1.4 Manfaat Penelitian
2.1.4 Pembelajaran Matematika di SD
2.1.4.1 Pengertian Pembelajaran Matematika
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada pada semua jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari dalam dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Susanto, 2015: 185). Matematika, menurut Ruseffendi (dalam Heruman, 2014:1) adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma, dan akhirnya ke dalil.
Matematika sebagai matematika sekolah dapat dilihat dari empat aspek yaitu: penyajian, pola pikir, semesta pembicaraan, dan tingkat keabstrakan. Penyajian tidak harus diawali dengan teorema maupun definisi, pola pikir yang digunakan dapat secara deduktif maupun induktif. Sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, maka matematika disajikan dalam kekompleksan semestanya. Semakin meningkat tahap perkembangan intelektual siswa maka semesta matematikanya semakin meningkat. Demikian pula dengan tingkat keabstrakan matematika harus menyesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual siswa (Hendriana dan Utari, 2014: 13).
Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga
peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari (Muhsetyo, 2009: 1.26). Selanjutnya, menurut Susanto (2015: 186) pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan mengonstruksi pengetahuan baru untuk meningkatkan penguasaan materi matematika. Dalam pembelajaran matematika bukan sekedar transfer ilmu dari guru ke siswa, namun kegiatan yang mengharuskan adanya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan. Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang belajar matematika apabila setelah belajar terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa yang berkaitan dengan matematika.
Objek matematika bersifat abstrak, maka belajar matematika memerlukan daya nalar yang tinggi. Demikian pula dalam mengajar matematika guru harus mampu mengabstraksikan objek-objek matematika dengan baik sehingga siswa dapat memahami objek matematika yang diajarkan.
Menurut Hendriana dan Utari (2014: 11) ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk pembelajaran matematika saat ini, agar proses pembelajaran matematika dapat bermakna dan berdampak bagi peserta didik adalah.
1. Kreativitas guru untuk menyiasati kurikulum yang sedang berlaku. Guru tidak hanya mengajar sesuai petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis kurikulum, tetapi dapat menyiasati kurikulum dengan memilih dan memilah materi yang penting bagi siswa dan memberikan materi secara berkelanjutan, bahkan bila perlu membuang materi yang tidak penting.
2. Inovasi guru dalam pembelajaran. Variasi metode pembelajaran memegang peran penting untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran matematika. Inovasi dalam metode pembelajaran dengan berbagai variasi sesuai materi ajar akan membuat siswa tidak jenuh untuk mengikuti pembelajaran.
3. Mengaitkan materi ajar dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan menunjukkan keterkaitan matematika dengan realitas kehidupan, akan menjadi pelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa. 2.1.4.2 Karakteristik Pembelajaran Matematika di Sekolah
Menurut Suherman (dalam Depdiknas, 2007: 7) karakteristik pembelajaran matematika di sekolah yaitu sebagai berikut.
1) Pembelajaran matematika berjenjang (bertahap)
Materi pelajaran diajarkan secara berjenjang maupun bertahap, yaitu dari hal konkret ke abstrak, hal yang sederhana ke kompleks, atau konsep mudah ke konsep yang lebih sukar.
2) Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral
Setiap mempelajari konsep baru perlu memperhatikan kosep tau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari. Pengulangan konsep dalam bahan ajar dengan cara memperluas dan memperdalam adalah perlu dalam pembelajaran matematika (spiral melebar dan menaik).
3) Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif
Matematik adalah deduktif, matematika tersusun secara deduktif aksiomatik. Namun demikian harus dapat dipilihkan pendekatan yang cocok dengan
kondisi siswa. Dalam pembelajaran belum sepenuhnya menggunakan pendekatan deduktif tapi masih campuran.
4) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan kebenaran konsistensi, tidak bertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila didasarkan atas pernyataan-pernyataan yang terdahulu yang telah diterima kebenarannya. 2.1.4.3 Langkah Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Sebagaimana dikemukakan oleh Heruman (2014: 2) berikut adalah pemaparan pembelajaran yang ditekankan pada konsep-konsep matematika.
a) Penanaman Konsep Dasar (Penanaman Konsep)
Yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika. Pembelajaran suatu konsep dasar merupakan jembatan yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep baru matematika yang abstrak.
b) Pemahaman Konsep
Yaitu lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman konsep terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanamn konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari pemahaman konsep. Pada pemahaman tersebut, penanaman
konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, disemester atau kelas sebelumnya.
c) Pembinaan Keterampilan
Yaitu pembelajaran lanjutan dari pemahaman konsep dan penanaman konsep. Pembelajaran pembinaan keterampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti halnya pada pemahaman konsep, pembinaan keterampilan juga terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dan pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pembinaan keterampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa langkah pembelajaran matematika di sekolah dasar meliputi: penanaman konsep dasar, pemahaman konsep agar siswa lebih memahami konsep matematika, dan pembinaan keterampilan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika.