• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembinaan Rohani, Mental dan Tradisi

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembinaan Rohani, Mental dan Tradisi

b. Upaya Polrestabes Surabaya dalam mewujudkan Disiplin korektif yang secara oprasional upaya Polrestabes Surabaya dalam mewujudkan disiplin korektif anggota polisi Polrestabes, dengan sasaran kajian yaitu :

a) Tindakan Disiplin : (Dilakukan langsung) -Teguran secara Lisan/Tertulis.

-Tindakan fisik yang bersifat membina. b) Hukuman Disiplin : (diputuskan melalui sidang)

-Sidang Disiplin 3.3. Loka si Penelitian

agar memperoleh data yang akurat dan mendekati kebenaran sesuai dengan fokus penelitian maka peneliti menetapkan lokasi penelitian ini dilakukan di Polrestabes Surabaya yang berada di jalan Sikatan No.1 Surabaya, dimana anggota POLRI di Polrestabes Surabaya sebagai penegak, pengayom, pelindung masyarakat relatif masih banyak melakukan pelanggaran disiplin.

3.4. Sumber Data

Sumber data merupakan tempat peneliti dapat menemukan data dan informasi yang diperlukan berkenaan dengan penelitian, yang diperoleh melalui informan, peristiwa, ataupun dokumentasi.

1. Informan

Dipilih secara purposive (purposive sampling) yang didasarkan pada subyek yang menguasai permasalahan, memiliki data dan bersedia memberikan data yang benar-benar relevan dan komprehensif dengan masalah penelitian. Sedangkan informan yang selanjutnya diminta pula untuk menunjuk orang lain yang dapat memberikan informasi dan seterusnya. Adapun informan dalam penelitian ini antara lain :

a. Kepala KasiPropam, Polrestabes Surabaya, KOMPOL Masduki, SH sebagai Key Informan dan didukung oleh informan lain yaitu,

b. Kepala Kanit Paminal SiPropam, Polrestabes Surabaya, AKP Eddy Suwarno,

c. Kepala Kanit Provost SiPropam Polrestabes Surabaya, AKP Abdul Gafar. d. Anggota Polrestabes Surabaya.

2. Dokumen,

Dokumen yang dimaksud adalah sumber data lain yang sifatnya melengkapi data utama yang relevan dengan masalah dan fokus penelitian, seperti: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.2 Tahun 2003 Tentang Peraturan Disiplin Polri, buku petunjuk pelaksanaan disiplin kerja anggota Polri melalui Keputusan Kapolri, Rekapituasi berkala tentang laporan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polrestabes Surabaya.

3.5. J enis Data

Menurut Lofland – Lofland dalam moleong (2007 : 157) penelitian yang dilakukan untuk menjawab permasalahan -permasalahan penelitian dapat menggunakan 2 (dua) jenis data yaitu :

1. Data Primer, Yaitu data-data informasi yang diperoleh secara langsung dari informan pada saat dilakukannya penelitian. Dalam penelitian ini, data primer dapat diperoleh melalui :

1)Pengamatan (observasi) 2)Wawancara

2. Data Sekunder, Yaitu data-data berupa dokumen-dokumen, laporan-laporan dan arsip-arsip yang ada relevansinya dengan penelitian tersebut.

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian akan diperoleh melalui data primer dan data sekunder dengan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

a. Wawancara

Menurut Moleong (2007:186), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu dan dilakukan oleh dua pihak, pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Teknik wawancara bertujuan untuk mendapat data yang valid guna menjawab masalah penelitian.

b. Pengamatan Langsung (Observasi)

Teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung pada saat survey pendahuluan yang bertujuan untuk mengamati fenomena yang terjadi yang berkaitan dengan obyek penelitian. Data observasi yang berupa deskripsi yang actual, cermat dan terinci mengenai keadaan lapangan, kegiatan manusia dan situasi social serta konteks dimana kegiatan-kegiatan yang terjadi.

c. Dokumentasi

Pengumpulan data dengan menyalin arsip-arsip yang ada di instansi-instansi terkait. Dolumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan bahkan untuk meramalkan. Dalam penelitian ini, dokumen yang dikumpulkan adalah dokumen yang relevan dengan fokus penelitian. 3.7. Analisa Data

Menurut Miles dan Huberman (1992 : 16), teknik analisa data kualitatif meliputi tiga alur kegiatan sesuatu yang terjalin pada saat sebelumnya, selama dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar untuk membangun suatu analisis, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi.

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa dengan menggunakan model interaktif (interactive models of analysis) yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992 : 16). Dalam model ini terdapat tiga komponen analisis, yaitu sebagai berikut :

1. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis dilapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat ditarik kesimpulan atau verifikasi. Data yang diperoleh dari lokasi penelitiaan atau data lapangan ditulis dalam uraian yang jelas dan lengkap yang nantinya akan direduksi, dirangkum, dan difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan penelitian kemudian dicari tema atau pola (melalui proses penyuntingan, pemberian kode, dan pembuatan tabel).

2. Penyajian data

Dimaksudkan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian kita dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari data penelitian, sehinnga dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan.

3. Verifikasi / menarik kesimpulan

Merupakan suatu kegiatan dan konfigurasi yang utuh selama penelitian berlangsung. Sedangkan verifikasi merupakan kegiatan pemikiran kembali yang melintas dalam pemikiran penganalisis selama peneliti mencatat, atau suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan atau peninjauan kembali serta tukar pikiran diantara teman sejawat untuk mengembangkan “kesempatan intersubyektif”, dengan kata lain makna yang muncul dari data harus diuji kebenarannya. Kekokohannya dan kecocokannya (validitasnya).

Dari data-data yang diperoleh dilapangan tidak dibuktikan dengan angka- angka melainkan berupa uraian-uraian sehingga mengambarkan hasil yang sesuai dengan data yang telah dianalisis.

Gambar 3.1.

Analisa Data Model Interaktif menurut miles dan Huberman

Sumber : Miles dan Huberman, terjemahanTjetjep Rohendi Rahidi (1992 : 20)

3.8. Keabsahan Data

Menurut Moleong (2007 : 324), untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik

Pengumpulan data

Kesimpulan

Penyajian Data Reduksi Data

pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada 4 (empat) kriteria yang digunakan, yaitu :

1. Derajat Kepercayaan (Credibility)

Penerapan kriterium derajat kepercayaan (kredibilitas) pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dari non kualitatif. Kriterium ini berfungsi untuk melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai dan, mempetunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataaan ganda yang sedang diteliti.

2. Keteralihan (transferality)

Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan penglihan tersebut seorang peneliti hendaknya mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks dengan demikian peneliti bertanggung jawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut. Untuk keperluan itu peneliti harus melakukan penelitian kecil untuk memastikan usaha memverifikasi tersebut.

3. Kebergantungan (dependability)

Kebergantungan merupakan substitusi istulah reliabilitas dalam penelitian yang nonkualitatif. Pada cara nonkualitatif yaitu dengan diadakan pengulangan studi dalam suatu kondisi yang sama dan hasilnya secara esensial sama maka dikatakan reliabilitas ditunjukkan dengan jalan mengadakan replikasi studi. Jika dua atau beberapa kali diadakan pengulangan suatu studi dalam suatu

tercapai. Hal ini benar sama dengan alamiah yang mengandalkan orang sebagai instrument. Mungkin karena kelebihan, atau karena keterbatasan mengingat sehingga membuat kesalahan-kesalahan. Namun, kekeliruan yang dibuat orang demikian jelas tidak mengubah keutuhan kenyataan yang distudi. Konsep kebergantungan lebih luas daripada reliabilitas. Hal tersebut disebabkan oleh peninjauannya dari segi bahwa konsep itu memperhitungkan segala-galanya, yaitu yang ada pada reliabilitas itu sendiri ditambah faktor-faktor lainnya yang bersangkutan.

4. Kepastian (confirmability)

Kepastian berasal dari konsep objektivitas menurut nonkualitatif. Nonkualitatif menetapkan objektivitas dari segi kesepakatan antar subjek. Disini pemastian bahwa sesuatu itu objektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pengalaman seseorang itu subjektif sedangkan jika disepakati oleh beberapa orang atau banyak orang, barulah dapat dikatakan objektif. Hal itu digali dari pengertian bahwa jika sesuatu itu objektif, berarti dapat dipercaya, faktual dan dapat dipastikan .

Berdasarkan hal tersebut diatas, jelaslah bahwa data yang diperoleh di lapangan tidak dibuktikan dengan angka-angka tetapi berisikan uraian-uraian sahingga menggambarkan hasil yang sesuai dengan data yang telah dianalisa kemudian diinterpertasikan. Masalah yang dihadapi diuraikan dengan berpatokan pada teori-teori serta temuan yang diperoleh pada saat penelitian tersebut, kemudian dicarikan kesimpulan dan jalan pemecahannya.

4.3. Pembahasan

Setelah mendapatkan beberapa temuan di lapangan baik melalui observasi maupun wawancara, maka penulis selaku peneliti akan memberikan analisa data. Maka untuk masing-masing fokus penelitian adalah sebagai berikut :

4.3.1. Disiplin Preventif

Menurut Mangkunegara (2000 : 129) Disiplin preventif adalah tindakan disiplin yang dilakukan untuk mendorong pegawai menaati berbagai peraturan / ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Atau suatu upaya untuk menggerakan pegawai mengikuti dan mematuhi pedoman kerja, aturan- aturan yang telah digariskan oleh organisasi. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap, tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi, diusahakan pencegahan jangan sampai para pegawai berprilaku negatif atau melanggar aturan ataupun standar yang telah ditetapkan. Tujuan pokok dari disiplin preventif adalah mendorong pegawai agar memiliki disiplin diri, tanpa harus pimpinan memaksanya, maksudnya bahwa keberhasilan penerapan pendisiplinan preventif terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi.

A. Pembinaan Rohani, Mental, dan Tradisi

Pembinaan Rohani, mental dan tradisi yang di laksanakan di Polrestabes Surabaya pada dasarnya bertujuan untuk memantapkan iman dan tindakan anggota agar tidak melakukan perilaku-perilaku yang menyimpang dari aturan yang ada, sehingga para anggota polisi polrestabes surabaya akan dapat berdisiplin dan mentaati

peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Baik aturan kemasyarakatan maupun Peraturan-peraturan dinas yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Polri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:134), Pembinaan adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, usaha atau proses ke arah yang lebih baik.

Sedangkan Menurut Thoha (2002:7) dikatakan bahwa pembinaan ialah suatu tindakan, proses, hasil, atau pernyataan agar menjadi lebih baik.

Kemudian dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2010 tentang Hak-Hak Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia turut dijelaskan bahwa, “Pembinaan Rohani” adalah pembinaan kondisi jiwa seseorang untuk mempertinggi moral, budi pekerti yang luhur dengan memperkuat keyakinan beragama, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang Maha Esa, maupun dalam hubungan dengan sesamanya ataupun manusia dengan diri pribadinya dan lingkungannya.

Dan yang dimaksud dengan “Pembinaan Mental” adalah segala usaha, tindakan dan kegiatan dalam membentuk, memelihara serta meningkatkan kondisi/keadaan jiwa anggota polri terhadap hal-hal tertentu dalam hubungan waktu, tempat, dan kondisi tertentu.

Sedangkan yang dimaksud dengan “Pembinaan Tradisi” adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang sadar, berencana, dan berlanjut untuk memelihara dan meningkatkan tradisi-tradisi yang tidak bertentangan dengan Tribrata, Catur Prasetya dam kode Etik Profesi Polri dengan maksud untuk membangkitkan semangat pengabdian dan profesionalisme dalam rangka memelihara identitas polri.

Sesuai hasil penelitian bentuk pembinaan Rohani yang diadakan di Polrestabes Surabaya yang diperuntukan untuk seluruh agama baik Islam, Nasrani, Budha dan Hindu yaitu berupa antara lain : Pengajian untuk personel yang memeluk agama Islam, dan acara Doa dan nyanyian untuk yang beragama Nasrani. Dan untuk yang beraga Budha dan Hindu Pembinaan Rohani dilakukan Diluar dari pada Polrestabes Surabaya, karena Jumlah pengikutnya yang jauh lebih sedikit dari pada Islam dan Nasrani.

Sedangkan untuk Pembinaan Mental yang diadakan di Polrestabes Surabaya yang diikuti oleh personil yang Beragama Islam yaitu antara lain : Ceramah Agama yang diadakan setiap hari Jum’at. Sedangkan untuk yang beragama Nasrani, Budha dan Hindu juga di berikan Pembinaan yang sama yang sesuai dengan Tradisi keagamaan masing-masing selain itu pembinaan mental juga diberikan dalam bentuk latihan-latihan, baik latihan menembak bagi anggota yang bersenjata api dan latihan penanganan unjuk rasa bagi anggota pengendali massa (DALMAS) yang ada di polrestabes Surabaya..

Dan untuk Pembinaan Tradisi yang diadakan di Polrestabes Surabaya yaitu di laksanakan melalui Upacara Apel, dimana setiap upacara Apel baik Apel pagi maupun sore, seluruh anggota selalu bersama-sama menyanyikan lagu mars kepolisian serta mengucapkan sumpah Catur Prasetya dan Tribrata.

Pelaksanaan Pembinaan Rohani yang diadakan di Polrestabes Surabaya khususnya bagi yang beragama Islam tergolong kurang efektif, karena masih banyaknya Anggota/Personel yang tidak mengikuti acara pengajian tersebut, hal ini dilihatdengan adanya rekapitulaasi data bahwa dari jumlah keseluruhan anggota/personel yang beragama Islam di Polrestabes Surabaya yaitu sebesar 921 orang. Jumlah terbanyak anggota yang hadir dalam acara pengajian, pada tahun 2012, yaitu pada bulan Maret dengan jumlah 430 anggota atau sebesar 46,69% dari jumlah keseluruhan. Padahal dampak positif dari kegiatan pengajian ini adalah untuk memantapkan iman setiap anggota/personel sehingga nantinya anggota/personel dapat berdisiplin dan dengan semakin meningkatkan iman dari pada setiap anggota/personel, hal ini dapat menjadi filter agar anggota/personel tidak melakukan prilaku-prilaku yang menyimpang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Polrestabes Surabaya, diketahui bahwa anggota/personel yang tidak menghadiri acara pengajian tersebut dikarenakan alasan bahwa terlalu padatnya jadwal bekerja, sehingga anggota/personel tidak memiliki banyak pilihan untuk bisa mengikuti acara pengajian tersebut, selain itu masih banyaknya anggota/personel yang bisa dikatakan berpangkat senior yang

masih memiliki cara berfikir bahwa lebih baik bekerja dari pada mengikuti acara pengajian ini.

Kemudian untuk Pelaksanaan Pembinaan Mental yang diadakan di Polrestabes Surabaya yaitu berupa ceramah agama bisa dikatakan cukup efektif, hal ini dapat dilihat dari jumlah personel di Polrestabes Surabaya khususnya yang beragama Islam, yang menghadiri acara tersebut yaitu sebesar 916 Orang atau sebesar 99,45% pada bulan Januari 2012 sedangkan untuk pembinaan mental seperti latihan menembak, tes pesikologi dilaksanakan rutin 3 bulan sekali. Pembinaan mental yang diberikan melalui metode ceramah agama , latihan-latihan dan tes pesikologi ini selain dapat meningkatkan kesadaran personel dalam menjalankan tugas untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan, juga mampu meningkatkan rasa disiplin dari pada anggota/personel sehingga nantinya semakin meningkat pula kinerjanya.

Adapun faktor yang menyebabkan pegawai tidak hadir pada kegiatan ceramah agama ini lebih disebabkan karena padatnya jadwal yang dimiliki anggota/personel yang bertugas dilapangan atau adanya personel yang mendapatkan misi tertentu yang cukup penting, sehingga tidak dimungkinkan untuk kembali agar dapat menghadiri acara ceramah agama ini yang diadakan di Polrestabes Surabaya.

Sedangkan untuk Pelaksanaan Pembinaan Tradisi melalui upacara Apel, pada dasar nya tidak ditemui hambatan yang berarti, hal ini dikarenakan upacara Apel yang dilakukan di Polrestabes Surabaya telah menjadi sebuah rutinitas yang

dilaksanakan setiap hari baik Apel pagi dan Apel Sore, sehingga para anggota/personel telah memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk mengikuti upacara Apel tersebut, walaupun terkadang masih dijumpai anggota.personel yang terlambat untuk mengikuti upacara, sehingga tidak diperbolehkan untuk memasuki barisan dan harus mendapatkan sanksi Tindakan Disiplin oleh Provost.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa, Pembinaan rohani, mental dan tradisi yang ada di Polrestabes Surabaya pada dasarnya sudah cukup efektif dalam mengurangi ketidakdisiplinan anggota/personel di Polretabes surabaya. Namun untuk Pembinaan Rohani dengan menggunakan Metode acara pengajian sebaiknya dilakukan pada waktu yang tidak mengganggu pekerjaan, semisal pada malam hari atau setiap jam pulang kantor yaitu sore hari, sehingga nantinya tidak dapat untuk dijadikan alasan apapun oleh anggota/personel untuk tidak menghadiri acara pengajian tersebut.

Dokumen terkait