BAB III METODE PENELITIAN
3.4 Pengumpulan dan Pembuatan Simplisia
3.4.3 Pembuatan Ekstrak
Pembuatan ekstrak kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dilakukan secara perkolasi bertingkat. Prosedur pembuatan ekstrak: sebanyak 1 kg serbuk simplisia dibasahi dengan n-heksan dan dibiarkan selama 3 jam. Kemudian dimasukkan ke dalam alat perkolator, lalu dituang cairan penyari n-heksan sampai semua simplisia terendam dan terdapat selapis cairan penyari diatasnya, mulut tabung perkolator ditutup dengan alumunium foil dan dibiarkan selama 24 jam, kemudian kran dibuka dan dibiarkan tetesan ekstrak mengalir dengan kecepatan perkolat diatur 1 ml/menit, perkolat ditampung. Perkolasi dihentikan sampai tetesan ekstrak jernih (tidak berwarna), dan diambil setetes ekstrak dikeringkan maka tidak akan meninggalkan noda, kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator. Ampas dikeringkan lalu diekstraksi dengan menggunakan pelarut berturut-turut etil asetat dan etanol dengan prosedur yang sama dengan di atas (Ditjen POM, 1986).
3.5 Penapisan Fitokimia Masing-masing Ekstrak 3.5.1 Pemeriksaan alkaloid
Sebanyak 1 gram ekstrak n-heksan ditambahkan 1 ml asam klorida 2N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat dipakai untuk uji alkaloid sebagai berikut:
a. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah 2 tetes larutan pereaksi Meyer akan terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning.
b. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai kehitaman.
c. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambah dengan 2 tetes larutan pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan merah atau jingga.
Alkaloid positif jika terdapat endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan diatas (Ditjen POM, 1995). Dilakukan percobaan yang sama terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol.
3.5.2 Pemeriksaan flavonoid
Sebanyak 10 g ekstrak n-heksan dilarutkan dalam 10 ml air panas, didihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas, ke dalam 5 ml filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika terjadi warna merah atau kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).
Dilakukan percobaan yang sama terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol.
3.5.3 Pemeriksaan saponin
Sebanyak 0,5 gram ekstrak n-heksan dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik, jika terbentuk buih yang mantap setinggi 1 sampai 10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin (Ditjen POM, 1995). Dilakukan percobaan yang sama terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol.
3.5.4 Pemeriksaan steroid/triterpenoida
Sebanyak 1 gram ekstrak n-heksan dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam, disaring, filtrat diuapkan dalam cawan penguap dan pada sisanya ditambahkan 20 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi
Liebermann-Bouchardat). Timbulnya warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroida, sedangkan warna merah, merah muda, atau ungu menunjukkan adanya triterpenoida (Harborne, 1987). Dilakukan percobaan yang sama terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol.
3.5.5 Pemeriksaan tanin
Sebanyak 0,5 gram ekstrak n-heksan disari dengan 10 ml air suling lalu disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna. Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan 1 sampai 2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%.
Jika terjadi warna biru atau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Ditjen POM, 1995). Dilakukan percobaan yang sama terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol.
3.5.6 Pemeriksaan glikosida
Sebanyak 3 gram ekstrak n-heksan disari dengan 30 ml campuran etanol 95% dengan air (7:3) dan 10 ml asam klorida 2 N, direfluks selama 2 jam, didinginkan dan disaring. Diambil 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan 5 menit lalu disaring. Filtrat disari denga 20 ml campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Sari air dikumpulkan dan diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50oC. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut: 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan dalam tabung reaksi dan diuapkan diatas penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi Mollish. Kemudian secara perlahan-lahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terbentuknya cincin berwarna ungu
pada batas kedua cairan menunjukkan glikosida (Ditjen POM, 1995). Dilakukan percobaan yang sama terhadap ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol.
3.6 Pembuatan Bahan Uji
3.6.1 Pembuatan suspensi CMC 0,5%
Sebanyak 500 mg CMC, ditaburkan dalam cawan porselen yang berisi 10 ml air suling panas. Didiamkan selama 30 menit hingga diperoleh massa yang transparan. Setelah itu digerus sambil diencerkan dengan sedikit air suling.
Kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer yang telah dikalibrasi 100 ml.
Volumenya dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml.
3.6.2 Pembuatan suspensi ekstrak
Masing-masing ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat dan etanol, dibuat dengan cara menimbang 600 mg ekstrak kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.), digerus di dalam lumpang, ditambahkan suspensi CMC sedikit demi sedikit sambil digerus sampai homogen, lalu dimasukkan dalam labu tentukur 10 ml dan dicukupkan volumenya sampai garis tanda. Suspensi ekstrak tersebut dibuat sebagai larutan induk, yang kemudian diencerkan untuk mendapatkan konsentrasi suspensi ekstrak yang berbeda-beda. Suspensi ekstrak untuk uji diberikan dengan volume yang sama.
Volume cairan yang dapat diberikan peroral pada mencit adalah 1% dari bobot mencit. Takaran konversi dosis dari manusia ke mencit adalah 0,0026.
Dosis kelopak bunga rosela yang digunakan adalah dosis yang biasa dipakai masyarakat, yaitu 3-4 kuntum bunga rosela (± 10 gram). Maka dosis untuk mencit:
Korelasi dosis mencit x dosis rosela untuk manusia = 0,0026 x 10 gram
Pada penelitian ini dosis ekstrak yang diberikan pada mencit-mencit diabetes dibuat dalam tiga kelompok uji yaitu:
Kelompok uji I: Dosis rendah/dosis 1 = 200 mg/kg BB Kelompok uji II: Dosis sedang/dosis 2 = 400 mg/kg BB Kelompok Uji III: Dosis tinggi/dosis 3 = 600 mg/kg BB
3.6.3 Pembuatan suspensi glibenklamid
Ditimbang glibenklamid sebanyak 0,65 mg, digerus di dalam lumpang, ditambahkan suspensi CMC sedikit demi sedikit sambil digerus sampai homogen, lalu dimasukkan dalam labu tentukur 10 ml dan dicukupkan hingga mencapai batas tanda.
Dosis terapi glibenklamid pada manusia adalah 5 mg. Takaran konversi dosis dari manusia ke mencit, yaitu: 0,0026 x 5 mg = 0,013 mg = 1000/20 x 0,013
= 0,65 mg/kg BB
3.6.4 Pembuatan larutan streptozotocin (STZ) dalam larutan NaCl 0,9%
Sebanyak 55 mg streptozotocin (STZ) dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml kemudian dicukupkan dengan larutan NaCl 0,9%.
Streptozotocin adalah senyawa yang dihasilkan dari Streptomyces acromogenes yang merupakan suatu senyawa nitroso urea analog glukosa.
Streptozotocin mudah larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol dan keton.
Dalam penelitian digunakan sebagai penginduksi diabetes pada hewan coba. Obat ini mempunyai spesifitas yang tinggi terhadap sel β. penyuntikan secara intraperitoneal dosis 40-60 mg/kg BB, dosis tunggal akan menyebabkan hiperglikemia setelah 2-4 hari (Abeeleh, et al., 2009).
3.7 Penggunaan Glukometer 3.7.1 Prosedur penggunaan
Alat yang digunakan untuk mengukur KGD adalah Glukometer Accu Chek. Hasil pengukuran secara otomatis akan terbaca ketika strip dimasukkan dan akan mati ketika strip dicabut. Dengan menyentuhkan setetes darah ke strip melalui aksi kapiler. Ketika wadah terisi penuh oleh darah, alat akan mengukur kadar glukosa darah.
3.7.2 Prinsip pengukuran
Konsentrasi glukosa dalam sampel uji diukur dengan metode amperometrik: glukosa dioksidasi pada daerah reaktif pada strip uji oleh dehidrogenasi glukosa (dioksidoreduktase glukosa), selama hal tersebut terjadi heksasianoferat (III) direduksi menjadi heksasianoferat (II). Heksasianoferat (II) yang dihasilkan kemudian direoksidasi oleh salah satu elektroda-elektroda yang mengandung palladium. Arus elektron yang sebanding dengan konsentrasi glukosa pada sampel, yang kemudian diukur oleh pengukur ACCU-CHEK.
Prinsip pengukuran ini diilustrasikan pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Prinsip pengukuran glukosa darah dengan alat Accu Chek Glukosa Glukonolakton
Glukosa Dehidrogenasi
PQQ PQQH2
Ferosianida(II) Ferosianida(III) Arus
Elektroda Palladium e-
3.8 Pengujian Kadar Glukosa Darah Mencit 3.8.1 Pengujian kadar glukosa normal mencit
Sebelum diberikan perlakuan, kadar glukosa darah mencit diukur terlebih dahulu, yaitu mencit dipuasakan selama 18 jam. Kemudian berat badan ditimbang dan diukur kadar glukosa darah (KGD) puasa dengan cara mengambil darah melalui vena bagian ekor yang dilukai menggunakan alat suntik. Darah yang keluar disentuhkan pada Glukostrip yang terpasang pada Glukotest. Alat akan langsung bekerja secara otomatis, angka yang tampil pada layar alat dicatat sebagai kadar glukosa darah (mg/dl).
3.8.2. Penentuan kadar glukosa darah (KGD)
Sebelum percobaan dilakukan, mencit dipuasakan (tidak makan tetapi tetap minum) selama 18 jam, lalu ditimbang berat badan mencit masing-masing dan diberi tanda pada ekor. Kemudian masing-masing mencit diukur kadar glukosa darah puasa. Ekor mencit dibersihkan dengan alkohol, lalu diambil darahnya melalui pembuluh darah vena dibagian ekor yang ditusuk dengan jarum suntik. Darah yang keluar disentuhkan pada glukotest strip yang telah terpasang pada alat glukometer Accu Chek dan dibiarkan alat mengukur kadar glukosa darah secara otomatis. Angka yang tampil pada layar alat dicatat sebagai kadar glukosa darah (mg/dl).
3.8.3 Uji toleransi glukosa oral
Pada metode toleransi glukosa oral ini, 48 ekor mencit diaklimatisasi terlebih dahulu sebelum dilakukan eksperimental. Kemudian dibagi menjadi 8 kelompok dan dipuasakan selama 18 jam (air minum tetap diberikan). Kelompok 1 diberikan CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok 2 diberikan
glibenklamid 0,65 mg/kg BB sebagai kontrol positif, kelompok 3,4,5 diberikan larutan ekstrak etanol masing-masing 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, 600 mg/kg BB dan kelompok 6,7,8 diberikan ekstrak etil asetat masing-masing 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, dan 600 mg/kg BB. Satu jam setelah perlakuan diberikan larutan glukosa dosis 500 g/10 ml sebanyak 0,2 ml kepada masing-masing kelompok. Satu jam setelah pemberian sediaan (jam ke-0) segera dilakukan pengambilan darah mencit melalui vena ekor, dan pengambilan darah diulangi setiap pada menit ke-30, 60, 90, dan 120. Darah yang diambil diukur dengan menggunakan glukometer Accu Chek.
3.8.4 Penginduksian diabetes
Mencit yang akan diinduksi diabetes dipuasakan selama 18 jam (air minum tetap diberikan), diinjeksi dengan larutan streptozotocin secara intraperitoneal dengan dosis 55 mg/kg BB. Pada hari ke-3 ditentukan kadar glukosa darah mencit, dianggap diabetes jika kadar glukosa darahnya >200 mg/dl.
3.8.5 UJi aktivitas ekstrak
Uji antidiabetes dilakukan terhadap masing-masing ekstrak yaitu ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol yang dibuat dengan 3 dosis yaitu 200 mg, 400 mg dan 600 mg ekstrak, masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor mencit, yaitu:
Kelompok 1: kelompok kontrol, mencit yang telah diabetes diberikan suspensi CMC 0,5%.
Kelompok 2: kelompok kontrol positif, mencit yang telah diabetes diberikan pembanding glibenklamid 0,65 mg/kg BB.
Kelompok 3: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak n-heksan kelopak bunga rosela dosis 200 mg/kg BB.
Kelompok 4: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak n-heksan kelopak bunga rosela dosis 400 mg/kg BB.
Kelompok 5: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak n-heksan kelopak bunga rosela dosis 600 mg/kg BB.
Kelompok 6: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak etil asetat kelopak bunga rosela dosis 200 mg/kg BB.
Kelompok 7: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak etil asetat kelopak bunga rosela dosis 400 mg/kg BB.
Kelompok 8: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak etil asetat kelopak bunga rosela dosis 600 mg/kg BB.
Kelompok 9: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak etanol kelopak bunga rosela dosis 200 mg/kg BB.
Kelompok 10: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak etanol kelopak bunga rosela dosis 400 mg/kg BB.
Kelompok 11: kelompok mencit yang telah diabetes diberikan ekstrak etanol kelopak bunga rosela dosis 600 mg/kg BB.
Pemberian perlakuan dimulai setelah hewan uji positif diabetes, yang dilakukan setiap hari di mana setiap selang tujuh hari diadakan pengukuran kadar glukosa darah. Pengujian dihentikan sampai salah satu kelompok pengujian memiliki kadar glukosa darah normal.
3.9 Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis variansi (ANAVA) pada tingkat kepercayaan 95%. Analisis statistik ini menggunakan program SPSS (Statiscal Product and Service Solution) versi 16.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Ekstraksi
Ekstraksi kelopak bunga rosela dilakukan secara perkolasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol, dengan maksud agar kandungan kimia yang terdapat dalam kelopak bunga rosela dapat dipisahkan berdasarkan kelarutannya dengan sempurna dalam cairan penyari. Hasil dari 1000 g serbuk simplisia diperoleh total ekstrak 74,2 g (7,42%) di mana ekstrak n-heksan yang diperoleh sebanyak 28,4 g, ekstrak berwarna hijau pekat; ekstrak etil asetat 12,6 g, ekstrak berwarna hijau; dan ekstrak etanol 33,2 g, ekstrak berwarna merah kehitaman.
4.2 Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak N-heksan, Ekstrak Etil Asetat dan Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosela
Kandungan kimia dari kelopak bunga rosela dipisahkan berdasarkan kelarutannya dengan menggunakan teknik perkolasi bertingkat. Tahap ekstraksi dimulai dengan menggunakan pelarut non polar yaitu n-heksan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan pelarut semi polar yaitu etil asetat, terakhir dengan menggunakan pelarut polar yaitu etanol. Tabel 4.1 menunjukkan kandungan kimia yang terdapat pada masing-masing ekstrak kelopak bunga rosela.
Tabel 4.1 Data Skrining Fitokimia Ekstrak n-heksan, Ekstrak Etil Asetat dan Ekstrak Etanol kelopak bunga rosela
Skrining fitokimia n-heksan Etil Asetat Etanol
Alkaloid - + +
Steroid + - -
Saponin - - +
Tanin - + +
Glikosida - + +
Flavonoida - + +
Ekstrak n-heksan positif mengandung steroid; ekstrak etil asetat positif mengandung alkaloid, tannin, glikosida, dan flavonoid; dan ekstrak etanol positif mengandung alkaloid, saponin, tanin, glikosida dan flavonoid.
Menurut Brahmachari (2011), kandungan bioflavonoida seperti epigalokatekin-3-galat yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan memiliki efek yang menyerupai insulin. Pemberian oral secara rutin bioflavonoida terhadap hewan-hewan diabetes dapat menurunkan glukosa plasma, meningkatkan kadar insulin, merangsang sekresi insulin dan merangsang pembentukan glikogen dalam sel-sel otot.
4.3. Hasil Uji Farmakologi
Pada pengujian antidiabetes yang digunakan sebagai penginduksi adalah streptozotocin karena streptozotocin memiliki efek merusak pada sel-sel beta pankreas penghasil insulin pada mamalia. Injeksi streptozotocin mengacu pada pengrusakan sel-sel beta Langerhans. Secara klinis, gejala-gejala diabetes terlihat jelas pada mencit dalam 3 hari dengan injeksi STZ dosis 55 mg/kg BB secara intraperitoneal.
Setelah beradaptasi selama dua minggu, mencit diberikan pakan dengan jenis dan jumlah yang sama, mencit dipuasakan selama 18 jam, diukur KGD
normalnya. Pada hari yang sama mencit diinduksi dengan STZ dosis 55 mg/Kg BB, hari ketiga setelah penginduksian, mencit dipuasakan selama 18 jam, diukur KGD-nya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Data Pengukuran KGD Normal dan KGD Setelah Penginduksian STZ Dosis 55 mg/Kg BB Mencit Percobaan (n=6) setelah dipuasakan selama 18 jam
Kelompok Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (mg/dl) rata-rata ± SD
Sebelum induksi Sesudah induksi
kel. CMC 0,5% 78,33 ± 4,84 326,50 ± 24,44
Penelitian yang dilakukan oleh Arora, et al., (2009) dengan membandingkan dosis pemakaian STZ untuk menginduksi diabetes pada mencit menunjukkan bahwa efek pemberian injeksi tunggal streptozotocin dosis 180 mg/kg BB pada mencit albino swiss setelah satu minggu pemberian telah menaikkan glukosa darah sampai > 500 mg/dl; sementara dengan dosis 100 mg/dl, tidak ada seekor mencit pun yang mengalami diabetes; dan dengan dosis 40 mg/dl telah menaikkan glukosa darah > 190 mg/dl. Streptozotocin merupakan penginduksi diabetes yang baik dalam penelitian diabetes. Pemberian dosis yang berbeda dari streptozotocin menghasilkan tipe diabetes yang berbeda pula. Dosis streptozotocin 70-250 mg/kg BB sangat merusak pada lima sel pankreas dalam 24 jam pemberian, sehingga menghasilkan mencit DM tipe 1. Pemberian dosis
rendah streptozotocin dalam beberapa hari pertama menghasilkan mencit DM tipe 2 dan dalam perkembangannya menghasilkan mencit DM tipe 1.
4.3.1 Hasil uji toleransi glukosa oral
Tabel 4.3 dan Gambar 4.1 menunjukkan potensi CMC 0,5%, glibenklamid, ekstrak etanol kelopak bunga rosela 200, 400, 600 mg/kg BB, dan ekstrak etil asetat 200, 400, 600 mg/kg BB dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit dengan menggunakan metode Toleransi Glukosa Oral (TGO).
Tabel 4.3 Data hasil uji toleransi glukosa oral
Kelompok perlakuan KGD (mg/dl)
0' 30' 60' 90' 120'
CMC 0,5% 77.00 176.00 164.33 159.33 153.00
Glibenklamid 61.00 156.00 125.00 109.67 61.33
etanol D1 (200 mg/kg BB) 105.00 161.67 135.67 117.00 95.00 etanol D2 (200 mg/kg BB) 82.33 166.67 131.33 111.00 87.00 etanol D3 (200 mg/kg BB) 79.33 188.00 157.33 118.67 97.00 etil asetat D1 (200 mg/kg BB) 61.33 148.00 144.67 134.00 122.00 etil asetat D2 (200 mg/kg BB) 71.67 117.33 97.67 89.00 71.33 etil asetat D3 (200 mg/kg BB) 70.00 144.00 137.67 128.00 111.00
Gambar 4.1 Grafik potensi hasil uji toleransi glukosa total
Berdasarkan Tabel 4.3 dan Gambar 4.1 tampak bahwa perlakuan dengan pemberian glibenklamid, ekstrak etanol kelopak bunga rosela 200, 400, 600 mg/kg BB mempunyai potensi untuk menurunkan KGD (kadar glukosa darah), hal ini tampak dari besarnya area di bawah kurva dengan pemberian ekstrak etanol 200, 400, 600 mg/kg BB dibandingkan dengan pemberian CMC 0,5%
sebagai kontrol negatif, dan ekstrak etil asetat 200, 400, 600 mg/kg BB.
4.3.2 Hasil Pengukuran KGD Mencit Setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak n-heksan Kelopak Bunga Rosela
Masing-masing kelompok mencit diabetes diberi perlakuan yaitu kelompok dengan pemberian suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok dengan pemberian glibenklamid sebagai kontrol positif, kelompok dengan pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian
0
CMC 0,5% Glibenklamid etanol D1 etanol D2 etanol D3 etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB. Hasil pengukuran KGD mencit ditunjukkan pada Tabel 4.4, Gambar 4.2, dan Gambar 4.3.
Tabel 4.4 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan Kelompok
Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (KGD) mg/dl Normal Diabetes
Berdasarkan Tabel 4.4 tampak bahwa pemberian ekstrak n-heksan kelopak bunga rosela dalam berbagai dosis menunjukkan efek yang sangat rendah dibandingkan dengan kelompok yang diberi glibenklamid, di mana kelompok dengan pemberian glibenklamid memberikan efek penurunan KGD yang sangat baik. Ini berarti bahwa ekstrak n-heksan 200 mg, 400 mg, dan 600 mg tidak mempunyai aktivitas antidiabetes.
Gambar 4.2. Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan Ket: D1 = dosis 200 mg/kg BB
D2 = dosis 400 mg/kg BB D3 = dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD (mg/dl)
CMC Glibenklamid nheksan D1 nheksan D2 nheksan D3
Gambar 4.3. Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan
Ket: D1 = dosis 200 mg/kg BB D2 = dosis 400 mg/kg BB D3 = dosis 600 mg/kg BB
Tabel 4.5 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak n-heksan
Minggu KGD
CMC Glibenklamid nheksan D1 nheksan D2 nheksan D3
II
Berdasarkan hasil uji beda Duncan yang mengelompokkan kelompok yang tidak memiliki signifikansi secara statistik ke dalam subset yang sama, tampak bahwa kelompok glibenklamid tidak pernah berada dalam subset yang sama sejak minggu I. Dari gambar 4.3 tampak bahwa glibenklamid telah menunjukkan efek penurunan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok yang diberikan ekstrak n-heksan dan CMC 0,5%, yang semakin dipertegas oleh data statistik yang selalu menunjukkan signifikansi data pada kelompok glibenklamid dibanding dengan kelompok ekstrak n-heksan dan kelompok CMC 0,5%.
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (99,72) > F tabel (2,78), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.5 tampak bahwa pemberian glibenklamid menunjukkan penurunan KGD yang memiliki perbedaan yang nyata dibanding pemberian ekstrak n-heksan dan CMC 0,5%, sedangkan kelompok ekstrak n-heksan dosis 600 mg/kg BB tidak menunjukkan signifikansi secara statistik dengan kelompok ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB yang berarti memiliki aktivitas yang sama secara statistik; namun memiliki perbedaan nyata terhadap pemberian ekstrak n-heksan dosis 400 mg/kg BB dan CMC 0,5%.
Kelompok ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB, dosis 400 mg/kg BB, dan CMC 0,5% tidak menunjukkan signifikansi secara statistik karena berada dalam subset yang sama.
4.3.3 Hasil Pengukuran KGD Mencit Setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak Etil Asetat Kelopak Bunga Rosela
Masing-masing kelompok mencit diabetes diberi perlakuan yaitu kelompok dengan pemberian suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok dengan pemberian glibenklamid sebagai kontrol positif, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, Hasil pengukuran KGD mencit ditunjukkan pada Tabel 4.6, Gambar 4.4, dan Gambar 4.5.
Tabel 4.6 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat Kelompok
Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (KGD) mg/dl normal diabetes Berdasarkan Tabel 4.6 tampak bahwa pemberian ekstrak etil asetat kelopak bunga rosela dalam berbagai dosis tidak menunjukkan penurunan KGD, di mana tidak terdapat signikansi data penurunan KGD ekstrak etil asetat dengan kelompok kontrol dengan pemberian CMC 0,5%. Ini berarti bahwa ekstrak etil asetat 200 mg, 400 mg, dan 600 mg tidak mempunyai aktivitas antidiabetes sama sekali.
Gambar 4.4. Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD (mg/dl)
CMC Glibenklamid etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
Gambar 4.5. Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
Tabel 4.7 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak etil asetat
Minggu KGD
CMC Glibenklamid etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
II
Pada kelompok ekstrak etil asetat dari minggu I hingga V juga menunjukkan performa yang memiliki signifikansi secara statistik dengan kelompok glibenklamid, yang berarti bahwa aktivitas kelompok etil asetat tidak tampak sama sekali apabila dibandingkan dengan aktivitas penurunan kadar glukosa darah yang terdapat pada kelompok dengan pemberian glibenklamid.
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (165,184) > F tabel (2,78), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (165,184) > F tabel (2,78), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan