Interupsi pimpinan.
PEMBICARA : FERDINANDA IBO YATIPAY (PAPUA)
Jadi itu yang kami minta. Kami harus mengerti bahwa perawat dan bidan adalah sama, malah bidan itu sampai di desa Pak. Dia tinggal di desa. Saya punya adik-adik itu 200 orang yang akan selalu masuk di desa untuk melihat dan berapa pahitnya mereka Pak. Jadi di dalam sini kalau di tulis perawat saja nanti di dinas kesehatan mereka hanya perhatikan perawat dan bidannya tidak, padahal itu tugasnya sama beratnya Pak.
PEMBICARA : DJASARMEN PURBA (KEPULAUAN RIAU)
Interupsi Pimpinan. B-39. Baik terima kasih. PP 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan itu terdiri dari beberapa. Pertama tenaga medis, kedua tenaga keperawatan, ketiga tenaga kefarmasian, keempat tenaga kesehatan masyarakat, kelima tenaga gizi, keenam tenaga keterapian fisik dan ketujuh tenaga keteknisan medis. Nah memang dalam tenaga kesehatan tidak ada masuk bidan, namun boleh di catat di prolegnas bahwa Undang-Undang Bidan telah masuk di dalam prolegnas. Itu kesimpulannya. Jadi tidak ada masuk disini lagi. Boleh dilihat di prolenas yang namanya Undang-Undang Bidan sudah masuk di sana. Jadi harapan kami kepada Ibu bahwasanya Undang-Undang Bidan sudah masuk di prolegnas. Demikian pimpinan. Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)
Saya kira jelas ya, ini tidak perlu diperdebatkan, karena meskipun dia punya irisan pekerjaan tetapi ini adalah fokus. Tetapi, kita di DPD akan membahas juga dan sambil menunggu Rancangan Undang-Undang tentang Bidan itu yang sudah masuk dalam prolegnas. Jadi, kita setuju ya?
Terima kasih.
Selanjutnya, kami pesilakan kepada Komite IV untuk menyampaikan laporannya.
PEMBICARA : Drs. H. ZULBAHRI M, M.Pd. (KEPULAUAN RIAU)
Rama-rama si kumbang janti/ khatib endah pulang berkuda/ berpidato ganti- baganti/ sekarang sampai giliran saya.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.
Om Swastyastu.
Pimpinan sidang yang kami hormati.
Bapak Wakil Ketua DPD RI dan Ibu Wakil Ketua yang kami hormati. Bapak-Ibu anggota DPD RI yang kami hormati.
Hadirin yang berbahagia.
Ibu Sesjen dan Pak Wasesjen beserta jajaran yang kami hormati.
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, kami dari Komite IV akan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas Komite IV selama masa sidang ini. Pertama, usul inisatif revisi Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Pemerintah Daerah. Kedua, hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No. 27 Tahun, kami ulangi, hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 1997 tentang penerimaan Negara Bukan Pajak. Ketiga, pertimbangan terhadap tindak lanjut hasil pemeriksaan Semester I Tahun Anggaran 2012 dari BPK RI. Keempat, pandangan dan pendapat terhadap Rancangan Undang-Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan.
Pertama, usul inisiatif revisi Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Usul inisatif revisi ini kami sampaikan dalam sidang paripurna ini merupakan hasil konsolidasi dengan hasil pembahasan Pansus Dana Bagi Hasil yang difinalisasi pada tanggal 25 – 28 November 2012.
Draf revisi UU sebagaimana terlampir merupakan hasil konsolidasi tersebut. Untuk selanjutnya, akan diharmonisasi oleh PPUU bersama Komite IV yang direncanakan awal tahun 2013.
A. Pokok-pokok muatan perubahaan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 adalah sebagai berikut.
1. Dana Alokasi Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 27% dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. Daerah provinsi mendapat 10% dan kabupaten kota mendapat 90%. Hal ini dilakukan untuk mencerminkan rasa keadilan serta dalam rangka penyeimbangan antara daerah. Adapun kabupaten kota, diklasifikasi dalam tiga kelompok, yaitu Kabupaten Besar dan Kota Metro, Kabupaten Sedang dan Kota Besar, Kabupaten Kecil dan Kota Kecil.
2. Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan dari APBN untuk daerah tertentu dalam rangka membantu biaya kebutuhan khusus dengan memperhatikan tersedianya dana APBN. Kebutuhan khusus itu adalah kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus DAU atau kebutuhan yang merupakan komitmen atau menjadi prioritas nasional. Besarnya DAK ditetapkan sekurang-kurangnya 4% dari penerimaan dalam negeri netto.
3. Dana Bagi Hasil adalah dana yang diterima pemerintah, baik di sektor pajak, sumber daya alam, dan jasa pariwisata.
4. Formula Dana Bagi Hasil adalah sebagai berikut.
a. Dana Bagi Hasil Pajak. PPH Orang Pribadi dan PPH Pasal 2.
1) Penerimaan PPH Orang Pribadi dan PPH PAsal 21 yang semula dibagi hasilkan untuk daerah sebesar 20% dinaikkan menjadi 50%.
2) Pajak Bumi dan Bangunan untuk sektor perkebunan seperti halnya sektor perkotaan dan pedesaan dialihkan menjadi pajak daerah. Sedangkan, untuk sektor kehutanan dan pertambangan tetap menjadi pajak pusat. Akan tetapi, seluruhnya dibagihasilkan kepada daerah 100%.
3) Cukai. Terhadap penerimaan jenis cukai tembakau semula 2%, untuk daerah diusulkan menjadi 5%.
b. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.
1) Minyak bumi, bagi hasil untuk daerah penghasil semula 15,5% dinaikkan menjadi 40%.
2) Gas bumi, bagi hasil untuk daerah penghasil semula 30,5% dinaikkan menjadi 40%.
3) Panas bumi, tidak ada perubahan untuk daerah penghasil, yaitu tetap 20%. 4) Pertambangan umum, tidak ada perubahan, yaitu besaran penerimaan untuk
daerah penghasil sebesar 80%.
5) Perikanan, terdapat perubahan, yaitu yang semula bagi hasil untuk daerah kabupaten kota 80% dan dibagi rata untuk seluruh daerah diubah menjadi 90% untuk daerah penghasil dengan komposisi 10% untuk provinsi, 80% untuk kabupaten kota. Akan tetapi, di dalam unsur penerimaan yang dibagihasilkan, selain Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diperoleh dari perizinan, juga diambil dari hasil produksi.
6) Kehutanan, tidak terdapat perubahan bagi hasil kepada daerah. c. Jasa Pariwisata.
Dalam RUU ditetapkan Dana Bagi Hasil Pariwisata terdiri dari Pendapatan, Surat Keterangan Keimigrasian, Visa Kedatangan (Visa on Arrival), dan Biaya pembuatan Paspor yang dibagihasilkan 25% untuk daerah.
B. Hasil pengawasan terhadap pelaksanaan UU No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Pimpinan dan Anggota, hadirin yang kami hormati, pengawasan terhadap pelaksanaan UU No. 20 Tahun 1997 tentang PNBP dilaksanakan melalui kunjungan kerja ke tiga daerah, yaitu Provinsi Sumatera Barat, Sulawesi Utara, dan DKI Jakarta. Materi ini kemudian dibahas dan difinalisasi pada tanggal 9 – 12 Desember 2012. Hasil pengawasan UU PNBP, antara lain:
1. DPD RI mencatat bahwa rencana PNBP tahun 2013 menurun. Dari 13,8%, 341 triliun menjadi 324 triliun atau menurun 16,8%.
2. PNBP tidak memberikan bagi hasil untuk daerah yang menjadi lokasi sumber pemungutan PNBP. Padahal, daerah yang bersangkutan, turut memberikan kontribusi bagi penerimaan negara tersebut. Termasuk, beban pelestarian lingkungan hidup. DPD RI memandang bahwa PNBP yang bersumber dari daerah tanpa memberikan bagi hasil bagi daerah tersebut adalah tidak sejalan dengan asas keadilan.
3. Berdasarkan hasil pengawasan, beberapa daerah mengemukakan potensi PNBP di daerahnya untuk meningkatkan penerimaan PAD provinsi dan kabupaten kota. Potensi PNBP tersebut agar dimasukkan dalam kelompok PNBP sebagai berikut. a. Penerimaan yang bersumber dari wisata alam.
b. Penerimaan yang bersumber dari tenaga kerja asing di suatu daerah.
c. Penerimaan yang bersumber dari sektor pariwisata, jasa transportasi dan telekomunikasi, seperti izin provider telekomunikasi.
d. Penerimaan yang bersumber dari penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), dan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB).
4. Mekanisme PNBP pada perguruan tinggi saat ini menimbulkan permasalahan akuntabilitas. Oleh karena itu, perlu diperjelas mekanismenya guna menjamin manfaat dari penyelenggaraan pendidikan.
Rekomendasi DPD, berdasarkan hasil pengawasan terhadap UU No. 20 Tahun 1997 tentang PNBP, DPD RI merekomendasikan untuk mengajukan revisi terhadap UU tersebut guna optimalisasai pemungutan PNBP, khususnya bagi kepentingan daerah sesuai dengan perubahan ketatanegaraan yang desentralisis.
C. Pertimbangan terhadap tindak lanjut pemeriksaan hasil Semester I Tahun 2012 BPK RI. Tindak lanjut hasil pemeriksaan Semester I Tahun Anggaran 2012 dilaksanakan melalui kunjungan kerja, baik yang dilakukan oleh masing-masing anggota maupun dari kunjungan kerja dalam rangka tindak lanjut Hapsem I Tahun 2012 ke empat daerah: Provinsi Riau, Sulawesi Tengah, Maluku, dan DKI. Dalam hal ini, DPD RI menemukan antara lain:
1. Terdapat provinsi yang hampir seluruh LKPD pemerintah daerah provinsi kabupaten kota memperoleh opini TMP (Tidak Memberikan Pendapat) selama tiga tahun terakhir. Dan, hampir seluruh LKPD tahun 2011 tidak dapat diselesaikan tepat waktu seperti yang terjadi di Provinsi Maluku.
2. Terdapat perbedaan pelaporan jumlah dana transfer Dana Bagi Hasil, antara LKPD dengan jumlah dalam masing-masing LKPD walaupun sama-sama diaudit oleh BPK RI. Hal ini terjadi di beberapa pemerintah daerah di Provinsi Riau dan Sulawesi Tengah, seperti Kabupaten Donggala, Kota Palu, dan Kabupaten Sigi Biromaru. 3. Ada permasalahan, seperti pada Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah dalam
melaksanakan DAK karena juklak dan juknis diterima terlambat. Dan, adanya kebijakan yang berbeda antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan.
Atas hasil pemeriksaan BPK Semester I, DPD memberikan pertimbangan: 1. Peningkatan kualitas penyajian laporan keuangan.
a. Pemerintah daerah bersama peemrintah pusat perlu didorong untuk terus memperbaiki pengelolaan keuangan daerah sehingga LKPD dapat diterbitkan tepat waktu dan memperoleh opini wajar tanpa pengecualian.
b. BPK agar tetap melaporkan hasil pemeriksaan instansi pemerintah pusat dan daerah, baik dilaksanakan sendiri oleh BPK maupun dilaksanakan oleh akuntan publik berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
2. Sumber daya manusia pengelolaan keuangan daerah.
Pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan terobosan strategis untuk mengatasi kekurangan tenaga akuntansi pada pemerintah daerah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu memberdayakan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan dan perguruan tinggi setempat
untuk mendidik tenaga D3 Akuntansi yang diperlukan. Moratorium penerimaan PNS di tenaga akuntansi mengelola keuangan daerah, perlu dihentikan.
3. Penerbitan pengelolaan aset.
Pemerintah pusat dan daerah agar memberikan perhatian yang sungguh-sungguh untuk mempertegas komitmen kepala daerah agar membenahi inventarisasi dan penilaian aset daerah, dan terus melakukan inventarisasi aset-aset yang tetap. Termasuk, penyertifikasian tanah milik pemerintah daerah melalui kerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional dan aset-aset lainnya dengan akurat. Dan, dipastikan keberadaannya agar neraca yang disajikan dalam laporan keuangan mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
4. Dana transfer ke daerah.
a. Pemerintah pusat serta pemerintah daerah agar mengelola program Dana Alokasi Khusus bidang pendidikan dan kesehatan dengan baik secara tepat waktu, tepat sasaran, dan hemat.
b. Pemerintah pusat, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar menerbitkan juknis dan juklak yang diperlukan secara tepat waktu bersamaan dengan turunnya Dana Alokasi Khusus sehingga penyaluran dana tidak terlambat. c. Pemerintah pusat harus menyelesaikan kewajiban transfer Dana Bagi Hasil,
diestimasi sejumlah 8,2 triliun per 31 Desember 2011 sesegera mungkin untuk menghindari terjadinya penyelesaian yang berlarut-larut.
5. Tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu segera menindaklanjuti rekomendasi BPK yang berkaitan dengan hasil pemeriksaannya dan menerapkan sanksi bagi pejabat yang lalai dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK sehingga menyebabkan temuan yang berulang.
D. Pandangan dan Pendapat terhadap RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan. RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) dibahas oleh Komite IV dan difinalisasi pada tanggal 9 – 12 Desember. Pandangan dan pendapat Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia:
1. RUU JPSK mempeunyai tujuan mengatur masalah penjagaan dan penanganan krisis. Akan tetapi, sudah terdapat peraturan perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan krisis dalam sistem keuangan. Oleh karena itu, RUU JPSK ini harus dikaji kesatuannya dengan UU terkait, seperti UU No. 7 Tahun 1992, UU No. 10 Tahun 1998, dan Perbankan UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 2. Dalam keadaan normal, UU itu dilaksanakan oleh Otoritas Moneter Bank Indonesia
dan Otoritas Fiskal Menteri Keuangan, dan OJK secara sendiri-sendiri. Sedangkan, perlindungan bagi masyarakat dilakukan oleh LPS.
3. Dalam keadaan krisis global, tentu dibutuhkan kesatuan tindak antara Otoritas Moneter dan Otoritas Fiskal, serta harus dipimpin oleh lembaga yang profesional (FSSK) dan dilaksanakan oleh badan khusus yang kompeten. Di sinilah diperlukan UU JPSK untuk memberi landasan hukum yang kuat dalam penyelenggaraan upaya mengatasi krisis tersebut.
4. Dalam kondisi krisis, yang harus lebih diperhatikan sebenarnya adalah tujuan untuk mencapai kepentingan umum yang lebih besar sehingga menjadi wewenang DPR RI dan DPD RI melakukan pengawasan yang sangat komprehensif dengan membentuk panitia kerja untuk mengawasi penanganan krisis oleh pemerintah. Maksud pengawasan dilakukan adalah menjaga semua mekanisme aturan kebijakan dan sistem protokol stabilitas keuangan dijalankan tanpa adanya kerugian bagi kepentingan umum yang lebih besar, khususnya menjaga hak pembayar pajak.
5. Pada dasarnya DPD mendukung disusunnya rancangan UU JPSK. Akan tetapi, DPD mengharapkan mekanisme dan kewenangan dalam hal penetapan kriteria krisis dan dampak sistemik perlu dinormakan secara jelas dalam rancangan UU tentang JPSK. Dalam hal ini, kewenangan untuk menetapkan situasi krisis berada di tangan presiden.
6. Penggunaan APBN sebagai pendanaan krisis hanya dilakukan apabila nyata dan pasti terdapat perubahan keadaan kondisi yang mempengaruhi negara dalam rangka melaksanakan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan sehingga perubahan kondisi tersebut harus diatasi menjadi beban APBN. Penggunaan APBN tersebut harus mendapat persetujuan DPR RI dengan pertimbangan DPD RI karena penggunaan APBN secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi komposisi dana transfer ke daerah.
Dalam rangka pembangunan pemerataan di daerah, pertimbangan DPD RI dalam kondisi krisis sebaiknya bersifat langsung dan tidak melalui DPR RI.
7. Semua biaya yang dia keluarkan saat krisis dianggap merupakan biaya krisis dan tidak termasuk kerugian negara.
8. DPD RI memahami bahwa RUU JPSK ini disusun untuk mengakomodasi kerja sama antara pemegang otoritas fiskal dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas perbankan nasional.
