• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. Pemberantasan Penyakit Menular

Dalam dokumen Profil Kes 2011 data 2010 (Halaman 21-34)

a. Demam Berdarah (DB)

Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah endemis demam berdarah dengan Case Fatality Rate (CFR) yang cukup tinggi pula bila dibandingkan dengan standart Nasional. Selama puluhan tahun terakhir, Demam Berdarah selalu berjangkit di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Jumlah kasus penyakit Demam Berdarah di Kabupaten Gunungkidul mengalami fluktuasi dalam jumlah kasus pada tiap tahun. Berdasar data dari hasil pencatatan dan pelaporan Dinas Kesehatan

Kabupaten Gunungkidul selama sepuluh tahun terakhir, fluktuasi kasus tertinggi terjadi di tahun 2010 (974 kasus) dan terendah tahun 2002 (68 kasus). Data selengkapnya tersaji dalam gambar 4.2 berikut:

Gambar 4.2

Jumlah Kasus dan Kematian Demam Berdarah Di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2001-2010

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul

Berdasar gambar 4.2 terlihat bahwa, terjadinya kenaikan jumlah kasus DB di Kabupaten Gunungkidul yang sangat mencolok pada tahun 2010. Hal ini, mengindikasikan adanya peningkatan jumlah vector, perilaku masyarakat yang tidak sehat atau mungkin juga pemberantasan sarang nyamuk yang kurang berhasil.

Pola penyakit DBD yang dulu terkenal dengan pola lima tahunan, pada saat ini rupanya berubah menjadi pola tiga tahunan. Data selengkapnya sebagi berikut:

Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul

Melihat gambar 4.3 dapat dilihat bahwa, pola kasus menurut waktu (bulan) untuk penderita DBD di Kabupaten Gunungkidul ternyata kenaikan bermakna terjadi pada Bulan Januari, Februari dan Maret. Pada tahun 2010, puncak kasus terjadi pada Bulan Februari yang mencapai 204 kasus. Dengan demikian, pada bulan-bulan tersebut perlu diwaspadai terjadinya KLB.

Kasus DBD sangat erat kaitannya dengan curah hujan. Selain itu, masalah lingkungan, mobilisasi penduduk yang tinggi, serta kepadatan penduduk juga sangat berperan dalam proses penularan penyakit Demam Berdarah.

Tingginya kasus DB disebabkan banyak faktor, diantaranya masih rendahnya penerapan PHBS dalam rumah tangga maupun di institusi, serta perilaku sehat masyarakat yang masih rendah ditunjukkan angka bebas jentik (ABJ) tahun 2010 baru tercapai 76,71%. Kondisi tersebut masih jauh dari target capaian ABJ sebesar 95%. Banyaknya kasus DBD menandakan masih adanya vektor nyamuk (Aedes Aegypti) dan virus penyebab penyakit DBD.

Upaya Pencegahan dan pemberantasan DBD melalui:

1) Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan “3M + ikanisasi” yaitu menutup, menguras, mengubur + ikanisasi, Jum’at Bersih.

2) Penggunaan larvasida selektif (untuk desa endemis dan endemis sporadis).

3) Penyuluhan kesehatan masyarakat (Puskesmas).

4) Fogging Focus diwilayah dengan 2 penderita positif DB atau 1 penderita DSS/meninggal.

5) Fogging SMP (Sebelum Masa Penularan) dilaksanakan di wilayah desa endemis.

6) PJB (Pemantauan Jentik Berkala) oleh petugas kesehatan bekerjasama dengan kader secara berkala, dikembangkan pemantauan mandiri dengan stiker pantau.

7) Penyelidikan epidemiologi, bila ditemukan kasus supaya tertangani dengan tindak lanjut yang dilakukan petugas Puskesmas dan Dinkes.

