BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2. Pembelajaran Matematika
Pada kurikulum berbasis kompetensi SDLB (2004: 2) dijelaskan bahwa matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau yang dipelajari. Sedang dalam bahasa belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang semuanya berkaitan dengan penalaran. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran, dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika.
Menurut Sumardyono (2004: 28) secara umum definisi matematika dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1) Matematika sebagai alat (tool)
Matematika sering dipandang sebagai alat dalam mencari solusi pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.
2) Matematika sebagai pola pikir deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum). Matematika adalah sebagai ilmu dasar segala bidang ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting untuk kita ketahui.
Melalui penggunaan penalaran logika dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Matematika praktis telah
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
14
menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman tertulis. Kini matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat pengguanaan temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan. Para matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni, atau matematika untuk perkembangan matematika itu sendiri, tanpa adanya penerapan di dalam pikiran, meskipun penerapan praktis yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata sering kali ditemukan terkemudian.
Berdasarkan pernyataan di atas jelas bahwa matematika dalam jajaran ilmu pengetahuan memiliki peranan sekaligus sebagai bekal bagi para peserta didik dalam menuju kedewasaannya, artinya dalam kehidupan sehari-hari kemampuan menjadi standar untuk menentukan kemampuan dalam beradaptasi dengan lingkungannya selaras dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat seperti sekarang ini.
Jadi matematika adalah ilmu yang tidak dapat didefinisikan, melainkan dapat dibuktikan keakuratannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004: 2) pada pembelajaran matematika SDLB-C dijelaskan pemahaman konsep sebaiknya diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika. Pembelajarannya dimulai dari beberapa contoh atau fakta yang teramati. Misalnya buatlah daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), kemudian perkiraan hasil baru yang diharapkan. Kemudian hasil ini kita buktikan secara deduktif. Dengan demikian cara belajar deduktif dan induktif digunakan dan bersama-sama berperan penting dalam matematika. Prinsip mempelajari matematika tersebut diharapkan akan membentuk sikap siswa SDLB-C yang kritis, jujur, dan komunikatif.
commit to user
Berdasarkan pendapat tersebut di atas, pembelajaran matematika di SDLB-C bersifat induktif-deduktif, yaitu pembelajaran yang dimulai dari pengalaman kemudian untuk digunakan dalam pembelajaran konsep matematika.
b. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika Anak Tunagrahita Ringan
Fungsi mata pelajaran matematika matematika SDLB-C adalah mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan matematika untuk hidup dalam masyarakat dan bekal dalam dunia kerja. Pada buku Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SDLB-C (2006: 101-102), mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solosi yang diperoleh.
4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan dan masalah.
5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Mengingat kemampuan kognitif anak tunagrahita ringan sangat terbatas dan kurang dapat berpikir abstrak, maka dalam pembelajaran matematika media gambar dipandang perlu sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar matematika agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai, yakni anak mampu dan terampil dalam penguasaan kecakapan matematika khususnya penguasaan konsep penjumlahan, yang nantinya dapat dijadikan bekal belajar matematika tahapan berikutnya.
c. Materi Pembelajaran Matematika Anak Tunagrahita Ringan
Kurikulum yang digunakan di SDLB Negeri Kebakalan Banjarnegara pada tahun pelajaran 2011/2012 adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Adapun materi pembelajaran dalam pelajaran matematika pada penelitian ini adalah tentang
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
16
operasional penjumlahan yang ada pada semester 2, dengan demikian pokok bahasan berdasarkan kurikulum tersebut. Selanjutnya materi tersebut digunakan pada pembelajaran matematika dengan menggunakan media gambar.
Materi pelajaran matematika dalam Kompetensi Dasar adalah meliputi: 1) Melakukan penjumlahan benda sampai 20.
2) Melakukan pengurangan sampai 10. 3) Mencongak dan pengurangan sampai 10.
Dalam pembelajaran untuk penelitian ini dibatasi pada materi penjumlahan sampai dengan 20.
Dalam mengajarkan matematika anak tunagrahita ringan harus memperhatikan kondisi berikut ini yaitu: usia mental (umur kecerdasan), kemampuan berpikir, belajar melalui aktifitas konkrit, memperkaya pengalaman dengan memfungsikan seluruh penginderaan (sensori), dan tingkat kemandirian anak.
Proses pengajaran konsep bilangan bagi anak tunagrahita ringan adalah sebagai berikut: hal pokok yang harus dikuasai anak tunagrahita ringan adalah pengertian bilangan dan mengenal serta dapat menulis angka. Dalam mengerjakan konsep bilangan selalu diajarkan kepada anak didik dapat menentukan apa yang diketahui dan apa yang dinyatakan, sehingga mereka dapat memecahkan soal disertai pemikiran. Untuk menganalisa soal tersebut bagi anak tunagrahita ringan dapat dilakukan dengan cara mengkonkritkan soal-soal tersebut sehingga anak memperoleh pengalaman konkrit tentang konsep bilangan. Pengalaman tersebut dapat diperkuat melalui kegiatan yang diulang-ulang dengan variatif dan dinamis melalui media gambar. Dengan cara ini dapat dihindari hambatan psikologis yang berlangsung terhadap pelajaran matematika.
3. Gambar sebagai Media Pembelajaran