• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMELIHARAAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN

3.6 Pemeliharaan Bahan Pustaka di Perpustakaan

Semua bahan pustaka pasti akan mengalami kerusakan. Begitu juga koleksi bahan pustaka yang tersedia pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Untuk menanggulangi kerusakan-kerusakan terhadap bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan maka perlu di lakukan pemeliharaan terhadap bahan pustaka agar bahan pustaka dapat terus di gunakan.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa serangga seperti silverfish, kecoa, kutu buku, rayap, ngengat dan sejenisnya adalah binatang perusak bahan pustaka, terlebih-lebih karena iklim di Indonesia sesuai untuk tempat berkembang biak binatang tersebut, sehingga perlu perhatian khusus. Bila dibiarkan bahan pustaka akan mengalami kerusakan yang cukup parah, dan mungkin tidak dapat digunakan kembali.

Untuk itu perlu adanya langkah-langkah tindakan pencegahan maupun pembasmian terhadap perusak bahan pustaka tersebut, dan salah satu di antaranya dengan cara fumigasi. Yang dimaksud dengan fumigasi menurut Razak (1992 : 39) adalah “suatu tindakan pengasapan yang bertujuan mencegah, mengobati, dan mensterilkan bahan pustaka”. Mencegah dimaksudkan supaya kerusakan lebih lanjut dapat dihindari. Mengobati artinya mematikan atau membunuh serangga, kuman dan sejenisnya yang telah menyerang dan merusak bahan pustaka, dan mensterilkan diartikan menetralisasi keadaan seperti menghilangkan bau busuk yang timbul dari bahan pustaka, menyegarkan udara ataupun bisa menimbulkan gangguan ataupun penyakit.

Fumigasi bahan pustaka dapat di lakukan dalam ruang perpustakaan, gedung atau dalam ruangan yang sengaja dibuat untuk melakukan fumigasi. Bahan yang biasa dipergunakan sebagai methybromide. Cara fumigasi ini di lakukan yakni

dengan memasukkan buku ke dalam lemari fumigasi, disusun secara berderet dalam keadaan menganga. Hal ini dimaksudkan agar bau kimia dapat meresap ke dalam celah-celah buku. Dengan demikian kuman-kuman terbunuh akibat dari bau kimia itu.

Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan sampai pada saat ini belum memiliki lemari fumigasi, sehingga pembasmian hanya di lakukan melalui cara penggunaan kapur barus dan pengusir serangga lainnya.

Menurut penulis pelaksanaan fumigasi ini sangat penting di lakukan pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan untuk memperkecil frekuensi kerusakan yang diakibatkan oleh jamur atau serangga. Karena kalau hanya dengan penempatan anti serangga hasilnya tidak akan maksimal. Penulis mengetahui hal tersebut karena masih banyak bahan pustaka yang rusak terserang oleh serangga seperti kutu buku, rayap, ngengat dan sejenisnya .

3.7. Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

Sebagian besar bahan pustaka di perpustakaan umumnya terbuat dari bahan kertas. Dalam penggunaan secara terus-menerus bahan pustaka itu akan mengalami proses kerusakan dalam penyimpanan meskipun relatif lebih lama. Koleksi bahan pustaka dari suatu perpustakaan dapat terjadi kerusakan yang timbul dari berbagai penyebab.

3.7.1. Faktor fisika a. Cahaya

Cahaya yang digunakan untuk menerangi ruang perpustakaan merupakan bentuk elektromagnetik yang berasal dari radiasi cahaya matahari dan lampu listrik.

Kerusakan bahan pustaka akibat sinar ultraviolet ini adalah tulisan menjadi pudar, warna kertas berubah dan kertas menjadi rapuh, sehingga kekuatan akan hilang.

Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan kerusakan oleh faktor cahaya ini banyak terjadi terutama pada buku-buku yang sudah termakan usia.

Lembaran pada buku-buku tersebut berubah warna menjadi kuning.

b. Suhu dan Kelembaban

Kedua unsur ini bila mempunyai unsur yang berlebihan atau tidak stabil akan menimbulkan kerusakan pada kertas. Udara yang kelembapannya tinggi berpengaruh pada kertas yaitu menjadi busuk, berbau apek dan memberi peluang pada jamur untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan suhu udara yang terlalu tinggi menyebabkan rekat pada jilidan buku menjadi kering dan jilidannya semakin longgar, selain itu juga mengakibatkan kertas menjadi rapuh dan warna kertas berubah menjadi kuning.

Menurut pendapat penulis kerusakan oleh faktor suhu dan kelembaban ini juga banyak terdapat di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Hal ini disebabkan karena suhu dan kelembaban di perpustakaan tersebut tidak diatur sebagaimana mestinya.

3.7.2. Faktor biota

Komponen-komponen yang terdapat pada kertas serat-serat selulosa, perekat dan protein merupakan sumber-sumber makanan bagi makhluk hidup seperti jamur, serangga dan binatang pengerat. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya mereka memerlukan kondisi lingkungan yang ideal seperti suhu dan kelembaban udara.

Oleh karena itu ruangan penyimpanan bahan pustaka harus dijaga dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tidak dijadikan sebagai tempat hidup, tumbuh dan berkembang bagi makhluk-makhluk tersebut. Beberapa contoh jenis jamur, serangga dan binatang pengerat yang merusak bahan pustaka adalah :

a. Jamur

Jamur merupakan tumbuhan bersel tunggal dan tidak berklorofil, sehingga makanan yang diperoleh berasal dari sumber lain. Bila buku atau bahan pustaka dalam keadaan kotor, berdebu, dan lembab maka jamur akan timbul dan akan

meninggalkan noda pada kertas. Contoh salah satu jenis jamur ini adalah Asspergillus.

Kerusakan bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan oleh faktor ini juga banyak dijumpai terutama pada buku-buku yang jarang dipergunakan atau dibaca oleh pengunjung. Noda-noda yang terdapat pada kertas yang disebabkan oleh jamur ini biasanya sulit untuk dihilangkan dan tulisan menjadi pudar.

b. Serangga

Serangga merupakan masalah yang pelik di negara tropis dan jenisnya cukup banyak dengan sumber makanan berasal dari kertas. Lingkungan ideal untuk pertumbuhan semua jenis serangga adalah tempat hangat, gelap dan sirkulasi udara yang tidak sempurna. Fase-fase untuk siklus kehidupan serangga yaitu telur, larva, pupa dan dewasa, di mana pada fase larva mengakibatkan kerusakan terbesar. Jenis-jenis serangga yang banyak dijumpai sebagai perusak bahan pustaka adalah sebagai berikut :

a) Kecoa

Kecoa merupakan salah satu jenis serangga yang bersayap dan berbentuk panjang, senang tinggal di tempat yang gelap, di sudut-sudut ruangan. Makanan kegemarannya yaitu sisa-sisa makanan yang busuk, serangga-serangga yang mati.

Kecoa ini mengeluarkan cairan perekat berwarna hitam yang membentuk noda dan sulit untuk dihilangkan, di samping itu memakan perekat sampul buku dan kain pada punggung buku.

Informasi yang diperoleh oleh penulis dari pustakawan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan bahwa serangga ini juga sebagai penyebab kerusakan pada punggung buku dan terjadinya noda pada kertas di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Dan menurut penulis hal ini karena kurangnya kebersihan terutama di sudut-sudut ruangan dan ada sebagian petugas yang membawa makanan ke dalam ruang perpustakaan sehingga sisa-sisa makanan tersebut sering sebagai penyebab datangnya kecoa di ruangan perpustakaan.

b) Rayap

Rayap merupakan perusak yang paling berbahaya karena dapat menghabiskan buku dalam waktu singkat. Binatang ini hidup di daerah yang beriklim tropis dan sub tropis, berbadan lunak dan berwarna putih pucat. Karena bentuknya seperti semut maka binatang ini sering dinamai semut putih (white ant).

Informasi yang diperoleh oleh penulis dari pustakawan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan, binatang ini dapat dikatakan sebagai perusak bahan pustaka yang paling merugikan. Dan menurut penulis hal ini disebabkan karena kurang telatennya para petugas dalam membersihkan bahan pustaka tersebut.

c) Booklice (kutu buku)

Selain jenis serangga yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi jenis-jenis serangga yang dapat merusak dan memakan punggung buku, lem atau perekat pada buku, dan membuat lubang seperti ngengat, book worm dan lain-lain. Pada umumnya semua binatang ini hampir terdapat di semua perpustakaan. Dan menurut penulis cara yang paling sederhana untuk mengusir atau setidaknya mengurangi frekuensi kerusakan yang disebabkan oleh jenis-jenis serangga tersebut adalah dengan menyemprot ruangan dengan obat hama (bukan pada buku) dan menempatkan obat pengusir serangga pada rak-rak buku dan senantiasa menjaga kebersihannya.

3.7.3. Faktor Penggunaan dan Penanganan yang Salah

Manusia baik sebagai petugas maupun sebagai pemakai perpustakaan mempunyai peranan yang penting dalam menggunakan bahan pustaka. Manusia bisa dikatakan sebagai perusak bahan pustaka bila salah dalam mengurus dan menangani bahan pustaka tersebut

Menangani buku atau bahan pustaka tampaknya suatu hal yang sederhana, tetapi bila dikaitkan dengan manusia sebagai salah satu faktor penyebab kerusakan bahan pustaka maka pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang sederhana. Petugas perpustakaan dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari sering kali menggunakan

cara-cara yang tidak benar, baik di lakukan dengan sengaja atau tanpa disadari, begitu pula halnya dengan masyarakat umum sebagai pengguna bahan pustaka. Misalnya mengambil buku dari rak sering sekali menggunakan cara-cara yang salah, begitu juga penempatan buku di rak dan yang paling merugikan adalah kebiasaan pemakai perpustakaan misalnya menyobek halaman buku yang dianggap penting, mencoret-coret buku dan sebagainya. Dengan demikian kerusakan buku tidak dapat dihindari dan hal tersebut menyebabkan kerugian yang tidak sedikit terutama bila terjadi pada buku-buku berharga atau langka. Kebiasaan membaca dengan cara melipat buku juga termasuk kendala kategori ini. Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan kerusakan oleh faktor manusia ini merupakan yang paling dominan.

3.8. Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

3.8.1. Menciptakan lingkungan penyimpanan

Yang dimaksud dengan lingkungan penyimpanan bahan pustaka adalah gedung, ruangan, dan peralatan yang ada dalam suatu ruangan perpustakaan.

Pemeliharaan dan penjagaan bahan pustaka, melainkan menyangkut gedung perpustakaan, ruang baca, ruang penyimpanan dan peralatan yang ada di dalamnya.

Pemeliharaan lingkungan yang disebut juga dengan konservasi preventif adalah usaha untuk menciptakan kondisi lingkungan yang baik (ideal) bagi bahan pustaka agar tidak terjadi kerusakan pada bahan pustaka tersebut. Konservasi preventif ini harus sudah dimulai sejak pembangunan suatu gedung perpustakaan masih dalam perencanaan, antara lain dalam memilih lokasi, pemilihan bahan bangunan, pemasangan alat pendinginan dan mengatur pencahayaan.

Idealnya lokasi suatu perpustakaan tidak boleh berada di daerah kawasan industri atau daerah yang padat kendaraan yang bermotor, karena industri dan kendaraan bermotor tersebut akan mengeluarkan gas-gas pencemar seperti gas SO dan NO yang berbahaya bagi bahan pustaka. Namun demikian, karena perpustakaan

juga harus terletak di daerah yang mudah dijangkau oleh masyarakat pemakai jasa perpustakaan maka pada umumnya perpustakaan berada di pusat kota.

Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan termasuk berada di kawasan yang banyak dilalui kendaraan umum. Jarak antara jalan raya dengan lokasi gedung berjarak kurang lebih 30 meter dan berada di dalam gedung di lantai dua sehingga menurut penulis polusi udara tidak sampai mengganggu bahan pustaka.

3.8.2.Memilih material yang dipakai dalam ruang Penyimpanan

Setiap bahan pustaka harus disimpan dalam suatu tempat seperti rak, lemari yang sesuai. Setiap rak/laci harus sedikit lebih besar daripada bahan-bahan yang akan disimpan dengan sedikit menyisihkan ruang untuk sirkulasi udara, dan dirancang sedemikian rupa sehingga diperkirakan tidak menyebabkan kerusakan pada jilidan atau lembaran-lembaran bahan pustaka.

Mengenai bahan-bahan tempat penyimpanan bahan pustaka ini. Rak-rak buku sebaiknya terbuat dari logam. Juga harus menghindari penggunaan kayu (kecuali kayu jati), karena kayu tersebut mengundang serangga dan mengeluarkan asam organik yang berbahaya bagi bahan pustaka.

Dalam hal ini Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan telah melaksanakannya dengan baik. Rak dan lemari buku telah disesuaikan dengan ukuran bahan pustaka yang disimpan. Peta-peta dihamparkan dalam rak yang sesuai dengan ukurannya. Dan pemilihan materi tempat penyimpanan bahan pustaka Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan masih menggunakan rak yang terbuat dari kayu jati.

3.8.3.Mencegah kerusakan karena pengaruh cahaya

Cahaya matahari masuk ke dalam ruangan, baik langsung maupun pantulan harus dihalangi dengan gorden atau disaring dengan filter untuk mengurangi radiasi ultraviolet. Untuk mencegah kerusakan karena cahaya lampu listrik adalah dengan memperkecil intensitas cahaya, memperpendek waktu pencahayaan dan

menghilangkan radiasi ultraviolet dari lampu tersebut dengan memasang filter pada lampu TL.

Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan untuk menghindari faktor cahaya ini belum memakai penyaring/filter seperti yang disebutkan di atas.

Akan tetapi hanya dengan jalan meletakkan rak-rak buku tidak terlalu dekat dengan jendela dan memakai gorden dapat menghambat sedikit cahaya yang masuk ke dalam ruangan perpustakaan.

Menurut penulis tindakan yang di lakukan oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan dalam mencegah kerusakan karena pengaruh cahaya ini kurang tepat. Karena cahaya dari sinar matahari baik langsung maupun pantulan dapat merusak bahan pustaka. Begitu juga halnya dengan cahaya dari lampu listrik.

Seharusnya Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan perlu memakai filter/penyaring sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh cahaya tersebut, yakni dengan plexy glass atau filtering polyster film, yang biasa ditempelkan pada kaca jendela atau di langit-langit ruangan.

3.8.4.Mencegah kerusakan karena pengaruh suhu dan kelembaban udara

Untuk mencegah kerusakan bahan pustaka dari pengaruh temperatur dan kelembaban udara adalah dengan membuat ventilasi yang sempurna. Jika terjadi kelembaban udara yang tinggi, dapat diturunkan dengan dehumidifier atau silica gel.

Dehumidifier digunakan untuk menurunkan kelembaban udara dalam ruangan tertutup, sedangkan silica gel untuk menurunkan kelembaban udara dalam lemari.

Untuk mengukur temperatur kelembaban udara dapat di lakukan dengan alat thermohygrometer, thermohygrograph, dan psychometer.

Sampai pada penulis membuat tulisan ini, alat-alat tersebut di atas belum dimiliki oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Mengingat betapa pentingnya alat tersebut untuk mencegah kerusakan oleh faktor suhu dan kelembaban udara maka Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan perlu memiliki alat-alat tersebut.

3.8.5.Mencegah kerusakan karena pengaruh biotis

Tindakan preventif untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya jamur dan serangga adalah dengan memeriksa bahan pustaka secara berkala, membersihkan tempat penyimpanan, menurunkan kelembaban udara dan buku-buku tidak boleh disusun terlalu rapat karena dapat mengurangi sirkulasi udara Untuk mencegah tumbuhnya jamur, pada sela-sela kertas diselipkan kertas tissue yang sebelumnya sudah dicelupkan dalam larutan fungisida seperti laindane atau thymol. Tindakan ini biasanya di lakukan pada musim hujan, karena kelembaban udaranya relatif lebih tinggi. Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan untuk mengusir serangga ini biasanya di lakukan dengan meletakkan bahan-bahan berbau pengusir serangga seperti kanfer, naftalen dan kapur barus. Namun dalam penyusunanbuku di rak banyak di lakukan terlalu rapat sehingga sirkulasi udaranya tidak sempurna dan hal ini dapat menimbulkan tumbuhnya jamur atau dapat menjadi tempat yang nyaman bagi serangga sebagai perusak bahan pustaka. Menurut penulis usaha yang di lakukan dalam rangka kerusakan karena faktor biotis ini masih sangat minim. Tetapi hal ini telah memadai.

3.9. Perbaikan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

Seperti yang telah disebutkan pada uraian sebelumnya bahwa gigitan serangga, frekuensi pemakaian yang tinggi, salah penanganan menyebabkan sebagian kertas dari halaman sebuah buku akan hilang, terkikis, tercabik, berlubang atau sobek. Sedangkan kerapuhan kertas menyebabkan kertas mudah sobek atau patah.

Untuk mencegah agar bagian yang sobek atau berlubang tidak semakin lebar serta untuk memulihkan bentuk dan kekuatan kertas, perlu diupayakan perbaikan, disesuaikan dengan kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka. Untuk kertas berlubang atau sobek dengan keadaan kertas masih baik dan kuat cukup ditambal atau disambung.

3.9.1.Menambal

Menambal atau menutup bagian bahan pustaka yang berlubang dapat di lakukan dengan kertas yang lebih tebal, dan perekat kanji. Juga dapat di lakukan dengan bubur kertas (pulp), atau menggunakan kertas tissue yang berperekat. Dalam penambalan bahan pustaka ini pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan masih sering menggunakan sellotape. Penggunaan sellotape walaupun mudah penggunaannya sebenarnya kurang baik hasilnya. Karena kertas akan berubah warnanya menjadi kuning kecoklatan pada bagian yang ditempel sellotape ini.

Untuk mencabut kembali sellotape bukanlah pekerjaan yang mudah, karena dapat merusak tulisannya. Menurut penulis cara yang tepat untuk melakukan penambalan ini adalah menyediakan dan memilih kertas yang sesuai untuk menambal, yang mempunyai berat dan warna yang sama dengan kertas yang ditambal.

3.9.2. Menyambung

Menyambung di lakukan untuk merekatkan bagian yang sobek atau lemah karena lipatan, biasanya diperkuat dengan potongan kertas dari jenis tertentu, agar bagian yang sobek tidak bertambah lebar. Cara yang tepat untuk menyambung bahan pustaka yang sobek adalah sebagai berikut :

1. Pilih kertas yang akan dipergunakan untuk memperkuat sambungan.

2. Meletakkan penggaris logam di atas kertas penyambung dengan arah panjang sesuai arah serat kertas.

3. Menarik garis sepanjang tepi penggaris dengan menggunakan trekpen yang telah dicelupkan dengan air.

4. Kertas dilipat ke atas dengan menggunakan tulang pelipat.

5. Kertas ditarik dengan hati-hati menurut garis yang basah.

6. Merapatkan bagian kertas yang sobek dengan hati-hati.

7. Mengoleskan perekat di atas kertas penyambung kemudian letakkan di atas bagian yang sobek dan tekan dengan hati-hati.

8. Letakkan kertas di antara dua lembar kertas penyerap, dan kemudian meletakkan di bawah pemberat (dipress), setelah kering potong bagian yang berlebih/sisa.

Seperti halnya dengan menambal, pekerjaan menyambung ini pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan sering menggunakan sellotape. Maka cara ini seperti yang telah disebutkan di atas mempunyai dampak yang kurang baik. Menurut penulis pekerjaan menyambung seperti yang di lakukan Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan kurang baik. Hal ini tampak kelemahannya bila penyambungan dengan sellotape akan mengganggu lembaran lain (lengket) apabila sudah lama.

3.9.3.Penjilidan

Bahan pustaka yang rusak seperti isi buku, lem atau jahitannya terlepas, lembar pelindung, sampul mengalami kerusakan umpamanya terlepas dari kerusakan lainnya masih bisa diatasi. Salah satu tindakan adalah dengan mereparasi atau memperbaiki dan menjilid kembali untuk dapat mempertahankan fisik buku tersebut, sekaligus mempertahankan kandungan informasi di dalamnya.

Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan , perbaikan dengan cara penjilidan kembali merupakan cara yang paling banyak ditempuh. Untuk jenis perbaikan yang biasanya di lakukan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan adalah sebagai berikut :

- Memperbaiki punggung buku yang longgar - Mengganti lembar pelindung buku yang sobek

- Menempel linen baru pada punggung sampul buku asli

Selain menjilid atau mereparasi kembali buku-buku yang rusak, Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen juga melaksanakan penjilidan atau pembundelan terhadap terbitan berseri seperti majalah. Fungsi dari pembundelan ini adalah selain bahan pustaka tersebut menjadi rapi dan menarik juga akan memudahkan dalam mencari informasi yang ingin dicari.

Dalam penjilidan kembali bahan pustaka atau buku pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen di lakukan dengan menggunakan lem. Penjilidan dengan menggunakan paku dan hekter tidak di lakukan karena menurut petugas preservasi dapat menimbulkan karat yang merusak lembaran bahan pustaka.

Menurut pendapat penulis cara/teknik penjilidan sudah di lakukan dengan baik. Yang perlu diperhatikan adalah penambahan tenaga kerja di bagian penjilidan, karena dengan tenaga kerja yang ada sekarang masih kurang.

3.9.4.Penyiangan

Kemampuan ruangan atau gedung untuk menampung koleksi selalu terbatas, sedangkan bahan pustaka selalu bertambah akibat kemajuan ilmu pengetahuan.

Informasi yang diperoleh penulis dari pustakwan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan mengenai kriteria penyiangan pasda Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen adalah sebagai berikut :

1.Bahan pustakanya yang sudah usang dan tidak pernah dibaca lagi oleh pengguna.

2.Bahan pustaka yang sudah lama dan jumlah eksemplarnya sudah terlalu banyak.

3.Bahan pustaka yang isinya sudah tidak lengkap lagi dan telah dapat diusahakan penggantinya.

4.Bahan pustaka yang mengalami kerusakan berat yang sulit untuk diperbaiki lagi.

3.9.5.Kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

Kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen dalam melaksanakan kegiatan konservasi dan preservasi bahan pustaka adalah sebagai berikut :

1. Dana yang terbatas.

2. Kurangnya tenaga ahli.

3. Mutu kertas tidak memenuhi syarat.

4. Sedikitnya referensi untuk pemeliharaan bahan pustaka.

5. Salah penanganan terhadap bahan pustaka.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan pemeliharaan bahan pustaka yang sering diartikan sebagai kegiatan pelestarian bahan pustaka sangat diperlukan untuk menunjang fungsi perpustakaan dalam melaksanakan jasa perpustakaan dengan jalan mengusahakan agar kondisi bahan pustaka terpelihara sebaik mungkin dan siap digunakan.

2. Kerusakan bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan banyak diakibatkan oleh salah penanganan terhadap bahan pustaka, baik oleh petugas maupun oleh pemakai jasa perpustakaan. Hal ini disebabkan belum adanya kesadaran yang tinggi tentang pentingnya perawatan bahan pustaka dan kurangnya bimbingan atau penyuluhan yang diberikan oleh pustakawan kepada pengguna perpustakaan tentang tatacara penanganan maupun penggunaan terhadap bahan pustaka.

3. Banyaknya faktor kerusakan bahan pustaka di HKBP Nommensen Medan akibat dari faktor alam, manusia dan binatang, tetapi yang lebih dominan yang merusak bahan pustaka adalah faktor manusia.

3. Banyaknya faktor kerusakan bahan pustaka di HKBP Nommensen Medan akibat dari faktor alam, manusia dan binatang, tetapi yang lebih dominan yang merusak bahan pustaka adalah faktor manusia.

Dokumen terkait