3.2. Prosedur Percobaan
3.2.1 Pembuatan Anoda Mentah 26
1. Kokas diambil dari silo lalu diayak dengan menggunakan Siever SR-201.
2. Kokas yang sudah di ayak disimpan berdasarkan ukurannya dan disimpan didalam bin berbeda. Kokas dengan diameter 5-18 disebut kasar 1 disimpan didalam bin (B-201).
3. Kokas dibawah dari 5 mm diayak kembali sehingga diperoleh ukuran 2-5 mm disebut kasar 2 disimpan didalam bin (B-202), 0,2-2 mm disebut medium disimpan didalam bin (B-203)
4. Dibawah 0,2 mm disebut fine dibawa ke silo S-202 lalu dibawa ke Tube mill untuk dihaluskan, setelah halus dimasukkan kedalam bin B-204.
5. Butt dikirim dari tungku peleburan, dibersihkan dari crust dan dipisahkan dari tangkainya.
6. Kemudian dihancurkan dengan crusher CR-202. lalu diayak dengan menggunakan siever SR-203 lau disimpan kedalam bin.
7. Green scrap dengan ukuran yang besar tidak langsung dipakai tetapi dihancurkan terlebih dahulu. Lalu disimpan dalam bin B-206
8. Coal tar pitch diangkut kedalam pengangkut Skip Hoist (SK-201) lalu dimasukkan kedalam tangki TK-204 lalu dipanaskan hingga meleleh
xl
9. Setelah meleleh dipompa ke tangki TK-205 untuk disimpan 10. Kokas, dan butt ditimbang lalu dimasukkan kedalam Prehetaer.
11. Lalu dimasukkan kedalam Ko-kneader KN-201 bersama dengan green scrap dan binder untuk diadon, kemudian dimasukkan kemabli kedalam KN-202
12. Lalu setelah itu dikirim ke saking machine untuk dicetak
13. Setelah dicetak dibawa ke gudang anoda untuk disimpan dan didinginkan.
3.2.2Pemanggangan anoda
1. Sebelum GB (green block) dipanggang dilakukan persiapan tungku yaitu memeriksa tungku dari kebocoran
2. Apabila tungku bocor maka ditutup dengan fine flex
3. Anoda di masukkan kedalamnya selapis demi selapis hingga lapisan terakhir 4. Pada lapisan kedua ditutup dengan kokas kemudian lapisan atas juga ditutup
dengan kokas
5. Kemudian ditutup lagi dengan bola keramik 6. Setelah itu ditutup dengan Pitch cover
7. Dipanggang. Pemanggangan dilakukan tergantung Fire Progreesion yang dipakai.
8. Kemudian didinginkan, lalu dihisap bola keramik dan kokas lalu diangkat lapisan atas, lapisan tengan, dan lapisan bawah
xli
3.2.3 Penangkaian anoda
1. BB (baking blok) dibawa ke pabrik penangkaian
2. Lubang BB dipanaskan hingga mencapai suhu 100oC pada dinding BB dan pada bagian dasar 200oC
3. Dibawa ke casting untuk disambung antara BB dan tangkai
4. Setelah disambung dimasukkan kedalam alat sprayer-401 untuk dilapisi aluminium
5. Anode assembly dibawa ke SRD untuk dipakai dalam proses elektrolisa dengan ATC (Anode Transport Car)
xlii
BAB 4
DATA PEMBAHASAN
4.1 Data
xliii
4.2 Pembahasan
Dari data pengamatan diatas terdapat beberapa data yang tidak memenuhi parameter kualitas anoda. Parameter kualitas anoda yang mempengaruhi operasi tungku adalah:
1. Densitas
Berdasarkan data standar kualitas anoda densitas bernilai 1,56 min. Tetapi pada tanggal 27 Februari 2008 dengan no lot 14.6.2850 dan 14.16.3000 densitas bernilai 1,54 dan 1,55. Nilai ini merupakan dibawah standar. Hal ini disebabkan karena faktor komposisi granulometri. Dalam komposisi granulometri diperlukan ketepatan karena merupakan perbandingan antara kokas kasar 1, kasar 2, medium, fine. Jika perbandingan kokas tidak sama maka akan menyebabkan rongga/pori-pori dalam anoda yang mengakibatkan anoda tidak rapat. Kompoisisi mempengaruhi karena jika telalu banyak kokas kasar 1 di bandingkan dengan fine maka akan menimbulkan celah/celah sebaliknya jika terlalu banyak fine maka akan membutuhkan binder (coal tar Pitch yang cair) yang banyak pula. Jika binder terlalu banyak maka anoda yang dihasilkan akan terlalu lembek dan unsur karbon yang bersasal dari kokas semakin sedikit ini akan berpengaruh pada peleburan aluminium. Densitas merupakan penentu umur anoda. Semakin tinggi nilai densitas maka semakin panjang umur anoda. Semakin besar nilai AD rendah maka nilai kemampuan alir udara dalam anoda besar sehingga anoda tersebut bercelah maka anoda akan mudah teroksidasi oleh udara. Akibatnya banyak terjadi debu karbon yang menyebabkan panas dalam tungku tidak keluar sehingga terjadi temperatur tinggi. Semakin tinggi nilai denistas maka semakin rapat ukuran partikel didalamnya.
xliv
Nilai densitas rendah maka akan menyebabkan anoda mudah rontok/banyaknya anoda jatuh kedalam tungku reduksi yang akan mempengaruhi kualitas aluminium. Banyaknya anoda yang jatuh menyebabkan konsumsi anoda lebih banyak dari yang ditargetkan karena adanya pergantian anoda sebelum waktunya, dan apabila tidak dilakukan pergantian maka elektrolit akan menyentuh tangkai anoda yang menyebabkan kerosinya tangkai anoda sehingga kadar Fe akan meningkat dalam aluminium yang dihasilkan dan meningkatnya kadar Fe dalam aluminium yang dihasilkan maka mutu dari pada aluminium akan menurun.
2. Reaktivitas terhadap CO2
Pada tanggal 28 Februari 2008 nilai reaktivitas terhadap CO2 83,57. Nilai ini dibawah standar dari ketetapan PT INALUM. Reaktivitas terhadap CO2 adalah parameter yang menyatakan seberapa banyak anoda karbon yang hilang karena berekasi dengan gas CO2.Rendahnya nilai reaktivitas terhadap CO2 disebabkan karena butt yang kembali dari pabrik reduksi masih mengandung butt dust. Butt yang masih mengandung butt dust tidak bagus terhadap kualitas anoda. Butt dust yang terkandung dalam anoda akan mempengaruhi reaksi anoda terhadap gas CO2 sehingga anoda tidak tahan terhadap gas CO2 yang akan menyebabkan anoda terkikis dan jatuh ke bawah. Sehingga konsumsi anoda akan meningkat dan menurunkan efisiensi proses elektrolisis.
Jika nilai RRCO2 tidak sesuai dengan standar maka mengakibatkan anoda banyak terjadi debu karbon. Jika banyak debu karbon maka akan menyebabkan temperatur tinggi karena kelebihan panas pada tungku akan terhambat keluar.
xlv
3. Reaktivitas terhadap O2
Berdasarkan data pengamatan, nilai reaktivitas terhadap O2 sudah memenuhi standart. yaitu 70% min. Reaktivitas terhadap O2 adalah parameter yang menyatakan seberapa banyak anoda karbon yang hilang karena bereaksi dengan gas O2. RO2 rendah disebabkan karena nilai AD rendah. Jika nilai AD rendah maka nilai RO2 juga rendah sehingga menyebabkan anoda mudah teroksidasi dengan udara yang lama kelamaan akan menyebabkan banyaknya debu karbon dipermukaan larutan elektrolit yang akan menghambat panas yang akan keluar sehingga terjadi temperatur tinggi didalam pot tungku reduksi.
xlvi
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari analisa kerja praktek dan pengamatan beserta pembahasan-pembahasan yang dilakukan, maka dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kualitas anoda yang kurang bagus dapat berpengaruh terhadap kualitas aluminium yang dihasilkan dan juga dapat berpengaruh terhadap operasi tungku. 2. Upaya penanggulangan masalah terhadap kualitas anoda yaitu dengan mengatur
komposisi granulometrik dari bahan-bahannya dan proses pengolahannya.
5.2 Saran
1. Agar mendapatkan kualitas anoda yang baik maka diperlukan ketelitian dan keterampilan dalam mengatur komposisi granulometrik juga dalam pengolahannya.
2. Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka diperlukan bahan-bahan baku yang berkualitas tinggi.
xlvii
DAFTAR PUSTAKA
Burkin, A.R, 1987, Produktion of Aluminium and Alumina,
Hulse, L.K, 2000,
John Willey
Anode Manufacture
Hume, M.S, 1999,
, R&D carbon Ltd, Switzerland
Anode Reactivity, Influence of Raw Material Properties,
Grjotheirm.K and H.Welch, 1988,
R&D Carbon Ltd, Switzerland
Aluminium Smelter Technology,
PT Inalum, 2003,
2nd Edition, Aluminium Verlog GmbH Dusseldroft
Manual Operasi di Green Plant, Baking Plant, dan Rodding Plant. Seksi Karbon