• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

a. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dengan suatu lingkungan belajar pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan peserta didik untuk diakses oleh pengguna akhir (16/12/2014).

b. Pendidikan Agama Islam adalah jenis pendidikan yang pendiri dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk menciptakan nilai-nilai islam, baik yang tercermin dalam nama lembaganya, maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Di sini kata Islam di tempatkan sebagai sumber nilai yang akan diwujudkan dalam seluruh kegiatan pendidikan.

2. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Satu hal yang penting bagi guru dalam hubungannya dengan anak ialah mengetahui hakikat perkembangan anak sehingga mereka akan mengerti bagaimna anak dan remaja tumbuh dan berkembangan dalam hal kognitif, sosial, dan moral. Guru taman kanak-kanak harus tahu seperti apa siswa-siswa mereka, demikian

juga dengan guru SD, SMP, SMA, sampai PT.( Zakiah Daradjat, 1996:122)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriftif kualitatif yaitu peneliti berusaha memberikan deskriftif atau gambaran tentang fungsi dan manfaat media elektronik dalam pengelola pembelajaran di SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa dan yang menjadi objek penelitian adalah murid kelas V dan guru Agama SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa.

C. Variabel Penelitian

Adapun variabel dalam penelitian ini yakni:

1. Fungsi dan manfaat media elektronik sebagai Fariabel bebas (independent variabel).

2. Pendidikan Agama Islam sebagai Fariabel terikat (dependent variabel)

D.Definisi Operasional Variabel

Adapun definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Fungsi dan manfaat media elektronik terbagi menjadi 2 yaitu manfaatnya kepada siswa dan kepada guru dimana manfaatnya untuk siswa yaitu dengan adanya fasilitas elektronika di sekolah akan berkemungkinan akan meningkatnya fleksibilitas belajar.maksud para siswa dapat mengakses materi-materi pelajaran mereka bahkan dilakukan secara berkali-kali Dan juga dapat berkonsultasi dan pendekatan terhadap guru mereka disetiap saat, sedangkan manfatnya untuk guru,yaitu guru bisa melakukan pembaruan materi yang akan mereka berikan selanjutnya,yang sesuiai dengan tuntutan pembelajaran supaya lebih baik dan berkembang.

2. Pendidikan Agama Islam adalah jenis pendidikan yang pendiri dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk menciptakan nilai-nilai islam,baik yang tercermin dalam nama lembaganya, maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.

Di sini kata Islam di tempatkan sebagai sumber nilai yang akan diwujudkan dalam seluruh kegiatan pendidikan.

Dengan demikian dapat simpulkan bahwa fungsi dan manfaat media elektronik terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam dapat menunjang pembelajaran sehingga pembelajaran berlangsun efektif.

E.Populasi dan Sampel

1. Populasi

Sebelum mengetahui keadaan populasi penelitian dalam skripsi ini, penulis terlebih dahulu memberikan pengertian populasi berdasarkan rumusan para ahli sebagai berikut:

Keseluruhan subyek penelitian.Apabila seseorang ingin menelliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut populasi”Suharsimi Arikunto,(1991:102).

Populasi merupakan keseluruhan individu yang merupakan sumber informasi data yang ada hubungannya dengan penelitian tentang data yang diperlukan berkaitan dengan ini Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa populasi adalah: Seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki disebut populasi atau universum. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sejumlah objek yang lengkap dan mempunyai karakteristik yang akan atau sedang diteliti ( Hadi, Sutrisno. 1991:220).

Dalam kaitannya dengan penelitian ini maka yang menjadi populasinya adalah seluruh komponen sekolah di SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab. Gowa. Namun yang akan ditampilkan hanyalah populasi siswa dengan guru sebagai objek yang menggunakan media

elektronik dalam proses belajar mengajar. Untuk mengetahui keadaan populasi penelitian, berikut ini akan disajikan dalam bentuk tabel:

Tabel I: Populasi Guru Dan Siswa

SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa 2014/2015.