9. Meskipun begitu, RUU ini tetap harus memiliki kepastian hukum dan memberikan perlindungan hukum kepada pihak swasta, pengusaha, pejabat, nasabah, masyarakat dalam rangka penanggulangan krisis tersebut. Secara khusus, perlu diperhatikan perlindungan sektor riil terhadap dampak krisis tersebut.
PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)
Kalau bisa dipersingkat, Pak.
PEMBICARA : Drs. H. ZULBAHRI M, M.Pd. (KEPULAUAN RIAU)
Pimpinan dan anggota hadirin yang berbahagia. Pada sidang paripurna yang terhormat ini, kami menyampaikan materi ini dengan harapan dapat disahkan dan diambil keputusan.
1. Keputusan DPD tentang hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.
2. Keputusan DPD RI tentang hasil pengawasan terhadap tindak lanjut Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2012 BPK RI.
3. Keputusan DPD RI tentang pandangan dan pendapat tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan. Adapun materi revisi Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah akan diteruskan ke PPUU untuk diharmonisasikan.
Demikian laporan ini dapat kami sampaikan, dan sebelum menutup karena teman-teman ada yang merayakan Natal, kami mengucapkan Selamat Hari Natal dan Selamat Menempuh Tahun Baru 2013. Demikian, terima kasih.
Burung irian, burung cendrawasih/ cukup sekian, terima kasih. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat sore.
PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)
Terima kasih, Pak Zulbahri.
Jadi, ada tiga rancangan keputusan yang dimintakan persetujuan kita pada sore hari ini. Dari Komite IV, yaitu yang pertama adalah hasil pengawasan DPD RI atas pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Kedua, pertimbangan DPD RI terhadap tindak lanjut Hasil Pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2012. Yang ketiga, pandangan dan pendapat DPD RI atas RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan. Dapatkah kita setujui ketiga keputusan ini?
Terima kasih.
Untuk alat kelengkapan komite-komite, empat-empatnya sudah selesai menyampaikan laporannya.
PEMBICARA : ERMA SURYANI RANIK, SH. (KALBAR)
Pimpinan, B-80, Kalimantan Barat. Erma Suryani, pimpinan, di tengah.
Minta maaf, pimpinan, tadi pimpinan tidak menyebut rancangan undang-undang tentang perubahan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004. Saya anggota Komite IV yang Pak Ketuanya tadi sudah menyampaikan. Saya hanya ingin menyampaikan minderheit nota saja terkait dengan hasil yang sudah kami sampaikan dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2004. Satu hal saja, Bapak-Ibu rekan-rekan anggota DPD RI sekalian. Yang ingin saya sampaikan adalah terkait bagi hasil pajak dalam sektor perkebunan. Kesepakatan di Komite IV bahwa bagi hasil pajak sektor perkebunan ini secara khusus untuk sektor Pajak Bumi dan Bangunan ini sudah masuk di dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2009. Tetapi, menyinggung kembali nota kesepakatan yang sudah kita tandatangani bersama dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten tadi, Pak Ketua, satu hal yang senantiasa didengang-dengungkan oleh teman-teman dari APKASI adalah soal pajak ekspor. Saya sebut contoh saja pajak ekspor perkebunan sawit. Kalimantan Barat, provinsi yang saya wakili, setiap tahun 1,5 triliun dari pajak ekspor perkebunan sawit dan Kalimantan Barat dapat 0% rupiah. Sebagai anggota DPD RI dari Kalimantan Barat saya hendak menggunakan hak konstitusional saya untuk menggunakan minderheit nota dan menyampaikan catatan penting ini kepada teman di PPUU dan juga nanti setelah ada harmonisasi dengan teman-teman di Komite IV. Saya tidak akan membatalkan ini, tetapi ini catatan yang akan saya minta menjadi perhatian penuh dari teman-teman di PPUU saat kita menyampaikan RUU inisiatif Undang-Undang No. 33 Tahun 2004.
