Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam.
Salam sejahtera untuk kita semuanya.
Om swastiastu
Bapak-Ibu Pimpinan DPD RI, rekan-rekan Senator, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu semua.
Perkenankan saya menyampaikan beberapa catatan hasil reses dari Provinsi Kepulauan Riau. Pertama dari Komite I mengenai kelembagaan Dewan Kawasan dan Badan Pengusahaan Batam, kawasan perdagangan bebas di pelabuhan bebas Batam, diharapkan dengan organisasi yang baru dapat meningkatkan Batam sehingga menjadi tujuan investasi yang lebih produktif dan bisa bersaing dengan tujuan investasi lain di regional ini.
Kemudian kedua, mengenai masalah infrastruktur dasar dari Komite II, kami mendesak agar supaya masalah kelistrikan di Kepulauan Riau, seperti daerah-daerah kepulauan lain di Indonesia lebih ditingkatkan karena masih banyak ibukota kabupaten dan kota masih bermasalah apalagi daerah-daerah kepulauan.
Kemudian, Komite III seperti juga disampaikan yang lain mengenai pelayanan BPJS yang diharapkan lebih baik sebelum ada peningkatan premi BPJS. Kemudian mengenai Komite IV, mengenai dana bagi hasil migas. Seperti kita ketahui Kepulauan Riau adalah penyumbang bagi hasil yang besar, tapi dana bagi hasil migas tahun 2015 kami masih belum disalurkan, masih ada yang tersisa sampai dengan kuartal pertama 2016 ini. Kemudian juga mengenai transparansi penghitungannya, dana bagi hasil migas sampai saat ini juga belum ada kejelasan. Kami mohon supaya lembaga DPD ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan ini.
Kemudian juga mengenai masalah perekonomian masyarakat di Kepulauan Riau, khususnya nelayan. Ada masalah besar di Kepulauan Riau khususnya para nelayan
pembudidaya ikan kerapu, yang selama ini di ekspor terutama ke Hongkong secara hidup, kebijakan kementerian kelauatan yang melarang ekspor dengan kapal asing secara mendadak itu menyebabkan puluhan ribu nelayan itu tidak bisa menjual hasil perikanannya. Kami mengharapkan lembaga DPD dapat membantu menyelesaikan permasalahan ini karena hal ini sudah disampaikan secara berulang kepada kementerian melalui organisasi, tapi sampai sekarang masih belum ada penyelesaian. Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG: H. IRMAN GUSMAN, S.E., M.B.A. (KETUA DPD RI)
Selanjutnya yang mewakili Provinsi Aceh PEMBICARA : RAFLI (ACEH)
Sebelum baca senyum simetris dulu.
Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah Bapak Ketua, Ibu Ketua, Ibu Wakil Ketua, Bapak Wakil Ketua yang saya hormati, teman-teman Senator yang baik-baik budi yang juga saya hormati.
Jadi saya mau bacakan sedikit reses kita yang kemarin tidak banyak-banyak. Dari Komite I mendukung pemekaran untuk wilayah kabupaten dan kota. Ada juga sih tuntutan untuk pemekaran provinsi, tapi untuk Komite I katanya belum dukung di sini, sebatas dukung untuk kabupaten dan kota dulu. Ada satu kabupaten yang mau dimekarkan, namanya Kabupaten Asja namanya. Mohon dukungan, mohon pemikiran.
Kemudian untuk kawasan investasi juga penting. Terutama sekali yaitu Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang, itu sudah masuk 15 tahun terkatung-katung. Kalau KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Lhoksumawe itu hanya sekedar buaian pusat saja buat Aceh. Sudah terbiasa itu buat Aceh. Mohon dukungan juga. Jadi kita konsentrasi ke Sabang sajalah dulu.
Itu kapal pesiar kemarin merapat ke Sabang, ya merapat saja sendiri tanpa ada suatu hal yang penting untuk menjadi gerakan ekonomi produktif untuk Aceh. Kemudian ada juga Kawasan Industri Ladong. Nah, Ladong ini tempat Kerajaan Lamori dulu, jadi kerajaan tertua Aceh.
Ini juga penting. Kemudian Kawasan Pengembangan Investasi Kualalangsa. Ini malah sudah ditutup. Jadi program tol laut buat Aceh itu sudah dibatalkan sekarang. Itu menyangkut dengan regulasi, menyangkut dengan keikhlasan pusat juga yang tidak benar-benar ikhlas buat Aceh. Ini hal penting.
