Jadi, tambahannya, Pimpinan, kalau perlu semacam ucapan terima kasih kepada MK.
Jadi dibuat saja berulang-ulang, ya tidak apa-apa, MK yang sudah begitu.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, nanti akan kita pikirkan karena baru kemarin ya. Baik selanjutnya PAP. Kalau ada yang mau disampaikan. Oh, tidak ada Bang? Oh, ada ya. Silakan.
PEMBICARA : H. ABDUL GAFAR USMAN, MM. (WAKIL KETUA PAP)
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang.
Salam sejahtera.
Om swastyastu.
Yang mulia Pimpinan, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu para Senator, para hadirin yang berbahagia, Sesjen serta peserta Paripurna yang kami muliakan. Laporan perkembangan pelaksanaan tugas dan hasil kerja Panitia Akuntabilitas Publik Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Ternyata rakyat dan bangsa Indonesia sangat rindu dengan perhatian, rindu dengan dilindungi, dan rindu dengan adanya pengawasan konkret terhadap APBN dan APBD yang memang itu diamanahkan dari rakyat untuk rakyat. Ada yang paling dirindukan lagi oleh rakyat, bagaimana menyelesaikan aspirasinya secara cepat dan tepat. Bukan diserap, bukan disampaikan, tetapi diselesaikan. Kerinduan inilah yang menjadi detak jantung dari PAP sebagai alat kelengkapan yang secara formal yuridis adalah alat kelengkapan di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Harapan itulah yang telah dilakukan oleh PAP, bagaimana eksistensi DPD ternyata denyut jantung rakyat dan PAP. Kita ucapkan selamat kepada kita semua atas keputusan MK.
Keputusan MK tersebut memang kita syukuri, tetapi sebaliknya kita harus menangis, apakah itu mampu kita realisasikan atau tidak. Besarnya fungsi lembaga, tetapi alat
kelengkapan dan personalnya sebagaimana yang dibacakan oleh Badan Kehormatan, apakah itu sudah dapat mencerminkan harapan ke depan. Kita tangisi hari ini agar keputusan MK itu tidak sia-sia.
PAP sebagai Panita Akutabilitas Publik betul-betul akuntabel dan mengharapkan dari publik itu sendiri agar APBN-APBD betul-betul dari rakyat untuk rakyat, maka temuan pemeriksaan BPK, rekomendasi BPK, menjadi satu tugas pokok dan fungsi PAP. Sehingga dengan demikian, ternyata kasus-kasus yang menonjol yang telah kita catat ternyata bantuan sosial yang memang diharapkan sampai kepada masyarakat justu menjadi persoalan di daerah-daerah yang kita lakukan kajian. Pungutan dan penyetoran pajak negara, bendahara tidak tertib sehingga ini juga menjadi perhatian kita dan juga menjadi perhatian rakyat.
Pelaksanaan pekerjaan infrastruktur jalan, jembatan, yang memang menjadi dambaan dalam segala segala sektor yang multiefek terhadap kehidupan rakyat juga menjadi catatan bagi PAP. Penggunaan dana kas daerah dan kepentingan pribadi serta pemahalan harga masih dilihat. Namun, dengan adanya selalu dilakukan pengawasan dan koordinasi oleh PAP ternyata ada perkembangan yang positif dan membanggakan. Banyaknya daerah-daerah dan auditi yang telah mendapat WTP dan berkurangnya rasa para pejabat kita untuk sudah merasa segan dan merasa takut sehingga PAP memberikan opsi kepada auditi. Rugi materi atau rugi moral atau rugi kedua-duanya. Ternyata kita berharap biarlah rugi materi daripada rugi moral para pejabat kita.
Selanjutnya, sebagai tindak lanjut dari hasil itu kita telah melakukan koordinasi dan kerja sama yang intens dan senang sekali dengan BPK, juga dengan aparat hukum terhadap kasus-kasus yang telah kita lakukan peninjauan, baik di Jawa Timur, Kalimantan Timur, serta di Sumatera Utara. Tentunya ini juga menjadi harapan bagi masyarakat ke depan.
Selanjutnya, pengaduan-pengaduan masyarakat tidak ada satu pun yang tidak ditindaklanjuti oleh PAP. Setelah kita tindak lanjuti, kita monitor, dan kita cek ke lapangan apakah sudah memuaskan harapan rakyat atau belum. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan, sengketa lahan antara warga serta baik di Riau maupun di Jambi serta di Jawa Timur, bahkan sampai kita lakukan kegiatan-kegiatan tersebut, kita cek seperti dokter, kita diagnosa dan analisa bagaimana obat sakit dan obat penyakit yang benar-benar kita tuntaskan. Namun, keterbatasan dari PAP tentu menjadi respons dari kita semua, baik dari Pimpinan maupun dari Sesjen.
