BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3.5. Prosedur Penelitian
3.5.4. Pembuatan Larutan Sampel
C selama 40 menit hingga semua serbuk kulit telur larut, lalu didinginkan (Carlos, 2006).
Larutan hasil destruksi dituangkan ke dalam labu tentukur 100 ml. Erlenmeyer dibilas dengan air suling bebas CO2 sebanyak 3 kali masing-masing sebanyak 5 ml kemudian disatukan dengan filtrat sebelumnya dan dicukupkan dengan air suling bebas CO2 sampai garis tanda. Larutan disaring dengan kertas saring Whatmann No. 40. 5 ml filtrat pertama dibuang untuk menjenuhkan kertas saring kemudian filtrat berikutnya ditampung di dalam labu tentukur 100 ml. Larutan ini digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif.
3.5.5 Analisis Kualitatif 3.5.5.1 Uji Organoleptis
Pengujian organoleptis dilakukan terhadap kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik dengan memperhatikan kerapuhan dari masing-masing kulit telur.
3.5.5.2 Analisis Kualitatif Kalsium
3.5.5.2.1 Dengan penambahan larutan asam sulfat 2 M
Sebanyak 3 tetes larutan sampel diteteskan pada object glass kemudian ditambahkan 3 tetes larutan asam sulfat 2 M. Object glass dipanaskan beberapa detik untuk memekatkan larutan. Kemudian dilihat di bawah mikroskop. Terlihat kristal kalsium sulfat bentuk jarum (Vogel, 1985). Gambar kristal dapat dilihat pada Lampiran 16.
3.5.5.2.2 Dengan penambahan larutan amonium oksalat 0,1 M
Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 ml larutan sampel, lalu ditambahkan larutan amonium hidroksida 12% v/v untuk membasakan larutan. Kemudian ditambahkan 2 ml larutan amonium oksalat 0,1 M, lalu dikocok, dan didiamkan. Terbentuk endapan putih. Endapan dipipet dan diteteskan pada object glass. Diamati di bawah mikroskop, terlihat kristal kalsium oksalat bentuk amplop (Vogel, 1985). Gambar kristal dapat dilihat pada Lampiran 17.
3.5.5.3 Analisis Kualitatif Karbonat
Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 2 gram sampel, ditambahkan 5 ml asam nitrat 6 M dan tabung reaksi disumbat dengan gabus kayu yang sudah dipotong sesuai ukuran mulut tabung reaksi. Kemudian dimasukkan pipa ke
dalam tabung reaksi. Tabung reaksi yang berisi sampel dipanaskan di dalam penangas air. Gas CO2
3.5.6 Analisis Kuantitatif Kalsium
yang dihasilkan mengalir melalui pipa ke dalam tabung reaksi lain yang berisi air barit. Kekeruhan yang dihasilkan menunjukkan adanya karbonat (Vogel, 1985).
3.5.6.1 Penentuan Panjang Gelombang Absorbansi Maksimum Kalsium Penentuan panjang gelombang absorbansi maksimum kalsium dilakukan dengan terlebih dahulu menghidupkan tombol power pada alat Spektrofotometer Serapan Atom. Kemudian diatur lampu yang digunakan yaitu lampu katoda berongga kalsium. Kemudian diatur panjang gelombang yang digunakan yaitu pada 422,7 nm. Maka secara otomatis alat akan memberikan kurva absorbansi maksimum untuk kalsium. Kurva absorbansi maksimum kalsium dapat dilihat pada Lampiran 1. Panjang gelombang yang diperoleh pada absorbansi maksimum digunakan untuk pengukuran kalsium.
3.5.6.2 Penentuan Linieritas Kalibrasi Larutan Baku Kalsium
Larutan baku kalsium (1000 mcg/ml) dipipet sebanyak 20 ml, dan dimasukkan ke dalam labu tentukur 200 ml lalu diencerkan dengan air suling bebas CO2 hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (100 mcg/ml) dipipet 5, 10, 15, 20, 25, 32,5 ml, masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dan ditambahkan 5 ml larutan strontium klorida, setelah itu diencerkan dengan air suling bebas CO2 hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 10, 20, 30, 40, 50, 65 mcg/ml. Larutan tersebut diukur dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang absorbansi maksimum
422,38 nm dan dibuat kurva kalibrasi untuk larutan standar kalsium (Berdasarkan Orientasi).
3.5.6.3 Analisis Kalsium dalam Sampel
Larutan sampel sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml dan diencerkan dengan air suling bebas CO2 hingga garis tanda. Dari larutan tersebut dipipet 15 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, lalu ditambahkan 5 ml larutan strontium klorida dan diencerkan dengan air suling bebas CO2
3.5.6.4 Perhitungan Kadar Kalsium dalam Sampel
hingga garis tanda (faktor pengenceran=1000/15). Larutan sampel diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang absorbansi maksimum 422,38 nm. Data dapat dilihat pada Lampiran 3.
Konsentrasi kalsium dalam sampel ditentukan berdasarkan persamaan garis regresi linier dari linieritas kalibrasi. Dan kadar kalsium dalam sampel ditentukan menggunakan rumus :
Kadar (mcg/ml) = W CxVxFp
Keterangan : C = Konsentrasi larutan sampel (mcg/ml) V = Volume larutan sampel (ml)
Fp = faktor pengenceran W = Berat sampel (g) Data dapat dilihat pada Lampiran 3.
3.5.7 Analisis Statistik 3.5.7.1 Uji Q Test
Analisis statistik dilakukan dengan Q test. Cara untuk melakukan analisis terhadap data yang menyimpang adalah dengan Dixon’s Q-test yang dirumuskan sebagai berikut:
Qhitung
(nilai tertinggi- nilai terendah) = nilai yang dicurigai-nilai terdekat
Jika nilai Qhitung lebih kecil dari nilai Qkritis
Nilai Q
maka hipotesis nol diterima berarti tidak ada perbedaan antara nilai yang dicurigai dengan nilai-nilai yang lain (Rohman, 2007).
kritis
Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6, 7 dan 8. dapat dilihat pada Lampiran 5.
3.5.7.2 Perhitungan Statistik Rata-Rata Kadar Kalsium dalam Sampel
Kadar kalsium yang diperoleh dari hasil pengukuran larutan sampel, ditentukan rata-ratanya secara statistik dengan taraf kepercayaan 95% dengan rumus sebagai berikut:
µ = X± t (½ α, df)s/ n
Keterangan : µ = Interval kepercayaan kadar sampel X = Kadar rata-rata sampel
t(½ α, df) = nilai t kritis
nilai distribusi t dapat dilihat pada Lampiran 13. dengan df (derajat bebas) = n-1
s = Simpangan Baku
Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 6, 7 dan 8. 3.5.7.3 Pengujian Beda Rata-Rata
Pada penelitian dilakukan analisis statistik dari data yang didapatkan dengan menggunakan analisis variance satu arah yang bertujuan untuk mengetahui apakah rata-rata kelompok sama (Ho : σ12 = σ22) atau berbeda (H1 : σ12 ≠ σ22
Nilai F
) (Irianto, 2004).
hitung
F
dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
hitung
MSw MSb =
Keterangan: MSb = deviasi rata-rata kuadrat antar kelompok MSw= deviasi rata-rata kuadrat dalam kelompok Nilai distribusi F dapat dilihat pada Lampiran 14.
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata kelompok, maka dilanjutkan dengan perhitungan Tukey’s HSD untuk mengetahui secara pasti rata-rata yang berbeda dengan yang lainnya (Irianto, 2004).
HSD = q n MSw
Keterangan: q = the studenzed range statistic n = banyak sampel per kelompok
Nilai Studentized Range Statistic (q) dapat dilihat pada Lampiran 15.
Dengan membandingkan perbedaan rata-rata populasi dengan HSD maka dapat diketahui mana yang mempunyai perbedaan secara signifikan.
3.5.8 Uji Perolehan Kembali 3.5.8.1 Pembuatan Larutan Baku
Larutan baku kalsium (100 mcg/ml) dipipet 16,6 ml lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml, setelah itu ditambahkan 5 ml larutan strontium klorida dan diencerkan dengan air suling bebas CO2
3.5.8.2 Prosedur Uji Ketepatan
hingga garis tanda (konsentrasi 33,27 mcg/ml).
Serbuk kulit telur ditimbang sebanyak 1 gram, dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu ditambahkan 1 ml larutan baku kalsium (konsentrasi 33,27 mcg/ml). Selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama seperti 3.5.3, 3.5.4 dan 3.5.6.3. lalu dihitung persentase uji perolehan kembali (uji recovery) dengan rumus:
Uji perolehan kembali (%) =
x100% n ditambahka yang baku kalsium Jumlah sampel dalam analit al Jumlah tot -analit al Jumlah tot (Harmita, 2004) Data dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11.
3.5.9 Penentuan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi
Penentuan batas deteksi dapat dihitung berdasarkan pada standard deviasi (SD) respon dan kemiringan (slope) linieritas baku dengan rumus:
SD = 2 ) ( 2 − −
∑
n Yi Y LOD = slope xSD 3Sedangkan untuk penentuan batas kuantitasi dapat digunakan rumus: LOQ = slope xSD 10 (Harmita, 2004)