• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

ini dapat membuat siswa lebih aktif sehingga pelajaran yang telah dipelajari

menjadi lebih mudah dipahami. Selain itu, Jigsaw lebih difokuskan pada

pembelajaran teman dalam kelompok atau teman sebaya, sehingga dapat

meminimalisir kesenjangan tingkat kemampuan akademik tinggi untuk dapat

yang memiliki kemampuan akademik rendah dapat belajar dari teman yang

memiliki kemampuan akademik tinggi.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti akan melakukan

penelitian mengenai penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk

meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini diberi judul : PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN KELAS VII SMP KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan,

masalah-masalah yang akan di teliti dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan

motivasi belajar pada materi pencemaran dan kerusakan lingkungan siswa

kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta ?

2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil

belajar pada materi pencemaran dan kerusakan lingkungan siswa kelas VIIB

C. Batasan Masalah

Agar penelitian ini dapat dipahami dengan baik sesuai dengan tujuan, maka

diperlukan suatu batasan masalah yang akan dikaji secara mendalam. Fokus

pembahasan skripsi ini yaitu tentang:

1. Subjek penelitian

Subjek penelitian adalah 25 siswa kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan

Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016.

2. Objek penelitian

Objek penelitian adalah motivasi dan hasil belajar. Dalam hal ini, fokus

peneliti lebih kepada aspek kognitif dan aspek afektif siswa kelas VIIB SMP

Kanisius Kalasan Yogyakarta dengan Penerapan Pembelajaran Kooperatif

Tipe Jigsaw.

3. Materi pokok

a. Standar Kompetensi

Standar Kompetensi yang digunakan yaitu : 7. Memahami saling

ketergantungan dalam ekosistem.

b. Kompetensi Dasar

Kompetensi Dasar yang digunakan yaitu : 7.4 Mengaplikasikan peran

manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan

kerusakan lingkungan. Materi yang dibahas adalah Pencemaran dan

4. Parameter

Parameter keberhasilan yang akan diukur dalam penelitian ini adalah motivasi

dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa diukur dengan menggunakan

kuisioner sedangkan hasil belajar untuk aspek kognitif diukur dengan melihat

nilai post test pada setiap akhir siklus sedangkan untuk aspek afektif diukur

dengan menggunakan lembar observasi.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui :

1. Peningkatan motivasi belajar Biologi setelah diterapkannya metode

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pencemaran dan kerusakan

lingkungan siswa kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

2. Peningkatan hasil belajar Biologi setelah diterapkannya metode

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi pencemaran dan kerusakan

lingkungan siswa kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

E. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode

pembelajaran tipe Jigsaw diharapkan dapat memberikan manfaat seperti :

1. Bagi peneliti

Hasil penelitiannya dapat dimanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai

meningkatkan motivasi dan hasil belajar agar pembelajaran lebih berkualitas

serta dapat menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw secara

langsung dalam proses pembelajaran dikelas.

2. Bagi guru

Dapat dijadikan alternatif metode pembelajaran Biologi yang akan

dilaksanakan di kelas, selain itu dapat juga dijadikan sumber referensi

penggunaan media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan

pembelajaran Biologi.

3. Bagi sekolah

Memberi sumbangan bagi peningkatan kualitas sekolah dalam perbaikan

pembelajaran Biologi.

4. Bagi siswa

Dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam

pembelajaran Biologi diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa

dalam kegiatan pembelajaran sehingga pada akhirnya hasil belajar siswa pun

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar dan Pembelajaran

“Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai

hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan” (Slameto, 2010). “Belajar merupakan kegiatan yang membawa manusia pada perkembangan pribadi yang seutuhnya, meliputi perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik” (Yamin, 2012). Menurut Robbins dalam Trianto (2009), “belajar merupakan sebuah proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan)

yang sudah dipahami dan sesuatu pengetahuan baru”. “Belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan

lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam

pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap” (Winkel, 2009). Dari definisi tersebut dimensi belajar memuat beberapa unsur, yaitu : penciptaan hubungan, sesuatu hal

(pengetahuan) yang sudah di pahami, dan sesuatu (pengetahuan) yang baru. Jadi,

dapat dikatakan bahwa makna/arti dari belajar itu sendiri tidak berangkat dari

sesuatu yang benar-benar tidak diketahui (nol), tetapi merupakan keterkaitan dari

dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru.

