BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.8 Pemberdayaan Jemaat GBKP melalui Diakonia Transformatif
Pemberdayan komunitas meliputi suatu institusi didalam hal ini gereja dapat dilihat sebagai suatu komunitas yang berbasis pada kesatuan identitas agama, pemberdayan efektifnya dilakukan melalui pendekatan institusi, dengan adanya gereja sebagai institusi maka jemaat sebagai komunitas dengan mudah mendapatkan sarana sebagai wadah pemberdayaan. Diakonia selain sebagai tugas gereja juga dapat dijadikan
sebagai wujud pemberdayaan jemaat, pada dasaranya diakonia ditujukan bagi membantu jemaat yang mengalami masalah dalam hidupnya seiring dengan tujuan pemberdayaan maka diakonia dan pemberdayaan komunitas dapat dijadikan satu, diakonia transformatif mencirikan pemberdayaan jemaat, melalui pendekatan humanis dan kritis membangun kesejahteraan jemaat dengan cara elegan dan bermartabat.
Diakonia karitatif dinilai tidak lagi cocok dalam menghadapi tantangan dan permasalahan yang dialami oleh jemaat, diakonia karitatif sekedar bantuan yang langsung diterima oleh individu yang tanpa melihat unsur stuktural dan kultural dari suatu masalah yang harus dihadapi diakonia karitatif bersifat membantu sementara ketergantungan dan tidak mendidik, diakonia karitatif dianggap tidak mampu menjawab tantangan dan persoalan yang mendasar dari kebutuhan jemaat. Gereja tidak ingin terjebak dalam suatu bentuk diakonia karitatif yang hanya menjawab sementara kebutuhan jemaat, diakonia karitatif tidak tertuju pada akar masalah yang ada, kecenderungan yang dibangun hanya sebagai bentuk dari STM (serikat tolong-menolong) yang berdasarkan pada belas kasihan semata diakonia karitatif hanya cocok dilakukan pada saat yang mendesak seperti bencana alam.
Diakonia reformatif yang berusaha memfasillitasi kebutuhan masyarakat dinilai belum mampu mengatasi masalah stuktural dan kultural masyarakat, diakonia reformatif memiliki pendekatan institusional dengan mengadakan fasilitas-fasilitas yang mendukung kesejahteraan jemaat seperti rumah sakit, sekolah dan lainnya, akan tetapi pendekatan ini terlalu
struktural sehingga masyarakat tidak dapat terjangkau seluruhnya, dan yang lebih penting masyarakat hanya sebagai pengguna fasilitas ini bukan sebagai subjek pemberdayaan hanya sebagai objek.
Diakonia transformatif lahir dari pandangan bahwa pelayanan yang dibangun oleh gereja haruslah mencerminkan pembangunan manusia yang seutuhnya, diakonia transformatif mencoba untuk menjadikan jemaat sebagai subjek pelayanan, jemaat diharap mampu untuk memberdayakan diri sendiri, mencapai kemandirian dan mampu mengangkat harga diri. GBKP melihat bahwa Diakonia transformatif merupakan suatu kebutuhan yang mendesak bagi GBKP, pada periode ini (2015 – 2020), Tata Gereja GBKP mendorong agar setiap jemaat/runggun, mengembangkan diakonia transformatif, gereja menyatu dengan lingkungan, gereja yang terbuka, inklusif tanpa pernah meninggalkan hakekatnya sebagai gereja. Gereja memberi kesegaran bagi lingkungannya. ( http://gbkp.or.id/index.php/diakonia/diakses pada 19 november 2016).