No Siswa Guru Jenis kelamin Jumlah Perempuan Laki-laki

1 Kelas I 9 12 21

2 Kelas II 12 11 23

3 Kelas III 15 21 36

4 Kelas IV 14 17 31

5 Kelas V 19 22 41

6 Kelas VI 20 12 32

7 Guru pai 1 1

Jumlah total 185

2. Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diteliti, sebagai dasar untuk menarik kesimpulan dalam suatu penelitian. Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa sampel adalah: “sebagian dari populasi disebut sampel, sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi”(

Sutrisno,Hadi:1991:221).

Sampel dalam kriteria penelitian adalah sapjek dalam populasi yang memenuhi syarat diantaranya. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas V dengan jumlah 41 orang siswa, yang dibagikan angket dan guru Pendidikan Agama Islam hanya di wawancarai, dengan menggunakan tehnik profosip sampling yang dimana penunjukan sampel secara langsung.Dengan poko pikiran sebagai berikut :

a. Karena kelas v adalah cluster yang telah menggunakan media elektronik dalam proses pembelajaran, sehingga dengan demikian dapat membantu peneliti dalam pengumpulan data yang berhubungan dengan permasalahan.

b. Sampel pada guru karena peneliti ingin mengetahui peningkatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam penggunaan media elektronik.

Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:

Tabel II: Sampel penelitian SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa

No Sampel Jumlah

1 Siswa Kelas v 41

Total Sampel 41

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.Instrumen penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam penelitian karena berfungsi sebagai alat atau sarana pengumpulan data.

Dengan demikian, instrument harus relevan dengan masalah dan aspek yang akan diteliti, agar memperoleh data yang akurat.

Instrumen penelitian data pada penelitian ini dilakukan melalu wawancara, observasi dikelas, dan metode angket

a. Wawancara ( Interview)

Wawancara merupakan kegiatan atau metode pengumpulan data yang dilakukan dengan bertatapan langsung dengan responden, sama seperti penggunaan daftar pertanyaan (Moehar Daniel, 2003: 143) b. Observasi

Observasi merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh gambaran tentang fenomena yang terjadi dan melukiskannya dengan kata-kata secara cermat dan tepat (Nasution, 2003:102)

c. Angket

Angket merupakan suatu tehnik atau cara pengumpulan data secara tidak langsung (penelitian tidak langsung bertanggung jawab dengan responden) dengan instrumennya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden

G. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penulisan ini, penulis menggunakan cara sebagai berikut :

1. Wawancara dilakukan dengan bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi

2. Observasi dengan pengamatan dan pencatatan dengan sistemati fenomena-fenomena yang diselidiki.

3. Angket dengan menyodorkan daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data dari responden

4. Dokumentasi, dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.

H. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan deskriptif dengan menggunakan data kualitatif yang menggambarkan penyusunan data, kemudian disimpulkan dengan cara deskriptif kualitatif.

Dengan Rumus : P= f X 100%

N Keterangan :

F = Frekuensi /banyaknya individu

N = Jumlah Frekuensi banyaknya individu P = Angka Persentase

BAB II

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian.

1. Sejarah singkat SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab.

Gowa.

SD Inpres Timbuseng merupakan salah satu sekolah dasar Inpres Timbuseng yang tempatnya di jalan poros Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa. Beroperasi pada tahun1973 sampai sekarang dan kepala sekolah yang memimpin sekaran yaitu Ramlah,S.Pd.

luas tanahnya 2.300 m yang di pagari secara permanen 384 m.

2. Kadaan Siswa Dan Guru.

a. Keadaan siswa

Murid merupakan subjek sekaligus sebagai objek pendidikan.Murid yang diterima masuk sekolah adalah mayoritas dari anak-anak masyarakat di sekitar lokasi sekolah.

SD Inpres Timbuseng saat ini terdiri dari kelas I mempunyai ruangan satu yang jumlah siswanya 21 orang, kelas II mempunyai ruangan satu yang jumlah siswanya 23 orang, kelas III mempunyai ruangan satu yang jumlah siswanya 36 orang, kelas IV mempunyai ruangan satu yang jumlah siswanya 31 orang. Kelas V mempunyai ruangan 1 jumlah siswanya 41 orang.Kelas VI mempunyai ruangan satu yang jumlah siswanya 32 orang.jadi jumlah keseluruhan 184 orang.

