• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. PENUTUP

B. Saran

Bertitik toal dari keseluruhan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam skripsi ini, akhirnya penulis mencoba menyampaikan menyampaikan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi usaha peningkatan kualitas hidup beriman keluarga-keluarga muda di Paroki Santo Antonius Kotabaru. Alamat utama dari skripsi ini adalah Paroki Santo Antonius Kotabaru yang meliputi Pastor dan dewan paroki, khususnya Bidang Pendampingan Keluarga dan Peranan Wanita.

Paroki hendaknya membentuk tim khusus untuk mendampingi dan membina keluarga khususnya keluarga-keluarga muda yang usia pernikahannya masih di bawah lima tahun. Dengan demikian keluarga-keluarga muda tersebut akan merasa tersapa dan merasa menjadi bagian dari Paroki Santo Antonius Kotabaru, sehingga mereka tidak merasa sungkan atau gamang untuk melibatkan diri di dalamnya. Harus diakui, bahwa

90

perkembangan suatu paroki tergantung dari perkembangan keluarga-keluarga yang ada di paroki tersebut.

Para katekis, khususnya katekis paroki hendaknya mulai memperhatikan pembinaan bagi keluarga-keluarga muda tersebut dengan menyusun suatu program pembinaan yang terarah dan berkesinambungan dengan memperhatikan keadaan peserta. Ada baiknya, dalam penuyusunan program tersebut, para katekis menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang berkompeten dalam hal pembinaan dan pendampingan keluarga, misalnya dengan mendatangkan seorang ahli dalam bidang pendampingan keluarga, pakar seks, pakar Hukum Gereja Perkawinan dan yang lainnya sebagai nara sumber.

91

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2003). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Bagiyowinadi, F.X. Didik, Pr. (2006). Membangun Keluarga sebagai Gereja Rumah

Tangga. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama.

Bala Pito Duan, Yeremias. (2003). Keluarga Kristiani, Kabar Gembira bagi Milenium Ketiga. Yogyakarta: Kanisius.

Bergant, Dianne CSA & Karris, Robert J. OFM. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yoyakarta: Kanisius.

Cooke, Bernard. (1972). Seri Puskat: Iman dan Keluarga-keluarga Kristen. Yogyakarta: Pusat Kateketik.

Dagun. M. Save. (2002). Psikologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta. Darminta, J. (2006). Peziarahan Keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang. (2007). Nota Pastoral Menjadikan Keluarga Basis Hidup Beriman. Dewan Karya Pastoral KAS

Eminyan, Maurice. (2001). Teologi keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Gabriella, PRR & Suban Tukan, Johan. (1991). Katekese Keluarga: Sebuah Pengantar. Jakarta: Luceat.

Gilarso, T. SJ. (1995). Membangun Keluarga Kristiani Pembinaan Persiapan Berkeluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Harsono, Budi. (2007). Teladan bagi Keluarga. Website: www. tokohindonesia.com. 7/2/07.

Hart, Kathleen Fischer & N, Thomas. (1988). Dua Tahun Pertama Hidup Berkeluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Keuskupan Agung Semarang.(2007). Nota Pastoral Menjadikan Keluarga Basis Hidup Beriman. Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang.

Kila, Pius. (2005). Gereja Rumah Tangga Basis Gereja Universal. Jakarta: Obor

Komili Liturgi Keuskupan Agung Semarang. (2007). Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi : Liturgi dalam Keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Konfrensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius

Konsili Vatikan II. (1993). Gravissimum Educationis (Pernyataan tentang Pendidikan Kristen, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ). Jakarta: Obor.

______. (1993). Apostolicam Actuositatem (Dekrit Tentang Kerasulan Awam, diterjemahlan oleh R. Hardawiryana, SJ) Jakarta: Obor

______. (1993). Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ ). Jakarta: Obor

______. (1993). Gaudium et Spes ( Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ). Jakarta: Obor

Kwong Tek, Chong & Wee Hian, Chua. (1983). Kekasihku Setelah Pernikahan. Bandung: Lembaga Literatua Baptis.

Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta : Komisi Kateketik KWI

Levebvre, Xavier, SJ & Perin, Louis, SJ. (1967). Bringing Your Child to God. London: Geoffrey Chapman.

92

Musafir MSF. (2006). Menanamkan Iman Anak Sejak Dini dalam Keluarga dan Pendidikan. Website: www.mirifica. com. 7/2/07.

Mangunhardjana, A. (1986). Pembinaan Arti dan Metodenya. Yogyakarta: Kanisius. Pottebaum, Gerard. A. (1964). Teaching Your Child About God. Note Dame, Indiana:

Ave Maria Press.

Propinsi Gerejani Ende. (1995). Katekismus Gereja Katolik. Ende: Percetakan Arnoldus.

Purwa Hadiwardoyo, Al.(1994). Persiapan dan Penghayatan Perkawinan Katolik. Yogyakarta: Kanisius.

______ (2007). Suami-Istri Katolik Memahami Panggilan dan Perutusanya. Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang.

______ (2006, 24 September). Panggilan dan Perutusan Keluarga. Majalah Hidup No. 39. h. 48-49.

Rachmiati , Mary Go Setiawati. (1993). 100 Permainan dan 500 Kuis Alkitab. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Setyakarjana. (1997). Arah Katekese di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Kateketik.

Soerjanto, Al & Widiastuti. (2007). Pendidikan Anak-anak dalam Keluarga Katolik. Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang.

Team Pembinaan Persiapan Berkeluarga. (1981). Membangun Keluarga Kristiani. Yogyakarta: Kanisius.

Thompson, Marjorie. L. (2001). Keluarga sebagai Pusat Pembentukan, Sebuah Visi Tentang Peranan Keluarga dalam Pembentukan Rohani. Jakarta: Gunung Mulia.

Tim Publikasi Pastoral Redemptorist. (2001). Menjadi Keluarga Katolik Sejati, Buku Pegangan bagi Keluarga Masa Kini. Yogyakarta: Kanisius.

Yohanes Paulus II, Paus. (2004). Anjuran Apostolik Familiaris Consortio (Penerjemah R. Hardawiryana, SJ). Jakarta: Obor.

______. (1992). Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae (Penerjemah: R. Hardawiryana, SJ). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI Wasito, Hermawan. (1992). Pengantar Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama

Wignyasumarta, Ign, MSF, dkk. 1999. Panduan Rekoleksi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Lampiran 1: Kuesioner Pengantar

Yogyakarta, 3 Maret 2007

Bapak-Ibu yang terkasih,

Pertama-tama, perkenankan saya memperkenalkan diri: Saya, Santa Viany Cahya Paneri, seorang mahasiswa Semester VII, Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (dulu STKat). Saat ini saya sedang melakukan penelitian untuk penyusunan skripsi saya. Secara umum penelitian tersebut bertujuan untuk membahas pengaruh pendidikan iman Katolik di dalam keluarga terhadap pembangunan keluarga Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru. Pembahasan tersebut kami batasi hanya pada pasangan suami istri (pasutri) yang usia pernikahannya lima tahun ke bawah. Oleh karena bapak-ibu memenuhi kriteria tersebut di atas, maka dengan hormat saya mohon kesediaan bapak-ibu untuk mengisi kuesioner yang saya haturkan ini.

Kuesioner ini dibagi menjadi tiga bagian: lembar pertama diisi oleh istri, lembar kedua diisi oleh suami dan lembar ketiga diisi dengan dirundingkan bersama-sama oleh suami dan istri.

Setelah kuesioner terisi lengkap, Bapak-Ibu dimohon memasukkannya ke dalam amplop yang sudah disediakan. Sebelum menyerahkan kembali, sudilah Bapak-Ibu memastikan bahwa amplop tersebut sudah tertutup rapat untuk membantu terjaganya kerahasiaan identitas Bapak-Ibu. Kami menantikan jawaban isian dari Bapak-Ibu sebelum 15 Maret 2007.

Atas perhatian dan kerjasama dari Bapak-Ibu, sebelumnya saya mengucapkan terimakasih.

