan pendidikan” (Wesley,1964:3)
d. Pendapat keempat, berpendapat bahwa pengajaran IPS di sekolah
dimaksudkan untuk mempelajari bahan pengajaran yang sifatnya “tertutup” (closed area). Maksudnya ialah bahwa dengan mempelajari bahan pelajaran yang tabu untuk dibicarakan, para siswa akan memperoleh kesempatan untuk memecahkan konflik intrapersonal maupun antar-personal.
Muhammad Nu’man Somantri sendiri merumuskan bahwa tujuan Pendidikan IPS pada tingkat sekolah adalah :
1.Menekankan tumbuhnya nilai kewarganegaraan , moral, ideologi negara dan agama.
2.Menekankan pada isi dan metode berfikir ilmuwan 3.Menekankan reflective inquiry
Media Pendidikan dan Sumber Pembelajaran IPS
Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977) menyatakan bahwa sumber pembelajaran adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran.
Sumber pembelajaran dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan (learning resources
by design), Sumber pembelajaran kategori ini memang telah disiapkan dan didesain untuk digunakan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.