27

Tabel 3 Jumlah Siswa

No Siswa Jenis kelamin Jumlah Perempuan Laki-laki

1 Kelas I 9 12 21

2 Kelas II 12 11 23

3 Kelas III 15 21 36

4 Kelas IV 14 17 31

5 Kelas V 19 22 41

6 Kelas VI 20 12 32

Jumlah total 89 95 184

Sumber: Dokumentasi SD Impres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab.

Gowa.

b. Keadaan Guru dan Para Pegawai

SD Inpres Timbuseng adalah sekolah yang bernaung dibawah Departemen Pendidikan dan pengajaran. Dalam proses belajar mengajar, guru guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan memberi fasilitas belajar siswa untuk mengcapai tujuan, guru mempunyai tangung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.

Guru dalam pengajaran harus berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaan. Akan tetapi, situasi yang dihadapi guru dalam melaksanakan pengajarannya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus peka

terhadap berbagai situasi yang dihadapi.Situasi pengajaran itu sendiri banyak dipengaruhi oleh factor keterampilan guru.

Adapun keadaan guru di SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kabupaten Gowa antara lain pada tabel 2

Tabel 4 Jumlah Guru

No Nama Guru Golongan Jabatan

1 Ramlah S. Pd IV/a KEPSEK

2 Syamsiah S.Pd IV/a GK

3 Nurhayati, S.Pd IV/a GK

4 Badaruddin, A.Ma II/a GK

5 Suhaeni, S.Pd III/a GK

6 Muslimin, A.Ma II/b GK

7 Asri, S.Pd II/a GR POJK

8 An-Amaliah III/a GK

9 Hasiah S II/b GK

10 Mukram, S.Pd.I - G. AGAMA

11 Hasnawati, S.Pd - GK

12 Andi Ahmad A.J - SATPOL PP

13 Muh. Malik Syamsuddin - BUSEK

Sumber: Dokumentasi SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab.

Gowa.

Dari tabel diatas menggambarkan bahwa sejumlah guru yang ada di SD Inpres Timbuseng Kec Pattallassang Kab. Gowa cukup memadai, demikian pula tenaga administrasinya sehingga dalam menjalankan proses belajar mengajar mudah dan lancar.

3. Keadaan Sarana Prasarana

Sarana dan prasarana sebagai lingkungan fisik tempat belajar meliputi ruangan, tata ruangan dan berbagai situasi yang ada di sekitar kelas atau sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.

Sarana dan prasarana itu dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi situasi belajar.

Sarana juga merupakan hal yang penting yang harus dikemukakan karena itu adalah salah satu penunjang dalam kelancaran proses belajar mengajar. Karena sukses atau tidaknya suatu proses belajar mengajar dipengarui oleh sarana dan prasarana.

Upayah meningkatkan pendidikan melalui pembukaan sarana dan prasarana sebagai aspek penunjang utama, maka SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab.Gowa memiliki aspek tersebut, namun semua Pembina sekolah dah dalam hal ini guru-guru yang ada SD Inpres Timbuseng terus untuk menambah dan memanfaatkan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab. Gowa.Dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5 Keadaan Sarana

No Jenis Sarana Keadaan sarana Jumlah

1 Ruang Kepala Sekolah Permanen 1

2 Ruang Guru Semi Permanen 1

3 Ruang Tamu Semi Permanen 1

4 Perpustakaan Permanen 1

5 WC Permanen 2

6 Ruangan Kelas Permanen 6

Sumber: Dokumentasi SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab.

Gowa 2015.