Kemudian untuk komite, dari Komite II. Komite III dulu. Ini menyangkut tentang Undang Kebudayaan. Masyarakat mendukung pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang kebudayaan dapat menjadi undang-undang yang diharapkan dapat meningkatkan upaya pelestarian seni budaya di Aceh yang selama ini kurang diperhatikan oleh pemerintah. Ini sebenarnya bukan hanya persoalan dengan pemerintah pusat tapi kita di Aceh juga lagi mencari formula dinamis bagaimana menampilkan pesona keberadaan Kebudayaan Paseh yang merupakan awal peradaban santun nusantara itu sendiri. Itu harus dikemas, ini juga pekerjaan internal kami secara Aceh, tapi kalau untuk pusat kita mohon dukungan. Biasanya kalau peristiwa budaya, program-program peristiwa budaya untuk Aceh itu selalu di akhir tahun, karena orientasinya bukan kepada program tetapi lebih orientasinya bagaimana menghabiskan uang. Ini juga kecelakaan berat buat Aceh, begitu. Tidak bagus.
Kemudian dari Komite II, eh Komite IV ini menyangkut dengan Musrembang Kota Sabang. Jadi untuk menjadikan Kota Sabang sebagai salah satu destinasi wisata nasional maka perlu didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Diantaranya ketersediaan listrik, namun sampe sekarang gak banyak butuh listriknya, cuma sekitar 8 megawatt, tapi
gak pernah tuntas itu. Wacananya membangun listrik sampe 35.000 ya, jadi mohon dorongannya Ibu Ketua, Bapak Ketua.
Kemudian Komite II, saya sendiri, ada satu ungkapan yang sudah di menjadi berita besar itu terowongan Grutai yang menghubungkan akses delapan kabupaten, itu yang sering banjir. Jadi makanya waktu minta dana kepedulian banjir itu sudah malu itu, dari Aceh banjir saja minta dana kepedulian yang dua puluh juta, yang tiga puluh juta. Jadi kemarin rencananya 2016 ini sudah dianggarkan tiba-tiba ini ditiadakan. Bolehlah Aceh itu lebih spesifik dulu lah, gitu mohon dukungan teman-teman, memang agak spesifik gitu. Jadi kita mohon ini lebih baik, ini laporan reses.
Kemudian ada yang lebih wabil khusus, saya yang ingin menyampaikan. Saya ingin mengatakan bahwa peristiwa kita beberapa hari, ini adalah peristiwa penting. Peristiwa penting buat kita semua, terutama buat Ketua dan Wakil Ketua agar lebih respek terhadap niat baik dari seluruh Anggota DPD RI. Lebih respek, ini cinta, ini bicara cinta dan kasih saying, bicara pengabdian, jangan dipandang hal-hal yang lain dulu. Kemudian untuk Anggota DPD RI teruslah melakukan aksi yang sehat. Harapan saya semua teman-teman kita harus melakukan aksi yang sehat agar lembaga kita ini benar-benar berfungsi ideal, berimbang dengan legitimasi yang sudah diberikan oleh rakyat. Mari kembali kita merekonsiliasi batin kita, demi harkat martabat lembaga kita yang sangat represententatif dipilih oleh rakyat. Tepuk tanganlah jangan segan-segan, gimana sih. Jadi saya sampaikan mari kita merekonsiliasi batin kita demi kemandirian daerah sebagai wujud harkat martabat pemerintah Indonesia.
Dalam keruncingan, manusia bimbang curiga, terbanglah ia menjelajahi dunia.
Putih sayapnya, melambai cinta damai, bersamanya kibaran panji, panji hidup bersama.
Merpati putih, jelajahilah dunia ini.
Hembuskan udara baru, yang kau hirup dari malam.
Biar bunga, bunga-bunga mekar menguntum, biar bibir-bibir segar DPD tersenyum.
Terima kasih, terima kasih, berhikmah-berhikmah.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG: H. IRMAN GUSMAN, S.E., M.B.A. (KETUA DPD RI)
Baik terima kasih Saudara Rafli dari Aceh. Selanjutnya kami persilakan Maluku Utara yang mewakili.
PEMBICARA : Drs. H. ABDURRAHMAN LAHABATO (MALUKU UTARA)
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam, salam sejahtera.
Om Swastiastu.
Ketua DPD RI yang saya hormati, Wakil Ketua DPD RI yang saya hormati, Saudara- saudara Senator Indonesia yang saya hormati.
