KAJIAN PUSTAKA
B. Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian Pembelajaran
Menurut Trianto (2014:19) hakikat pembelajaran adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Dari makna tersebut terlihat bahwa pembelajaran adalah interaksi dua arah dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru, yang intens dan terarah menuju pada suatu target pembelajaran yang telah disepakati sebelumnya.
Menurut Syaiful Sagala (2014:61) pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik dan belajar dilakukan oleh peserta didik.
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pengaruh yang relatif permanen pada perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir melalui pengalaman (Santrock, 2014:246).
Menurut Ngalimun (2012:3) pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek, yaitu belajar tertuju kepada apa
yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran dan aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa saat pembelajaran berlangsung.
2. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pada awalnya pembelajaran kooperatif muncul dari suatu konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Menurut roger (1992) dalam Miftahul Huda (2012:29) pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain.
Menurut Slavin (1995) pada Trianto (2014:108) dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru. Masih dalam buku yang sama, Artzt & Newman (1990) menyatakan, bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama
sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok ini yaitu untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dalam kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok yaitu mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran melalui proses dinamika dalam kelompok kecil yang bertujuan untuk melibatkan siswa supaya bekerja sama dalam proses pembelajaran untuk mencapai ketuntasan belajar.
3. Unsur-unsur pembelajaran kooperatif
Menurut Johnson dan Sutton dalam bukunya Trianto (2014:112) terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu:
a. Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa
Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses.
b. Interaksi antara siswa yang semakin meningkat
Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antar siswa. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif yakni dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
c. Tanggung jawab individual
Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal membantu siswa yang membutuhkan bantuan sehingga siswa tidak hanya sekedar menyalin hasil kerja teman sekelompoknya.
d. Keterampilan interpersonal dalam kelompok kecil
Dalam belajar kooperatif selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan, seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
e. Proses kelompok
Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
4. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif
Pembelajaaran kooperatif memiliki ciri khas yang membedakan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran yang lain. Menurut Arends (1997) dalam Trianto (2014:116) pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
c. Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang beragam.
d. Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu. 5. Metode-metode pembelajaran kooperatif
Berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai metode-metode pembelajaran kooperatif (Slavin, 2005:9).
a. Student Team Achievement Division (STAD)
Metode STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif yang melibatkan kompetisi dalam kelompok. Siswa dikelompokkan secara beragam berdasarkan kemampuan, ras, gender, dan etnis. Siswa mempelajari materi bersama dengan kelompok dan pada akhir pembelajaran diadakan kuis untuk menguji pemahaman siswa.
b. Teams Games Tournament (TGT)
Metode TGT menggunakan mirip dengan metode STAD. Perbedaan dalam pemebelajaran ini yaitu menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, di mana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya.
c. Team Assisted Individualization (TAI)
Metode ini tidak jauh berbeda dengan metode STAD dan TGT. Namun, metode STAD dan TGT menggunakan pola pengajaran tunggal untuk satu kelas, sementara TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran yang individual. Para siswa memasuki sekuen individual berdasarkan tes penempatan dan kemudian melanjutkannya dengan tingkat kemampuan mereka sendiri. Secara umum, anggota kelompok bekerja pada unit pelajaran yang berbeda. Teman satu tim saling memeriksa hasil kerja masing-masing menggunakan lembar jawaban dan saling membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah.
d. Cooperatif Integrated Reading and Composition (CIRC)
CIRC merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis. Biasanya guru menggunakan bahan bacaan yang berisi latihan soal dan cerita. Para siswa ditugaskan untuk berpasangan dalam tim mereka untuk belajar dalam serangkaian kegiatan yang bersifat kognitif, termasuk membacakan cerita satu
sama lain, membuat prediksi mengenai bagaimana akhir dari sebuah cerita naratif, merangkum cerita, dan menulis tanggapan cerita. e. Jigsaw
Dalam teknik ini, siswa bekerja dalam kelompok dan ditugaskan untuk membaca materi yang bersifat penjelasan terperinci. Tiap anggota ditugaskan secara acak untuk menjadi ahli dalam aspek tertentu. Selanjutnya, para ahli bertemu untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas, lalu mereka kembali pada timnya untuk mengajarkan topik mereka kepada teman kelompoknya.
C. Pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)