• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MEREK DAN PROSES

2.2. Pembuktian

Perlindungan hukum terhadap merek di Indonesia adalah melalui pendaftaran. Hal ini disebut dengan sistem konstitutif atau first to file system27.

Dalam sistem konstitutif, pendaftar pertamalah yang akan mendapatkan hak atas merek. Sistem ini lebih memberikan jaminan perlindungan hukum karena asumsi hukum yang timbul bahwa pemohon pertama yang mengajukan pendaftaran dengan iktikad baik adalah pihak yang berhak atas merek, sampai terbukti sebaliknya.28

Jangka waktu perlindungan merek diatur dalam Pasal 18 TRIPs yang menyatakan bahwa jangka waktu perlindungan merek baik yang baru didaftarkan maupun yang diperpanjang adalah selama 7 (tujuh) tahun, sementara Undang-Undang Merek Indonesia menetapkan jangka waktu yang lebih lama yaitu 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal penerimaan dan dapat diperpanjang yang diatur dalam Pasal 28 Undang-Undang Merek. Perpanjangan jangka waktu perlindungan merek diatur dalam Pasal 35 sampai dengan Pasal 38 Undang-Undang Merek, di mana diatur bahwa merek yang telah didaftarkan dapat diperpanjang kembali pendaftarannya dan mendapatkan perlindungan selama 10 (sepuluh) tahun lebih lama dengan syarat permohonan tersebut harus diajukan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu perlindungan bagi Merek terdaftar tersebut dan barang dan atau jasa yang menggunakan merek tersebut masih diproduksi dan diperdagangkan.

2.2. Pembuktian

27Rahmi Jened,Op. cit. h.144

28

2.2.1. Proses Pembuktian dalam Peradilan Perdata Umum

Dalam hukum Acara Perdata dikenal asas “siapa yang mendalikan suatu hak wajib membuktikan haknya tersebut” sebagaimana ditentukan dalam Pasal 163 HIR/283 RBg, Ketentuan tersebut juga berlaku dalam hal perkara merek, di mana pihak penggugat harus membuktikan bahwa penggugat menderita kerugian karena perbuatan melanggar hukum tergugat.

Gugatan perbuatan melawan hukum dalam perkara merek tidak dapat digabungkan dengan permohonan pembatalan merek karena upaya hukumnya tunduk pada hukum acara perdata dan sebaiknya gugatan ganti rugi atas perbuatan melanggar hukum, didahului adanya putusan gugatan pembatalan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Dalam perkara gugatan ganti rugi juga dapat dilakukan oleh pemilik merek terdaftar baik secara sendiri atau bersama-sama dengan pemilik merek yang bersangkutan dan Hakim dalam memeriksa gugatan dapat memerintahkan tergugat untuk menghentikan perdagangan barang dan jasa yang menggunakan merek secara tanpa hak atas permohonan pihak penggugat.

Permohonan untuk menghentikan penggunaan merek tersebut merupakan tuntutan provisi sebagaimana diatur dalam Pasal 10 HIR dan apabila tergugat dituntut menyerahkan barang yang menggunakan merek yang bukan haknya, hakim dapat memerintahkan penyerahan tersebut setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap.

Adanya hubungan hukum antara penggugat dan tergugat tersebut harus dapat dibuktikan apabila penggugat menghendaki gugatannya untuk dikabulkan,

29

sebaliknya jika pengugat tidak berhasil membuktikan dalil yang menjadi dasar gugatannya, maka hakim akan menolak gugatan penggugat tersebut. Dalam prakteknya, tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya, karena dalil-dalil yang tidak disangkal dan diakui oleh pihak tergugat tidak perlu untuk dibuktikan29.

Hakim yang memeriksa perkara tersebut dapat menentukan siapa di antara pihak - pihak yang berperkara akan dibebani pembuktian dan dalam hal ada pengakuan dengan klausula biasanya pihak tergugat dibebani pembuktian tentang klausulanya tersebut.

Ada beberapa alat bukti sebagaimana ditentukan dalam Pasal 164 HIR yaitu: a. bukti surat; b. bukti saksi; c. persangkaan; d. pengakuan; e. sumpah.

Alat bukti lain yang dapat digunakan ialah “pengetahuan hakim”, yang merupakan keadaan yang diketahuinya sendiri oleh hakim dalam sidang, misalnya hakim melihat saat melakukan pemeriksaan setempat bahwa benar ada barang-barang milik penggugat yang dirusak oleh tergugat dan sampai seberapa jauh kerusakannya itu.