Hormat Saya,

Santa Viany CP

KUESIONER

MENJADIKAN KELUARGA SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA DENGAN MEMBANGUN UNSUR-UNSUR PEMBENTUK KELUARGA SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA YANG DIHARAPKAN OLEH GEREJA

Petunjuk

Pernyataan-pernyataan di bawah ini menyangkut unsur-unsur pembentukan keluarga katolik sebagai Gereja Rumah Tangga. Anda berdua dimohon untuk mengaitkan masing-masing pernyataan tersebut dengan suasana sesungguhnya di dalam keluarga Anda. Kerahasiaan dari semua tanggapan Anda akan dijaga.

IDENTITAS (suami)

1. Usia pernikahan

a. 1 tahun b. 2 tahun c. 3 tahun d. 4 tahun e. 5 tahun 2. Pendidikan

a. Perguruan Tinggi b. SLTA/SMK c. SLTP d. SD 3. Pekerjaan

a. PNS b. Karyawan c. Wiraswasta d. Lainnya……..

UNSUR-UNSUR PEMBANGUN KELUARGA SEBAGAI GEREJA RUMAH TANGGA

4. Anda membicarakan tentang makna pernikahan Katolik dalam keluarga a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 5. Anda selalu menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan tetangga setiap

harinya

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 6. Anda terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan di lingkungan anda

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

7. Anda berusaha secepatnya saling mengampuni bila mengalami perselisihan a. Selalu b. Sering c Kadang-kadang d. Tidak pernah

8. Anda membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam keluarga (ekonomi, seks, komunikasi suami-istri, pendidikan anak) secara terbuka a. Selalu b. Sering c Kadang-kadang d. Tidak pernah 9. Anda melibatkan orang ketiga untuk membantu mengatasi konflik dalam

keluarga

a. Selalu b. Sering c Kadang-kadang d. Tidak pernah 10.Anda menyempatkan untuk berekreasi bersama keluarga

a. Selalu b. Sering c Kadang-kadang d. Tidak pernah 11.Anda menyepakati bersama cara-cara untuk mengelola keuangan keluarga

a. Ya b. Ragu-ragu c. Tidak

12.Anda menghadapi proses kelahiran anak bersama-sama ( ayah menunggui kelahiran anaknya)

a. Ya b. Ragu-ragu c. Tidak

13.Anda menyadari bahwa anda bertanggung jawab untuk mendidik anak dengan baik

a. Ya b. Ragu-ragu c. Tidak

14.Sebagai pendidikan awal, anda memberi teladan dengan hidup rukun dan bersikap baik

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

15.Anda memperkenalkan tentang ajaran kristiani kepada anak anda sejak dini a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

16.Anda membawa anak anda keluar rumah untuk berinteraksi dengan orang lain a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

17.Anda memperkenalkan tokoh-tokoh Kitab Suci kepada anak anda a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

18.Anda memberi teladan dan melatih anak anda bersikap dan berperilaku baik sebagai perwujudan iman

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

19.Anda memperkenalkan para santo/a dan tokoh-tokoh Gereja kepada anak anda a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

20.Anda membawa anak anda ke gereja untuk menghadiri liturgi bersama a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 21.Anda memperkenalkan Romo, Suster, Bruder, kepada anak anda

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

22.Anda membawa anak anda untuk mengikuti kegiatan PIA (Pendidikan Iman Anak) di lingkungan/paroki

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

23.Ketika anak pertama anda lahir, anda langsung mendaftarkannya sebagai calon baptis bayi

a. Ya b. Tidak

24.Anda sekeluarga selalu menyempatkan utnuk membaca kitab suci dan mendalami bersama di rumah

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 25.Anda ikut ambil bagian dalam pendalaman Kitab Suci di lingkungan

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 26.Anda berdoa bersama di dalam keluarga

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 27.Anda menyempatkan untuk pergi ke gereja bersama keluarga

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah 28.Anda menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan di lingkungan

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

29.Anda menciptakan suasana rumah yang kristiani dengan benda-benda rohani (lukisan, patung, salib)

a. Ya b. ragu-ragu c. Tidak

30.Apakah anda selalu melibatkan iman anda dalam mengambil keputusan-keputusan

penting di dalam keluarga anda?

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

31.Dalam situasi konflik dan sakit hati, apakah anda terdorong untuk mengajak berbicara dan mengampuni pihak yang anda anggap bersalah?

a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak Pernah

32.Apakah anda menyadari bahwa dengan hidup berkeluarga, anda harus berkorban baik demi keluarga maupun dengan orang lain?

a. ya b. ragu-ragu c. Tidak

33.Apakah anda mempunyai tempat untuk mewartakan iman kepada orang lain? a. ya b ragu-ragu c. Tidak

Pertanyaan terbuka: Kalau boleh kami memohon pandangan dari bapak-ibu tentang pembinaan keluarga yang hendaknya dijalankan oleh paroki/jemaat: silahkan Bapak-Ibu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan bebas dalam bentuk pendapat atau pandangan.

1. Bapak-ibu lebih cenderung untuk ikut serta dalam pembinaan yang dijalankan secara massal (untuk semua pasutri) atau lebih cenderung pembinaan yang menempuh pendekatan lebih pribadi (kepada masing-masing pasutri)?

2. Bentuk pembinaan macam apa yang kiranya lebih dapat bapak-ibu terima? (konferensi? Rekoleksi pasutri? Retret? Konsultasi Pribadi?)

3. Bidang mana yang anda harapkan mendapatkan pembinaan dari paroki? (komunikasi suami-istri? Ekonomi keluarga? Pendidikan anak? Seks dalam pernikahan?)

Lampiran 2: Tabel Jawaban Responden Terhadap Kuesioner

(6)

No Item

Komunikasi di alam Keluarga Pendidikan Anak di dalam keluarga Peran serta keluarga dalam tugas perutusan Gereja

No 4 5 6 7 8 9 10 11 31 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 1 c b c a a d c b b a a a a b b a b a c a a b c c a b a a a b 2 c a c a c c c c c a a a b b c b b a c a a b c c b c b b b c 3 b a c b b c b a b a a a b a b b a a b c a c c d a b a b b b 4 c c c a b d a a b a a a a c c a b c c b a c c b c c b a a a 5 c b c a b d c a b a a b b b c b b b c b a a b c b c a b b c 6 c b c a a c a a b a a b a b a a a a b a a b c b c c a a b b 7 c b c a b d c a b a a a a b b a a a a a a b c b a b a a b b 8 c a c a a d a b a a a a a b a a b a a a b a c a a c a b b c 9 b a c a a d a a a a a a a a a a b a a c a b a b a c a a b b 10 a a b b b d b a b a a b a b b a b a c a a b c c b b a a a a 11 c b c a a d c a a a a a a b c a b a c a a c c c b b a a b c 12 c a b a b d b a b a a a b c b b b c c a a c b c a c a b b b 13 b a c a a c a a b c a a a a a a d a c c a c c a a c a a b b 14 c a b a c d c a b a a a a c d a b b c a a b c d a b a a b b 15 c a b a b d b a a a a a a b b a b a b b a b c b a c a a b b 16 c b c a b d c a a a a b a a b a b b b d a c b b a c a b b a 17 c b c a a d d a a b a a b a c b c c b d a c c c c c a b a b 18 c b b a a d a a a a a a a b c b b b b c a b c c b c a b b b 19 b b c a b d b a b a a a a b c a b b c b a a c a a c a a b b 20 c a c b b c c a b a a a b b c c b b b c a c c c b b a b b b 21 a a b b a d c a b b a a a b c a b a c d a c c b a c a a a b 22 b b c b b d b a b a a a a b c c b a b d a b c b a c a a b b 23 c a c a b c c a a a a a b b b b b b c c a c c b b b b a a a

Lampiran 3: Tabel Skor Dari Jawaban Kuesioner

(7)

Komunikasi di dalam keluarga Pendidikan Anak di dalam keluarga Peran serta Keluarga dalam tugas perutusan Gereja

No 4 5 6 7 8 9 10 11 31 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 32 33 1 2 3 2 4 4 1 2 2 3 3 3 4 4 3 3 4 3 4 2 4 1 3 2 2 4 3 3 4 4 3 2 2 4 2 4 2 2 2 1 2 3 3 4 3 3 2 3 3 4 2 4 1 3 2 2 3 2 2 3 3 2 3 3 4 2 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 2 1 2 2 1 4 3 3 3 3 3 4 2 2 2 4 3 1 4 3 3 3 3 4 4 2 2 4 3 2 2 3 1 2 2 3 2 2 2 4 4 4 5 2 3 2 4 3 1 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 1 4 3 2 3 2 3 3 3 2 6 2 3 2 4 4 2 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 4 4 3 4 1 3 2 3 2 2 3 4 3 3 7 2 3 2 4 3 1 2 3 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 1 3 2 3 4 3 3 4 3 3 8 2 4 2 4 4 1 4 2 4 3 3 4 4 3 4 4 3 4 4 4 0 4 2 4 4 2 3 3 3 2 9 3 4 2 4 4 1 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 2 1 3 4 3 4 2 3 4 3 3 10 4 4 3 3 3 1 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 4 2 4 1 3 2 2 3 3 3 4 4 4 11 2 3 2 4 4 1 2 3 4 3 3 4 4 3 2 4 3 4 2 4 1 2 2 2 3 3 3 4 3 2 12 2 4 3 4 3 1 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 3 2 2 4 1 2 3 2 4 2 3 3 3 3 13 3 4 2 4 4 2 4 3 3 1 3 4 4 4 4 4 1 4 2 2 1 2 2 4 4 2 3 4 3 3 14 2 4 3 4 2 1 2 3 3 3 3 4 4 2 1 4 3 3 2 4 1 3 2 1 4 3 3 4 3 3 15 2 4 3 4 3 1 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 3 1 3 2 3 4 2 3 4 3 3 16 2 3 2 4 3 1 2 3 4 3 3 3 4 4 3 4 3 3 3 1 1 2 3 3 4 2 3 3 3 4 17 2 3 2 4 4 1 1 3 4 2 3 4 3 4 2 3 2 2 3 1 1 2 2 2 2 2 3 3 4 3 18 2 3 3 4 4 1 4 3 4 3 3 4 4 3 2 3 3 3 3 2 1 3 2 2 3 2 3 3 3 3 19 3 3 2 4 3 1 3 3 3 3 3 4 4 3 2 4 3 3 2 3 1 4 2 4 4 2 3 4 3 3 20 2 4 2 3 3 2 2 3 3 3 3 4 3 3 2 2 3 3 3 2 1 2 2 2 3 3 3 3 3 3 21 4 4 3 3 4 1 2 3 3 2 3 4 4 3 2 4 3 4 2 1 1 2 2 3 4 2 3 4 4 3 22 3 3 2 3 3 1 3 3 3 3 3 4 4 3 2 2 3 4 3 1 1 3 2 3 4 2 3 4 3 3 23 2 4 2 4 3 2 2 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 2 2 1 2 2 3 3 3 2 4 4 4 55 80 52 87 76 29 63 65 76 65 69 88 85 71 61 81 69 79 60 64 22 62 51 59 79 54 66 83 75 69

Lampiran 4: Tabel Rerata (8) Komunikasi dalam Keluarga Pendidikan Anak dalam Keluarga

Turut serta dalam Tugas perutusan Gereja

32 41 30 32 40 29 31 40 29 30 40 28 30 38 28 30 38 28 30 37 28 29 37 28 29 37 28 29 35 27 28 35 27 28 35 27 28 34 26 27 34 26 27 34 25 27 33 25 27 33 25 27 33 25 26 33 25 26 33 24 25 32 24 25 32 24 24 30 22 647 814 608

Lampiran 5: Kumpulan Sarana

Ungkapan Jujur Seorang Anak

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanyauntuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggelen "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolahuntuk menjalani test IQ.

Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku:...." Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktuitu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapanwaktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya.

Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku..." Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, Seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak..." Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anaksebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak: .." Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa" Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa. Ketika Psikolog menulis "Aku ingin ibuku berbicara tentang..." Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentangkesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah.

Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari...." Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancer "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku" Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...." Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari Ketika Psikolog memberi kertas bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku...." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Kafi PutraAndira. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekanpentingnya penghormatan hak-hak-hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan"To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat

Dokumen terkait