Menurut Sudjana dalam Sugiharto dkk., (2007) “pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat

menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar”. Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak sepenuhnya dapat

dijelaskan. Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai produk

interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. “Dalam arti yang lebih kompleks, pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang

guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan

sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan” (Trianto, 2009).

Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa belajar dan pembelajaran

merupakan dua hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan serta

melibatkan peran penting pendidik maupun peserta didik, karena belajar

merupakan segala upaya yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh

pengetahuan, keterampilan dan perubahan tingkah laku. Sedangkan pembelajaran

adalah upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mengoptimalkan pengetahuan

peserta didik.

B. Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar

“Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya” (Sudjana, 2009). “Menurut Suprijono (2009) hasil belajar adalah adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai,

dalam Suprijono (2009) mengatakan bahwa “hasil belajar meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap”.

Berdasarkan beberapa pengertian yang ada, maka hasil belajar merupakan

kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah melakukan pembelajaran berupa

perubahan yang mencakup tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek

psikomotorik, dan aspek afektif. Masing-masing dari aspek tersebut memiliki

kategori-kategori yang disusun secara hirarkis, sehingga menjadi taraf-taraf

yang semakin bersifat kompleks.

a. Aspek kognitif

Aspek kognitif adalah aspek yang mencakup kegiatan yang dilakukan oleh

otak. “Hal ini berarti segala upaya yang mencakup aktivitas otak termasuk dalam aspek kognitif” (Sudaryono, 2012). “Tujuan kognitif berorientasi kepada kemampuan “berfikir”, mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah

yang menuntutkan siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan

gagasan, metode atau prosedur yang sebelumnya dipelajari untuk

memecahkan masalah tersebut (Yamin, 2012 Menurut Bloom, dkk., dalam

Winkel (2015) aspek kognitif mencakup :

1. Pengetahuan C1 : mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari

dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah, dan

prinsip, serta metode yang diketahui;

2. Pemahaman C2 : mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti

3. Penerapan C3 : mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah

atau metode bekerja pada suatu kasus/masalah yang konkret dan baru;

4. Analisis C4 : mencakup kemampuan untuk merinci satu kesatuan ke dalam

bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat

dipahami dengan baik, kemampuan ini dinyatakan dengan menganalisis

bagian-bagian dasar, bersama dengan hubungan/relasi antar semua bagian;

5. Evaluasi C5 : mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat

mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggung

jawaban pendapat tersebut.

6. Berkreasi C6 : mencakup kemampuan dalam merancang, membangun,

merencanakan, memperkuat, memperindah dan mengubahnya.

b. Aspek psikomotorik

Aspek ini meliputi keterampilan motorik yang berhubungan dengan

anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan koordinasi antara

syaraf dan otot. Menurut Yamin (2012) terdapat 4 kategori aspek

psikomotorik yaitu :

1) Gerakan seluruh badan (gross body movement)

Gerakan seluruh badan adalah perilaku seseorang dalam suatu kegiatan yang

memerlukan gerakan fisik secara menyeluruh.

2) Gerakan yang terkoordinasi (coordination movements)

Gerakan yang terkoordinasi dalah gerakan yang dihasilkan dari perpaduan

antara fungsi salah satu atau lebih indera manusia dengan salah satu anggota

3) Komunikasi nonverbal (nonverbal communication)

Komunikasi nonverbal adalah hal-hal yang berkenaan dengan komunikasi

yang menggunakan simbol-simbol atau isyarat, misalnya isyarat dengan

tangan, anggukan kepala, ekspresi wajah, dan lain-lain.

