• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran yang lebih luas

Tabel 2 Metode-metode pengumpulan data

Kotak 11 Pembelajaran yang lebih luas

Sebuah tinjauan yang dilaksanakan oleh Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies/IFRC) pada tahun 1999 menelaah evaluasi- evaluasi program-program kesiapsiagaan bencana di tiga benua untuk mengumpulkan pelajaran yang berkaitan dengan enam isu: kesesuaian pendekatan kewilayahan; keterpaduan dengan kegiatan-kegiatan lain; kemitraan dan peningkatan kapasitas; komunikasi program; dampak dan isu-isu yang berkaitan dengan para anggota delegasi yang bekerja dalam bidang kesiapsiagaan bencana; dan para relawan. Isu-isu ini muncul dalam semua atau sebagian besar program yang dievaluasi dan temuan-temuan tinjauan ini selanjutnya mewarnai strategi internasional IFRC.

Pada tahun 2006, Kelompok Evaluasi Independen Bank Dunia (World Bank’s Independent Evaluation Group)

menerbitkan evaluasi menyeluruh atas bantuan Bank kepada negara-negara yang terpengaruh bencana alam. Berdasarkan analisis atas 528 proyek sejak tahun 1984, evaluasi tersebut menelorkan banyak rekomendasi berkaitan dengan sifat dan efektivitas respons Bank terhadap bencana, integrasi manajemen risiko ke dalam strategi-strategi pembangunan dan koordinasi internal serta eksternal.

Sumber: Mitchell, J. Learning from the Past: a look back at evaluations and reviews of disaster preparedness programmes. Geneva: IFRC,

makalah tidak diterbitkan, 1999; World Bank. Hazards of Nature, Risks to Development: An IEG Evaluation of World Bank Assistance for

Natural Disasters. Washington, DC: World Bank, Independent Evaluation Group, 2006. Dapat diakses di: http://www.worldbank.org/ieg/ naturaldisasters/docs/natural_disasters_evaluation.pdf

3. Faktor-faktor penentu keberhasilan

 Perencanaan yang realistis dan praktis, dengan sasaran dan tujuan-tujuan yang jelas.

 Dalam perencanaan proyek perlu dialokasikan sumber daya (waktu, personel dan anggaran) yang memadai

untuk pemantauan dan evaluasi.

 Penggunaan metode-metode pengumpulan data campuran yang sesuai dengan proyek dan tujuan evaluasi.

 Keterlibatan para pemangku kepentingan utama, terutama para penerima manfaat, dalam evaluasi – sebagai

peserta yang sungguh-sungguh ikut ambil bagian di dalam proses, dan bukan hanya sebagai pihak yang memberikan informasi.

 Identifikasi dan pemilihan indikator-indikator yang relevan, yang dapat memperlihatkan dampak serta hubungan-

C a t a t a n P a n d u a n 13 195

 Pengenalan bahwa manfaat proyek mungkin tidak akan dinikmati dengan merata; identifikasi dampak pada

unsur-unsur masyarakat yang berbeda.

 Penerapan pembelajaran untuk meningkatkan praktik dan kebijakan.

 Transparansi dalam proses dan saling berbagi temuan dengan para pemangku kepentingan lain.

Kotak 12 Peristilahan dalam bidang bahaya dan kebencanaan

Mereka yang telah lama bergerak dalam bidang kebencanaan umumnya mengakui bahwa penggunaan istilah dalam bidang bahaya dan kebencanaan seringkali tidak konsisten, sesuatu yang mencerminkan bahwa bidang ini melibatkan para praktisi dan peneliti yang berasal dari berbagai disiplin ilmu. Rangkaian Catatan Panduan ini menggunakan istilah-istilah kunci di bawah ini.

Bahaya alam adalah suatu kejadian geofisik, atmosferik (berkaitan dengan atmosfer) atau hidrologis (misalnya, gempa bumi, tanah longsor, tsunami, angin ribut, ombak atau gelombang pasang, banjir atau kekeringan) yang berpotensi menimbulkan kerusakan atau kerugian.

Kerentanan adalah potensi untuk tertimpa kerusakan atau kerugian, yang berkaitan dengan kapasitas untuk mengantisipasi suatu bahaya, mengatasi bahaya, mencegah bahaya dan memulihkan diri dari dampak

bahaya. Baik kerentanan maupun lawannya, ketangguhan, ditentukan oleh faktor-faktor fisik, lingkungan

sosial, politik, budaya dan kelembagaan.

Bencana adalah berlangsungnya suatu kejadian bahaya yang luar biasa yang menimbulkan dampak pada komunitas-komunitas rentan dan mengakibatkan kerusakan, gangguan dan korban yang besar, serta membuat kehidupan komunitas yang terkena dampak tidak dapat berjalan dengan normal tanpa bantuan dari pihak luar.