Dalam perkara perdata, bukti surat adalah bukti yang penting dan utama, terutama dalam lalu lintas perdagangan seringkali sengaja disediakan suatu bukti yang dapat dipakai apabila di kemudian hari timbul suatu perselisihan, di mana

29Riduan Syahrani, 2009,Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata,Citra Aditya Bakti, Bandung, h.86

30

bukti tersebut dapat berupa sehelai surat dan untuk penerimaan sejumlah barang, biasanya salah satu pihak harus menandatangani surat tanda penerimaan barang.

Surat dalam hukum acara perdata dapat dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, dengan perkataan lain hukum acara perdata mengenal 3 (tiga) macam surat ialah :

a. surat biasa; b. akta otentik;

c. akta di bawah tangan.

Selain surat, dalam hukum acara perdata pembuktian dengan saksi merupakan hal yang penting, terutama untuk perjanjian - perjanjian dalam hukum adat yang pada umumnya dibuat tanpa adanya surat karena didasarkan kepada rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Maka dari itu para pihak akan berusaha untuk mengajukan saksi yang dapat membenarkan maupun menguatkan dalil-dalil yang diajukan dalam gugatan di muka persidangan.

Mengenai alat bukti saksi diatur dalam Pasal 139 sampai dengan Pasal 152, Pasal 168 sampai dengan Pasal 172 HIR.

Pada lingkup hukum adat dikenal 2 (dua) macam saksi, yaitu30:

a. saksi yang tidak disengaja, yaitu saksi yang secara kebetulan melihat dan mendengar sendiri perbuatan hukum yang diperkarakan;

b. saksi yang disengaja, yaitu saksi yang pada waktu perbuatan hukum dilakukan telah diminta oleh para pihak untuk menyaksikan perbuatan hukum tersebut.

Selain saksi, alat bukti lainnya dalam hukum acara perdata adalah persangkaan yang diatur dalam Pasal 164 dan Pasal 173 HIR. Persangkaan adalah suatu kesimpulan yang ditarik dari peristiwa yang dikenal atau dianggap terbukti,

30Djamal, 2009,Hukum Acara Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Di Indonesia, Penerbit Pustaka Reka Cipta, Bandung, h.75

31

dengan mana diketahui adanya suatu peristiwa yang tidak dikenal. Apabila yang menarik kesimpulan adalah undang-undang maka persangkaan tersebut dinamakan persangkaan undang-undang, dan apabila yang menarik kesimpulan adalah hakim maka persangkaan tersebut dinamakan persangkaan hakim.

Alat bukti lainnya adalah pengakuan, yang diatur dalam Pasal 174 sampai dengan Pasal 176 HIR. Pengakuan merupakan keterangan baik tertulis maupun tidak tertulis yang membenarkan peristiwa, hak, atau hubungan hukum yang dikemukakan pihak lawan. Pengakuan dapat dibagi atas dua macam yaitu pengakuan yang dilakukan di depan sidang pengadilan dan pengakuan yang dilakukan di luar sidang pengadilan.

Menurut ketentuan Pasal 174 HIR, pengakuan merupakan bukti yang sempurna terhadap siapa yang melakukannya, baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain yang telah mendapat kuasa khusus untuk itu. Dengan demikian maka apabila salah satu pihak mengakui apa yang didalilkan oleh pihak lawan, maka tidak perlu lagi dilakukan pembukyian karena dengan pengakuan tersebut sudah cukup untuk membuktikan peristiwa atau hubungan hukum yang menimbulkan hak baginya. Pengakuan yang dilakukan didepan sidang pengadilan tidak dapat ditarik kembali kecuali jika terbukti bahwa pengakuan tersebut adalah akibat suatu kekeliruan mengenai hal-hal yang terjadi, yang bukan karena kekeliruan tentang hubungannya, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 1926 ayat (2) BW.

Pengakuan yang dilakukan diluar persidangan tidak merupakan bukti yang mengikat, tetapi meriupakan bukti bebas, sebagaimana diamanatkan Pasal 175

32

HIR. Apabila pengakuan tersebut dilakukan secara tertulis maka tulisan tersebut juga dapat dijadikan alat bukti surat bukan akta yang mempunyai kekuatan bebas. Pengakuan diluar persidangan dapat ditarik kembali.