Selanjutnya, pertemuan koordinatif dan konsultatif pada tingkat pusat dan daerah dan memerlukan perhatian FGD sehingga ada yang kebanggan kita yang kami catat, waktu itu di buka oleh Ketua DPD, bahwa asosiasi Dewan Perwakilan Daerah kabupaten kota se-Indonesia memberikan harapan yang penuh kepada PAP terhadap masalah-masalah dihadapi, bukan saja oleh rakyat, bahkan juga oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah pada perode 2004-2009, TKI (Tunjangan Komunikasi Intensif) yang membawa mengurangnya wibawa lembaga negara. Oleh karena itu, kita akan melakukan rapat konsultatif, lokakarya, serta mediasi kasus-kasus sengketa lahan, pemantauan koordinasi, serta merespons secara konkret dan cepat. Inilah, Bapak dan Ibu para Anggota, sebagai langkah pertanggungjawaban PAP kepada pimpinan dan kepada alat kelengkapan lain.
Terima kasih kami ucapkan kepada kita semua partisipasinya. Walaupun tadi kehadiran PAP termasuk ranking kesekian, itu artinya Pimpinan tetap hadir dan memimpin, cuma keanggotaannya yang menjadi persoalan. Kami ucapkan terima kasih kepada BK yang telah memberikan evaluasi. Artinya, setiap rapat pasti pimpinan hadir, cuma anggotanya yang memang memerlukan perhatian BK ke depan. Apa yang dilaporkan oleh BK, kami ucapkan terima kasih, tetapi itu juga ujian bagi BK untuk melakukan evaluasi. Demikian, banyak kurang, secara lengkap kami sampaikan kepada Pimpinan. Tentunya kami dengan waktu yang tersedia, cukup demikian. Mohon maaf jika terdapat kekurangan.
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang.
Om shanty shanty shanty om.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik. Ya, kita masih ada. Kalau bisa jam 5 kita tutup. Kalau tidak, nanti akan dilanjutkan oleh Wakil Ketua. Saya harus meninggalkan tempat karena saya harus mengejar pesawat jam 6.30.
Baik, dari Kelompok DPD di MPR, kalau ada yang mau disampaikan? Silakan.
PEMBICARA : Ir. MARHANY VICTOR POLY PUA (WAKIL KETUA KELOMPOK DPD DI MPR)
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Om swastyastu.
Perkenankan saya menyampaikan laporan singkat dari kelompok DPD di MPR RI sebagai berikut. Sebelum laporan, tentunya kami sampaikan rasa hormat kami kepada Pimpinan DPD RI, Pak Ketua dan Ibu Wakil Ketua, juga yang terhormat Pimpinan alat kelengkapan dan para Anggota DPD RI, Sesjen, dan hadirin sekalian yang terhormat.
Saat ini, dukungan terhadap perlunya penataan Sistem Ketatanegaraan melalui Perubahan Undang-undang Dasar 1945 atau Amandemen yang diinisiasi oleh DPD RI melalui Anggota Kelompok DPD di MPR telah mencapai perkembangan yang sangat positif dari aspek politik formal yakni dengan dibentuknya Tim Kerja Sistem Ketatanegaraan Indonesia melalui Surat Keputusan MPR RI No.5 Tanggal 1 Oktober dan direvisi dengan SK No. 2 Tahun 2013. Nah sebagai suatu perkembangan yang positif, Kelompok DPD bertekad untuk mengawal upaya penyempurnaan sistem ketatanegaraan secara optimal dalam tim kerja yang dibentuk oleh Pimpinan MPR tersebut.
Tadi malam sudah berlangsung Rapat Tim Kerja Kajian Sistem Ketatanegaraan, wakil dari DPD hadir Bambang Soeroso, Prof. Jhon Pieries, Prof. Farouk Muhammad, Prof.
Istibsyaroh, Sofwat Hadi, Marhany Pua, Bahar Ngitung dan Kadek. Dan telah berperan dengan sangat baik dalam diskusi lintas fraksi dan mendapat dukungan yang sangat optimal dalam usaha dan perjuangan untuk amandemen Undang-Undang Dasar 1945 bagi penguatan DPD RI tapi juga secara konferhensif bagi penataan sistem ketatanegaraan Indonesia. Tim kajian tersebut membagi diri dalam 2 sub tim kerja. Pertama adalah Subtim Kerja 1 yang akan membahas, pertama kajian tentang konsepsi konstitusi. Kedua, kajian tentang aspirasi usul perubahan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan kajian tentang penguatan lembaga negara. Dan Subtim Kerja 2 nanti akan membahas kajian tentang implementasi empat pilar, kajian tentang putusan-putusan MPR dan kajian serta evaluasi tentang produk undang-undang. Nah Tim Kerja Kajian Sistem Ketatanegaraan ini sungguh sangat efektif. Tim ini dibentuk atas desakan DPD yang sangat kuat dan melalui lobi-lobi politik yang sangat intens dengan teman-teman lintas fraksi di MPR.