Pencapaian kinerja program penganggulangan DBD pada tahun 2010 menghasilkan angka yang tidak menggembirakan. IR (Insidens Rate) tercatat 134,24/100.000 penduduk yang meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya (2009 sebesar 39/100.000 penduduk). Adapun CFR ditargetkan <1% pada tahun 2010 justru meningkat menjadi 1,3 % (meninggal 13 dari total 974 kasus).

Masalah yang dihadapi dalam penanggulangan DBD diantaranya:

1) Masih rendahnya kesadaran masyarakat menjaga rumahnya supaya tidak menjadi sarang nyamuk pembawa virus dengue.

2) Kepercayaan masyarakat yang masih “Fogging Minded”, sehingga fogging menjadi hal yang diharapkan jika terdapat kasus, sementara PSN kurang diberdayakan.

3) Penemuan penderita secara dini yang terlambat sehingga rujukan juga terlambat. Suatu kenyataan bahwa, beberapa kasus DBD yang datang ke sarana pelayanan kesehatan sudah dalam kondisi yang parah (DSS). Keterlambatan dalam merujuk pasien ke sarana pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan pengobatan lebih lanjut, menjadi pemicu banyaknya kasus kematian penderita DBD.

b. Malaria

Kasus malaria yang ditemukan pada tahun 2010 di Kabupaten Gunungkidul sebanyak 4 kasus yang tersebar di Kecamatan

Karangmojo, Panggang dan Tepus. Kasus Malaria yang ada di Kabupaten Gunungkidul kebanyakan adalah import dari daerah lain. Penyakit malaria tetap dipantau, jangan sampai karena merasa sudah sembuh lalu menghentikan pengobatan.

d. Diare

Penderita diare pada tahun 2010 di Kabupaten Gunungkidul sebanyak 9.077 kasus dari jumlah perkiraan 30.692 kasus (29,57%). Beberapa Puskesmas tidak dilaporkan adanya kasus (tabel 16) tetapi dimungkinkan bukan berarti tidak ada kasus, melainkan pencatatan dan pelaporan yang kurang tertib. Dari total 9.077 kasus diare yang dilaporkan tidak ada kematian.

Kasus penyakit diare sangat erat dengan lingkungan serta perilaku. Kejadian diare bisa dikaitkan dengan pola asuh anak dalam keluarga, hygiene sanitasi misalnya : kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan ketahanan tubuh (diare karena rotavirus). Yang sering diabaikan adalah : waktu kritis cuci tangan, penggunaan sabun, penggunaan air bersih yang mengalir, dan penggunaan lap bersih/tisu setelah cuci tangan.

Gambar 4.4

Kasus Diare menurut Waktu di Gunungkidul Tahun 2008-2010

Sumber : LB1, STP P2 Diare 2008-2010

Jumlah penderita diare pada tahun 2010 menurun dibanding dengan tahun 2009. Fluktuasi jumlah kasus tidak begitu menonjol pada

setiap bulan, tetapi perlu diwaspadai terjadi pelonjakan kasus dan kewaspadaan terhadap terjadinya KLB diare.

Prevalensi penderita diare pada 2010 adalah 1,25% penduduk. Berdasar dari target penemuan (30.692 kasus), cakupan penderita diare yang ditemukan dan diobati tercatat 29,6%.

e. Kusta

Di Kabupaten Gunungkidul hampir setiap tahun ditemukan penderita baru Kusta yang tersebar di beberapa Puskesmas. Ditemukannya penderita baru sangat dimungkinkan karena adanya kontak dengan penderita lama. Pada tahun 2010 ditemukan penderita baru sebanyak 12 orang dengan prevalensi 0.19/10.000 penduduk yang berarti setiap 10.000 penduduk ditemukan kurang dari 1 penderita baru. Pencarian penderita dilaksanakan dengan kegiatan kontak survey, school survey dan case survey.

Tabel 4.3.