Risiko Bencana adalah gabungan dari karakteristik dan frekuensi bahaya yang dialami di suatu tempat tertentu, sifat dari unsur-unsur yang menghadapi risiko, dan tingkat kerentanan atau ketangguhan yang dimiliki unsur-

unsur tersebut. 7

Mitigasi adalah segala bentuk langkah struktural (fisik) atau nonstruktural (misalnya, perencanaan penggunaan lahan, pendidikan publik) yang dilaksanakan untuk meminimalkan dampak merugikan dari kejadian-kejadian bahaya alam yang potensial timbul.

Kesiapsiagaan adalah kegiatan-kegiatan dan langkah-langkah yang dilakukan sebelum terjadinya bahaya- bahaya alam untuk meramalkan dan mengingatkan orang akan kemungkinan adanya kejadian bahaya tersebut, mengevakuasi orang dan harta benda jika mereka terancam dan untuk memastikan respons yang efektif (misalnya, dengan menumpuk bahan pangan).

Bantuan kemanusiaan,rehabilitasi dan rekonstruksi adalah segala bentuk kegiatan yang dilaksanakan setelah terjadinya bencana untuk, secara berurut, menyelamatkan nyawa manusia dan memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak, memulihkan kegiatan normal dan memulihkan infrastruktur fisik serta pelayanan masyarakat.

Perubahan iklim adalah suatu perubahan statistik yang signifikan pada pengukuran keadaan rata-rata atau ketidakkonsistenan iklim di suatu tempat atau daerah selama periode waktu yang panjang, yang diakibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh dampak kegiatan manusia pada komposisi atmosfir global atau oleh ketidakkonsistenan alam.

7 Rangkaian catatan panduan ini menggunakan istilah ‘risiko bencana’ sebagai pengganti istilah ‘risiko bahaya’ yang sebenarnya lebih tepat karena istilah ‘risiko bencana’ adalah istilah yang lebih umum digunakan oleh pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang pengurangan risiko.

Bacaan lebih lanjut

Memantau dan mengevaluasi pengurangan risiko bencana

Benson, C. and Twigg, J. Measuring Mitigation: Methodologies for assessing natural hazard risks and the net benefits of mitigation – a scoping study. Geneva: ProVention Consortium, 2001. Dapat diakses di: http://www.proventionconsortium.org/mainstreaming_ tools

ProVention Consortium. Risk Reduction Indicators. TRIAMS Working Paper. Geneva: ProVention Consortium, 2006. Dapat diakses di: http://www.proventionconsortium.org/themes/default/pdfs/TRIAMS_full_paper.pdf

ProVention Consortium: Details of the Consortium’s forthcoming Monitoring and Evaluation Sourcebook will be posted on its Tools for Mainstreaming Disaster Risk Reduction web page: http://www.proventionconsortium.org/M&E_sourcebook

Twigg, J. Disaster Risk Reduction: mitigation and preparedness in development and emergency programming. Good Practice Review no.9. London: Overseas Development Institute, Humanitarian Practice Network, 2001. Dapat diakses di: http://www.odihpn. org/publist.asp

World Bank. Hazards of Nature, Risks to Development: An IEG Evaluation of World Bank Assistance for Natural Disasters. Washington, DC: World Bank, Independent Evaluation Group, 2006. Dapat diakses di: http://www.worldbank.org/ieg/naturaldisasters/docs/ natural_disasters_evaluation.pdf

Perangkat untuk mengevaluasi sistem PRB di tingkat nasional

Mitchell, T. An Operational Framework for Mainstreaming Disaster Risk Reduction. London: Benfield UCL Hazard Research Centre, 2003. Dapat diakses di: http://www.benfieldhrc.org/disaster_studies/working_papers/workingpaper8.pdf

World Bank. Natural Hazard Risk Management in the Caribbean: Revisiting the Challenge. Report no. 24166, vol. 1. Washington, DC: World Bank, Caribbean Country Management Unit, 2002. Dapat diakses di: http://www.worldbank.org

World Bank. Natural Hazard Risk Management in the Caribbean: Good Practices and Country Case Studies. Technical Annex. Report no. 24166, vol. 2. Washington, DC: World Bank, Caribbean Country Management Unit, 2002. Dapat diakses di: http://www. worldbank.org

Perangkat untuk menilai pengarusutamaan PRB dalam lembaga

IFRC. Characteristics of a Well-Prepared National Society. Geneva: International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, 2001. Dapat diakses di: http://www.ifrc.org/docs/pubs/disasters/Checklist_WPNS.pdf

La Trobe, S. and Davis, I. Mainstreaming disaster risk reduction: a tool for development organisations. Teddington, UK: Tearfund, 2005. Dapat diakses di: http://tilz.tearfund.org/Research/Climate+change+and+disasters+policy