Tabel 6 Keadaan Prasarana

No Jenis Prasarana Keadaan sarana Jumlah baik Rusak

1 Kursi/meja Kepala Sekolah 1 1 Pasang

2 Kursi/meja Guru 6 2 8 Pasang

3 Kursi Tamu 3 3

4 Kursi/meja siswa 42 3 45 pasang

5 Computer 1 1

6 TV 1 1

7 LCD 1 1

8 Rak Buku 1 1

9 Lemari Perpustakaan 3 1 4

10 Papan Tulis 6 1 7

11 Papan Potensi/ Data 2 2

12 Lemari 1 2 3

13 Papan Absen Kelas 6 6

14 Papan Pengumuman 1 1

15. Papan Grafik 6 6

16 Papan Nama Sekolah 1 1

17 Alat UKS 1 1

18 Alat Peraga 20 3 23

19 Papan Tulis Lipat/ Gantung 6 2 8

20 Jam dinding 1 1 1

Sumber: Dokumentasi SD Inpres Timbuseng Kec. Pattallassang Kab.

Gowa 2015.

dari tabel tersebut di atas, maka dilihat bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki SD Inpres Timbuseng dapat menunjang terlaksananya proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang ditentukan.

B. Jenis- Jenis Media Elektronik yang digunakan dalam Proses Pembelajran Pendidikan Agama Islam siswa kelas V di SD Inpres Timbuseng Kec, Pattallassang Kab. Gowa.

Media pembelajaran merupakan salah satu sistem yang digunakan dalam meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah. Media

Pendidikan Agama Islam yang tersedia di SD Inpres Timbuseng adalah media elektronikdan diantaranya adalah gambar, buku praktek PAI, Papan Tulis dan LCD laptop.Olehnya itu seorang guru harus betul-betul jeli terhadap permasalahan yang dihadapi, dan apakah pokok bahasan itu memang diperlukan media, karena tidak semua materi yang diajarkan tidak menggunakan media.

Berdasarkan hasil wawancara salah seorang guru Agama Islam dalam penjelasannya mengatakan bahwa

media elektronik dalam pengajaran di SD Inpres Timbuseng, hanya menggunakan media elektronik adalah alat bantu yang dapat merangsang cara berfikir dan belajar anak yaitu dengan menampilkan di layar LCD tata cara shalat dan tata cara wudhu.

(wawancara di ruangan kelasv tanggal 26 Februari 2015).

`

Melihat dari penjelasan tersebut diatas tentu dalam penggunaan media elektronik dalam pengajaran disetiap sekolah tidak bisa dijalankan semua disebabkan ada faktor penghambat diantaranya adalah karena tidak semua materi agama Islam menggunkan media pengajaran.Namun yang perlu diperhatikan seorang guru agar supaya media pengajaran itu bisa memberikan rangsangan kepada siswa untuk lebih giat belajar.Mengingat dari materi pelajran Agama Islam, tidak semua pokok bahasan menggunakan media, hanya sebagaian saja.

Kesimpulanya bahwa pada umumnya guru agama dalam memberikan materi pelajaran kepada siswa menggunakan media elektronik, dengan media pembelajaran ini, merupakan salinan yang

dilakukan oleh guru, dengan tujuan untuk mengantisipasi perkembangan anak didik, serta mengamati hasil yang didapat dengan menggunakan metode pembelajaran.

Sedangkan hasil wawancara penulis dengan salah seorang siswa yaitu M. Fadil mengatakan bahwa

jenis-jenis media elektronik dalam pengajaran yang digunakan oleh guru agama Islam, yaitu vidio karena jenis media elektronik dalam pengajaran tersebut mudah didapatkan hanya membuka di internet hanya penggunaanya memerlukan keterampilan atau pola pikir yang baik. (wawancara di kelas Vpada tanggal 26 Februari 2015).

C. ManfaatMediaElektronikdalamProsesPembelajaranPendidikanAg amaIslam siswa kelas V di SD Inpres Timbuseng Kec, Pattallassang Kab. Gowa.

Prosesbelajarmengajarberlangsungkehadiranmediaelektronikmemp unyaiartiyangcukuppenting.Karenadalamkegiatantersebutketidakjelasanba hanyangdisampaikandapatmembantudenganmenghadirkanmediaelektroni ksebagaiperantara,kerumitanbahanyangakandisampaikankepadaanakdidi kdapatdisederhanakandenganbantuanmedia.Media

elektronikdapatmewakiliapayangkurangmampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu, bahkan keabstrakan bahan dapat dikontritkan dengan kehadiran media elektronik dalam pengajaran.

Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar semakin hari semakin meningkat peranannya. Seiring dengan kemajuan dalam bidang pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tersedianya sarana komunikasi yang memadai

dengan terbukanya kesempatan belajar peserta didik melalui berbagai sumber dan media pengajaran.

Hal ini memberikan tantangan kepada setiap guru agar selalu belajar untuk menyesuaika diri terhadap perkembangan tersebut dengan sebaik-baiknya. Di samping itu guru dibekali dengan sejumlah pengetahuan dasar keguruan untuk diterapkannya dalam proses belajar mengajar. Serta selalu intropeksi diri untuk mengembangkan dirinya.

Proses belajar mengajar adalah proses interaksi edukatif (kegiatan bersama yang sifatnya mendidik) antara guru dengan siswa, di mana berlangsungnya proses tranfeling (pengalihan) nilai dengan memanfaatkan secara optimal, selektif dan efektif.

Media elektronik dalam pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi proses hasil belajar yang dicapai.

Mukram yang salah seorang guru agama Islam mengatakan bahwa Manfaat media elektronik dalam proses pembelajaran agama Islam adalah dengan menggunaan media elektronik yang dipilih secara tepat dan berdaya guna dapat membantu siswa dalam hal meningkatkan daya serap mereka terhadap materi pendidikan agama yang di sajikan, lebih memahami terhadap materi pendidikan agama Islam, merangsang cara berfikir mereka.(wawancara tgl 4 Maret 2015,diruangan kelas V )

Penggunaan media elektronik bagi guru agama dapat mengefektifkan dan memfungsionalkan pengunaan alat indra siswa sebanyak mungkin sesuai dengan siswa materi dan pokok bahasa yang

disampaikan. Dengan menggunakan materi yang tepat guna, uraian dan contoh-contoh yang perna dikemukakan makin bertambah jelas.

Pesan-pesan pendidikan agama Islam telah disajikan tadi, mungkin dalam media tadi terdap hal-hal yang baru yang kurang memahami mereka, sehingga guru dapat menjelaskan dengan baik. Bila dikaji secara mendalam media yang digunakan secara tepat dapat merangsang para siswa dengan pesan-pesan pendidikan, siswa yang kritis akan bertanya-tanya dalam dirinya selama media yang ditunjukkan dan sesudah penyajian. Selama penggunaan media elektronik, secara tidak langsung guru agama telah memotivasi seluru siswa untuk terlibat secara efektif dalam proses belajar mengajar. Bahkan jarang peserta didik yang ingin sekali lagi mengikuti dan mengulangi penyajiannya, karena keinginan yang besar untuk memahaminya dengan baik.

Hasil dari penelitian penulis di SD Inpres Timbuseng siswa kelas V menunjukkan bahwa penggunaan manfaat media dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam sangat bermanfaat, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7

Manfaat Media Eletronik dalam Proses Pembelajan Pendidikan Agama Islam di SD Inpres Timbuseng

No Pertanyaan Ya Tidak Kada

1 Apakah materi pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam media elektronik yang di gunakan dapat menarik perhatian anda ?

28 0 13

2 Apakah media elektronik dalam proses pendidikan Agama Islam yang digunakan akan memperjelas pokok bahasa yang disajikan ?

33 0 8

3 Apakah materi pendidikan Agama Islam yang terdapat dalam media elektronik yang di gunakan tersebut memang sangat penting

?

36 0 5

4 Apakah dalam menggunakan media elektronik, materi pendidikan Agama Islam sesuai yang di ajarkan oleh guru ?

33 0 8

5 Apakah media elektronik yang di gunakan dapat membantu peserta didik dalam hal

terhadap materi yang di sajikan?

7 Apakah media elektronik yang digunakan dalam proses belajar mengajar itu dapat membantu para peserta didik melakukan diskusi baik dengan gurunya maupun sesamanya?