Tidak dipungkiri bahwa pembentukan Tim Kerja Kajian Sistem Ketatanegaraan di Indonesia ini merupakan lompatan politis sangat strategis yang diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi mengenai perlunya dilakuakan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 kepada Pimpinan MPR untuk dapat ditindaklanjuti. Namun disisi lain juga mekanisme perubahan Undang-Undang Dasar 1945 telah diatur menurut Pasal 37 Undang-undang Dasar 1945 harus dipenuhi oleh kita dalam perjuangan bersama di DPD RI terutama untuk melobi agar usulan amandemen ini dapat dibahas lebih lanjut di MPR RI.
Kita masih membutuhkan dukungan minimal 99 orang anggota MPR RI dari unsur Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia agar usulan amandemen ini dapat diterima dan dibahas lebih lanjut. Oleh karena itu juga dalam menjaga dinamika usul perubahan kelima Undang-Undang Dasar 1945, Kelompok DPD di MPR pada Masa Sidang III ini telah melakukan beberapa audiensi. Pertama dengan Lembaga Ketahanan Nasional tanggal 15 Februari 2013. Kemudian dengan PEPABRI tanggal 27 Februari dan dengan PGRI dari Jawa Barat.
Hasil pertemuan dengan para stakeholder-stakeholder tersebut menghasilkan antusiasme yang kuat serta dukungan bagi usul perubahan kelima Undang-undang Dasar 1945. Kelompok DPD di MPR akan menjadwalkan lagi beberapa pertemuan strategis dengan Lemhanas, PEPABRI, juga dengan Muhammadiyah, PB NU, PGRI dan Forum Rektor.
Demikianlah laporan perkembangan pelaksanaan tugas Kelompok DPD di MPR . Semoga tekad dan semangat kita untuk berjuang bagi peran kita yang lebih optimal dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara dapat tercapai. Amandemen adalah sebuah keniscayaan. Sekali layar terkembang, surut kita berpantang, Semoga dapat tercapai.
Demikianlah laporan ini. Dan akhirnya kami juga menyampaikan selamat menyambut dan merayakan Hari Paskah bagi yang merayakannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Om shanty shanty om.
Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, S.E., M.B.A (KETUA DPD RI)
Baik. Terimakasih Pak Marhany yang telah menyampaikan perkembangan terakhir.
Jadi Bapak/Ibu sekalian, mudah-mudahan dengan modal dasar yang kita miliki dengan hasil GR ini lebih memperkuat daya dorong Kelompok ya untuk memperkuat atau melakukan amandemen Undang-undang Dasar 1945. Mari kita berikan semangat buat Kelompok DPD di MPR ya. Kita diberikan porsi lebih lagi.
Baik sebelum saya membacakan pidato penutupan, mungkin ada sedikit pemberitahuan oleh Pimpinan mengenai task force. Kami persilakan.
PEMBICARA : Ir. SARAH LERY MBOEIK (NTT)
Interupsi sedikit Pak sebelum task force, Pak.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, S.E., M.B.A (KETUA DPD RI)
Ya silakan.
PEMBICARA : Ir. SARAH LERY MBOEIK (NTT) Saya Sarah Lery Mboeik dari NTT, B-76 Pak.
Berkenaan dengan persoalan penyerangan dan pembunuhan di luar proses hukum yang terjadi di Yogja, di Sleman, LP Sleman hari Sabtu tengah malam yang lalu dimana tindakan kekerasan ini bukan hanya mengoyak rasa kemanusiaan kita tetapi menjadi pertanda kehidupan negara hukum kita terancam.
Kami beberapa waktu yang lalu banyak yang mengatakan bahwa ini adalah persoalan seperti menggeser, ini adalah persoalan etnis. Kami mohon ini bisa ditekan, bukan persoalan etnis, bukan persoalan orang NTT tapi ini persoalan kemanusiaan. Dan saya berharap DPD
bisa bersikap. Karena apa? Sekarang ini kami melihat bahwa rakyat terancam dalam negara hukum. Simbol negara dalam ini kelembagaan, lembaga LP, kepolisian dan lain-lain harus bertanggungjawab terhadap persoalan rasa nyaman rakyat. Untuk itu saya berharap pada saat ini DPD bisa bersikap terhadap persoalan rasa aman bagi rakyat di tengah-tengah dalam kehidupan negara hukum di Indonesia ini.