BAB II : SUMBER DAYA KESEHATAN
2.3 Pembiayaan Kesehatan
Pembiayaan kesehatan merupakan komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan pembangunan kesehatan. Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan kesehatan yang bersumber dari masyarakat. Untuk tingkat provinsi, pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN).
Alokasi dana untuk Dinas Kesehatan pada tahun anggaran 2015
adalah Rp.66.996.037.610,00 untuk total belanja langsung dan belanja tidak langsung. Realisasi keuangan sebesar Rp.42.638.081.889,00 (74,93%) untuk belanja langsung dan Rp.9.013.843.830,00 (89,35%) untuk belanja tidak langsung. Realisasi fisik untuk belanja langsung 99,55%, untuk belanja tidak langsung 100%, dan total realisasi fisik 99,78%.
Realisasi keuangan Belanja langsung yang hanya 74,93% yaitu tiga perempat dari total keseluruhan anggaran dikarenakan masih tersisa 55 (lima puluh lima) Surat Perintah Membayar (SPM) yang sudah diterbitkan tetapi tidak dapat dibayarkan yang diakibatkan oleh terjadinya defisit anggaran kas didaerah. Hal ini terjadi karena berkurangnya dana bagi hasil migas sehingga estimasi pendapatan daerah atas Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang telah ditargetkan tidak tercapai.
SPM yang tidak dapat dibayarkan tersebut dibayarkan di tahun berikutnya yaitu tahun 2016 dengan total terhutang dari 55 SPM tersebut adalah Rp. 9.856.668.182,00.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal Pusat di daerah.
Kegiatan yang didanai dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi merupakan lingkup kewenangan dan Tupoksi Kementerian/ Lembaga.
Kegiatan Dekonsentrasi di daerah dilaksanakan oleh Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) selaku Kuasa Pengguna Anggaran. Kegiatan yang didanai dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi bersifat non-fisik, yang antara lain berupa: sinkronisasi dan koordinasi perencanaan, fasilitasi, bimbingan teknis, pelatihan, penyuluhan, supervisi, pembinaan dan pengawasan, serta pengendalian.
Anggaran Dekonsentarsi tahun 2015 Rp. 15.994.101.000,00 dengan realisasi keuangan Rp. 10.783.916.184,00 (67,4%) dan realisasi fisik 90,2%. Berikut gambaran lengkap realisasi keuangan dan fisik menurut program.
Tabel 2.2
Laporan Realisasi Pelaksanaan Kegiatan APBN-Dana Dekonsentasi Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau TA. 2015
Keuangan
Kesehatan Ibu dan Anak 6,638,734,000 4,800,862,227 72.32 85.26 024.04.07 Program Pembinaan Upaya
Alat Kesehatan 915,272,000 761,082,407 83.15 96.88 15,994,101,000 10,783,916,184 67.42 90.2
Sumber : Subbag. Perencanaan dan Evaluasi, Dinkes Prov Kepri, 2016
BAB III
PENGENDALIAN PENYAKIT
3.1 TUBERKULOSIS
Tuberkulosis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh mycobacterium, yang berkembang biak di dalam bagian tubuh dimana terdapat banyak aliran darah dan oksigen. Infeksi bakteri ini biasanya menyebar melewati pembuluh darah dan kelenjar getah bening, tetapi secara utama menyerang paru, lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%) dibandingkan bagian lain tubuh manusia. Bakteri TB membunuh jaringan dari organ yang terinfeksi dan membuatnya sebagai kondisi yang mengancam nyawa jika tidak dilakukan terapi.
Penderita yang terserang biasanya akan mengalami demam tapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Gejala lain, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise), dan lemah.
Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TBC. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman mycobacterium tuberculosis ini pun tinggi.
Penyakit ini diakibatkan infeksi kuman mikobakterium tuberkulosis yang dapat menyerang paru, ataupun organ-organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, usus, ginjal, kandungan, tulang, sampai otak. TBC
dapat mengakibatkan kematian dan merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian tertinggi di negeri ini.
Jumlah kasus baru BTA (+) Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 adalah 1.085 kasus, nilainya mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2014 yaitu 1.325 kasus.
Gambar 3.1
Angka Notifikasi Kasus BTA + dan Seluruh Kasus Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011-2015
Sumber : Seksi Penyehatan Penyakit Bidang P2PL, 2015
Gambar diatas menunjukkan bahwa angka notifikasi Kasus BTA + dan seluruh kasus TB cenderung menurun di tahun 2015. Tahun 2011 sampai dengan tahun 2014, trend angka cenderung meningkat dan kembali menurun di tahun 2015.
Angka Kematian TB Paru Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 adalah 1,1 per 100.000 penduduk, mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu 2,0 per 100.000 penduduk. Case Notification Rate (CNR) BTA (+) kasus baru adalah 53,51 per 100.000 penduduk dan CNR BTA (+) seluruh kasus adalah 139,53 per 100.000
2011 2012 2013 2014 2015
Kasus BTA (+) 58 64 69 70 40
Seluruh kasus 109 144 155 170 145
0 50 100 150 200
Jumlah kasus
penduduk. Angka keberhasilan pengobatan (Success Rate/SR) TB Paru adalah 48,72. Gambaran lengkap TB Paru menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada lampiran tabel 7,8,9.
Tingkat kesembuhan penderita TB Paru masih rendah. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan status sosial ekonomi masyarakat yang mengakibatkan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam berobat dan kurangnya informasi mengenai pengobatan secara tuntas.
Pengobatan TB adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6-9 bulan dengan paling sedikit 3 macam obat. Kondisi ini diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dari pasien untuk meminum obat dan kontrol ke dokter agar dapat sembuh total. Apalagi biasanya setelah 2-3 pekan meminum obat, gejala-gejala TBC akan hilang sehingga pasien menjadi malas meminum obat dan kontrol ke dokter. Dalam mendukung pengobatan sampai tuntas perlu Pengawas Minum Obat (PMO) untuk membantu pasien berdisplin minum obat. PMO ini sangat diperlukan dan biasanya berasal dari keluarga terdekat.
3.2 HIV & AIDS
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV sendiri adalah virus yang jika menginfeksi dapat menyebabkan menurunnya kemampuan dalam melawan infeksi virus, bakteri, jamur, parasit yang masuk ke dalam tubuh. Virus HIV bekerja dengan cara menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini juga menyebabkan penderitanya rentan terhadap serangan kanker karena menurunnya kekebalan tubuh.
AIDS adalah tahap lanjutan dari infeksi virus HIV. Penularan virus
HIV dapat terjadi melalui darah, air mani, hubungan seksual atau cairan vagina. Namun virus ini tidak dapat menular lewat kontak fisik biasa seperti berpelukan, berciuman, atau berjabat tangan dengan seseorang yang terinfeksi HIV atau AIDS.
Jumlah kasus HIV tahun 2015 adalah 1066 kasus meningkat bila dibandingkan dengan kasus tahun 2014 yaitu 918 kasus. Untuk kasus AIDS tahun 2015 berjumlah 440 kasus dan mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan kasus tahun sebelumnya 2014 yaitu 430 kasus.
Peningkatan penemuan kasus HIV dan AIDS dari tahun ke tahun dimungkinkan (1) meningkatanya kesadaran dari penderita untuk mengobati penyakitnya, untuk memperpanjang umur harapan hidup, (2) adanya upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS oleh tenaga kesehatan, dan (3) meningkatnya Layanan Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Kepulauan Riau.