Laporan reses dari provinsi Maluku Utara sesungguhnya tidak jauh beda, sama dengan laporan reses yang sebelumnya. Hanya satu yang mesti mendapat perhatian serius adalah soal dana desa dan honor pendamping desa yang kurang lebih sekitar empat bulan, ribuan tenaga pendamping desa itu tidak mendapat gaji dan bisa menimbulkan masalah sosial. Mungkin ini akan menjadi perhatian kita di Komite I.
Sedangkan Komite II sama persis dengan yang lalu. Infrastruktur di wilayah Maluku Utara masih membutuhkan perhatian. Sedangkan Komite III masih berkeinginan kuat, pemda Provinsi Maluku Utara untuk menjadikan bandara Sultan Basbula Ternate sebagai bandara yang digunakan untuk direct jemaah haji dari Maluku Utara langsung ke Jeddah dan Madinah atau Mekkah. Sedangkan Komite IV, masih soal transfer dana ke daerah. Masih terlihat tidak sebagaimana diharapkan oleh daerah. Juknis-juknis yang mesti lebih cepat sampai ke daerah itu tidak segera sehingga bupati/walikota dalam menggunakan dana itu tidak sebagaimana yang diharapkan.
Ada empat hal pokok itu yang ingin kami sampaikan dan banyak lagi yang telah kami sampekan secara tertulis akan kami sampaikan kepada Pimpinan untuk di teruskan kepada alat kelengkapan masing masing. Terimakasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam, salam sejahtera.
Shalom.
PIMPINAN SIDANG: H. IRMAN GUSMAN, S.E., M.B.A. (KETUA DPD RI)
Terimakasih pak Abdurrahman Lahabato selanjutnya kami persilahkan yang mewakili provinsi Papua
PEMBICARA : Pdt. CARLES SIMAREMARE, S.Th. M.Si (PAPUA) Yang kami hormati Pimpinan dan seluruh Anggota DPD RI.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Om Swastiastu.
Untuk menghemat, laporan kegiatan anggota DPD RI provinsi Papua di daerah pemilihan pada tanggal 18 Maret sampai dengan 10 April 2016 karena banyak jadi saya langsung serahkan saja. Sekian dan teerimakasih
PIMPINAN SIDANG: H. IRMAN GUSMAN, S.E., M.B.A. (KETUA DPD RI)
Terimakasih kepada Pak pendeta yang sangat arif ya karena ini bagaimanapun kita akan bagikan kepada alat kelengkapan yang terkait. Selanjutnya yang mewakili provinsi Sumatra Selatan kami persilakan.
PEMBICARA : SISKA MARLENI, SE., M.Si (SUMSEL) Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Om Swastiastu.
Yang saya hormati bapak dan ibu pimpinan DPD RI yang sekaligus juga Pimpinan Sidang Paripurna, yang saya hormati Sekretariat Jenderal beserta jajaran, yang saya sayangi yang saya banggakan dan saya hormati rekan-rekan Senator Anggota DPD RI.
Perkenankan dan juga sebelumnya saya mohon izin kepada Pimpinan untuk mungkin tidak menyampaikan secara detail aspirasi pada laporan kegiatan daerah anggota DPD RI provinsi Sumatra Selatan, tetapi dalam hal ini, saya akan menyampiakan pointer-pointer yang telah kami rangkum sesuai dengan aspirasi yang berkaitan dengan bidang Komite I, II, III, dan IV.
Hadirin Sidang Paripurna yang saya hormati, pertama untuk Komite I. Ada tercatat delapan belas detail aspirasi yang tentunya kedelapan belas detail aspirasi ini berkaitan yang pertama berkaitan dengan pelaksanaan pengawasan Undang-Undang nomor 5 tahun 2014 tentang ASN atau Aparatur Sipil Negara. Selanjutnya aspirasi juga berkaitan dengan pengawasan pelaksanaan Undang-Undang nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Selanjutnya dilengkapi juga dengan detail aspirasi mengenai pengawasan pelaksanaan Undang-Undang nomor 23 tentang Pemerintah Daerah dan yang tidak kalah pentingnya aspirasi tentang pembentukan dan pemekaran daerah otonomi baru. Karena sebagaimana diketahui ada beberapa usulan daerah otonomi baru dari provinsi Sumatra Selatan yang telah mendapatkan ampres atau amanat presiden yang seyogyanya perlu dukungan politik dari kita semua untuk mendapatkan ruang untuk dibahas pada siding-sidang yang berkaitan dengan pengajuan daerah otonomi baru tersebut.