4) Kebolehan dalam berbicara (speech behaviour)

Kebolehan dalam berbicara dalam hal-hal yang berhubungan dengan

koordinasi gerakan tangan atau anggota badan lainnya dengan ekspresi muka

dan kemampuan berbicara.

c. Aspek afekif

Aspek ini berhubungan dengan perasaan, emosi sistem nilai dan sikap hati

(attitude) yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu (Yamin, 2012). Aspek afektif meliputi lima aspek kemampuan yaitu :

1. Stimulasi

Stimulasi yaitu semacam kepekaan dalam menerima rangsang dari luar yang

datang dalam bentuk masalah, situasi dan gejala, dalam tipe ini termasuk

kesadaran, keinginan untuk menerima stimulasi kontrol dan seleksi gejala

rangsangan dari luar.

2. Jawaban

Jawaban yaitu reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang

datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam

3. Penilaian

Penilaian ini terdiri atas kesediaan menerima nilai, latar belakang atau

pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.

4. Organisasi

Organisasi yaitu pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi,

termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai.

5. Karakteristik

Karakteristik yakni keterpaduan semua sistem nilai yang dimiliki seseorang

yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Secara umum aspek yang biasa dinilai dalam suatu proses pembelajaran

yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Namun fokus utama

yang akan peneliti teliti hanya dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif.

Aspek kognitif berkaitan dengan kemampuan berfikir siswa yang akan digunakan

oleh peneliti untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi

sedangkan aspek afektif berkaitan dengan sikap siswa yang akan ditunjukkan oleh

siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini di ka renakan kedua aspek tersebut memiliki

kaitan erat dengan judul penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu untuk

meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada siswa kelas VIIB SMP Kanisius

Kalasan Yogyakarta.

Dalam penelitian ini, level kognitif yang akan diukur oleh peneliti adalah

sesuai dengan kompetensi dasar dan materi yang akan peneliti berikan kepada

siswa-siswi kelas VIIB SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Slameto (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

dapat digolongkan menjadi dua golongan sebagai berikut.

a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang disebut faktor individu

(internal), meliputi: (1) Faktor biologis, yang meliputi: kesehatan, gizi,

pendengaran dan penglihatan. Jika salah satu dari faktor biologis terganggu

maka akan mempengaruhi hasil prestasi belajar. (2) Faktor Psikologis,

meliputi: intelegensi, minat dan motivasi serta perhatian ingatan berpikir. (3)

Faktor kelelahan, yang meliputi: kelelahan jasmani dan rohani. Kelelahan

jasmani nampak dengan adanya lemah tubuh, lapar dan haus serta

mengantuk. Sementara itu, kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya

kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan

sesuatu akan hilang. “Faktor dari siswa sendiri juga berupa kemampuan-kemampuan pemahaman siswa” (Suprijono, 2009).

b. Faktor yang ada pada luar individu yang disebut dengan faktor eksternal,

yang meliputi: (1) Faktor keluarga. Keluarga adalah lembaga pendidikan

yang pertama dan terutama serta merupakan lembaga pendidikan dalam

ukuran kecil tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran

besar. (2) Faktor sekolah, meliputi: metode mengajar, kurikulum, hubungan

guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan berdisiplin sekolah. (3) Faktor

prestasi belajar siswa. Jika lingkungan siswa adalah lingkungan terpelajar

maka siswa akan terpengaruh dan terdorong untuk lebih giat belajar.

Faktor yang akan menjadi fokus utama dalam penelitian ini yaitu faktor yang

berasal dari luar individu atau yang biasa di sebut dengan faktor eksternal. Faktor

eksternal yang terkait dalam penelitian ini yaitu faktor sekolah yang meliputi

metode mengajar yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar sesuai

dengan materi yang di pelajari.

C. Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi Belajar

“Motivasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam belajar, motivasi berhubungan dengan (1) arah perilaku; (2) kekuatan respon (yakni

usaha) setelah belajar siswa memilih mengikuti tindakan tertentu; dan (3)

ketahanan perilaku, atau beberapa lama seseorang itu terus menerus berperilaku menurut cara tertentu” (Yamin, 2012 : 80). Menurut Sardiman (2005 : 75) motivasi belajar diartikan sebagai “serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu

dan bila ia tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelak

perasaan tidak suka itu”. Menurut Sumarmi (2005 : 23), “motivasi adalah suatu energi penggerak dan pengarah yang dapat memperkuat dan mendorong

seseorang untuk bertingkah laku”. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya. Menurut Frederick (2007 : 35), “motivasi adalah

perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan

dan reaksi untuk mencapai tujuan”.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa motivasi

merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam belajar sehingga

mendorong terjadinya perubahan dalam diri siswa atas dasar keinginan sendiri

dan rasa suka untuk mencapai tujuan.

2. Fungsi Motivasi

Menurut (Anggowo dan Kosasih, 2007), “motivasi akan menentukan intensitas usaha siswa untuk melakukan sesuatu termasuk melakukan belajar”. Dalam kehidupan ini motivasi yang ada pada manusia mempunyai tiga fungsi

dasar yaitu :

a. Mendorong manusia untuk berbuat sehingga motivasi berfungsi sebagai

penggerak atau motivasi sebagai pendorong dari setiap kegiatan belajar.

b. Menentukan arah perbuatan, kegiatan pembelajaran yakni kearah tujuan

belajar yang hendak dicapai.

c. Menyeleksi kegiatan pembelajaran, yakni menentukan kegiatan-kegiatan apa

yang harus dikerjakan yang sesai guna mencapai tujuan pembelajaran dengan

menyeleksi kegiatan-kegiatan yang tidak berujung bagi pencapaian tujuan

tersebut.

3. Macam-Macam Motivasi

Menurut Yamin (2012 : 85) motivasi dalam belajar dibedakan dalam dua

a. Motivasi ekstrinsik

“Motivasi ekstrinsik merupakan kegiatan belajar yang tumbuh dari dorongan dan kebutuhan seseorang tidak secara mutlak berhubungan dengan kegiatan belajarnya sendiri”. Beberapa bentuk motivasi belajar ekstrinsik menurut Winkel dalam Yamin (2012) diantaranya adalah ; (1) Belajar demi memenuhi kewajiban;

(2) Belajar demi menghindari hukuman; (3) Belajar demi memperoleh hadiah; (4)

Belajar demi meningkatkan gengsi; (5) Belajar demi memperoleh pujian dari

orang yang penting seperti orang tua dan guru; (6) Belajar demi tuntutan jabatan

yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan pangkat/golongan

administratif.

b. Motivasi instrinsik

“Motivasi instrinsik merupakan kegiatan belajar yang dimulai dan diteruskan, berdasarkan penghayatan sesuai kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar”. Misalnya belajar karena ingin memecahkan suatu permasalahan, ingin mengetahui mekanisme berdasarkan hukum dan

rumus-rumus, ingin menjadi seorang profesor, atau ingin menjadi seseorang yang ahli

dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu. Pada intinya motivasi instrinsik adalah

dorongan untuk mencapai suatu tujuan yang dapat dilalui dengan belajar, dan

dorongan belajar itu tumbuh dari dalam diri subyek belajar.

4. Cara Meningkatkan Motivasi

Beberapa cara meningkatkan motivasi belajar menurut Fathurrohman dan

1. Memberi angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak

siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang

dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang

baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang

perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum

merupakan hasil yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut

dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.

2. Menjelaskan tujuan kepada peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru

menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya

kepada siswa. Semakin jelas tujuan maka semakin besar pula motivasi dalam

belajar.

3. Hadiah

Hadiah akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi.

Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Di samping itu, siswa yang

belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang

berprestasi.

4. Saingan/kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk

meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang

5. Pujian

Siswa yang berprestasi sudah sewajarnya untuk diberikan penghargaan atau

pujian. Pujian yang diberikan bersifat membangun. Dengan pujian siswa akan

lebih termotivasi untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.

6. Hukuman

Cara meningkatkan motivasi belajar dengan memberikan hukuman. Hukuman

akan diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar

mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau

merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Bentuk hukuman

yang diberikan kepada siswa adalah hukuman yang bersifat mendidik seperti

mencari artikel, mengarang dan lain sebagainya.

7. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.

Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

Selain itu, guru juga dapat mmebuat siswa tertarik dengan materi yang

disampaikan dengan cara menggunakan metode yang menarik dan mudah

dimengerti oleh siswa.

8. Membuat kebiasaan belajar yang baik

Kebiasaan belajar yang baik dapat dibentuk dengan cara adanya jadwal

belajar.

9. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun

Membantu kesulitan pesera didik dengan cara memperhatikan proses dan hasil

belajarnya. Dalam proses belajar terdapat beberapa unsur antara lain yaitu

penggunaan metode untuk menyampaikan materi kepada para siswa. Metode

yang menarik yaitu dengan gambar dan tulisan warna-warni akan menarik

siswa untuk mencatat dan mempelajari materi yang telah disampaikan.

10.Menggunakan metode yang bervariasi

Meningkatkan motivasi belajar dengan menggunakan metode pembelajaran

yang variasi. Metode yang bervariasi akan sangat membantu dalam proses

belajar dan mengajar. Dengan adanya metode yang baru akan mempermudah

guru untuk menyampaikan materi pada siswa.

11.Menggunakan media pembelajaran yang baik, serta harus sesuai dengan

tujuan pembelajaran.

Motivasi belajar bisa tumbuh dari dalam diri seseorang tetapi juga dapat

dibantu oleh guru. Dalam hal ini motivasi belajar dilakukan untuk

meningkatkan semangat belajar siswa agar mendapat nilai yang lebih baik.

Banyak cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi sesuai

dengan Sutikno (2007).

Cara yang akan digunakan oleh peneliti dalam penelitian untuk meningkatkan

motivasi siswa dalam penelitian ini yaitu melalui pemberian hadiah dan pujian,

penggunakan metode yang bervariasi dan penggunakan media pembelajaran yang

baik dan sesuai dengan materi yang akan disampaikan dalam proses belajar

mengajar. Pemberian hadiah dan pujian dilakukan agar siswa semakin termotivasi

pencemaran dan kerusakan lingkungan, sedangkan penggunaan metode/model

pembelajaran yang bervariasi dan media yang sesuai dengan materi yang akan

disampaikan akan membantu siswa agar lebih mudah memahami materi tersebut

sehingga akhirnya siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai yang di

harapkan oleh peneliti. Melalui ketiga cara ini, peneliti berharap agar motivasi

siswa dapat meningkat sehingga hasil belajarnya pun dapat menjadi meningkat.

D. Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Kooperatif berasal dari bahasa inggris yaitu cooperate yang berarti bekerja

bersama-sama. Menurut Slavin (2008), “pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok

kecil yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen secara

kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar”. “Pembelajaran kooperatif (kerja sama) merupakan model pembelajaran yang bertolak dari sifat dasar manusia tersebut, dan diarahkan pada pengembangan kemampuan siswa dalam realisasi sifat dasar tersebut” (Nana dan Erliana, 2012). Menurut Lie dalam Wena (2009), mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa

untuk bekerja sama dalam tugas-tugas yang terstruktur dan dalam sistem ini

guru bertindak sebagai fasilitator”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

memanfaatkan teman sebaya sebagai sumber belajar, disamping guru dan

sumber belajar lainnya.

2. Prinsip Dasar dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Menurut Johnson dalam Wena (2009), prinsip dasar pembelajaran kooperatif

adalah sebagai berikut :

a. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang

dikerjakan dalam kelompok.

b. Setiap anggota kelompok harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok

mempunyai tujuan yang sama.

c. Semua anggota kelompok harus membagi tugas dan bertanggung jawab yang

sama di antara anggota kelompoknya.

d. Setiap anggota kelompok akan dikenai evaluasi.

e. Setiap anggota kelompok berbagi kepemimpinan dan membutuhkan

keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

f. Setiap anggota kelompok akan diminta mempertanggung jawabkan secara

individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Adapun karakteristik pembelajaran kooperatif adalah :

a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai

kompetensi dasar yang akan dicapai.

Dokumen terkait