Tabel 3.1
Layanan Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Kepulauan Riau tahun 2015 No KLINIK LAYANAN JUMLAH
1 Kota Batam RSUD Batam “EMBUNG FATIMAH”
2 VCT (Voluntary
Kabupaten Bintan RSUP Tanjung Uban “Edelweys”
11 Kota Tanjungpinang PKM Tg.Pinang”IMS FLAMBOYAN”
PKM Bt. 10 "IMS KENCANA"
PKM Kampung Bugis PKM Sei Jang
Kota Batam PKM Batu Aji”IMS SEDAP MALAM”
PKM Lubuk Baja
Kabupaten Karimun RSUD Karimun
7 Kota Batam RSUD Embung Fatimah PKM Sambau Sumber : Seksi Penanggulangan Penyakit, Bidang P2PL, Dinkes Prov. Kepri, 2015
Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan HIV dan AIDS oleh tenaga kesehatan dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut pemantauan terhadap darah donor, pemantauan pada kelompok beresiko penderita Penyakit Menular Seks (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS), penyalah guna obat dengan suntikan (IDUs), penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok beresiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya.
Proporsi kasus HIV tahun 2015 menurut jenis kelamin 57,41% laki-laki dan 42,59% perempuan. Dapat dilihat bahwa deteksi kasus HIV lebih banyak ditemukan pada laki-laki yaitu lebih dari 50% kasus diderita oleh laki-laki. Sama halnya dengan tahun 2014, proporsi kasus HIV menurut jenis kelamin juga lebih banyak ditemukan pada laki yaitu 51,53% laki-laki dan 48,47% perempuan.
Proporsi kasus AIDS tahun 2015 menurut jenis kelamin 66,82% laki-laki dan 33,18% perempuan. Sedangkan tahun 2014 proporsi kasusnya adalah 60% laki-laki dan 40% perempuan. Dari data kasus tersebut dapat
dilihat bahwa lebih dari 50% kasus diderita oleh laki-laki.
Berdasarkan pada laporan SDKI 2012 Tabel A-10 tentang Persentase wanita umur 15-49 tahun dan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV-AIDS menurut provinsi, untuk Kepulauan Riau angka persentase wanita (91,1%) lebih besar dibandingkan dengan laki-laki (88,9%). Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa wanita lebih banyak memiliki pengetahuan tentang HIV-AIDS dibandingkan laki-laki.
Tabel 3.2
Persentase wanita umur 15-49 tahun dan pria kawin umur 15-54 tahun yang pernah mendengar tentang HIV-AIDS menurut provinsi
Indonesia, 2012
Sumatera Utara 75,1 2.394 83,3 470
Sumatera Barat 80,8 852 85,6 164
Riau 79,2 1.04 88,0 231
Jambi 66,9 580 78,2 145
Sumatera Selatan 67,9 1.358 77,2 295
Bengkulu 70,3 306 84,1 67
Lampung 78,8 1.443 82,8 334
Bangka Belitung 82,6 245 86,3 52
Kepulauan Riau 91,1 323 88,9 64
Provinsi Wanita Pria
Sumber : SDKI, 2012
Dari kasus HIV yang terdeteksi, proporsi kelompok umur yang paling banyak terinfeksi adalah kelompok umur 25-49 tahun, sedangkan untuk kasus AIDS proporsi kelompok umur yang paling banyak terinfeksi adalah kelompok umur 20-24 tahun. Gambaran lengkap kasus HIV/AIDS menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada lampiran tabel 11.
3.3 PNEUMONIA
Pneumonia atau paru-paru basah adalah peradangan jaringan di salah satu atau kedua paru-paru yang biasanya disebabkan oleh infeksi.
Pada saat menderita pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara yang kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan bengkak dan penuh cairan.
Pneumonia merupakan penyebab kematian anak-anak tertinggi di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 1,1 juta orang anak di dunia yang meninggal tiap tahun akibat penyakit ini.
Jumlah perkiraan penderita Pneumonia tahun 2015 adalah 23.186 penderita. Dari perkiraan penderita yang ada, penderita yang ditemukan dan ditangani adalah 2.516 penderita (10.9%) dengan rincian 1.336 penderita laki laki (11,3%) dan 1.180 penderita perempuan (10,4%).
Persentase penderita Pneumonia tahun 2015 yang ditemukan dan ditangani mengalami penurunan bila dibandingkan dengan persentase 2014 yaitu 12%.
Gambar 3.2
Persentase Pneumonia pada Balita Yang Ditangani Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2012-2015
Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2012–2015
Rendahnya persentase penemuan Pneumonia yang ditangani menunjukkan bahwa belum maksimalnya deteksi terhadap kasus pneumonia dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang tanda-tanda pneumonia pada balita serta bahayanya bila tidak segera ditangani.
3.4 KUSTA
Kusta yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Sistem saraf yang diserang bisa menyebabkan penderitanya mati rasa.
Kusta disebabkan oleh sejenis bakteri yang memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita selama 2 hingga 10 tahun.
Meskipun dulu sempat menjadi penyakit yang ditakuti, saat ini kusta tergolong penyakit yang mudah diobati. Ironisnya, hingga saat ini beberapa daerah di Indonesia masih dianggap sebagai kawasan endemik kusta oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.
Bakteri Mycobacterium leprae menjadi penyebab utama kusta.
Bakteri ini tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih dingin seperti tangan, wajah, kaki dan lutut. Mycobacterium leprae termasuk jenis bakteri yang hanya bisa tumbuh berkembang di dalam beberapa sel manusia dan hewan tertentu. Cara penularan bakteri ini adalah melalui cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk atau bersin.
Selain penyebab utamanya, ada juga faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap penyakit ini. Beberapa faktor risiko tersebut meliput:
Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa sarung tangan. Beberapa di antaranya adalah armadilo dan simpanse afrika.
Melakukan kontak fisik secara rutin dengan penderita kusta.
Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.
Menderita cacat genetik pada sistem kekebalan tubuh.
Mayoritas penderita kusta yang didiagnosis secara klinis akan diberi kombinasi antibiotik sebagai langkah pengobatan selama 6 bulan hingga 2 tahun. Dokter harus memastikan jenis kusta serta tersedianya tenaga medis yang mengawasi penderita untuk menentukan jenis, dosis antibiotik, serta durasi pengobatan.
Tahun 2015 ditemukan 16 kasus baru kusta PB dan 22 kasus baru kusta MB dengan total 38 kasus baru. Jumlah kasus baru tahun 2015 meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu 13 kasus baru.
Meningkatnya penemuam kasus baru dimungkinkan sudah baiknya surveilans kesehatan dan diharapkan adanya sosialisasi dari tenaga kesehatan kepada masyarakat tentang gejala penyakit kusta dan akibatnya bagi penderita, sehingga deteksi dini terhadap kasus kusta dan penderita mendapatkan pengobatan tanpa mengalami cacat fisik.
3.5 DIARE
Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan encernya tinja yang dikeluarkan dengan frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering dibandingkan dengan biasanya. Pada umumnya, diare terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit. Biasanya diare hanya berlangsung beberapa hari, namun pada sebagian kasus memanjang hingga berminggu-minggu.
Gejala diare bermacam-macam, dimulai dari yang hanya merasakan sakit perut singkat dengan tinja yang tidak terlalu encer hingga ada yang mengalami kram perut dengan tinja yang sangat encer. Pada kasus diare parah, kemungkinan penderitanya juga akan mengalami demam dan kram perut hebat.
Penyebab diare pada orang dewasa dan anak-anak umumnya adalah infeksi usus. Infeksi usus bisa terjadi ketika kita mengonsumsi makanan atau minuman yang kotor dan terkontaminasi. Mikroorganisme yang sering menyebabkan infeksi usus adalah bakteri, parasit, dan virus sepertinorovirusdanrotavirus.
Diare juga bisa timbul akibat faktor-faktor (1) Efek samping obat-obatan tertentu; (2) Faktor psikologi, misalnya gelisah; (3) Konsumsi minuman beralkohol dan kopi yang berlebihan.
Diare bukan saja berdampak kepada diri penderita, tapi juga berpotensi menyebar, terutama kepada anggota keluarga. Oleh sebab itu, diare sebaiknya dicegah mulai dari kontak pertama hingga penyebarannya.
Berikut adalah langkah-langkah pencegahan terkena diare akibat kontaminasi:
Mencuci tangan sebelum makan.
Menjauhi makanan yang kebersihannya diragukan dan tidak minum air keran.
Memisahkan makanan yang mentah dari yang matang.
Utamakan bahan makanan yang segar.
Menyimpan makanan di kulkas dan tidak membiarkan makanan tertinggal di bawah paparan sinar matahari atau suhu ruangan.
Jumlah diare yang ditangani tahun 2015 adalah 55,5% dari jumlah target penemuan kasus. Angka ini sedikit menurunkan dari tahun sebelumnya yaitu 59,2% di tahun 2014.
Jumlah diare yang ditangani menurut Kabupaten/Kota tahun 2015 tertinggi adalah Kabupaten Lingga (100,11%), Kabupaten Natuna (94,63%) dan yang terakhir adalah Kota Batam (40,35%). Gambaran lengkap kasus diare menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada lampiran profil tabel 13.
Dari data jumlah penyakit terbanyak, diare masih termasuk dalam kategori 10 penyakit terbanyak. Rendahnya persentase jumlah diare yang
ditangani dimungkinkan pencatatan dan pelaporan kasus diare tidak tervalidasi dengan baik misalnya melakukan pengobatan sendiri atau pengobatan di praktek swasta. Gambaran lengkap kasus diare menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada lampiran profil tabel 13.
3.6 PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) 4.6.1 TETANUS NEONATARUM
Tetanus Neonatorum adalah Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, disusul dengan kejang–kejang.
Penyebab tetanus neonatorum adalah clostridium tetani yang merupakan kuman gram positif, anaerob, bentuk batang dan ramping.
Kuman tersebut terdapat ditanah, saluran pencernaan manusia dan hewan. Kuman clostridium tetani membuat spora yang tahan lama dan menghasilkan 2 toksin utama yaitu tetanospasmin dan tetanolysin.
Kasus tetanus neonatorum selama kurun waktu 5 tahun terakhir hanya terdeteksi di tahun 2014 yaitu 1 kasus di kabupaten Karimun.
Tahun 2015 ini tidak terdapat kasus tetanus neonatorum.
4.6.2 CAMPAK
Campak adalah infeksi yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini akan memunculkan ruam di seluruh tubuh dan sangat menular. Campak bisa sangat mengganggu dan mengarah pada komplikasi yang lebih
serius. Gejala campak mulai muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh.
Gejala campak yang biasanya muncul adalah: Mata merah, Mata menjadi sensitif terhadap cahaya, Gejala menyerupai pilek seperti radang tenggorokan, hidung beringus atau tersumbat, mengalami demam, bercak putih keabu-abuan pada mulut dan tenggorokan.
Bercak atau ruam berwarna merah-kecokelatan akan muncul di kulit setelah beberapa hari kemudian. Urutan kemunculan bercak ini dari belakang telinga, sekitar kepala, kemudian ke leher. Pada akhirnya ruam akan menyebar ke seluruh tubuh.
Program imunisasi campak di Indonesia dimulai tahun 1982.
Menurut Riskesdas tahun 2010, anak-anak Indonesia berusia 1-2 tahun yang mendapat imunisasi campak mencapai rata-rata 74,4 persen.
Sedangkan, capaian imunisasi campak di Indonesia hingga bulan Desember tahun 2013 adalah sebesar 90,82%. Meski capaian imunisasi campak di Indonesia telah mencakupi 90%, WHO melaporkan terdapat sekitar 6,300 kasus campak di Indonesia pada tahun 2013.
Penyakit ini disebut juga rubeola atau campak merah. Telah tersedia vaksin untuk mencegah penyakit ini. Vaksin untuk campak termasuk dalam bagian dari vaksin MMR (campak, gondongan, campak Jerman).Vaksinasi MMR adalah vaksin gabungan untuk campak, gondongan, dan campak Jerman. Vaksinasi MMR diberikan dua kali.