Saya kira demikian, pimpinan. Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)
Terima kasih, Ibu Ranik. Memang tidak diagendakan untuk mengesahkan itu. Dan laporan tadi lengkap dibacakan oleh Ketua Komite IV. Hanya tiga rancangan keputusan yang dimintakan diambil. Yaitu, sekali lagi saya sudah putuskan tadi, sudah diketuk palunya, Keputusan DPD RI tentang hasil pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Kedua, Keputusan DPD RI tentang pertimbangan terhadap tindak lanjut Hasil Pemeriksaan Semeter I Tahun Anggaran 2012 dari
BPK. Yang ketiga, Keputusan DPD RI tentang pandangan dan pendapat terhadap RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan. Hanya itu yang dimintakan oleh Ketua Komite IV tadi dan diagendakan di dalam rapat paripurna ini. Hal-hal yang lain saya kira sudah dikerjakan oleh Komite IV. Terima kasih sekali. Nanti dirapihkan dulu, disinkrokankan sesuai dengan dengan mekanisme yang ada di DPD, dan itu akan dibahas selanjutnya.
Terima kasih.
PEMBICARA : ERMA SURYANI RANIK, SH. (KALBAR)
Terima kasih pimpinan.
PIMPINAN SIDANG : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI)
Selanjutnya Kelompok, lima alat kelengkapan lagi yang akan menyampaikan laporannya. Mudah-mudahan tidak terlalu lama-lama. Yang pertama, Kelompok DPD di MPR. Sebagai informasi, di ruangan ini kemarin saya kira sekitar lebih dari 600 orang itu hanya dari tiga kabupaten/kota di Jawa Barat dihadiri oleh gengnya Ibu Ella. Itu sebetulnya demo ala muslimat NU, menyampaikan permintaannya menggugat DPD dan MPR untuk segera merealisasikan, mendukung amandemen kelima UUD 1945. Dan mereka kemarin juga diterima oleh, saya dampingi sampai sore kemarin itu diterima oleh Ibu Melani Wakil Ketua MPR. Dan Ibu Melani pun berjanji dan sudah menjelaskan langkah-langkahnya bahwa amandemen kelima insya Allah itu akan terwujud dalam tahun 2013. Itu janji. Itu pembicaraan bukan dari saya, dari Ibu Melani kemarin yang disampaikan kepada seluruh perwakilan warga Nahdliyin dari Muslimat NU kemarin. Silakan Pak.
PEMBICARA : Dipl. Ing. H. BAMBANG SOEROSO (KETUA KELOMPOK)
Untuk perjuangan yang mulia Bapak dan Ibu sekalian, untuk Indonesia yang lebih maju dan daerah maka kita semua akan memperjuangkan hal itu sampai detik dan darah yang terakhir.
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang saya muliakan pimpinan, para sabahat negarawan Indonesia, senator Indonesia dan hadirin yang berbahagia. Pertama, ingin kami sampaikan bahwa perjuangan tadi salah satunya yang sudah disampaikan oleh Pimpinan adalah sebuah proses yang sangat multidimensi, proses yang multidimensi tadi terbagi atas proses dimensi yang rakyat sebagai pemegang kedaulatan bangsa ini dan satu lagi adalah proses dimensi politik parpol yang saat ini memegang kekuasaan di majelis. Oleh karenanya maka bukan hanya usul perubahan saja yang dilakukan secara komprehensif tapi proses perjuangan ini seyogyanya kita lakukan juga secara komprehensif.
Bapak dan Ibu sekalian, dengan kerja keras kita semua dan dengan ridho perlindungan dan kemudahan dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa serta Sang Hyang Widhi Wasa, alhamdulillah kita telah dapat menyampaikan dinamika usul perubahan perjuangan Bapak dan Ibu sekalian ke rumah MPR, dengan dibentuknya pada 2 minggu yang lalu sebuah Tim Kerja Sistem Ketatanegaraan Indonesia yang mempunyai tupoksi atau beban tugas utama adalah membahas, menelaah sekaligus akan merekomendasikan kepada Pimpinan MPR 4 isu penting. Yang pertama, terhadap tugas yang akan dibebankan kepada Sub Tim Kerja yang akan membahas masalah ke-MPR-an yang berupa Tap-tap Majelis Permusyawaratan Rakyat, kemudian peraturan tata tertib dan GBHN. Dan satu lagi Sub Tim
yang mempunyai tuga untuk membahas, menelaah dan sekaligug merekomendasikan terhadap dinamika usul perjuangan amandemen kita.
Bapak dan Ibu sekalian, Tim Kerja itu beranggotakan seluruh fraksi yang ada di