Dalam hukum acara dikenal juga bukti sumpah yang terdiri dari 2 (dua) macam sumpah, diantaranya adalah sumpah yang dibebankan oleh hakim dan sumpah yang dimohonkan oleh pihak lawan. Suatu keterangan yang dikuatkan dengan sumpah itu adalah keterangan yang benar dan bahwa orang yang disumpa tidak akan berani berbohong, oleh karena apabila ia memberikan keterangan yang bohong, ia akan dihukum oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Takut akan adanya hukuman yang berat tersebut, dikira oleh hukum, bahwa orang akan tidak bersedia untuk mengangkat sumpah yang dibebankan kepadanya itu, apabila hal yang dikuatkan dengan sumpah itu adalah tidak benar.

Ketentuan Pasal 177 HIR menyebutkan, bahwa apabila sumpah telah diucapkan, hakim tidak diperkenankan lagi untuk meminta bukti tambahan dari orang yang disumpah itu, yaitu perihal dalil yang dikuatkan dengan sumpah dimaksud. Pasal 155 HIR mengatur perihal sumpah penambah, yang menyatakan:

“jika kebenaran gugatan atau kebenaran pembelaan melawan gugatan itu tidak menjadi terang secukupnya, akan tetapi keterangan tidak sama sekali ada dan tiada kemungkinan akan meneguhkan dia dengan upaya keterangan yang lain, dapatlah Pengadilan Negeri karena jabatannya menyuruh salah satu pihak bersumpah di hadapan hakim, supaya dengan itu keputusan perkara didapatkan, atau supaya dengan itu jumlah uang yang akan diperkenankan, dapat ditentukan.”

Pengadilan Negeri harus menentukan jumlah uang, yang sehingga jumlah mana si penggugat dapat dipercaya karena sumpahnya. Berdasarkan redaksi ayat (1) di atas ternyata, bahwa sehubungan dengan sumpah penambah harus sudah

33

ada bukti, tetapi bukti tersebut belum lengkap, belum sempurna, oleh karena itu ditambah dengan bukti yang lain. Dalam upaya mendapatkan bukti yang lain sudah tidak mungkin lagi, dengan lain perkataan bukti yang sudah ada dan belum cukup itu, tidak bisa ditambah dengan bukti yang lain.

Karena sumpah tersebut untuk melengkapi, menambah bukti yang belum lengkap itu, maka sumpah tersebut dinamakan sumpah penambah (suppletoire eed) . Mahkamah Agung dalam putusan tertanggal 17 Oktober 1962 No. 213 K/Sip/1962 menyatakan, bahwa :

“sumpah tambahan justru untuk menambah suatu pembuktian, yang

menurut undang - undang belum sempurna, agar menjadi

sempurna.Sumpah penambah dibebankan oleh hakim karena jabatannya, hal itu berarti bahwa hakim yang menentukan sendiri, apakah ia akan menambah pembuktian yang telah ada, akan tetapi belum cukup itu, dengan sumpah penambah atau tidak. Apabila hakim menganggap perlu, maka ia bebas untuk menambah bukti tersebut dengan sumpah penambah.”

Dalam prakteknya adalah tidak wajar, bahwa pihak yang bersangkutan sendiri meminta kepada hakim agar ia diperkenankan menambah bukti yang telah ada dan belum cukup itu dengan sumpah penambah, melainkan hanya hakim sendiri yang, tanpa ada permintaan dari pihak yang bersangkutan, karena jabatan, akan memerintahkan sumpah tersebut.

Pembebanan sumpah penambah kepada pihak yang bersengketa adalah suatu kebijaksanaan hakim, dengan lain perkataan hakim sama sekali tidak berkewajiban untuk menambah bukti tersebut dengan sumpah penambah, sehingga tidak adanya kewajiban itu, apabila hakim yakin, bahwa pihak yang akan dibebani sumpah penambah itu akan melakukan sumpah palsu, maka ia tidak

34

akan memerintahkan kepada pihak tersebut untuk mengangkat sumpah, melainkan ia akan menolak gugatan tersebut.

Ketentuan Pasal 156 HIR mengatur perihal sumpah pemutus.atau sumpah decisoir memutuskan persoalan, menentukan siapa yang harus dikalahkan dan siapa yang harus dimenangkan, sehingga sumpah tersebut juga disebut sumpah penentu.

Bertolak dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa proses pembuktian dlam perkara merek yang terkait dengan tuntutan ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum, menggunakan alat-alat bukti sebagaimana ditentukan dalam HIR.