Pertama diberikan ketika anak berusia 15 bulan dan dosis vaksin MMR berikutnya diberikan saat mereka berusia 5-6 tahun atau sebelum memasuki masa sekolah dasar. Vaksin memiliki fungsi yang cukup penting dalam mencegah campak.
Gambar 3.3 Jumlah Kasus Campak
Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2011-2015
Sumber : Profil Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, Tahun 2011 - 2015
Gambar diatas menunjukkan jumlah kasus Campak selama kurun waktu 5 tahun. Dapat dilihat bahwa jumlah kasus Campak yang terdata fluktuatif, tahun 2011 sebesar 561 kasus, menurun ditahun 2012 menjadi 331 kasus, naik kembali ditahun 2013 menjadi 409 kasus, meningkat lagi ditahun 2014 menjadi 491 kasus dan turun kembali ditahun 2015 menjadi 249 kasus.
Menurut data Kabupaten/Kota, tahun 2015 kasus Campak tertinggi adalah di Kota Batam 163 kasus Campak, kemudian berikutnya di Bintan 27 kasus, dan yang terendah adalah Kabupaten Kepulauan Anambas dengan tidak ada kasus Campak yang ditemukan. Gambaran lengkap kasus Campak menurut Kabupaten/Kota dapat dilihat pada lampiran profil tabel 20.
Difteri disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans. Masa inkubasi (saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) penyakit ini umumnya dua hingga lima hari.
Gejala-gejala yang mengindikasikan penyakit ini meliputi:
Terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
Demam dan menggigil.
Sakit tenggorokan dan suara serak.
Sulit bernapas atau napas yang cepat.
Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.
Lemas dan lelah.
Hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah.
Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.
Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.
Vaksin DPT adalah salah satu dari lima imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan lima kali pada saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 1,5-2 tahun, dan lima tahun.
Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidupnya. Tetapi vaksinasi ini dapat diberikan kembali pada saat anak memasuki masa remaja atau tepatnya saat berusia 11-18 tahun untuk memaksimalisasi keefektifannya.
Penderita difteri yang sudah sembuh juga disarankan untuk menerima vaksin karena tetap memiliki risiko untuk kembali tertular penyakit yang sama.
Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2011-2015) pelaporan kasus Difteri ada ditahun 2012 dan 2013 dengan jumlah 1 kasus dan ditemukan di Kota Tanjungpinang.
4.6.4 POLIO DAN AFP (ACUTE FLACID PARALYSIS/LUMPUH LAYU AKUT)
Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan bernapas, kelumpuhan, dan pada sebagian kasus menyebabkan kematian.
Sejak awal tahun 2014, WHO (World Health Organization) telah menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara yang bebas dari penyakit ini berkat program vaksinasi polio yang luas. Kebanyakan penderita polio tidak menyadari bahwa diri mereka terinfeksi karena virus polio pada awalnya hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak sama sekali, dan tidak membuat mereka menjadi sakit.
Penyakit polio disebabkan oleh virus yang umumnya masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja dan virus polio.
Sama halnya seperti cacar, polio hanya menjangkiti manusia. Dalam
tubuh manusia, virus polio menjangkiti tenggorokan dan usus. Selain melalui kotoran, virus polio juga bisa menyebar melalui tetesan cairan yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.
Imunisasi atau pemberian vaksin polio dapat meminimalisasi terjangkit virus polio. Anak-anak, wanita hamil dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, sangat rentan terkena virus polio jika di daerah mereka tidak terdapat program imunisasi atau tidak memiliki sistem sanitasi yang bersih dan baik.
Polio dapat dicegah dengan vaksinasi yang bisa memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Anak-anak harus diberikan empat dosis vaksin polio tidak aktif, yaitu
Polio dapat dicegah dengan vaksinasi yang bisa memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Anak-anak harus diberikan empat dosis vaksin polio tidak aktif, yaitu