Wamsler, C. Operational Framework for Integrating Risk Reduction for Aid Organisations working in Human Settlement Development. London/Lund, Sweden: Benfield Hazard Research Centre/Lund University, Housing Development and Management, 2006. Dapat diakses di: http://www.benfieldhrc.org/disaster_studies/working_papers/workingpaper14.pdf

Isu-isu gender dalam PRB

Enarson, E. et al. Working with Women at Risk: Practical guidelines for assessing local disaster risk. Miami, USA: Florida International University; International Hurricane Research Center, 2003. Dapat diakses di: http://www.ihrc.fiu.edu/lssr/workingwithwomen. pdf

Memantau dan mengevaluasi pembangunan

Gosling, L. Toolkits: A practical guide to planning, monitoring, evaluation and impact assessment. London: Save the

Children, 2003.

OECD-DAC. Principles for Evaluation of Development Assistance. Paris: Organisation for Economic Co-operation and Development, Development Assistance Committee, 1991. Available at: http://www.oecd.org/dataoecd/21/41/35343400.pdf

Roche, C. Impact Assessment for Development Agencies: Learning to Value Change. Oxford: Oxfam/Novib, 1999.

Memantau dan mengevaluasi bantuan kemanusiaan

Active Learning Network for Accountability and Performance in Humanitarian Action (ALNAP) website: http://www. alnap.org/index.html

Hallam, A. Evaluating Humanitarian Assistance Programmes in Complex Emergencies. Good Practice Review no. 7. London: Overseas Development Institute, Humanitarian Practice Network, 1998. Dapat diakses di: http://www.odihpn.org/publist.asp

Hak Cipta © 2007 pada Federasi Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional/Konsorsium ProVention. Pandangan-pandangan yang terkandung di dalam catatan panduan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab para pengarang dan tidak dengan sendirinya mewakili pandangan-pandangan Federasi Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Internasional/Konsorsium ProVention.

ProVention Consortium Secretariat

PO Box 372, 1211 Geneva 19, Switzerland E-mail: [email protected]

Website: www.proventionconsortium.org

Catatan Panduan ini disusun oleh John Twigg. Pengarang mengucapkan terima kasih kepada John Abuya (ActionAid), Anne Bramble (Caribbean Development Bank), Neil Britton (Asian Development Bank), Caroline Clarke (Inter-American Development Bank), Olivia Coghlan (DFID), Bina Desai (Christian Aid), John Mitchell (Active Learning Network for Accountability and Performance in Humanitarian Action/ALNAP), Thomas Mitchell (Institute for Development Studies), Sarah Moss (Christian Aid), Chris Roche (Oxfam Australia), para anggota Tim Penasihat Proyek dan Sekretariat Konsorsium ProVention atas nasihat dan komentar mereka yang berharga. Terima kasih juga disampaikan atas dukungan pendanaan dari Lembaga Pembangunan Internasional Kanada (CIDA), Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID), Kementerian Luar Negeri Kerajaan Norwegia dan Lembaga Kerjasama Pembangunan Internasional Swedia (Sida). Pengarang bertanggung jawab sepenuhnya atas semua pandangan yang disajikan di dalam buku ini dan pandangan-pandangan tersebut tidak dengan sendirinya mencerminkan pandangan para penilai buku atau badan-badan yang mendanai proyek.

Perangkat untuk Mengarusutamakan Pengurangan Risiko Bencana adalah rangkaian 14 catatan panduan yang diterbitkan oleh Konsorsium ProVention bagi lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang pembangunan untuk menyesuaikan alat-alat penilaian dan evaluasi proyek agar dapat mengarusutamakan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan mereka di negara-negara yang rawan bahaya. Rangkaian ini mengulas topik-topik berikut: (1) Pengantar buku panduan; (2) Mengumpulkan dan menggunakan informasi tentang bahaya alam; (3) Strategi penanggulangan kemiskinan; (4) Penyusunan program di tingkat negara; (5) Manajemen siklus proyek; (6) Kerangka logis dan kerangka berbasis hasil; (7) Pengkajian lingkungan; (8) Analisis ekonomi; (9) Analisis kerentanan dan kapasitas; (10) Pendekatan penghidupan yang berkelanjutan; (11) Pengkajian dampak sosial; (12) Perancangan konstruksi, standar bangunan dan pemilihan lokasi; (13) Mengevaluasi program pengurangan risiko bencana; dan (14) Dukungan anggaran. Rangkaian catatan panduan dalam versi utuh, berikut studi pencakupan oleh Charlotte Benson dan John Twigg, Measuring Mitigation: Methodologies for assessing natural hazard risks and the net benefits of mitigation, dapat diakses di http://www.proventionconsortium. org/mainstreaming_tools.