• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pembinaan Anak Jalanan

Sebelum diuraikan tentang pengertian pembinaan anak jalanan, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian tentang pembinaan. Pembinaan menurut Gouzali (Haryani : 2005 : 28) adalah pembaharuaan, penyempurnaan atau usaha, tindakan atau kegiatan yang dilaksanakan secara berdaya guna atau berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Pengertian pembinaan dikemukakan Widjaya (Haryani, 2005 : 28) adalah proses atau pengembangan yang mencakup aturan-aturan. Pengertian diawali dengan mendirikan, menumbuhkan, memelihara pertumbuhan tersebut disertai usaha -usaha perbaikan dalam penyempurnaan dan akhirnya mengembangkanya.

Moekijat ( dalam Haryani 2005: 29) mengemukakan bahwa pembinaan adalah penerapan pengetahuan ilmu perilaku dalam usaha jangka panjang untuk

meningkatkan kemampuan organisasi mengatasi perubahan dalam lingkungan eksternalnya dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.

Beberapa pengertian pembinaan di atas dapat memberikan pemahaman bahwa pembinaan merupakan proses, pembuatan, cara pembinaan, pembaharuan, usaha dan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan baik atau memberikan suatu perubahan kepada diri seseorang agar kemampuan dan keterampilan yang diperoleh dari pendidikan dan latihan dapat lebih baik, memiliki perubahan sikap dan perilaku yang baik serta disiplin mematuhi segala peraturan yang ditetapkan. Demikian halnya pada pembinaan anak jalanan agar dapat memberikan perubahan kepada sikap dan perilaku diri sendiri. Apabila anak jalanan tersebut dibina dengan baik, mereka memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak pada umumnya. Anak jalanan perlu dirangkul untuk mendapatkan haknya memperoleh pendidikan dan tidak selalu dipandang sebelah mata. Pembinaan anak jalanan menurut Soegeng (Haryani : 2005: 29) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pembinaan sikap dan perilaku, serta kamampuan untuk menghasilkan manusia yang berguna dilingkungannya.

Anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga dalam menentukan kelangsungan hidup, kualitas, dan kajayaan suatu bangsa dimasa yang akan datang. Untuk menjadi aset yanag berharga, anak mempunyai hak dan kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu hak kebutuhan akan makanan, gizi, kesehatan, bermain kebutukan emosional dan pendidikan, serta memerlukan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang mendukung bagi kelangsungan hidup, tumbuh kembang,

dan perlindugannya. Mereka memiliki dirinya dan berhak atas peluang dan dukungan untuk mewujudkan dan mengembangkan diri dan kemampuan yang dimilikinya.

Untuk menangani permasalahan anak jalanan harus diakui bukanlah hal yang mudah. Selama ini, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, baik oleh LSM, pemerintah, organisasi profesi, dan sosial maupun orang per orang untuk membantu anak jalanan keluar atau paling tidak sedikit mengurangi pendekatan mereka. Namun, karena semuanya dilakukan secara temporer, segmenter, dan terpisah, maka hasilnya pun menjadi kurang maksimal.

UNICEF (dalam Bagong 2013 : 199) Usulan Rano Karno tatkala ia menjabat sebagai Duta besar UNICEF, sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang tersisih, marginal dan terelinasi dari perlakuan kasih sayang karena kebanyakan dalam usia yang relative dini sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang keras, dan bahkan tidak bersahabat. Diberbagai sudut kota yang sering terjadi anak jalanan harus bertahan hidup dengan cara-cara yang secara sosial kurang atau bahkan tidak dapat diterima masyarakat umum sekedar untuk menghilangkan rasa lapar dan keterpaksaan untuk membantu keluarganya.

Tidak jarang mereka dicap sebagai penganggu ketertiban yang membuat kota menjadi kotor sehingga yang namanya razia atau penggarukan bukan lagi hal yang mengagetkan mereka.

Marginal, rentan dan eksploiratif adalah istilah- istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi dan kehidupan anak jalanan. Marginal karena mereka melakukan jenis pekerjaan tidak jelas jenjang keriernya., kurang dihargai, dan

umumnya juga tidak menjanjikan prospek apapun dimasa depan. Rentan karena resiko yang harus ditanggung akibat jam kerja yang sangat panjang benar- benaar dari segi kesehatan maupun sosial sangat rawan. Adapun disebut eksploitatif kerena mereka memiliki posisi tawar menawar (Bargaining Position) yang sangat lemah, dan cenderung menjadi obyek perlakuan yang sewenang-wenang dari ulah preman atau oknum aparat yang tidak bertanggung jawab.

Anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dijalanan baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalan dan tempat-tempat umum lainnya (Depsos R.I.,1995).

Arti anak jalanan menurut peserta Lokakarya Nasional Anak Jalanan dengan Departemen Sosial sebagai penyelenggara ditahun 1995 adalah sebagai berikut :

“anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran dijalanan atau tempat-tempat umum lainnya.

Anak jalanan juga sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Tapi hingga kini belum ada pengertian anak jalanan yang dapat dijadikan acuan bagi semua pihak.

Sebagai bagian dari pekerja anak (child labour), anak jalanan bukanlah kelompok yang homogen. Mereka cukup beragam dan dapat dibedakan atas dasar pekerjaannya, hubungannya dengan orang tua atau orang dewasa terdekat, waktu dan jenis kegiatannya di jalanan, serta jenis kelaminnya. Secara garis besar anak jalanan terbagi atas tiga kategori, yaitu :

1. Pertama, Children On The Street, yaitu anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga.

Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya.

Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan yang harus ditanggung dan tidak dapat diselesaikan sendiri oleh kedua orang tuanya. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu: (1) Anak-anak jalanan yang masih tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari. (2) Anak-anak yang tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.

2. Kedua, Children Of The Street, yaitu anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi dan ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Ada beberapa di antara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu. Banyak di antara mereka adalah anak-anak yang karena suatu sebab, biasanya kekerasan, sehingga lari atau pergi dari rumah. Anak-anak pada kategori ini sangat rawan terhadap perlakuan salah, baik secara sosial, emosional, fisik maupun seksual.

3. Ketiga, Children From Families Of The Street, yaitu anak yang keluarganya memang di jalanan yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.

Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak jalanan terjerumus dalam kehidupan dijalanan, yang menurut Dayat (dalam Haryani : 2005: 22) adalah : (1) Faktor keluarga; (2) Faktor pendidikan; (3) Faktor lingkungan masyarakat.

1) Faktor Keluarga

Lingkungan keluarga merupakan faktor utama dan pertama dalam pengawasan dan pembinaan anak terutama yang dilakukan oleh orang tua. Hal ini sangat erat hubungannya dengan tanggung jawab orang tua dengan membimbing, mengarahkan dan menjadi anak tersebut mempunyai pendidikan yang cukup sampai mendapatkan pekerjaan yang layak atau kehidupan yang wajar. Kondisi perekonomian khususnya keluarga yang penghasilannya rendah mendorong anak untuk mencari pekerjaan atau lebih tepataya mencari uang dangan cara apapun demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

2) Faktor Pendidikan

Sebagian besar anak jalanan yang dapat dijaring dewasa ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan maupun keterampilan yang dimiliki masih rendah, sehingga mereka tidak akan mampu bersaing untuk mencari pekerjaan yang layak dibandingkan dengan yang berpendidikan dan memiliki keterampilan yang cukup.

Akhirnya mereka berupaya dengan cara apapun untuk mencari pekerjaan dan uang.

3) Faktor Lingkungan Masyarakat

Hal ini berkaitan dengan faktor korelatif yang mendasar sehingga mendorong munculnya anak jalanan yaitu :

a. Meningkatnya jumlah pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan lemahnya keterampilan serta angkatan kerja yang semakin membengkak setiap tahunnya tidak seimbang dengan lapangan kerja yang tersedia.

b. Belum meratanya tingkat kehidupan masyarakat, berakibat timbulnya kesenjangan sosial antara kelompok masyarakat yang sudah mapan dengan kelompok masyarakat yang tingkat ekonominya masih rendah.

c. Lunturnya nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama pada sebagian besar masyarakat mengakibatkan perubahan sikap yang lebih individualistis, konsumeristik dan suka pamer.

d. Pemberitaan dimedia massa, baik cetak maupun elektronik yang menampilkan sebagian adegan kekerasan, seolah-olah orang mudah melakukan apa saja terhadap orang lain.

e. Hukuman yang ringan bagi pelaku pelanggaran sampai kejahatan yang mengandung unsur kekerasan tidak memberikan efek jera, bahkan selesai menjalani hikuman, kemampuan dalam melakukan kejahatan semakin tinggi, sehingga berpeluang untuk berbuat lagi.

Departemen sosial (Haryani : 2005: 23) menyebutkan keberadaan anak jalanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

a. Tingkat mikro (immediate couses) yakni faktor yang berhungan dengan anak dan keluarganya.

b. Tingkat messo (underlying couses) yakni faktor dimasyarakat.

c. Tingkat makro (basic caoses) yakni faktor yang berhubungan dengan struktur makro.

Pada tingkat mikro, sebab yang dapat diidentifikasikan dari anak dan keluarga yang berkaitan tetapi juga dapat berdiri sendiri yakni :

a. Lari dari keluarga, disuruh bekrja baik karena masih sekolah maupun karena sudah putus sekolah, berpetualang, bermain-main atau diajak teman.

b. Sebab dari keluarga adalah terlantar, ketidak mampuan orang tua menyebabkan kebutuhan dasar, ditolak orang tua, salah perawatan atau kekerasan dirumah, kesulitan berhungan dengan keluarga/tetangga, terpisah dari orang tua, sikap-sikap yang salah terhadap anak, keterbatasan merawat anak yang mengakibatkan anak menghadapi masalah fisik, psikologi dan sosial.

Sementara pada tingkat messo atau masyarakat, sebab yang dapat diidentifikasi adalah :

a. Pada masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu peningkatan hidup keluarga, anak-anak diajarkan bekerja yang berakibat drop out dari sekolah.

b. Pada masyarakat lain, urbanisasi menjadi kebiasaan dan anak-anak mengikuti.

c. Penolakan masyarakat dan anggapan anak jalanan sebagai calon kriminal.

Pada struktur masyarakat, sebab yang dapat diidentifikasi adalah :

a. Ekonomi adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan modal dan keahlian, mereka harus lama dijalanan dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa dan kota yang mendorong urbanisasi.

b. Pendidikan, biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang diskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokrasi yang mengalahkan kesempatan belajar.

c. Belum seragamnya unsur-unsur pemerintah dalam memandang personal anak jalanan, antara kelompok yang memerlukan perawatan (pendekatan kesejahteraan) dan pendekatan yang menganggap anak jalanan sebagai trouble (pembuat masala) sehinga digunakan pendekatan keamanan (security approach ).

Dokumen terkait