• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.2 Komponen Proses

5.2.2 Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Perencanaan untuk kegiatan PSN dibahas pada saat rapat bulanan dan minilokarya. Pada setiap rapat bulanan kepala puskesmas selalu membahas tentang perkembangan penyakit DBD. Setiap bidan desa memberikan laporan tentang kasus DBD yang ada didesanya. Setelah itu kepala puskesmas menginstruksikan kepada bidan desa untuk menghimbau masayarakat agar melaksanakan kegiatan PSN. Bentuk kegiatan PSN yang dilaksanakan adalah

Gerakan Jum’at Bersih. Bidan desa yang berkoordinasi dengan kepala desa mengumumkan agar masyarakat melaksanakan Gerakan Jum’at Bersih. Bidan

desa memberikan pengumuman pada saat warga melakukan imunisasi.

Tidak adanya perencanaan yang matang untuk pelaksanaan kegiatan PSN menyebabkan tidak jelasnya kegiatan apa saja yang harus dilaksanakan dalam PSN dan siapa saja yang terlibat didalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan PSN hanya sebuah himbauan kepada masyarakat yang diinstruksikan oleh kepala puskesmas dan diteruskan oleh bidan kepada masyarakat.

Berdasarkan Ditjen PP & PL (2014), tugas puskesmas dalam Pelaksanaan PSN adalah sebagai pengusulan kegiatan, pelaksana kegiatan dan pengawas pelaksanaan. Sebaiknya puskesmas mengusulakan kegiatan apa saja yang harus dilakukan dalam kegiatan PSN sehingga kegiatan yang akan diinstruksikan kepada masyarakat jelas adanya. Bukan hanya sekedar himabuan namun memiliki kerangka untuk pelaksanaan kegiatan yang konkret.

5.2.2.2 Pengorganisasian

Untuk pelaksanaan PSN kepala puskesmas langsung memberikan instruksi kepada bidan desa untuk menghimbau masyarakat agar melakukan Gerakan

Jum’at Bersih. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa setelah adanya

pelaporan kasus DBD maka yang pertama kali diutus oleh kepala puskesmas adalah bidan desa agar masyarakat melakukan gerakan 3M plus. Bidan desa diutus karena yang mengetahui situasi kesehatan didesa adalah bidan desa. Bidan desa akan bekerja sama dengan kepala desa dan tokoh masyarakat agar masyarakat mau bergerak untuk melakukan kegiatan PSN setiap hari jum’at pagi.

5.2.2.3 Pelaksanaan dan Penggerakan

Untuk pelaksanaan kegiatan PSN bidan desa telah melakukan koordinasi dengan baik dengan kepala desa dan tokoh masyarakat agar menggerakkan masyarakat melakukan kegiatan PSN. Menurut salah satu informan PSN merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD. Pengendalian vektor DBD yang paling efisien dan efektif adalah dengan memutus rantai penularan melalui pemberantasan jentik. Pelaksanaannya dimasyarakat dilakukan melalui upaya PSN DBD dalam bentuk kegiatan 3 M Plus yang harus dilakukan secara luas/serempak dan terus menerus/berkesinambungan (Ditjen PP & PL, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa bidan desa dan kepala desa sudah melakukan himbauan untuk melakukan PSN. Salah satu hasil wawancara dengan informan menyatakan bahwa mengetahui ada himbauan untuk melakukan PSN namun tidak pernah menjalankannya. Kegaiatan PSN DBD yang dilakukan

meliputi gotong royong membersihkan rumah dan pekarangannya dan melakukan gerakan 3M Plus. Berdasarkan pernyataan informan menyatakan bahwa pelaksanaan gerakan 3M Plus sudah dilaksanakannya.

Bidan desa melakukan himbauan agar melakukan kegiatan PSN pada saat hari imunisasi dan pertemuan PKK. Kepala desa dan tokoh masyarakat melakukan himbauan melalui pengumuman yang ditempelkan di kedai-kedai

kopi. Pada hari jum’at masyarakat melakukan gotong royong membersihkan

rumah masing-masing pada pagi hari sebelum berangkat ke ladang. Kegiatan yang

dilakukan pada saat Gerakan Jum’at Bersih masyarakat kebanyakan hanya membersihkan pekarangan saja sedangkan Gerakan 3M Plus belum sepenuhnya dijalankan oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi mengenai 3M Plus kepada masyarakat. Sesuai dengan pernyataan informan yang menyatakan belum pernah mendengar petugas kesehatan atau pun bidan desa menjelaskan tentang Gerakan 3 M Plus. Berdasarkan hasil wawancara juga diketahui bahwa pelaksanaan PSN tidak dilakukan secara berkesinambungan.

Menurut Ditjen PP & PL (2014) keberhasilan kegiatan PSN DBD antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapakan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Namun pada Puskesmas Tigapanah belum pernah dilakukan penghitungan AJB karena terbatasnya sumber daya untuk melakukan kegiatan pengitungan AJB. Sebaiknya puskesmas melakukan penghitungan AJB agar dapat melihat hasil dari kegiatan PSN DBD.

5.2.2.4 Hambatan

Gerakan PSN DBD adalah kegiatan terencana yang dilakukan oleh seluruh masyarakat bersama pemerintah dan pemerintah daerah untuk mencegah penyakit DBD melalui kegiatan PSN secara terus menerus dan berkesinambungan. Gerakan PSN DBD ini merupakan kegiatan yang paling efektif untuk mencegah terjadinya penyakit DBD serta mewujudkan kebersihan lingkungan dan perilaku sehat (Ditjen PP & PL, 2013).

Hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan PSN DBD adalah rendahnya tingkat partisipasi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan PSN DBD dengan alasan adanya kesibukan pribadi seperti pergi ke ladang. Gerakan PSN juga belum membudaya dimasyarakat dikarenakan ketidak pedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan yang menyatakan bahwa untuk masyarakat disini kebersihan ladang lebih utama dari pada rumah sendiri.

Menurut penelitian Hidajat (2004) ketidakberhasilan program pencegahan dan pemberantasan DBD dalam mencegah dan menurunkan tingginya angka kejadian penyakit DBD berhubungan erat dengan belum adanya peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas-aktivitas program.

Sebaiknya untuk pelaksanaan kegiatan PSN DBD ini perlu direnacanakan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan secara tertulis sehingga ada panduan untuk pelaksanaan setiap kegiatannya. Diharapakan agar masyarakat terlibat dalam kegiatan PSN DBD agar kegiatan memberikan dampak dari

pelaksanaannya. Serta diharapkan agar geraka PSN DBD dapat membudaya di masyrakat.

5.2.2.5 Pengawasan

Kegiatan PSN sama sekali tidak mendapat pengawasan baik dalam pelaksanaannya maupun setelah pelaksanaannya. Dengan tidak adanya pengawasan menjadikan kegiatan PSN tidak berjalan sesuai dengan harapan. Tidak adanya pengawasan dikarenakan tidak adanya standar yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan PSN karena bentuk kegiatan yang hanya berupa

Gerakan Jum’at Bersih.

Sebaiknya perlu ditetapkan standar kegiatan dan capaian yang ingin dicapai dalam kegiatan PSN seperti penghitungan AJB. Tidak dihitungnya AJB dikarenakan tidak adanya sumber daya manusia untuk menghitung AJB itu. Sebaiknya puskesmas melatih kader jumantik agar dapat mengawasi pelaksanaan PSN beserta sebagai petugas untuk menghitung AJB.

Dalam penelitian Riyanti (2008) dalam kegiatan PSN masyarakat belum aktif secara mandiri ikut berperan serta dalam melaksanakan kegiatan PSN. Dalam kegiatan PSN jumantik sangat berperan langsung dalam melakukan pemeriksaan jentik ke rumah warga.

5.2.3 Penyuluhan

Dokumen terkait