33 1 7

8 Apakah materi pendidikan Agama Islam yang di ajarkan tersebut dalam penyajiannya memerlukan media elektronik untuk membantu anda ?

31 0 10

9 Apakah media elektronik yang di gunakan dalam proses pembelajaran Agama Islam dapat membantu memperjelas pengalaman langsung yang perna di alami mereka dalam kehidupan beragama?

31 0 10

10 Apakah materi pendidikan Agama Islam yang di ajarkan guru sesuai dengan kehidupan?

25 0 16

jumlah 306 1 107 414

Presentase 7,49 0,24 2,61 100%

sumber: data: hasil penelitian, tanggal 26 februari 2015

Hasil menunjukkan bahwa jawaban ya : 7,49% ini mengungkapkan bahwa siswa menganggap media elektronik sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran penddikan agama Islam. Jawaban tidak : 0,24% ini mengungkapkan bahwa media itu sangat kurang bermanfaat bagi siswa.

Sedangkan jawaban kadang-kadang : 2,61% ini menunjukkan bahwa

siswa menganggap kadang bermanfaat dan kadang juga tidak bermanfaat dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam.

Seperti yang di jelaskan di atas bahwa media elektronik sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran agama Islam dan memper tinggi hasil belajar dan juga akan memperjelas pesan-pesan pendidikan yang disajikan oleh guru dalam proses belajar mengajar berlangsung.

Manfaat media elektronik itu tidak hanya dapat digunakan dalam proses belajar mengajar tetapi juga dilingkungan masyarakat atau kehidupan sehari-hari.

Sesuai hasil wawancara salah satu guru bidang studi pendidikan agama Islam mengatakan bahwa manfaat media elektronik dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam adalah karena dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya, dan juga dapat memberi motivasi dan minat belajar siswa mengenai apa yang terdapat di dalam media elektronik itu, sekaligus mengingat kembali apa yang telah dipelajari.

Berdasarkan hasil dari angket dan wawancara diatas maka dapat ditarik sebuah sebuah kesimpulan bahwa media elektronik sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam siswa kelas V di SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa.

D. Hambatan-Hambatan yang dihadapi guru dalam menggunakan Media elektronik dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas V di SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa.

Setiap kegiatan yang dilakukan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun yang dilakukan secara berkelompok tentunya mempunyai hambatan yang dihadapi guru dalam menggunakan media elektronik dalam proses pembelajaran pendidikan Agama Islam tidak tersedia dengan baik sehingga sulit untuk dilakukan dengan baik karna kita membutuhkan bantuan baik itu kepada siswa atau guru- guru yang ada disekitar kita.

Hambatan yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran agama Islam yang di ungkapkan oleh bapak Mukram, S.PdI dalam wawancara antara lain.;

1. Cara penggunaanya masih terbatas karena tidak semua orang dapat menggunakannya media elektronik tertentu.

2. Karena tidak semua materi pendidikan agama Islam dapat ditampilkan atau diprogramkan dengan menggunakan media elektronik.(wawancara tgl 6 Maret 2015 dikelas V)

Selain dari hambatan tersebut di atas, juga hambatan yang sama dihadapi Hasiah S. di antaranya;

1. Ketidak mampuan untuk mengembangkan media elektronik yang digunakan disebabkan karena penguasaan terhadap karakteristik media elektronik itu sangat kurang.

2. Di dalam menggunakan media elektronik siswa menganggap permainan, sehinggah tujuan yang ingin dicapai tidak sesuai dengan yang dengan yang diharapkan.

Sebagai mana yang di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa.(wawancara tgl 6 Maret 2015 ruangan guru)

hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam prosespembelajaran agama Islam siswa kelas V di SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa antara lain;ketidak mampuan untu mengembangkan media elektronik yang digunakan disebabkan karena

hambatan-hambatan yang dihadapi guru dalam prosespembelajaran agama Islam siswa kelas V di SD Inpres Timbuseng Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa antara lain;ketidak mampuan untu mengembangkan media elektronik yang digunakan disebabkan karena

Dokumen terkait