1)
Program Studi Pendidikan Matematika,Fakultas Teknik, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indraprasta PGRI, [email protected]
2) Program Studi Pendidikan MIPA, Program Pascasarjana, Universitas Indraprasta PGRI, [email protected]
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berapa besar tingkat efektifitas metode drill berbantuan modul terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan analisis menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian ini diambil sebanyak 30 peserta didik. Instrumen untuk mengumpulkan data pada penelitian berupa tes uraian yang terdiri dari 12 butir soal. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji-t dilanjutkan dengan rumus efektifitas. Berdasarkan hasil perhitungan uji-t menunjukkan kemampuan pemecahan masalah matematika yang menggunakan metode drill berbantu modul lebih baik daripada menggunakan metode ekspositori berbantu LKS. Berdasarkan hasil dari rumus efektifitas, dapat disimpulkan bahwa metode drill berbantu modul lebih efektif dari pada metode ekspositori berbantu LKS terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Kata Kunci : Metode Drill, Pemecahan Masalah, Modul Pembelajaran.
Abstract. The purpose of this research is to determine analyze how much the level of effectiviness of the drill method with module for mathematical problem solving ability students. Analyze method used by this research is the experiment method with analysis using simple random sampling technique. This research sample of data taken as much as 30 students. Instruments to collect data on the research is test description consists of 12 items. Data analysis technique used is the t-test was continued with effectiveness formula. Based on calculation of t-test show the problem solving abilities by using drill method with module better than using expository method with LKS. Based on effectiviness formula can be concluded that drill method with module more effective than expository method with LKS in problem solving abilities.
Keywords : Drill Method, Problem Solving, Learning Module. PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Oleh karenanya, proses pembelajaran yang berlangsung di dalam pendidikan perlu dilaksanakan secara terpadu, serasi, dan teratur. Seorang guru harus dapat mengarahkan proses pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar bagi peserta didik agar dapat mengembangkan potensi secara optimal. Guru juga sebaiknya mampu mendorong peserta didik untuk aktif dan kritis selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga peserta didik tak hanya pasif sebatas mendengarkan penjelasan dari guru.
Dalam dunia pendidikan, matematika dipandang sebagai dasar bagi pengembangan ilmu dan teknologi, karena melalui belajar matematika dapat dibentuk pola berpikir ilmiah, sehingga matematika merupakan suatu mata pelajaran sekolah yang sangat diperlukan. Salah satu aspek yang perlu mendapat sorotan dari pelajaran matematika di sekolah adalah pemecahan masalah (problem solving). Branca (Syaiful, 2012: 37), “Pemecahan masalah
merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika”. Hal ini berarti pemecahan masalah merupakan bagian yang sudah terintegrasi dalam pembelajaran matematika dan tidak dapat dipisahkan. Pemecahan masalah matematika memerlukan suatu kreativitas, pengertian, dan pemikiran.
Namun bagi sebagian besar peserta didik, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit untuk dipahami karena salah satu karakteristik matematika terdiri dari serangkaian konsep-konsep yang abstrak. Soedjadi (Liberna dan Yogi, 2014: 41) menyatakan bahwa, matematika memiliki karakteristik yaitu : memiliki objek kajian yang abstrak, berpola pikir deduktif, memiliki simbol yang berarti, dan konsisten dalam sistemnya. Melalui pengajaran matematika di sekolah yang menekankan pada kemampuan pemecahan masalah, peserta didik diajak berlatih untuk terbiasa dengan suatu masalah dan menyelesaikannya secara tuntas. Harapannya adalah dengan belajar memecahkan masalah matematika, peserta didik tak hanya mempunyai keterampilan pemecahan masalah dalam matematika, namun juga mempunyai keterampilan dalam hal memecahkan masalah yang akan mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada umumnya peserta didik tidak percaya diri sehingga merasa pelajaran matematika sangat sulit. Matematika tanpa latihan yang kontinyu tidak mungkin dapat dikuasai dengan optimal, sedangkan dalam kegiatan
64
belajar di sekolah banyak dibatasi oleh beberapa hal antara lain waktu dan ruang. Oleh karena itu, walaupun guru telah mampu membuat perencanaan dan mengelola kelas dengan baik, masih ada saja peserta didik yang hasil belajarnya rendah. Dengan proses belajar mengajar yang terbatas itu peserta didik harus mampu memahami dan menguasai materi yang diberikan oleh guru, sedangkan kemampuan peserta didik berbeda–beda.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan beberapa guru matematika, diperoleh informasi mengenai metode mengajar matematika yang dilakukan adalah dengan metode ekspositori berbantu LKS (Lembar Kerja Siswa) dan buku paket sebagai bahan ajar. Metode ekspositori dianggap efektif karena dapat mengontrol penguasaan bahan pelajaran peserta didik dan dapat menyelesaikan materi pelajaran yang cukup banyak sedangkan waktu yang dimiliki untuk belajar sangat terbatas. Metode ini dapat digunakan untuk jumlah peserta didik yang banyak.
Namun buku paket biasanya hanya dipinjamkan saat proses pembelajaran matematika saja, sehingga untuk belajar di rumah peserta didik hanya mengandalkan LKS sebagai sumber belajar. Padahal LKS yang digunakan tidak berfokus kepada hal pemecahan masalah, hanya memuat uraian materi dan soal-soal rutin, sehingga menghambat peserta didik untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 36), “Karakteristik peserta didik yang berbeda-beda dalam menyerap pelajaran membuat guru
harus mampu mendesain bahan ajar yang mengacu pada individu peserta didik”. Guru dapat menyusun bahan ajar
berisi meteri pembelajaran khususnya dalam pelajaran matematika, dan harus berpedoman pada pengembangan potensi peserta didik.
Adapun permasalahan tersebut seorang guru harus mampu memilih metode dan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan keadaan peserta didik agar mendapatkan hasil belajar yang optimal melalui suatu proses pembelajaran yang efektif. Menurut peneliti metode pengajaran yang sesuai serta memudahkan peserta didik dalam mempelajari matematika ialah metode drill berbantu modul. Roestiyah (2012:125) berpendapat bahwa, metode ini merupakan cara mengajar dimana peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar peserta didik memiliki ketangkasan atau keterampilan lebih tinggi dari apa yang telah diajarkan.
Salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik adalah kurangnya intensitas peserta didik melakukan latihan dalam mengerjakan soal-soal matematika. Dengan adanya modul akan membuka kesempatan bagi peserta didik untuk belajar menurut kecepatan masing-masing dan menciptakan kemandirian. Pengajaran melalui modul mudah dipelajari peserta didik tanpa bantuan orang lain karena bahan belajar memperhatikan urutan penyajian materi.
Peneliti beranggapan dengan menerapkan metode ini, maka hasil pembelajaran akan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Melalui latihan soal-soal pemecahan masalah, peserta didik akan berusaha menemukan penyelesaiannya dan diharapkan peserta didik akan memiliki keterampilan pemecahan masalah yang jauh lebih baik. Selain itu, peserta didik juga akan lebih aktif untuk bertanya mengenai kesulitan yang dihadapi saat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah dan tanpa disuruh guru pun peserta didik akan lebih berani untuk mengerjakan soal di papan tulis. Kepuasan akan tercapai apabila peserta didik dapat memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga menimbulkan motivasi intrinsik bagi peserta didik.
Berdasarkan Uraian di atas, maka peneliti berkeinginan untuk mengadakan penelitian eksperimen yang
berjudul “Efektivitas Metode Drill Berbantu Modul terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika”. TINJAUAN PUSTAKA
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, tetapi tidak berarti peserta didik dianggap lebih rendah dari peserta didik lainnya karena tidak memiliki kemampuan yang sama. Kemampuan yang dibutuhkan dalam pelajar matematika merupakan kemampuan intelektual. Robbins dan Timothy (2008: 57) mendefinisikan bahwa, kemampuan intelaktual (intellectual ability) adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental-berpikir, menalar, dan memecahkan masalah. Kemampuan intelektual membentuk kecerdasan untuk mengidentifikasi urutan logis suatu masalah dan kemudian memecahkan masalah tersebut.
Pertanyaan atau soal merupakan masalah bagi peserta didik jika mereka tidak menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Hamalik (2005: 151) berpendapat bahwa, masalah pada hakikatnya adalah suatu pertanyaan yang mengadung jawaban. Suatu pertanyaan mempunyai peluang tertentu untuk di jawab dengan tepat, bila pertanyaan itu di rumuskan dengan baik dan sistematis. Ini berarti peserta didik yang sulit menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru harus mampu menyelesaikan masalahnya masing-masing. Pertanyaan yang dihadapkan kepada peserta didik haruslah dimengerti peserta didik, namun metantang peserta didik untuk menemukan jawaban yang tepat. Pemecahan suatu masalah menuntut kemampuan peserta didik yang hendak memecahkan masalah tersebut.
Peserta didik harus terlatih memecahkan masalah dengan mengembangkan kemampuan berpikir yang terarah untuk menghasilkan gagasan mengenai berbagai kemungkinan untuk memecahkan masalah tersebut. Pemecahan masalah menurut Rosser dan Nigholson (Markawi, 2014 : 13), sebagai berikut :
65
Pemecahan masalah merupakan suatu proses yang dilakukan seorang untuk menemukan solusi dengan menggunakan kombinasi pengetahuan ataupun peraturan-peraturan yang telah dipahami dan dikuasai untuk di gunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi yang baru.
Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai proses di mana peserta didik menentukan kombinasi aturan- aturan yang telah dipelajari lebih dahulu dengan berpikir, mencobakan hipotesis dan apabila berhasil memecahkan masalah, itu berarti mempelajari sesuatu yang baru. Pentingnya miliki kemampuan pemecahan masalah oleh peserta didik dalam matematika dikemukakan oleh Branca (Syaiful, 2012: 37) sebagai berikut: (1) kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika, bahkan sebagai jantungnya matematika; (2) pemecahan masalah meliputi metode, prosedur, dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum matematika; dan (3) pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika. Sebagai implikasi dari pendapat di atas, maka kemampuan pemecahan masalah hendaknya dimiliki oleh semua anak yang belajar matematika mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi.
Metode Drill Berbantu Modul
Metode pembelajaran bertujuan agar peserta didik dapat aktif sehingga pembelajaran tidak monoton memposisikan peserta didik sebagai pendengar saja, sehingga pemahaman konsep dapat dikuasai oleh peserta didik. Pembelajaran yang sesuai dengan keadaan tersebut adalah pembelajaran dengan metode drill. Menurut Roestiyah (2008: 125),
“Metode drill adalah suatu metode mengajar dimana peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar peserta didik memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari”. Pada umumnya metode drill digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah di pelajari.
Dalam mata pelajaran matematika, seorang peserta didik dituntut untuk memiliki keterampilan dalam hal pemecahan masalah (problem solving). Oleh sebab itu di dalam pembelajaran perlu diadakan latihan untuk menguasai keterampilan tersebut. Djamarah dan Aswan (2010: 95) berpendapat bahwa metode latihan (drill) merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan. Dengan menggunakan metode ini peserta didik diarahkan melalui sederetan latihan yang didesain untuk membangkitkan dan meningkatkan keterampilan yang telah dimiliki.
Selain itu juga sangat dibutuhkan bahan ajar yang tepat efektif dan efisien. Bahan ajar di sini sangat penting untuk menarik minat belajar siswa serta membuat siswa antusias dengan materi yang diberikan. Salah satu jenis bahan ajar yang digunakan adalah modul pembelajaran. Modul merupakan salah satu media pembelajaran yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Menurut Rusman (2010: 375), “Modul yaitu suatu paket program yang disusun dalam bentuk satuan tertentu dan didesain sedemikian rupa guna kepentingan belajar peserta
didik”. Bahan ajar di tuliskan sedemikian rupa sehingga terjadi dialog atau interaksi antara bahan ajar dengan
peserta didik agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran mengenai konsep yang diajarkan oleh guru. Untuk memudahkan peserta didik dalam melaksanakan drill soal-soal pemecahan masalah secara rutin, maka disusunlah modul untuk membantu jalannya metode drill.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI 336 Pondok Betung yang beralamat di Jalan Raya Pondok Betung NO. 17A Kelurahan Pondok Betung Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan. Waktu penelitian adalah semester genap tahun pelajaran 2014/2015 pada Maret 2015.
Jenis penelitian ini adalah dengan menggunakan penelitian eksperimen. Penelitian ini menggunakan teknik quasi-eksperimen (quasiexperiment). Desain Penelitian yang digunakan ini adalah Randomized Group Only Design. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 2 jenis variabel, yaitu variabel dependent dan variabel independent. Adapun variabel dependent dalam penelitian ini adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Variabel independent atau variabel bebas adalah metode drill berbantu modul.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VIII di SMP PGRI 336 Pondok Betung, Tangerang Selatan sebanyak tiga kelas dengan jumlah 116 peserta didik. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu simple random sampling. Setelah diadakan undian kelas VIII-2 terpilih sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan metode drill berbantu modul dan kelas VIII-1 terpilih sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan metode ekspositori berbantu LKS. Dari tiap-tiap kelas eksperimen dan kelas kontrol diambil 30 peserta didik, sehingga jumlah sampel seluruhnya 60 peserta didik.
Pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes. Tes dipergunakan untuk mendapatkan data tentang kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik yang dilaksanakan sesudah proses pembelajaran selesai (post-test). Sebelum soal diberikan untuk evaluasi peserta didik, soal terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, dan taraf kesukaran dari tiap butir soal. Adapun tes yang digunakan adalah 15 soal tes essay selama 90 menit mengenai persamaan linear dua variabel.
66 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik SMP PGRI 336 Pondok Betung, Tangerang Selatan. Responden adalah peserta didik SMP PGRI 336 Pondok Betung, Tangerang Selatan kelas VIII-1 dan kelas VIII-2 berusia antara 14 sampai 18 tahun. Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah kelas VIII sebanyak 60 peserta didik, yaitu kelas VIII-1 sebanyak 30 peserta didik sebagai kelas kontrol dan kelas VIII-2 sebanyak 30 peserta didik sebagai kelas eksperimen.
Dari sampel sebanyak 60 peserta didik tersebut, diperoleh nilai kemampuan pemecahan masalah matematika yang diberikan metode drill berbantu modul dan yang diberikan metode ekspositori berbantu LKS. Hasil nilai kemampuan pemecahan masalah matematika yang diberikan metode drill berbantu modul diperoleh nilai terendah = 68 sedangkan nilai tertinggi = 97, nilai rata-rata = 83,10 dengan median (Me)= 83,61, modus ( = 84,64, Varians = 61,20 dan simpangan baku (S) = 7,82. Dapat disimpulkan bahwa hasil nilai kemampuan pemecahan masalah matematika perserta didik menunjukkan hasil yang baik sedangkan hasil nilai kemampuan pemecahan masalah matematika yang diberikan metode ekspositori berbantu LKS diperoleh nilai terendah = 52 sedangkan nilai tertinggi = 83, nilai rata-rata = 70,37 dengan median (Me)= 69,50, modus ( = 66,83, Varians = 73,55 dan simpangan baku (S) = 8,58.
Berdasarkan data dapat dilihat perbandingan statistika deskriptif nilai tes hasil belajar peserta didik antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari 30 peserta didik kelas eksperimen diperoleh nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang juga terdiri dari 30 peserta didik. Begitu pula dengan nilai median (Me) dan nilai modus ( , pada kelas eksperimen diperoleh nilai lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil dari data kelas eksperimen yang diajar dengan metode drill berbantu modul lebih baik daripada data kelas yang diajar dengan metode ekspositori berbantu LKS.
Selanjutnya, dalam menganalisis data dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dilakukan uji normalitas data dengan
menggunakan uji liliefors (Lo) dengan taraf signifikan α = 0,05. Dari hasil perhitungan uji normalitas pada kelas eksperimen diperoleh Lhitung (Lo) = 0,068 dan pada kelas kontrol diperoleh Lhitung (Lo) = 0,106. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada uji normalitas pada kedua kelas menunjukkan Lhitung < Ltabel maka H0 diterima dan H1 ditolak atau dengan kata lain, data kedua kelas berdistribusi normal.
Kedua kelas sampel pada penelitian ini dinyatakan berasal dari populasi yang berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas varians kedua populasi tersebut dengan menggunakan uji Fisher. Uji homogenitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah kedua varians populasi homogen. Hasil yang diperoleh pada uji homogenitas menunjukan Fhitung < Ftabel (1,202 < 1,861) maka H0 diterima dan H1 ditolak atau dengan kata lain, data berasal dari populasi yang homogen.
Hasil pengujian persyaratan analisis data menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan seluruh data berasal dari populasi yang homogen. Selanjutnya, dilakukan uji hipotesis penelitian menggunakan uji-t. Hasil yang diperoleh pada uji-t menunjukkan thitung > tta bel > 1,671) maka H0 ditolak dan H1 diterima pada α = 0,05. Setelah thitung didapat, dilanjutkan dengan menghitung efektivitas. Berdasarkan hasil dari rumus efektifitas didapat nilai ES = 1,55 yaitu ES > 0,8 di golongkan tinggi (sangat efektif). Jadi dapat disimpulkan bahwa metode drill berbantu modul lebih efektif dari pada metode ekspositori berbantu LKS terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, didapat bahwa dalam penggunaan metode drill berbantu modul yang diterapkan pada proses pembelajaran memperoleh nilai rata-rata = 83,10 dan nilai rata-rata metode ekspositori berbantu LKS = 70,37. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Dengan demikian, terdapat efektifitas metode drill berbantu modul terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika sebesar 1,55 yang tergolong tinggi (sangat efektif).
Penggunaan metode drill berbantuan modul terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Pembelajaran matematika menggunakan metode drill berbantuan modul efektif karena dalam proses pembelajaran peserta didik membangun sendiri pengetahuannya dengan mengkaitkan pada pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya melalui pengalaman belajar menggunakan modul. Pembelajaran matematika seperti ini menuntut peserta didik untuk membangun pengetahuan sesuai kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Sementara itu peserta didik juga melakukan kegiatan latihan menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah secara lebih sering, sehingga kemampuan pemecahan masalah yang dimilikinya akan berkembang dengan baik karena diasah secara terus menerus. Dengan berkembangnya kemampuan tersebut, maka peserta didik akan terbiasa dan merasa mudah dalam memecahkan berbagai masalah yang diajukan.
Pada metode ekspositori berbantu LKS, meskipun peserta didik sama-sama berlatih menyelesaikan soal, latihan tidak dilakukan secara intensif, dan tidak berfokus pada hal pemecahan masalah, sehingga membuat peserta didik kurang berhasil menyelesaikan permasalahan yang tersaji dalam tes evaluasi. Sikap yang ditimbulkan peserta
67
didik ketika proses pembelajaran menggunakan metode ekspositori berantu LKS kurang memacu kreativitasnya dalam memecahkan masalah matematika. Peserta didik kurang berani dalam mengeluarkan pendapat dan hanya terpaku dengan apa yang sudah mereka terima.
Dapat disimpulkan metode drill berbantu modul lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dibandingkan dengan metode ekspositori berbantu LKS pada pokok bahasan persamaan linear dua variabel. Hal tersebut diperkuat dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Susilowati (2013: 8) menyatakan bahwa penerapan metode drill dalam pembelajaran Akuntansi dapat meningkatkan prestasi belajar akuntansi pada peserta didik kelas XI IPS 1 SMA N Kebakkramat. Penelitian lain yang dilakukan oleh Siadi, dkk (2009: 364) menyatakan bahwa ada perbedaan hasil belajar kimia yang signifikan antara peserta didik yang diberi metode drill dengan metode resitasi dan hasil belajar kimia peserta didik yang diberi metode drill lebih baik daripada yang diberi metode resitasi pokok bahasan larutan penyangga pada peserta didik kelas XI SMA N 1 Brebes tahun ajaran 2007/2008.
Sementara penelitian terdahulu untuk penggunaan modul yang telah dilakukan oleh ikmah, dkk (2012: 6) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) berbantuan modul terbukti lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar akuntansi pokok bahasan penyusunan laporan keuangan perusahaan jasa dibandingkan dengan metode ceramah bervariasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sunyoto (2006: 35) menyimpulkan bahwa prestasi belajar peserta didik SMK bidang keahlian Teknik Mesin yang menggunakan Modul Pembelajaran Interaktif (MPI) dalam pembelajaran lebih baik daripada prestasi belajar peserta didik yang memperoleh materi pelajaran sama tetapi tanpa menggunakan Modul Pembelajaran Interaktif (MPI).
PENUTUP Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa metode drill berbantu modul lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dibandingkan dengan metode ekspositori berbantu LKS. Hal ini karena pembelajaran matematika dengan menggunakan metode drill berbantuan modul dapat digunakan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Dengan berkembangnya kemampuan tersebut, maka peserta didik akan terbiasa dan merasa mudah dalam memecahkan berbagai masalah matematika.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, ada beberapa saran yang berkaitan dengan kesimpulan yang perlu penulis sampaikan untuk dijadikan bahan masukan dan manfaat sebagai berikut :
1. Diharapkan guru dapat menyusunan modul pembelajaran yang berfokus kepada hal pemecahan masalah khususnya pada materi persamaan linear dua variabel, sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika. Pembelajaran menggunakan metode drill berbantuan modul dapat dikembangkan untuk diterapkan pada materi pokok matematika lainnya maupun mata pelajaran lain selain matematika dengan variasi dan inovasi dalam pembelajaran.
2. Pihak sekolah diharapkan bisa memberikan masukan dan dukungan bagi guru matematika untuk dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran, seperti metode drill berbantuan modul sebagai upaya meningkatkan