Dengan tujuan tersebut diharapkan bahwa seluruh warga GBKP dapat tumbuh sebagai jemaat yang mandiri dan kuat, mampu mengatasi masalah sendiri dan masalah yang ada dilingkungannya, diakonia transformatif melayani dalam bentuk yang memandirikan, mengangkat jemaat dari keterpurukan, menjadi sarana pendidikan dan penyadaran, menyediakan program yang mengikutsertakan partisipasi jemaat penuh.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif berkaitan dengan pengumpulaan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu konsep atau gejala. Penelitian ini sifatnya hanya sekedar mengungkapkan fakta, hasil penelitian lebih ditekankan pada pemberian gambaran secara objektif tentang keadaan yang sebenarnya dari objek yang ditelit. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti akan memperoleh informasi atau data yang lebih mendalam mengenai fungsi diakonia dalam mensejahterakan jemaat melalui Credit Union.
3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Gajah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Adapun alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan CU Arih Ersada Desa Gajah merupakan CU yang memiliki perkembangan yang pesat dan salah satu CU yang kegiatan ekonominya maju. Peneliti pernah tinggal di desa tersebut dan peneliti mengenal baik para pengurus CU dan beberapa anggota CU.
3.3 Unit Analisis dan Informan penelitian 3.3.1 Unit Analisis
Unit analisis yang dimaksud dalam suatu penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian (Arikunto, 2006) adapun unit analisis dalam penelitian ini adalah anggota Credit Union , pengurus Credit Union, anggota jemaat GBKP Desa Gajah dan pengurus gereja GBKP Desa Gajah.
3.3.2 Informan Penelitian
Penentuan informan menggunakan teknik purposive sample (penetuan pemilihan sampling bertujuan). Pemilihan Sampel Secara Berurutan Tujuan memiliki ciri mencari variasi sebanyak-banyaknya hanya dapat dicapai apabila pemilihan satuan sampel dilakukan jika satuannya sebelumnya sudah dijaring dan dianalisis. Setiap satuan berikutnya dapat dipilih untuk memperluas informasi yang telah diperoleh terlebih dahulu sehinnga dapat dipertentangkan atau diisi adanya kesenjangan informasi yang ditemui, pemilihan berikutnya tergantung peneliti, teknik sampling bola salju (snowball) bermanfaat untuk mendapatkan informan (Taher, Alamsyah : 2009) dalam penelitian ini yang menjadi informan penelitian adalah:
1. Anggota jemaat GBKP Runggun Desa Gajah yang menjadi anggota dari Credit Union Arih Ersada Desa Gajah, informan tersebut berjumlah 3 orang
2. Pengurus CU Arih Ersada Desa Gajah berjumlah 3 orang, juga sebagai pejabat GBKP Desa Gajah yang memiliki peran kunci dalam memberikan informasi
3. Anggota CU yang bukan jemaat GBKP Gajah sebanyak 2 orang.
4. Jumlah keseluruhan 8 orang
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data dapat dilakukan melalui pendekatan personal atau pendekatan secara pribadi dengan memperhatikan pentingnya hubungan antara peneliti dan informan, adapun data yang akan dibutuhkan peneliti adalah:
A. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek penelitian dalam pengumpulan data pada anggota CU dan pengurus CU data diperoleh melalui beberapa cara, diantaranya:
1. Wawancara mendalam
Wawancara mendalam adalah sebuah proses tanya jawab yang dilakukan secara langsung dan tatap muka dengan narasumber dengan dibantu alat tulis dengan menggunakan note catatan untuk menulis hasil catatan. Wawancara digunakan dalam proses untuk meminta informan untuk mengutarakan dan menjelaskan hal-hal yang diinginkan/ditanyakan oleh peneliti. Berlangsung mengalir dan berkelanjutan hingga mencapai
peneliti dalam mengembangkan dan menciptakan improvisasi dalam proses wawancara.
2. Observasi
Observasi merupakan salah satu cara memperoleh data, observasi ditujukan dalam mengambil data yang bersifat materil, berupa bentuk atau wujud dari suatu benda atau simbol, observasi dilakukan berupa pengamatan langsung terhadap suatu kejadian, hal-hal yang dinilai memiliki kaitan dan hubungan terhadap penelitian yang dilakukan.
Dilakukan dengan melihat sendiri kegiatan yang ada melalui panca indra, mengumpulkan seluruh pengalaman yang dirasakan oleh peneliti berkaitan dengan objek observasi. Melalui observasi peneliti dapat melihat langsung kehidupan anggota CU dan aktivitas CU yang terjadi.
B. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang telah ada terlebih dahulu yang diperoleh dari pihak lain, data sekunder dapat berupa kepustakaan, buku-buku ilmiah, surat kabar, dan data administrasi dan kependudukan. Data sekunder diperoleh dari pihak-pihak yang secara khusus memiliki data tersebut. Data sekunder merupakan data mengenai objek yang tidak diperoleh langsung dari objek tersebut. data sekunder diperoleh dari penelitian yang sama yang telah dilakukan sebelumnya berkaitan dengan masalah diakonia, memperoleh laporan-laporan kegiatan CU maupun Gereja , dan melalui website lembaga GBKP.
3.5 Interpretasi Data
Interpretasi data adalah salah satu bentuk analisis data yang dinilai secara konseptual yang disesuaikan dengan pendekatan yang ada, interpretasi data dimaksudkan agar data yang diperoleh dapat disusun dan dimengerti, sehingga data yang diperoleh dilapangan merupakan data yang baku dan dapat diterjemahkan dalam bentuk penulisan yang lebih sistematis. Data yang diperoleh dalam bentuk wawancara dan obesrvasi di masukkan dalam sebuah konsep dan dianalisis berdasarkan pendekatan yang ada, peneliti memimilah dan mengkategorikan data sesuai dengan analisis yang dilakukan demikian sehingga tercipta sebuah kajian yang komperhensif dan terpadu.
BAB IV
Analisis dan Pembahasan Data
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1. Letak dan Keadaan Geografis
Penelitian ini dilakukan di Desa Gajah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Desa Gajah memiliki luas wilayah 460 km2 dengan rasio luas 4,92 % dari luas kecamatan dan berada pada ketinggian ± 1.317 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jarak dari Ibukota Kabupaten (Kabanjahe) adalah 10 km dengan waktu tempuh 10 menit dan jarak Ibukota Kecamatan adalah 3 km dengan waktu tempuh5 menit dari Ibukota Provinsi (Medan) adalah 87 km dengan waktu tempuh 120-150 menit.
Secara administratif, Desa Gajah mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Semangat/Raja Payung
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Ndokum Siroga/ Desa Perteguhen - Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Bulan Baru
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Torong
4.1.2 Kondisi Penduduk
Berdasarkan pada publikasi BPS Kabupaten Karo 2016 jumlah penduduk Desa Gajah pada tahun 2015 mencapai 1617 jiwa dengan kepadatan 352,52 km2/jiwa, dengan distribusi penduduk berdasarkan jenis
kelamin adalah sebesar 831 jiwa (51,39%) penduduk laki-laki dan penduduk perempuan 786 (48, 60%) jiwa, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 486 rumah tangga dengan rata-rata anggota rumah tangga 3 orang.
Adapun jumlah penduduk yang bekerja diatas umur 15 tahun sebanyak 1270 orang, komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian dengan mata pencaharian pertanian sebanyak 1105 (87%) dan PNS/TNI/POLRI 23 (1,81%) dan sisanya (11.19%) bergerak dibidang lain (semisal pedagang, wiraswata dan pengusaha). Jumlah komposisi penduduk berdasarkan agama adalah Islam 183 ( 11,34% ), Kristen Protestan 1418 ( 87,91%), Katolik 12 (0,74%). (Sumber:https://karokab.bps.go.id)
4.1.3 Sarana dan Prasarana
Adapun sarana dan prasarana yang ada di Desa Gajah meliputi sarana pendidikan yaitu sekolah, sarana kesehatan yaitu poskesdes dan posyandu, juga adanya rumah peribadatan bagi warga. Sejumlah sarana dan prasarana yang ada di Desa Gajah jika dapat diperbaharui dan dikembangkan dengan baik akan meningkatkan, terdapat sarana mendasar bagi warga berupa poskesdes , sekolah dasar dan rumah peribadatan. Dan terdapat pula jambur sebagai mana orang karo juga sering menyebutnya sebagai Loss, jambur merupakan tempat berkumpul warga untuk melakukan kegiatan pesta adat dan dapat digunakan bagi acara-acara masyarakat lainnya. Adapun sarana dan prasarana yang ada di desa Gajah dapat dilihat pada tabel 1 berikut:
Tabel 1: Sarana dan Prasarana Desa Gajah
• Mobil berpenumpang
• Truk
(Sumber: BPS Kabupaten Karo)
4.2 Profil GBKP Desa Gajah
GBKP kepanjangan dari Gereja Batak Karo Protestan yang merupakan salah satu gereja di Indonesia yang bersifat kesukuan, suatu lembaga keagamaan yang ada dan ditujukan bagi masyarakat karo baik di dalam kabupaten karo maupun diluar kabupaten karo, GBKP merupakan salah satu gereja yang didirikan oleh zending Belanda (Nederlandsche Zending Genoothchac (NZG)) yang membawa misi untuk menyebarkan
agama kristen di Indonesia, pada awalnya para misionaris di kirim ke deli untuk meredakan gejolak yang terjadi disana, dan kini membawa para misionaris ke tanah karo dan berhasil menginjili penduduk dan mendirikan gereja yang sekarang dikenal dengan GBKP.
GBKP Runggun Gajah merupakan salah satu anggota Klasis Brastagi, sekarang menurut data “Laporan Perkembangan Perpulungen ku Sidang Ngawan Tahun 2016” runggun Desa Gajah terdiri dari 9 (sembilan ) sektor /pjj (perpulungen jabu-jabu) dengan jumlah total KK (kepala keluarga) yaitu 219 KK. GBKP Runggun Gajah tidak hanya menaungi jemaat yang berdomisili di Desa Gajah akan tetapi juga meliputi jemaat yang berdomisili di Desa Ujung, yang dikenal sebagai sektor 9
Tabel 2. Perkembangan Jemaat GBKP Runggun Desa Gajah 2015
Sektor
( Sumber : Laporan Perkembangan Perpulungen Ku Sidang Ngawan GBKP Runggun Desa Gajah Tahun 2016)
GBKP memiliki pembagian secara institusinya yang terdiri dari kepala gereja (Ketua Majelis/Runggun), sekretaris majelis/ Runggun, Bendahara majelis/ runggun dan dibantu oleh Kabid Koinonia/
persekutuan, kabid Marturia/ kesaksian, Diakonia/ pelayanan, didalam struktur majelis gereja khususnya koinonia terdapat pengelompokan jemaat. Mamre adalah kelompok yang terdiri dari para pria /lelaki yang sudah menikah atau biasa disebut perkumpulan para bapak, Moria adalah kelompok yang terdiri dari para wanita yang sudah menikah (perkumpulan para ibu) Permata adalah singkatan dari persadan man anak Gerejanta (persatuan anak-anak Gereja kita) yang terdiri dari muda mudi /remaja yang telah di ngawan kan (naik sidi) yang belum menikah, Ka/Kr (kebaktian anak /kebaktin remaja) adalah kelompok yang terdiri dari anak kecil usia balita hingga remaja yang belum di ngawankan, sedangkan lansia adalah jemaat usia diatas 60 tahun. Adapun kategori la ngawan adalah orang yang belum ngawan usia dewasa (naik sidi) akan tetapi menjadi anggota dan ikut serta dalam kebaktian orang dewasa.
Total 84 90 96 107 121 116 161 116 80 971
4.3 Sejarah Terbentuknya CU Arih Ersada
CU (Credit Union) Arih Ersada Desa Gajah adalah CU yang berdiri dengan naungan dari GBKP Desa Gajah, CU ini berdiri diawali dengan adanya kegiatan simpan –pinjam yang ada di dalam PJJ/ sektor ditujukan agar dapat membantu keperluan sehari-hari anggota dengan bunga pinjaman yang ditentukan secara bersama dan bersifat sukarela, hal ini diterangkan dalam pernyataan H. Tarigan (pria :42) :
Cu terbentuk dengan adanya kegiatan menabung disetiap sektor/pjj, awalnya kegiatan ini membentuk tabungan disetiap sektor untuk adanya kegitan simpan pinjam yang bunga awalnya dan aturan simpan pinjam tergantung pada kesepakatan sektor /pjj masing- masing.
Awalnya suku bunga yang diterapkan secara sukarela dan ditetapkan sebesar 2%. Sehingga kegiatan ini berkembang dan disepakati untuk membentuk suatau usaha simpan pinjam bersama secara keseluruhan bagi jemaat, sehingga diajukan kepada yayasan ate keleng untuk membentuk Credit union di desa gajah.
Melihat perkembangan yang pesat dan kebutuhan yang lebih besar maka timbul inisiatif untuk mengajukan ke Yayasan Ate Keleng untuk membentuk CU untuk keseluruhan jemaat yang ada, awal berdirinya pada tahun 2008 yang pertama beranggotakan 27 orang yang seluruhnya terdiri dari pertua dan diaken yang bertugas di gereja GBKP Gajah yang diwajibkan sebagai contoh agar para jemaat melihat keseriusan pembentukan CU ini. Jabatan ketua pertama kali dijabat oleh H.Tarigan selama 2 periode. CU ini awalnya ditujukan buat jemaat GBKP Desa Gajah, akan tetapi telah berkembang dan terbuka buat seluruh warga
Desa Gajah dan Desa Ujung dan kini jabatan ketua dipegang oleh N.Karo-Karo dan Sekretaris di pegang oleh H.Tarigan (
4.4 Struktur CU Arih Ersada Desa Gajah
CU Arih Ersada Desa Gajah memiliki struktur dan sistem sebagaimana CU lainnya adapun strukturnya kepengurusan adalah
1. Dewan pimpinan yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan dibantu 3 anggota, bertugas untuk menjalankan kegiatan CU, bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diamanatkan oleh anggota di dalam RAT, dan ikut mewakili CU dalam kunjungan dan undangan yang ditujukan kepada CU.
2. Badan Pengawas yang terdiri dari 3 orang, badan pengawas memiliki fungsi untuk mengawasi dan mengontrol pembukuan anggota dan kinerja serta pelayanan yang diberikan oleh pengurus
3. Bidang pendidikan yaitu bertugas terutama memberikan pendidikan mengenai CU kepadaa anggota baru, melakukan penyuluhan mengenai perkembangan informasi yang berkaitan dengan keadaan masyarakat (meliputi iptek, kesehatan dan politik).
4. Karyawan terdiri dari satu orang yang bekerja untuk membuat pembukuan.
( sumber : diolah dari hasil wawancara)
4.5 Mekanisme Kerja CU Arih Ersada 4.5.1 Keanggotaan
Anggota CU Arih Ersada terdiri dari warga /jemaat Runggun GBKP Gajah dan warga Desa Gajah yang bukan anggota GBKP Gajah yang diterima setelah melengkapi syarat-syarat pendaftaran anggota diluar GBKP Rungun Desa Gajah.