Penderita Baru Kusta di Gunungkidul Tahun 2005 – 2010

Tahun KUSTA Baru Penduduk Prevalensi /10.000 pddk

2005 16 756.947 0,21 2006 18 720.465 0,25 2007 17 717.544 0.24 2008 14 726.622 0.19 2009 12 725.583 0.19 2010 12 725.583 0,19

Sumber : Dinkes Gunungkidul

f. TBC-Paru

Penanggulangan TBC-Paru merupakan salah satu sasaran yang akan dicapai dalam target Mellenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. Penanggulangan penyakit TBC di Kabupaten Gunungkidul dilaksanakan dengan berbagai program yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan swasta.

Jumlah kasus baru TBC yang ditemukan di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2010 sebanyak 161 kasus dengan insiden per-100.000 penduduk sebesar 22,19 kasus/100.000 penduduk. Angka penemuan ini

masih dibawah target nasional yang ditargetkan pada tahun 2010 yaitu 244 kasus/100.000 penduduk.

Prevalensi penderita TBC-Paru di Kabupaten Gunungkidul sebesar 23,98/100.000 penduduk. Angka prevalensi secara nasional berdasar hasil Survey Prevalensi TB tahun 2004 dengan pemeriksanaan mikroskopis BTA terhadap suspect adalah sebesar 104 kasus/100.000 penduduk.

Kematian kasus TBC terdapat 1,65/100.000 penduduk (12 penderita meninggal pada tahun 2010). Data selengkapnya sebagai berikut:

Tabel 4.4.

Jumlah Kasus Baru, Prevalensi dan Kematian kasus TB-Paru Di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010

No Uraian Cakupan Tahun 2010

1 Angka Insiden TB Paru 22,19/100.000 pdkk

2 Angka Prevalensi TB Paru 23,98/100.000 pdkk 4 Angka Kematian TBC-Paru 1,65/100.000 pdkk

Sumber : Dinas Kesehatan Gunungkidul

Untuk mengevaluasi kinerja program TBC-Paru digunakan beberapa indikator program diantaranya :

(1) Case Detection Rate (CDR) atau Angka Penemuan Kasus yaitu semua penderita baru dari semua jenis TB yang diperoleh baik melalui pemeriksaan dahak BTA (+), BTA (-) rongsen (+) , TB anak, dan TB ekstra paru (EP). Target prevalensi secara Nasional adalah 115/100.000 penduduk.

(2) Konversi yaitu perubahan hasil pengobatan setelah dua bulan dari BTA positip menjadi BTA negatip. Angka konversi yang harus dicapai adalah 80%

(3) Angka kesembuhan adalah hasil pengobatan pada akhir fase pengobatan lanjutan (2 bulan pengobatan intensif 4 bulan adalah fase lanjutan) diperiksa dahaknya bila negatif dinyatakan sembuh. Bila penderita tidak bisa diperiksa dahaknya maka dinyatakan sebagai pengobatan lengkap. Angka kesembuhan yang baik adalah bila > 85 %.

(4) Error rate yaitu dengan menghitung tingkat kesalahan pemeriksaan laboratorium sebagai pemantauan mutu pemeriksaan dahak. Standart error rate adalah < 5 %.

Hasil cakupan indikator program TBC Paru di Kabupaten Gunungkidul adalah sebagai berikut :

Tabel 4.5

Pencapaian Indikator Program TBC-Paru di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2008 – 2010

No. Indikator Pencapaian 2008( %) 2009( %) 2010( %)

1 Case Detection Rate (CDR) Target 70 70 70

Realisasi 33.84 35.7 37,42

2 Conversion Rate Target 80 80 80

Realisasi 80.18 78.74 70

3 Cure rate Target 85 85 85

Realisasi 76.3 67.08

4 Error Rate Target < 5 < 5 < 5

Realisasi 4.18 4.67 9,56

5 Sukses Rate Target > 85 > 85

Pengobatan terhadap penderita TBC-Paru diberikan secara cuma-cuma melalui obat program TB dari Pusat. Keteraturan minum obat pada penderita TB sangat mempengaruhi keberhasilan pengobatan penyakit TBC. Hasil kegiatan program TBC tahun 2009 sebagai berikut :

Sumber : P2 TB 2008-2010

g. Penyakit HIV-AIDS

Kasus HIV di Gunungkidul semakin meningkat, walaupun tidak setajam penyakit menular lainnya. Jumlah kasus baru penyakit HIV-AIDS yang tercatat di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2010 sebanyak 6 orang (3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan) dan terdapat 1 orang meninggal.

Penyakit HIV-AIDS muncul pertama di Kaupaten Gunungkidul pada tahun 2005 (1 orang) dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Walau mengalami kenaikan, namun penderita kebanyakan telah mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit atau Pelayanan Kesehatan Pemerintah dan swasta diluar wilayah Kabupaten Gunungkidul. Pengobatan dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena masih adanya budaya malu dan stigma di masyarakat. Walaupun demikian penderita tetap terpantau Dinkes Propinsi, Puskesmas serta Dinkes Kabupaten terkait.

Dari analisa data kelompok resiko tinggi penularan HIV-AIDS diketahui bahwa, penyebaran HIV-AIDS banyak diketahui akibat perilaku yang tidak sehat yang cenderung dilakukan oleh : PSK dan sedikit kaum homosek, narapidana, pencandu narkoba, sopir dan kru angkutan, nelayan. Pada perkembangannya, saat ini penyakit HIV-AIDS ternyata juga banyak ditemukan pada ibu rumah tangga. Hal ini juga dimungkinkan akibat tertular dari suami.

Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran penyakit HIV-AIDS ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul beserta masyarakat dan swasta melakukan beberapa langkah, antara lain: - Melakukan KIE kepada masyarakat terutama kepada kelompok

RISTI.

- Survielans HIV dengan kegiatan serro survey, untuk memantau perkembangan kasus termasuk penyebarannya.

- Pendampingan bagi pengidap HIV atau ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), termasuk rujukan.

- Mengurangi penderitaan ODHA dari aspek medis, psikologis dan sosial.

- Menjaga kerahasiaan penderita dari kemungkinan penolakan masyarakat dan pelanggaran HAM.

- Membentuk Komisi Penanggulangan HIV-AIDS Daerah (KPAD). Dari informasi yang diperoleh asal penyakit adalah penderita bekerja di kota besar (Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya) lalu pulang ke Gunungkidul membawa penyakit. Jadi semua kasus tadi merupakan kasus import (ketika sakit penderita berada di kota-kota besar, setelah sakit/mati pulang ke Gunungkidul). Adapun kendala program penganggulangan HIV/AIDS adalah:.

- Pemetaan kasus dan kelompok RISTI belum jelas.

- Mobilisasi penduduk Gunungkidul yang sangat tinggi memungkinkan penyebaran dan penularan kasus HIV juga tinggi

- Rendahnya masyarakat yang mau periksa VCT

- Sebaran PSK yang tidak memusat (lokalisasi), sehingga sulit pengawasannya

h. Filariasis

Penyakit kecacingan yang diamati intensif adalah filariasis yang pada tahun 2010 ini terlaporkan ada 1 penderita. Hal ini terkait dengan pengobatan dan produktifitas penderita (masalah estetika). Apabila

terdapat kasus filariasis, maka perlu dilakukan prosedur pengobatan pada komunitas disekitar untuk mencegah terjangkit cacing filaria.

i. AFP (Acut Flaccid Paralysis)

Penemuan penderita AFP dilakukan dengan sasaran anak yang berumur < 15 tahun. Dari target 4 case finding AFP (non polio) ada 7 yang ditemukan dengan AFP Rate sebesar 3,95/100.000 pddk < 15 tahun. Hal ini menunjukkan kinerja case finding AFP >100% tercapai dan surveillance mulai berjalan dengan bagus. Yang perlu dipahami bahwa seseorang yang lumpuh (layuh) tidak selalu identik dengan penderita polio. Polio sendiri adalah salah satu manifestasi dari lumpuh layuh (bagian dari AFP). Mengapa tetap dilakukan surveilans AFP, adalah untuk bukti Indonesia Bebas Polio Tahun 2012 maka syaratnya selama 3 tahun berturut-turut tidak ada kasus polio, yang dibuktikan dari survey AFP yang bagus sesuai target.

j. Pneumonia

Jumlah kasus Pneumonia Balita pada tahun 2010 terlaporkan 96 kasus dari target 3.628 kasus yang seharusnya ditemukan (2,65%).

Kasus Pneumonia tidak banyak ditemukan di kabupaten Gunungkidul. Tidak banyak penderita Pneumonia tidak mesti karena sedikitnya kasus yang ada di masyarakat melainkan bisa juga karena underdiagnosis/underreporting.

k. Flu Burung

Kasus Flu Burung sudah terjangkit di wilayah Kabupaten Gunungkidul sejak tahun 2009. Jumlah kasus suspect Flu Burung di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2010 sebanyak 3 kasus dan terjadi 1 kasus meninggal. Dengan timbulnya kasus Flu Burung, maka perlu diwaspadai setiap penyakit Influenza Like Illness (ILI) untuk dicurigai adanya kasus H1N1 dan H5N1 (flu burung) serta perlu juga waspada bila terjadi kematian unggas mendadak (KUM) agar bisa ditemukan penderita secara dini sehingga tidak terlambat dalam penanganan

penderita. Istilah H5N1 adalah penyakit bila menyerang manusia, sedangkan bila menyerang unggas istilahnya adalah Avian Flu. Kegiatan surveilans influenza terdiri dari Avian Influenza (H5N1) dan Influenza A Baru H1N1. Kegiatan Surveilans H5N1 dan pelacakan bila terjadi Kematian Unggas Mendadak (KUM) dilakukan secara terintegrasi dengan Dinas Peternakan.

Jumlah kematian unggas di Kabupaten Gunungkidul pada tiga tahun terakhir ditampilkan dalam gambar berikut:

Faktor pendukung timbulnya wabah diantaranya:

- Jumlah peternakan unggas di Gunungkidul cukup banyak dan merata.

- Peternakan unggas masih dikelola secara tradisional (belum terjaga kesehatannya), sehingga sanitasi di kandang masih kurang baik - PHBS masih rendah di masyarakat (belum merata)

- Lalu lintas unggas belum terawasi secara baik, sehingga memungkinkan penyebaran Flu Burung sangat cepat di seluruh Gunungkidul.

- Mobilitas penduduk Gunungkidul tinggi, juga sebagai pendukung tersebarnya penyakit flu burung semakin cepat.

- Konsumsi produk unggas bagi penduduk Gunungkidul lebih tinggi dibanding produk hewani lain.

Adapun langkah penanggulangan yang telah dilakukan Dinkes Gunungkidul adalah :

- Pembentukan Tim Gerak Cepat wabah Flu Burung yang melibatkan lintas sektor di Kabupaten (Polisi, Kodim, DPU, Pol PP, PMI, RSUD, Pemda, BPMPKB, Dishutbun, Distan, Disnak, Kesbanglinmasy, dll.) - Pembentukan Desa Siaga Tanggap Flu Burung di Kec. Playen.

- Pelacakan tiap ada laporan masyarakat tentang wabah Afian Flu di Gunungkidul

- Bersama dengan RSUD Wonosari dan RSUP Sarjito memfasilitasi rujukan kasus flu burung dari seluruh Puskesmas.

i. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Penyakit PD3I meliputi Difteri, Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio dan Hepatitis B. penyakit yang berhubungan dengan imunisasi yang sering ditemukan di Kabupaten Gunungkidul adalah penyakit Campak.

Jumlah kasus PD3I yang muncul di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2010 adalah Campak (23 kasus) dan Difteri (1 kasus). Untuk kasus Tetanus Neonatorum, Pertusis, Hepatitis B dan Polio pada tahun 2010 tidak ditemukan adanya kasus baru.

Dalam dokumen Profil Kes 2011 data 2010 (Halaman 21-34)

Dokumen terkait