• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOTAL DPT DARI TPS

B. Eksepsi tentang Permohonan Pemohon “nebis in idem”

II. Dalam Pokok Permohonan

3. Pembukaan kotak pada setiap distrik di 17 distrik dilakukan oleh

PPD setiap distrik atas permintaan panwaslih untuk menyalin dokumen, karena kunci Kotak dipegang oleh PPD. (vide bukti

T-9, T-10)

12.2. Bahwa mengenai 87 TPS baru diplenokan oleh Termohon pada

tanggal 7 September dikarenakan bahwa pada pleno rekapitulasi tanggal 24 Februari 2017 belum sempat diplenokan karena adanya rekomendasi dari panwaslih Kabupaten Jayapura untuk melakukan pemungutan suara ulang di 236 TPS, atas hal tersebut KPU Kabupaten Jayapura menunda pleno sampai dengan pelaksanaan PSU. (bukti T-11, T-12, T-13, T-14, T-77)

12.3. Bahwa terhadap dalil Pemohon poin 38 mengenai pengakuan staf KPU atas nama Trida Asmuruf telah membuka kotak atas perintah Komisioner KPU atas nama Renida Torobi, kejadian tersebut bukanlah Pengisian C-1 Hologram yang dimaksudkan untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Perlu Termohon klarifikasi bahwa kejadian yang sebenarnya adalah, Sdr. Trida Asmuruf melakukan pengecekan pada setiap kotak TPS untuk mengecek dan mengisi berita acara serah terima barang mengenai dokumen yang masuk ke kantor KPU yang disaksikan oleh Ketua PPD, dan pada saat mengecek logistik di kampung Bangai, terdapat 1 Formulir C1-KWK yang tidak berhologram, dan setelah di cek ternyata terselip di

dalam kotak lainnya. , seandainya benar ada pengisian C-1 KWK berhologram yang angka perolehan suaranya berubah, quod non, maka dapat dipastikan pada saat pleno rekapitulasi perhitungan suara tingkat Kabupaten terdapat keberatan dari saksi-saksi pasangan calon tentang perubahan hasil perolehan suara berdasarkan copy C-1 KWK KPU yang dipegang masing-masing saksi pasangan calon. Hal tersebut tidak pernah diajukan saksi Pemohon dalam pleno tingkat Kabupaten.

12.4. Bahwa terhadap 87 TPS tersebut sudah barang tentu Pemohon memperoleh salinan C1, dan apabila terdapat pergantian/perubahan perolehan suara sudah sangat dipastikan akan diketahui oleh Pemohon. Namun Pemohon meminta 87 TPS untuk diulang hanya dengan alasan bahwa kotak sudah terbuka dan baru diplenokan tanpa menunjukkan bukti mengenai adanya perbedaan perolehan suara antara C1 Pemohon dengan C1 Termohon, karena memang tidak ada perbedaan perolehan suara di 87 TPS tersebut.

12.5. Bahwa KPU RI telah bersurat dan memerintahkan Termohon untuk menjaga dokumen C1 di 87 TPS tersebut, karena di 87 TPS tersebut sudah dicermati oleh Panwaslih Kabupaten Jayapura, KPU Kabupaten Jayapura, 5 Pasangan calon, Bawaslu Provinsi dan setelah dicermati tidak terdapat masalah dan tidak ada rekomendasi untuk diulang. dengan demikian dalil pemohon a quo tidak terbukti dan beralasan hukum untuk ditolak; (T-35)

13. Terhadap dalil Pemohon mengenai pelaksanaan PSU di Distrik Airu pada TPS 01 Kampung Naira dibuka jam 07.00 s.d. 17.00 WIT

13.1. Bahwa Terhadap dalil Pemohon poin 42 s.d. 43 mengenai pelaksanaan Pemungutan suara ulang di TPS 1 Kampung Naira Distrik Airu dilaksanakan sampai dengan pukul 17.00 dapat Termohon jelaskan bahwa hal tersebut sudah Termohon klarifikasi pada saat pleno rekapitulasi tanggal 7 September 2017. PPD, PPS dan Panwas Distrik Airu menyatakan bahwa pelaksanaan pemungutan suara sampai dengan pukul 17.00 dikarenakan logistik pemilu memang baru sampai ke TPS 01 Kampung Naira pada pukul

13.00 WIT. Meskipun Termohon telah mengantisipasinya dengan memberangkatkan logistik 3 hari sebelum Pemungutan Suara, karena terkendala medan yang mengharuskan jalan darat yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Untuk menuju TPS 01 Kampung Naira Distrik Airu, harus melintasi Kota Jayapura menuju ke Kabupaten Keroom, kemudian naik sampan dari Keroom menuju Kampung Naira. Dari dermaga Kampung Naira menuju TPS 01 Kampung Naira hanya ditempuh dengan jalan kaki selama 3 (tiga) jam. Pada saat itu juga KPPS meminta persetujuan saksi pasangan calon yang hadir dan semua saksi dapat memakluminya dan permasalahan tersebut sudah selesai pada saat pleno rekapitulasi di tingkat Kabupaten, namun sekarang oleh Pemohon dipermasalahkan kembali. Padahal, kondisi demikian pun telah disetujui oleh Panwas Distrik Airu untuk tetap dilaksanakan sampai pukul 17.00 WIT. Dengan demikian, dalil Pemohon tidak terbukti dan beralasan hukum untuk ditolak.