4.5.1.1 Penerimaan Anggota Baru
Berdasarkan Rencana Kerja dan AD tahun buku mei 2015-april 2016 CU Arih Ersada. Penerimaan anggota baru dibuka 3 bulan sekali dengan jumlah minimal anggota 20 baru dengan orang yang bersangkutan langsung mendaftar akan tetapi jika terdapat anggota baru yang berjumlah 20 ingin mendaftar maka dibuka pendaftaran pada bulan tersebut dengan terlebih dahulu memberi tahu pada pengurus. CU menerima anggota GBKP Runggun Gajah dan yang berdomisili di Desa Gajah, yang bukan anggota Runggun GBKP Gajah harus mengisi fomulir pendaftaran dan melampirkan fotocopy KTP dan fotocopy Kartu Keluarga, juga menerima putra- putri Desa Gajah dan Ujung yang berdomisili di luar daerah, anggota baru diterima maksimal umur 70 tahun, anggota baru wajib menghadiri pendidikan dari ketua pendidikan, anggota baru wajib menyimpan (menabung) simpanan wajib, simpanan pokok dan membayar uang pangkal (uang pangkal digunakan buat buku tabungan anggota) dan selama 3 bulan wajib menabung/menyimpan sebesar Rp.500.000 . berdasarkan hasil wawancara dengan I.Ginting (pria: 56 tahun) :
anggota baru terlebih dahulu diberi pengarahan dan pendidikan tentang CU dan masalah pembukuan, juga dimotivasi agar memiliki rasa sayang terhadap CU ini, anggota baru wajib membayar simpanan pokok, simpanan wajib, dan uang pangkal (uang buku). Anggota baru wajib menyimpan sebesar Rp.500.000 selama 3 bulan dan belum diperbolehkan meminjam, setelah lewat masa 3 bulan anggota wajib meminjam sebesar Rp.500.000 dengan pembayaran harus dicicil selama 3 kali pembayarannya, tidak boleh sekaligus dibayarkan langsung agar CU mendapatkan bunga pembayaran pinjaman tersebut. Juga bagi anggota baru iuran dana sosial diminta agar langsung dibayarkan selama setahun.
4.5.1.2 Status Keanggotaan
Keanggotaan CU terdiri atas dua (2) bagian , yakni :
a. Anggota biasa, yaitu anggota yang sudah produktif dan berkemampuan penuh untuk tindakan hukum. Anggota biasa berhak untuk meminjam sesuai dengan peraturan yang ada dan juga menarik saham. Anggota biasa juga berhak untuk dipilih dan memilih menjadi pengurus.
b. Anggota luar biasa, yaitu anggota yang belum atau tidak produktif termasuk didalamnya lansia dan usia anak sekolah, anggota luar biasa yang produktif dapat meminjam satu (1) kali saham, lansia dapat meminjam satu kali saham, bagi usia anak sekolah tidak dapat meminjam, anggota luar biasa dapat menarik saham.
4.5.2 Sistem Penyimpanan /Tabungan
Simpanan terdiri atas simpanan wajib, simpanan pokok, simpanan sukarela. Kegiatan simpan–pinjam CU dibuka sebulan sekali, maka
penyimpan mendatangi panitia penyimpanan serta membawa buku tabungan. Dan disarankan kepada anggota agar wajib melihat buku tabungannya ketika selesai menyimpan agar sesuai dengan yang dituliskan oleh pengurus CU sebelum meninggalkan kantor. Simpanan wajib diberikan setiap bulan kepada CU, ketentuan simpanan wajib dan simpanan pokok diatur setiap tahunnya dalam RAT (Rapat Akhir Tahun).
4.5.3 Sistem peminjaman
Pinjaman yang ada di CU terdiri dari dua jenis pinjaman yaitu pinjaman biasa dan pinjaman khusus. Pinjaman biasa: anggota hanya dapat meminjam sebesar 3 kali jumlah saham (tabungan) bulan lalu, pinjaman biasa dibatasi sampai dengan Rp. 15.000.000 pinjaman dapat diterima tanpa anggunan. Pinjaman khusus: anggota dapat meminjam khusus setelah 9 bulan menjadi anggota CU, pinjaman khusus dibatasi Rp.100.000.000/
keluarga, jika suami sudah meminjam maka istri tidak dapat mengajukan lagi pinjaman agar keluarga fokus pada pembayaran pinjaman. Bagi anggota luar biasa tidak yang dinilai tidak produktif tidak dapat meminjam, pengecualian lansia dan yang sudah bekerja dapat pinjaman 1X saham. Pada pinjaman khusus anggota yang meminjam jumlah sahamnya minimal Rp.5000.000, pinjaman khusus harus disertai dengan agunan berupa sertifikat tanah, atau sk camat atau notaris seperti yang pernah dialami oleh D. Karo-Karo (pria :54 tahun):
saya pernah meminjam pinjaman khusus sebesar Rp.15.000.000 dengan simpanan saya 3, 5 juta rupiah maka saya melakukan pinjaman khusus, ketika itu saya meminjam untuk beli lahan, saya minjam dengan anggunan surat rumah dengan akta notaris.
Ketentuan lain dari pinjaman khusus bahwa jika masih ada pinjaman biasa maka harus dilunasi terlebih dahulu maka dapat melakukan pinjamana khusus, jangka waktu pelunasan selama 3 tahun, dengan syarat angsuran pinjaman wajib dibayar tiap bulan .
Proses peminjaman pertama kali harus mendatangi panitia kredit, untuk mengajukan pinjaman harus terlebih dahulu berdiskusi dan mengisi formulir pinjaman yang kemudian diberi pengarahan oleh pengurus dan juga dilihat bagaimana kedisiplinannya selama ini dalam menabung dan membayar pinjaman hal ini yang terutama menjadi pertimbangan panitia dalam mengesahkan pinjaman yang dilakukan oleh anggota seperti yang dijelaskan oleh I.Ginting (laki-laki : 56 tahun)
Cu ini merupakan lembaga yang ditujukan guna membantu masyarakat, yang terpenting bagi kita dan anggota adalah bagaimana anggota memiliki catatan yang baik dan disiplin (dalam hal ini merupakan pembayaran pinjaman), tidak bermasalah dalam membayar kewajiban, catatanya rapi ( pembayaranya teratur) sehinga pengurus menilai dia memiliki keseriusan dan ketulusan maka bagi pengurus mampu memberi pinjaman dan keringanan pembayaran lebih mudah sebab modal pokok kita adalah kepercayaan, sebab itulah dengan rapinya catatannya indikasi bahwa dia memiliki tanggung jawab dan keseriusan dalam kegiatan cu ini.
Pemberitahuan peminjaman anggota kepada pengurus dapat dilakukan pada hari Senin-Kamis pada minggu pertama, pengurus kemudian ke bank untuk mengambil dana pinjaman tersebut. pada hari
minggu pembukaan CU kemudian ditanyakan lagi dan dilihat keseriusan dan keyakinanya dalam membayar pinjaman. Seperti yang diberitahukan oleh J.Surbakti (laki-laki : 49 tahun)
Sebelum satu minggu sebelum CU dibuka , wajib lapor dulu ke panitia kredit, panitia memeriksa buku CU apakah dia baik secara pinjaman, ditanya untuk keperluan apa , dan jika kita meminjam maka ada saksi (biasanya anggota keluarga lain seperti istri), dan nanti kita dikasih formulir kemudian diisi .
Pemberian pinjaman pada dasarnya diberikan pada anggota berdasarkan apakah anggota merupakan anggota yang disiplin dalam menabung ataupun membayar pinjamannya selama ini, apa tujuan dari pinjaman ini, hal ini dilihat dari catatan pembukuan anggota, dan tujuan dari alokasi pinjaman tersebut dengan pertimbangan tersebut panitia kredit memberi pinjaman kepada anggota. Terhadap pinjaman khusus hal yang sama juga berlaku dan dinilai apakah anggota tersebut mampu untuk mengembalikan.
Setiap kali meminjam anggota dikenakan potongan yang disebut
Setiap kali meminjam anggota dikenakan potongan yang disebut