II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pembibitan Jamur Tiram
1. Pembuatan media tanam
Pelaku usaha dapat membuat media tanam jamur (baglog) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Persiapan
Dalam melakukan budidaya jamur tiram putih, serbuk kayu merupakan komposisi utama untuk media tumbuh. Serbuk kayu yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya jamur tiram putih adalah berasal dari serbuk gergaji kayu sengon (Parasientes falcataria). Selain serbuk kayu, bahan-bahan lain seperti dedak, gips, kapur (CaCO) juga digunakan dalam mempersiapkan media tanam jamur tiram putih. Semua bahan-bahan pembuat media tanam disiapkan sesuai dengan kebutuhan dan komposisi yang sesuai.
b.Pengayakan
Serbuk gergaji yang diperoleh dari pengrajin memiliki tingkat keseragaman yang kurang baik karena didalamnya terdapat potongan-potongan yang cukup besar dan tajam yang dapat merusak plastik sebagai pembungkus media tanam jamur tiram putih yang menyebabkan pertumbuhan miselia jamur tidak merata. Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian disortir (pengayakan) terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil serbuk gergaji yang baik. Pengayakan dilakukan secara manual.
9
c. Pencampuran
Pencampuran disini adalah pencampuran semua bahan baku sebagai komposisi untuk membuat baglog. Bahan-bahan tersebut adalah serbuk kayu, dedak, gipsum, kapur dan air. Pencampuran dilakukan secara manual. Bahan-bahan seperti dedak, gipsum dan kapur diratakan diatas permukaan serbuk kayu. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur hingga merata dan diberikan air sebanyak +/-40% dari jumlah adonan. Tidak ada standard khusus mengenai jumlah air yang digunakan. Untuk mengukur kadar air yang sesuai dapat dilakukan dengan mengepal adonan yang telah dicampur air. Jika kepalan adonan yang ada tidak mudah hancur dan tidak meneteskan air maka air yang digunakan sebagai campuran dirasa sudah cukup. Pencampuran dilakukan merata agar tidak terdapat gumpalan serbuk gaji dan kapur. Adanya gumpalan tersebut mengakibatkan komposisi media yang diperoleh tidak merata dan berpegaruh terhadap produksi jamur tiram nantinya.
d. Pengomposan
Bahan-bahan yang telah dicampur untuk membuat baglog selanjutnya dikomposkan selama satu hari. Pengomposan dilakukan dengan cara menimbun campuran tersebut dan menutupnya dengan terpal. Kadar air pada saat pengomposan harus diatur agar tidak terjadi pertumbuhan mikroba yang dapat merusak baglog.
e. Pewadahan dan Pembuatan Media Tanam
Setelah dilakukan pengomposan maka media tanam tersebut dimasukkan ke dalam plastik. Adapun ukuran plastik yang digunakan untuk pembuatan baglog ini adalah sebesar 17 cm x 35 cm dengan ketebalan 0,3 mm. Pewadahan
10
dilakukan dengan cara memasukkan adonan media hasil pengomposan kedalam plastik media. Kemudian adonan tersebut dipadatkan. Proses pemadatan diperlukan untuk mencegah terciptanya ruang bagi udara untuk masuk kedalam media. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya mikroba yang dapat mengganggu berkembangnya miselium jamur sehingga dapat menurunkan hasil panen. Setelah media padat, baglog yang sudah terisi diikat dengan karet.