Selanjutnya Komite II. Di Komite II ada sebelas detail aspirasi. Yang pertama berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur dasar, tentang ketersediaan listrik. Selanjutnya permasalahan juga dibidang pertanian, serta juga aspirasi yang berkaitan dengan pelayanan sosial kemasyarakatan itu juga masih mendominasi beberapa aspirasi yang berkaitan dengan bidang komite II.
Hadirin Sidang Paripurna yang saya hormati dan banggakan selanjutnya di Komite III tercatat ada dua belas aspirasi. Yang pertama yang berkaitan dengan kualitas pelayanan program BPJS, yang saya rasa juga menjadi inventarisir permasalahan aspirasi dari beberapa daerah diwilayah NKRI. Lalu yang kedua, dirasakannya perlu dukungan legislasi yang khusus mengatur tentang kekerasan seksual dan yang ketiga, yang berkaitan dengan pengawasan pelaksanaan program corporate responsibility social atau tanggung jawab sosial perusahaan yang diharapkan akan berdampak positif bagi masyarakat di sekitar perusahaan yang melakukan eksplorasi tersebut.
Hadiri Sidang Paripurna yang berbahagia, terakhir dari Komite IV. Ada delapan detail aspirasi dengan pointer-pointer-nya. Pertama, yang sebagaimana disampaikan oleh rekan Senator dari Kepulauan Riau, formulasi mengenai dana bagi hasil, apakah yang berkaitan dengan masalah transparansi, masalah besaran dana bagi hasil, dan masalah pengucuran atau dana transfer dana bagi hasil yang waktunya tidak tepat itu juga mendominasi formulasi dana bagi hasil, khususnya untuk sektor kehutanan dan pertambangan. Lalu yang kedua yang tidak kalah pentingnya, aspirasi juga berkaitan dengan pelaksanaan dana desa. Ada beberapa aspirasi dari beberapa kepala daerah, khususnya kabupaten memohon agar mendapatkan dukungan untuk menambah peran dan wewenang mereka dalam mengontrol implementasi dana desa. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan juga pertanggungjawaban karena hal tersebut berindikasi atau potensi terjadinya penyelewenangan dan itu dirasakan sangat diperlukan bertambahnya wewenang dan peran daripada pemerintah daerah.
Yang terakhir, ini saya rasa juga mungkin terjadi di beberapa provinsi yang lain, tentang tumpang tindih beberapa regulasi. Yaitu yang pertama adalah regulasi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang SPPM, lalu juga Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Pemerintah Pusat dan Daerah dan ini berimplikasi kepada kurang optimalnya perencanaan anggaran di daerah yang juga akan berimplikasi kepada serapan anggaran di daerah.
Demikianlah hal-hal yang telah kami rangkum untuk kami serahkan kepada Sidang Paripurna yang terhormat ini. Semoga apa yang menjadi aspirasi kita mendapatkan ruang untuk bisa lebih rill dirasakan oleh masyarakat yang ada di daerah. Mungkin itu saja saya atas nama Anggota DPD RI Provinsi Sumatera Selatan mengucapkan terima kasih atas perhatian.
Wabillahi Taufiq Walhidayah.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (SUMBAR)
Baik terima kasih, kami ucapkan kepada Ibu Siska dari Sumatera. Selanjutnya, kami persilahkan yang mewakili Porvinsi Riau.
PEMBICARA : Drs. H. ABDUL GAFAR USMAN, MM (RIAU)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semua.
Om swastiastu.
Pimpinan yang saya hormati, rekan-rekan Senator para Pejabat Sekjen serta Pejabat eselon. Hadirin-hadirat yang berbahagia.
Laporan hasil kegiatan Kunjungan Kerja Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia daerah pemilihan Provinsi Riau. Empat Anggota, tiga yang cantik, satu yang ganteng. Ibu Intsiawati Ayus, Abdul Gafar Usman, Rosti Uli Purba, Hj. Maimanah Umar. Oorang yang diberi amanah kami memperlihatkan kekompakan Senator dan menjaga nama baik lembaga sehingga dengan demikian Provinsi Riau merasa bangga dengan adanya lembaga DPD karena aspirasi yang disampaikan dari waktu ke waktu ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur dan wewenang yang ada.
Oleh karena itu satu Pemda Provinsi Riau mengucapkan terima kasih kepada Sesjen dan Pimpinan dan kepada Anggota Komite I dan Komite II yang telah dapat menyelesaikan aspirasi daerah tentang RTRW Riau, Komite II, Komite I kami ucapkan terima kasih, beserta Anggota dari Riau, emmpat menteri, gubernur, DPRD, bupati, walikota hadir menyaksikan bahwa DPD mampu menfasilitasi aspirasi yang disampaikan oleh daerah. Terima kasih Pak Sesjen dan Pak Ketua.
Kedua, daerah juga mengucapkan terima kasih dengan persoalan yang telah ditindaklanjuti. Pertama masalah DAK, selama ini pakai dana pendamping, hasil pertemuan BAP dangan KPK, BPK RI, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri dan Inspektorat telah menghasilkan empat keputusan dan itu di cek oleh Komite IV ternyata keempat-empat itu telah ditindaklanjuti.
Pertama DAK tidak lagi pakai dana pendamping itu hasil dari DPD. Kedua juklak juknis yang selama ini terlambat, sekarang sudah diterbitkan menurut informasi kementerian keuangan itu di cross check, satu bulan setelah APBN disahkan, telah diterima, oleh daerah dan daerah merasa bangga DPD ternyata dapat menindaklanjuti aspirasi daerah. Ketiga, bahwa juklak juknis itu berlaku selama tiga tahun bukan lagi satu tahun. Itu juga telah ditindaklanjuti. Keempat hal-hal aturan antara menteri keuangan dan menteri dalam negeri yang dianggap bertentangan, disepakati untuk dilakukan perbaikan. Itu sekali lagi, Riau bangga dengan DPD dan mengucapkan terima kasih dari hasil yang telah kita lakukan.
Ketiga bahwa segala persoalan-persoalan aspirasi daerah menyangkut pertanahan, menyangkut anggaran, dan menyangkut kelistrikan dan jalan tol. Terima kasih lagi kepada Komite II, Komite IV sehingga Anggota Komite IV dari Riau telah memberikan komitmen kepada menteri keuangan tiga jangan. Masalah keuangan daerah jangan tidak, jangan kurang,
jangan terlambat dan itu sudah menjadi komitmen Dirjen Perimbangan Keuangan, Bapak Teguh dan Bapak Menteri Keuangan yang difasilitasi oleh Sesjen dan Pimpinan.
Kemarin masalah K2 menjadi persoalan di Riau, K2 yang tak tuntas-tuntas berdasarkan komunikasi administrasi kepada BKN. Kami Anggota DPD langsung ketemu dengan BKN regional 12, berserta dengan instansi terkait sehingga mendapat solusi. Pertama diperpanjang penyelesaikan administrasinya, yang kedua dijawab secara tertulis sehingga dengan demikian pengaduan yang disampaikan oleh daerah ditinjaklanjuti sesuai dengan kewenangan yang kita miliki.
Harapan selanjutnya kiranya masalah listrik karena di Riau pembangunan yang cukup pesat sehingga listrik kami mengusulkan pada Paripurna ini melalui Komite II dan Pimpinan dan Sesjen kiranya dilakukan Rapat Koordinasi kelistrikan se-Sumatera, Riau siap menjadi tuan rumah dengan segala risiko yang diperlukan. Untuk itu ini sekali lagi kepada Komite II.
Selanjutnya kepada Komite I. Perbatasan antara Riau dengan Sumatera Utara kira kita dapat duduk bersama dengan kementerian terkait serta dengan kawan-kawan yang menyangkut dengan hal-hal tersebut, dan Komite III masalah pariwisata di Riau itu adatiga pariwisata yang menarik. Satu pariwisata sejarah, dua pariwisata budaya, tiga pariwisata alam. Satu-satunya di dunia yang bernama Candi Muara Takus, Muara Takusnya satu-satunya di dunia, tapi candinya memang banyak. Nah oleh karena, itu mohon kiranya juga nanti akan kami fasilitasi mengundang menteri pariwisata dan menteri PU untuk menindaklanjuti apa yang menjadi harapan masyarakat tersebut.
Dengan demikian masyarakat Riau bangga dengan adanya DPD. Oleh karena itu setiap kami berkunjung bersama-sama selalu menyampaikan salam masing-masing Anggota.
Saya ke daerah masing-masing sehingga tampak kekompakan karena tenyata sistem yang kita hormati, ternyata memberikan kebanggan kepada DPD. Salam rakyat Riau kepada DPD mari kita hormati sistem, mari kita hormati norma, mari kita hormati hukum dalam hal-hal menyelesaikan persoalan. Rambut boleh berbeda, pikiran boleh berbeda tapi rambut sama-sama dikepala, itu nah apa yang disampaikan tadi oleh saudara saya dari Nusa Tenggara. Hati boleh panas tapi kepala boleh dingin. Insya Allah mudah-mudahan Bapak-bapak dan Ibu-ibu, itulah harapan rakyat kepada kita dan kami sekali lagi atas nama Anggota Dewan Perwakilan Daerah Senator dari daerah betul-betul komitmen dengan S31T serap, sampaikan, selesaikan sampai tuntas.
Demikian terima kasih Kepada Sesjen dan kepada Pimpinan, kepada kawan-kawan semua. Terima kasih kepada Komite I, terima kasih Komite II, terima kasih Komite III, terima kasih Komite IV serta lembaga-lembaga lain yang telah memberikan respon kepada kami sehingga kami merasa bangga menjadi Senator.
Demikian terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (SUMBAR)
Terima kasih Pak Abdul Gafar Usman. Siap-siap yang mewakili Sumatera Barat kami persilakan.
PEMBICARA: Hj. EMMA YOHANNA (SUMBAR)
Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam, salam sejahtera buat kita semua.
Om swastiastu.
Yang kami hormati, Saudara Pimpinan DPD RI, Saudara Wakil Pimpinan DPD RI, Saudara-saudara Pimpinan alat kelengkapan, kepanitiaan, serta Pimpinan kelompok DPD di MPR, Sesjen beserta jajarannya, dan Saudara-saudaraku yang tercinta para Senator dari seluruh tanah air yang kita cinta.
Pertama-tama kita mengucapkan terima kasih dan syukur alhamdulillah karena pada malam ini kita masih diberi kekuatan dan kesehatan sehingga kita dapat mengikuti Sidang Paripurna ini. Kami dari Sumatera Barat setelah melakukan reses hampir sama dengan daerah-daerah lain, telah melakukan serap aspirasi, melakukan pertemuan-pertemuan dengan berbagai pihak lembaga. Saya tidak akan membacakan satu persatu laporan ini, namun ada beberapa catatan.
Yang pertama usulan untuk revisi PKPU nomor 7 tentang Kampanye Media Massa atau Luar Ruangan. KPU belum mampu melakukannya sehingga dianggap sosialisasi untuk pelaksanakan pilkada yang baru saja di laksanakan itu kurang memadai. Kemudian juga tentang penetapan Undang-Undang nomor 6, Undang-Undang Desa maksudnya ya nomor 6, sangat merugikan Sumatera Barat karena secara geografis dan jumlah peduduk di Sumatera Barat kita tidak memakai istilah desa, yang kita pakai adalah nagari. Satu nagari itu bisa mencapai 4 sampai 10 desa. Sebelum Undang-Undang nomor 32 tahun ‘99 jumlah desa 5.200 sekarang hanya 880 nagari. Jadi disini sangat terjadi kesenjangan sekali yang kalau di total Sumatera Barat hanya mendapatkan dana desa lebih kurang 600 miliar. Ini tentu harapan dari daerah perlu DPD RI dalam hal ini memberikan perhatian.
Yang pertama usulan untuk revisi PKPU nomor 7 tentang Kampanye Media Massa atau Luar Ruangan. KPU belum mampu melakukannya sehingga dianggap sosialisasi untuk pelaksanakan pilkada yang baru saja di laksanakan itu kurang memadai. Kemudian juga tentang penetapan Undang-Undang nomor 6, Undang-Undang Desa maksudnya ya nomor 6, sangat merugikan Sumatera Barat karena secara geografis dan jumlah peduduk di Sumatera Barat kita tidak memakai istilah desa, yang kita pakai adalah nagari. Satu nagari itu bisa mencapai 4 sampai 10 desa. Sebelum Undang-Undang nomor 32 tahun ‘99 jumlah desa 5.200 sekarang hanya 880 nagari. Jadi disini sangat terjadi kesenjangan sekali yang kalau di total Sumatera Barat hanya mendapatkan dana desa lebih kurang 600 miliar. Ini tentu harapan dari daerah perlu DPD RI dalam hal ini memberikan perhatian.