2.2.2. Pelanggaran Merek dan Proses Pembuktian di Pengadilan Niaga

Apabila terjadi pelanggaran merek yang dilakukan oleh pihak lain, maka berdasarkan aturan Pasal 76 ayat (1) Undang-Undang Merek, pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau pada keseluruhannya untuk barang dan atau jasa sejenis berupa gugatan ganti rugi, dan/atau penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut. Gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Niaga (Pasal 76 ayat (2)).

Gugatan ganti rugi dan/atau penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan penggunaan merek tersebut dapat dianggap wajar, karena merugikan

35

pemilik merek secara materiil dan imateriil.31 Kerugian materiil yang diderita pemilik merek dapat berupa kerugian finansial karena pelanggaran merek yang dilakukan oleh pihak lain, yang menyebabkan berkurangnya keuntungan yang seharusnya didapatkan dari penjualan barang dan/atau jasa milik pemilik merek yang dilanggar haknya. Namun kerugian imateriil yang diderita pemilik merek cenderung lebih besar karena dapat merusak citra baik merek yang telah dibangun sejak lama, di mana kualitas dari barang dan/atau jasa produksi pemilik merek yang sah tentu saja berbeda dengan produksi pihak pengguna merek tanpa hak tersebut.

Pada prinsipnya, pelanggaran merek dapat dikategorikan dalam tiga area utama yaitu:32

a. Pelanggaran yang menyebabkan persamaan yang membingungkan mengenai sumber, sponsor, afiliasi atau koneksi.

b. Pemalsuan dengan penggunaan merek yang secara substansial tidak dapat dibedakan yang dipersyaratkan untuk pemulihan tiga kali lipat dari jumlah kerugian sebenarnya sebagaimana dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan dan untuk penuntutan pidana.

c. Dilusi merek yang mengurangi kapasitas sebuah merek terkenal untuk mengidentifikasikan dan membedakan barang atau jasanya, terkait dengan persaingan atau persamaan yang membingungkan.

Dalam Undang-Undang Merek, hanya diatur mengenai tata cara pengajuan gugatan ke Pengadilan Niaga, tetapi tidak diatur mengenai tata cara pembuktian dalam proses peradilan perkara sengketa merek. Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia juga belum diatur mengenai Pengadilan Niaga. Hal ini dapat ditemukan dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, yang menyatakan bahwa tata cara pemeriksaan persidangan perkara

31Ahmadi Miru, 2005,Hukum Merek: Cara Mudah Mempelajari Undang-Undang Merek, Jakarta, RajaGrafindo Persada, h. 93

36

HKI adalah sesuai dengan tata cara pemeriksaan perkara perdata biasa. Proses peradilan perdata sendiri masih mengacu kepada HIR (Reglemen Indonesia yang diperbaharui) peninggalan kolonial sebagai dasar hukum beracaranya. Oleh sebab itu, maka pembuktian dalam perkara sengketa merek sama dengan pembuktian acara perdata biasa.

Terhadap keputusan pengadilan niaga tidak dapat diajukan banding, tetapi dapat diajukan langsung kasasi. Hal ini dapat lebih mempermudah dan mempercepat keputusan yang sangat diperlukan bagi dunia bisnis pada umumnya.33

2.2.3. Delik Dalam Merek

Ketentuan Pidana dalam Undang-Undang Merek terdapat dalam Pasal 90 sampai dengan Pasal 95, di mana tindak pidana dalam merek merupakan delik aduan (Pasal 95 Undang-Undang Merek). Dalam hukum pidana, delik aduan adalah delik yang hanya dapat dituntut apabila diadukan oleh pihak yang merasa dirugikan dengan cara membuat pengaduan kepaada pihak yang berwenang.

Pengaduan adalah suatu pernyataan tegas baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, dari seseorang yang berhak (pengadu) yang disampaikan kepada pejabat penyelidik atau pejabat penyidik (Kepolisian Republik Indonesia) tentang telah diperbuatnya suatu tindak pidana oleh seseorang, dengan disertai permintaan agar

33Abdul R. Saliman, 2015,Hukum Bisnis Untuk Perusahaan: Teori dan Contoh Kasus, Prenadamedia Group, h. 149

37

dilakukan pemeriksaan untuk selanjutnya dilakukan penuntutan ke pengadilan yang berwenang.34

34Adami Chazawi, 2002,Pelajaran Hukum Pidana 2, Jakarta, RajaGrafindo Persada, h. 201

Dokumen terkait