14. Rekapitulasi Daerah dan TPS, DPT yang bermasalah dan perlu dibatalkan hasilnya

14.1. Bahwa terhadap dalil Pemohon poin 44 mengenai tuduhan pelaksanaan PSU yang carut marut dan kemudian mengkalkulasikan jumlah DPT di TPS yang dianggap bermasalah oleh Pemohon sebanyak 42.714 suara sehingga seolah-olah atas pelanggaran tersebut hasilnya signifikan untuk diulang adalah tidak benar dan mengada-ada. Dalam setiap dalilnya Pemohon sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai sengketa perolehan hasil namun hanya mempermasalahkan mengenai proses tahapan yang ranahnya bukan di Mahkamah Konstitusi.

14.2. Bahwa Termohon mengutip pertimbangan hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PHP.BUP-X1V/2016, bertanggal 22 Februari 2016, paragraf [3.14] pada halaman 309-310 untuk menanggapi dalil Pemohon a quo, yang menyatakan sebagai berikut: [3.14] Menimbang bahwa terhadap dalil-dalil lain Pemohon berkenaan dengan pelanggaran-pelanggaran yang tidak terkait

dengan perolehan hasil penghitungan suara, Mahkamah penting menegaskan kembali hal-hal berikut:

1. Bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-X11/2013, bertanggal 19 Mei 2014, pemilihan gubernur, bupati, dan walikota yang didasarkan pada UU 1/2015 sebagaimana telah diubah dengan UU 8/2015 telah sama sekali berbeda dengan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota berdasarkan Undang-Undang sebelumnya (yang disebut Pemilukada). Oleh karena itu, Mahkamah tidak lagi memutus pelanggaran pelanggaran yang tidak berkait langsung dengan perolehan suara hasil pemilihan, terlebih lagi bahwa kewenangan Mahkamah untuk memeriksa dan mengadili perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota adalah bersifat sementara sampai dibentuknya badan peradilan khusus untuk melaksanakan kewenangan dimaksud, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 157 ayat (3) UU 8/2015; 2. Bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang, khususnya Pasal 134 sampai dengan Pasal 155 telah mengatur penyelesaian pelanggaran sesuai dengan tahapannya, yang harus diupayakan terlebih dahulu oleh Pemohon;

3. Bahwa pelanggaran pelanggaran yang didalilkan oleh Pemohon yang tidak terkait langsung dengan perolehan suara masing-masing pasangan calon dan yang bukan merupakan kewenangan Mahkamah seharusnya diselesaikan sesuai dengan prosedur dan tahapannya sebagaimana telah diatur dalam UU 1/2015 sebagaimana telah diubah dengan UU 8/2015;

Dengan demikian, berdasarkan uraian argumentasi tanggapan/bantahan sebagaimana Termohon sampaikan di atas yang dikuatkan dengan alat bukti, bahwa Pemohon di dalam permohonannya tidak mampu menyebutkan

secara jelas dan terinci tentang kejadian-kejadian yang dituduhkan tersebut dan berapa besar pengaruh atau signifikansinya terhadap perolehan suara antara Pemohon dengan Peraih Suara Terbanyak yang selisihnya mencapai

23.048 suara.

Maka, oleh karenanya permohonan Pemohon beralasan hukum untuk ditolak seluruhnya. Selain daripada itu, juga telah menunjukkan secara terang benderang bahwa terhadap permohonan yang diajukan oleh Pemohon dengan selisih perolehan suara diatas ambang batas maksimal atau lebih dari 2%, nyata-nyata telah tidak mempunyai legal standing atau kedudukan hukum, dan oleh karenanya beralasan hukum untuk dijatuhkan dalam putusan dismissal sebagaimana putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu dalam perselisihan hasil pemilihan serentak sejak 2015 sampai dengan saat ini.

III. PETITUM

Atas dasar dalil-dalil bantahan dan klarifikasi yang didukung alat bukti yang kuat dan tidak terbantahkan sebagaimana Termohon uraikan di atas, maka perkenankan Termohon memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi yang memeriksa perkara a quo untuk menjatuhkan putusan dengan amar sebagai berikut:

Menjatuhkan Putusan Dismissal atas dasar permohonan Pemohon yang tidak mempunyai legal standing atau kedudukan hukum: