PENYELENGGARAAN URUSAN DESENTRALISASI
11. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan komitmen nasional sebagai bagian integral dari pembangunan sumber daya manusia, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status, posisi, dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setara. Masih rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan dan masih adanya berbagai bentuk praktek diskriminasi terhadap perempuan, juga masih terdapatnya kesenjangan partisipasi politik kaum perempuan yang bersumber dari ketimpangan struktur sosio-kultural masyarakat.
Upaya-upaya aksi afirmasi di berbagai bidang guna pembangunan perempuan terus dilanjutkan antara lain: Di bidang kesehatan dengan
meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan untuk menekan tingginya angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi dan balita, terutama di daerah perdesaan; merevitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) terutama di daerah yang angka kematian ibu, bayi dan anaknya tinggi; dan membangun pusat pelayanan terpadu berbasis rumah sakit. Di bidang pendidikan, dengan memberikan beasiswa guna membantu menurunkan jumlah murid perempuan yang putus sekolah dan mengembangkan model penghapusan buta huruf perempuan guna membantu menurunkan jumlah perempuan buta huruf. Dan di bidang ekonomi upaya pengintegrasikan kepentingan perempuan dalam program-program pembangunan ekonomi, khususnya dalam bidang UMKM akan dilanjutkan, antara lain melalui fasilitasi pengembangan mekanisme dan jaringan kerja perempuan pengusaha mikro dengan lembaga-lembaga keuangan yang khusus menangani kredit UMKM.
Pelaksanaan perlindungan perempuan dan anak sesuai penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan dilaksanakan melalui beberapa hal sebagai berikut: upaya pencegahan dan penanganan tindak kekerasan kepada perempuan dan anak yang bersifat pencegahan, pelayanan dan pemberdayaan berupa Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, peraturan daerah memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak korban sesuai dengan SPM Bidang Layanan Terpadu Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak serta operasional Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO); pengembangan lembaga layanan melalui penguatan dan peningkatan kapasitas jaringan serta peningkatan sumber daya manusia yang terlatih melalui berbagai pendidikan dan pelatihan untuk menangani upaya pencegahan dan tindak kekerasan pada perempuan dan anak, seperti pelatihan bagi konselor, Forum Group Discussion lintas jejaring pelaksana SPM dan intervensi lembaga P2TP2A melalui peningkatan ekonomi dan advokasi hukum dan psikologi bagi korban dan keluarganya;
dan data tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak disediakan oleh lembaga layanan perempuan dan anak.
a. Program pembangunan yang dilaksanakan meliputi:
1). Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan;
2). Program Penguatan Kelembagaan Pengarustamaan Gender dan Anak;
3). Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan; dan
4). Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan.
b. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan sebagai berikut:
Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
pada tahun 2015 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp1.708.345.500,- dan terealisasi sebesar Rp1.703.785.500,- sisa
sebesar Rp4.560.000,-.
Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai berikut : 1). Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan
Perempuan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp547.364.000,- dan terealisasi sebesar Rp542.804.000,- sisa Rp4.560.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
No Kegiatan Belanja
Keluaran
Anggaran Realisasi Sisa
1 Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Perempuan di Daerah
299.934.000 295.374.000 4.560.000 Terealisasinya kebijakan
2 Fasilitasi Upaya Perlindungan Perempuan Terhadap Tindak Kekerasan
247.430.000 247.430.000 0 Terealisasinya pelatihan tenaga
2). Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak, dengan alokasi anggaran sebesar Rp201.127.500,- dan terealisasi sebesar Rp201.127.500,- sisa Rp.0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
No Kegiatan Belanja
Keluaran
Anggaran Realisasi Sisa
1 Pengembangan KIE
78.650.000 78.650.000 0 Terealisasinya materi KIE Gender dan Anak
21.800.000 21.800.000 0 Bekerjanya
forum data dan jejaring
120 orang
3 Peningkatan Kapasitas dan
39.382.500 39.382.500 0 Terealisasinya fasilitasi PKM
4 Pengembangan Sistem Informasi Gender dan Anak
61.295.000 61.295.000 0 Terealisasinya buku profil data terpilah gender
100 eksemplar
3). Program Keserasian Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp310.795.000,- dan terealisasi sebesar Rp310.795.000,- sisa Rp0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
No Kegiatan Belanja
Keluaran
Anggaran Realisasi Sisa
1 Perumusan Kebijakan Peningkatan Kualitas Anak dan Perempuan
58.185.000 58.185.000 0 Terealisasinya perlengkapan
No Kegiatan Belanja
Keluaran
Anggaran Realisasi Sisa
2 Pelaksanaan Sosialisasi yang
252.610.000 252.610.000 0 Terealisasinya sosialisasi dan Rp649.059.000,- dan terealisasi sebesar Rp649.059.000,- sisa
Rp0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
No Kegiatan Belanja Keluaran
Anggaran Realisasi Sisa
1 Pendidikan dan Pelatihan Kesetaraan Gender
60.000.000 60.000.000 0 Terlaksananya
keikutsertaan pada diklat peningkatan peran serta dan kesetaraan
gender, 1 keg. /
50 org
2 Diklat Kesetaraan Gender
429.575.000 429.575.000 0 Terealisasinya diklat
3 Penyuluhan Bagi Ibu Rumah Tangga dalam Membangun Keluarga Sejahtera
57.800.000 57.800.000 0 Peran ibu dalam mewujudkan keluarga sehat sejahtera
1.140 orang
No Kegiatan Belanja Keluaran
Anggaran Realisasi Sisa
4 Bimbingan Manajemen Usaha bagi Perempuan dalam Mengelola Usaha
91.080.000 91.080.000 0 Terealisasinya bimbingan motivasi usaha dan bantuan alat
6 kelompok
5 Monitoring dan Evaluasi
10.604.000 10.604.000 0 Evaluasi PUG,
PP, PA
4 laporan
Adapun hasil/outcome serta manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai berikut:
1). Meningkatnya keserasian kebijakan pusat dan daerah melalui harmonisasi dan diseminasi peraturan perundangan serta kelengkapan perangkat kebijakan di daerah untuk mengembangkan dan menyediakan sebuah dasar penyusunan perencanaan bagi pemangku kepentingan yang dapat mengakselerasi pencapaian sasaran dan mengoptimalkan pemanfaatan alokasi sumber daya terkait penyelenggaraan program dan kegiatan dengan cara mendorong perangkat daerah/SKPD untuk menyusun dan mengidentifikasi rencana kerja dengan analisa yang mendalam tentang peran, akses, manfaat dan kontrol untuk memastikan bahwa pelaksanaan pembangunan dapat dinikmati secara seimbang dan bermanfaat bagi perempuan dan laki-laki dan berbagai segmen dan tingkatan usia;
2). Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan para pemangku kepentingan tentang kesetaraan dan pengarusutamaan gender, pemberdayaan perempuan dan pemenuhan hak anak serta perlindungan perempuan kelompok rentan, melalui upaya diseminasi Hukum dan HAM, sosialisai peraturan perundang-undangan dan penyelenggaraan kebijakan penguatan dan perlindungan bagi anak dan perempuan untuk mendorong
peran dan fungsi setiap lini, mulai dari unsur legislatif dan eksekutif, serta yudikatif sebagai komponen instansi vertikal dan jajarannya. Mitra jejaring, penggiat, akademisi dan kelompok serta tokoh masyarakat dapat menjadi unsur penguat dan kontrol agar kesetaraan, pemberdayaan dan perlindungan yang dibangun, senantiasa mengutamakan partisipasi masyarakat, akses dan pengelolaan sistem pendidikan dan pendekatan budaya serta tradisi khas masyarakat yang sesuai dengan nilai kehidupan yang demokratis dan agamis;
3). Meningkatnya kualitas hidup dan perlindungan terhadap perempuan dan anak melalui: (1). Berbagai bentuk dan pola-pola pemberdayaan perempuan untuk mendorong pembentukan embrio usaha pada kelompok Perempuan Pengembang Ekonomi Lokal (P3EL) dan Perempuan Pekerja Rumahan (PPR); (2). Kelompok Usaha Ekonomi Produktif yang difasilitsi oleh lintas SKPD terkait Usaha Menengah, Kecil dan Mikro; (3). Perlindungan Perempuan Kelompok Rentan sebagaimana amanat Perda Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Perempuan Kelompok Rentan, dengan bina keluarga TKI, perempuan lanjut usia, perempuan penyandang disabilitas, perempuan tuna wisma, perempuan pekerja rumah tangga, perempuan kepala keluarga, perempuan Tenaga Kerja Indonesia, perempuan mantan warga binaan lembaga pemasyarakatan, perempuan korban bencana, perempuan pekerja seks komersial; (4). Penguatan Pokjatap serta Kader Gerakan Sayang Ibu (GSI) dan upaya perlindungan perempuan dan anak terhadap tindak kekerasan melalui upaya peningkatan layanan pengaduan, advokasi, pendampingan, rehabilitasi dan reintegrasi bagi korban sesuai dengan Standart Pelayanan Minimum (SPM) bidang Perlindungan Perempuan dan Korban Kekerasan; (5). Pemenuhan hak-hak anak yang meliputi
pencatatan kelahiran, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, perlindungan khusus dan partisipasi anak;
4). Meningkatnya komitmen pemerintah daerah dalam pengembangan dan penggunaan data terpilah gender dan anak dalam perencanaan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi atas kebijakan program dan kegiatan, dengan pembentukan kelembagaan Pusat Data Daerah (PD2), yang dimulai dengan inisiasi dan strukturisasi lembaga untuk persiapan pembentukan pusat data terpadu di lingkungan Pemerintah Daerah, sebagai data basis untuk mengolah informasi secara statistik terkait keberhasilan pembangunan dan capaian indikator pembangunan;
5). Prestasi yang telah diraih antara lain :
a). Kabupaten Malang Layak Anak Tingkat Madya;
b). Pelaksana Terbaik I Tingkat Provinsi dalam Pengelola Program Terpadu Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS), a.n. Desa Sindurejo Kecamatan Gedangan;
c). Pelaksana Terbaik I Tingkat Provinsi dalam Kecamatan Sayang Ibu, a.n. Desa Sidoluhur Kecamatan Lawang.
c. Permasalahan dan solusi dalam Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai berikut:
1). Perlunya peningkatan peran pemangku kepentingan dalam Implementasi PUG sebagai strategi pembangunan, dengan meningkatkan kemampuan pemangku kepentingan untuk menginternalisasi peran dan mengintegrasikan PUG dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program dan kegiatannya;
2). Masih terbatasnya ketersediaan data terpilah (laki-laki/
perempuan termasuk anak) perumusan perencanaan daerah secara umum dan urusan bidang pemberdayaan perempuaan dan perlindungan anak, sehingga perlu data yang tervalidasi, sistematis, dan keakurasiannya dapat dipertanggungjawabkan Pusat Data Daerah (P2D2).