f. Sterilisasi
Media-media yang telah terisi dengan adonan kemudian disterilisasi. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan tidak terdapat mikroba-mikroba yang dapat tumbuh di dalam baglog. Hal ini untuk mensterilkan media dari mikroba maupun kapang yang dapat tumbuh dan mengganggu pertumbuhan miselium jamur. Pada tahap ini, sterilisasi baglog dilakukan dengan menggunakan drum berkapasitas 700 unit baglog. Proses sterilisasi dilakukan selama delapan jam dengan suhu mencapai 90o – 120oC. Setelah itu, baglog kemudian didinginkan selama tujuh jam dengan temperatur baglog pada suhu 30o C sebelum diinokulasi. 2. Inokulasi (pembibitan)
Inokulasi berarti proses pemindahan sejumlah kecil miselia jamur dari biakan induk ke dalam media tanam yang telah disediakan. Tujuannya untuk menumbuhkan miselia jamur pada media tanam sehingga menghasilkan jamur siap panen. Inokulasi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Diantaranya tebaran dan tusukan. Inokulasi secara taburan yaitu menaburkan bibit sekitar tiga sendok makan ke dalam media tanam secara langsung. Sementara itu, inokulasi secara tusukan dilakukan dengan cara membuat lubang dibagian tengah media melalui cincin sedalam ¾ dari tinggi media. Selanjutnya dalam lubang tersebut diisi bibit
11
yang telah dihancurkan. Dalam melakukan inokulasi harus dilakukan dengan hati-hati. Berikut merupakan hal-hal yang harus diperhatikan saat inokulasi. a. Kebersihan
Kebersihan meliputi alat, tempat dan sumber daya atau pelaksananya. Dalam hal ini, kebersihan diukur dari tingkat sterilitasya. Oleh karena itu, alat dan tempat inokulasi disterilisasi terlebih dulu sebelum digunakan. Sterilisasi alat dilakukan dengan menggunakan alkohol 70% dan lampu spirtus. Peralatan yang digunakan dalam inokulasi dicelupkan ke dalam larutan alkohol 70% kemudian dinyalakan beberapa saat jangan sampai peralatan yang terbuat dari kayu hangus. Sedangkan tempat inokulasi di sterilisasi terlebih dahulu menggunakan alkohol 70% selama 15 menit. Ruang yang 40oCdigunakan untuk inokulasi merupakan ruangan khusus (tidakdigunakan untuk hal lain) dan tertutup.
b. Bibit
Dalam hal ini bibit yang digunakan dalam usaha jamur tiram putih merupakan bibit yang memiliki keunggulan, diantaranya jamur tiram putih yang dihasilkan berwarna putih bersih, berkadar air rendah, bertekstur kenyal, bertudung banyak (empat sampai lima tudung dalam satu batang), tebal dan tidak mudah patah.
3. Inkubasi
Inkubasi berarti proses penumbuhan miselia jamur sampai memenuhi seluruh media tanam. Seluruh media tanam jamur yang telah diinokulasi diangkut ke dalam kumbung inkubasi dan disusun rapi pada rak. Baglog yang sedang dalam tahap inkubasi akan tampak putih merata antara 30-40 hari sejak dilakukan inokulasi. Suhu yang diperlukan berkisar pada 25o – 30o C. Keberhasilan
12
pertumbuhan miselia jamur dapat diketahui sejak dua pekan setelah inkubasi. Apabila setelah dua pekan tidak terdapat tanda-tanda adanya miselia jamur berwarna putih maka kemungkinan besar jamur tersebut tidak tumbuh. Untuk mengatasi media tanam yang gagal ditumbuhi miselia jamur maka diperlukan sterilisasi ulang pada media sampai inokulasi kembali. Namun apabila setelah diinokulasi tidak tumbuh lagi, maka media tanam jamur dibuang karena biasanya media tersebut tidak baik (rusak).
4. Penumbuhan
Media tanam jamur (baglog) yang sudah berumur 30-40 hari dan telah putih oleh miselia jamur berarti sudah siap untuk dilakukan penumbuhan tubuh buah jamur dengan cara membuka baglog jamur. Pembukaan baglog jamur yang umum dilakukan pada skala usaha jamur tiram putih ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan membuka cincin dan kertas penutup baglog atau pun dengan menyobek plastik baglog di berbagai sisi baglog.
Pada prinsipnya pembukaan media bertujuan untuk memberikan oksigen yang cukup bagi pertumbuhan tubuh buah jamur tiram putih. Dengan oksigen yang cukup makan dapat memberikan kesempatan bagi jamur untuk membentuk tubuh buah dengan baik. Jamur tiram menunjukkan pertumbuhan yang baik pada suhu 18o - 25o C, kelembaban relatif 75-90 %. Setelah tujuh sampai sepuluh hari setelah media dibuka, maka akan muncul bakal buah. Tubuh buah yang sudah tumbuh tersebut akan tumbuh optimal selama empat sampai tujuh hari. Setelah tubuh buah muncul maka akan muncul primordiam dan akan berkembang pada hari ke delapan. Pada hari ke sembilan terbentuk basidioma dewasa (tubuh buah) yang siap dipanen.
13
5. Penyiraman dan Pengaturan Suhu Ruangan
Penyiraman dilakukan dengan frekuensi yang berbeda pada musim hujan dan kemarau. Pada musim hujan, penyeraman dilakukan sekali dalam dua hari sedangkan pada musim kemarau penyiraman dilakukan sebanyak tiga kali dalam sehari. Tujuan penyiraman adalah untuk menjaga kelembaban media sehigga miselia dapat tumbuh dengan baik. Pengaturan suhu dilakukan dengan cara membuka dan atau menutup ventilasi kumbung serta membasahi dinding dan lantai kumbung agar suhu dan kelembaban kumbung tetap terjaga.