• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR

Dalam dokumen Pengelolaan Sumber Daya Air (Halaman 151-156)

PERENCANAAN DAN PENGAMBILAN DATA

PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR

557. Pengelolaan sumber daya air, atau konkritnya infrastruktur sumber daya air memiliki siklus (life-cycle) yang kerap disingkat dengan akronim SIDLAKOM (Survai, Investigasi, Design, land Acquisition, Konstruksi, Operation dan Maintenance) secara umum adalah meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan.

1. Perencanaan

558. Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun untuk menghasilkan sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan konservasi sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Rencana pengelolaan sumber daya air merupakan salah satu unsur dalam penyusunan, peninjauan kembali, dan/atau penyempurnaan tata ruang wilayah. Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang ditetapkan dalam standar perencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air. Inventarisasi sumber daya air dilakukan pada setiap wilayah sungai di seluruh wilayah Indonesia, secara terkoordinasi oleh pengelola sumber daya air. Penyusunan rencana pengelolaan sumber daya air dilaksanakan secara terkoordinasi oleh instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya dengan mengikutsertakan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air dan masyarakat. Instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya mengumumkan secara terbuka rancangan pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. Masyarakat berhak menolak rancangan pemgelolaan sumber daya air dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat.

559. 560. 561.

562. 2. Pelaksanaan Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan

563. Pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air dilakukan berdasarkan norma, standar, pedoman, dan manual (NSPM) dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya lokal serta mengutamakan keselamatan, keamanan kerja, dan keberlanjutan fungsi ekologis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 564. Setiap orang atau badan usaha dilarang melakujkan kegiatan pelaksanaan

konstruksi prasarana sumber daya air yang tidak didasarkan pada NSPM. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air serta operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air.

565. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau pengelola sumber daya air sesuai

dengan kewenangannya untuk menjamin kelestarian fungsi dan manfaat sumber daya air.

566. Metode Pengambilan Data

567. Metode pengambilan data yang dilakukan dalam perencanaan untuk pengembangan infrastruktur sumber daya air.

568. Metodenya antara lain dengan cara:

1. Metode literatur yaitu suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan data dengan mengumpulkan, mengidentifikasi, mengolah data.

2. Metode observasi yaitu metode yang digunakan untuk mendapatkan data dengan cara melakukan survey langsung ke lokasi. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi lokasi sebenarnya.

569.

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR YANG

BERKELANJUTAN

570. Pembangunan berkelanjutan sangat memperhatikan optimalisasi manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan cara menyelaraskan aktivitas manusia dengan kemampuan sumber daya alam untuk menopangnya. Komisi dunia untuk lingkungan dan pembangunan mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. 571. Tujuan pembangunan berkelanjutan yang bermutu adalah tercapainya

standar kesejahteraan hidup manusia yang layak, sehngga tercapai taraf kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Taraf kesejahteraan ini diusahakan dicapai dengan menjaga kelestarian lingkungan alam serta tetap tersediannya sumber daya yang diperlukan. Salah satu konsep terkait dengan pembangunan yang memperhatikan dampak terkecil dari kerusakan lingkungan tetapi menghasilkan manfaat yang optimal adalah kosep Eco-Efficiency.

572. Konsep Eco- Efficiency

573. Eco-efficiency untuk pertama kalinya dipromosikan dalam The World Business Council on Sustainable Development (WBCSD) sebagai konsep bisnis untuk memperbaiki kinerja ekonomi dan kondisi lingkungan pada setiap perusahaan. Eco-efficiency telah dipertimbangkan dengan memperhitungkan penghematan sumber daya dan pencegahan polusi dari industri manufaktur sebagai pemicu untuk inovasi dan daya saing di semua jenis perusahaan. Pasar uang juga mulai mengenali nilai eco-efficiency karena banyak perusahaan yang menerapkan eco-efficiency dapat menghasilkan performa yang lebih baik secara finansial.

574. Menurut Tamlyn, pengertian eco-efficiency perlu memperhatikan dampak lingkungan meliputi pertimbangan ekologi dan ekonomi yang merupakan strategi untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan nilai produksi. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut maka akan terdapat upaya untuk mengurangi dampak lingkungan namun dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun hal yang penting untuk dicatat adalah terjadinya hubungan yang memberikan peluang untuk saling berubah secara posistif antara satu dengan yang lainnya.

575. WBCSD telah mengidentifikasi 7 (tujuh) elemen yang dapat digunakan dalam menjalankan bisnis perusahaan untuk meningkatkan eko-efisiensi proses bisnisnya yaitu: 1) mengurangi penggunaan bahan baku; 2) mengurangi penggunaan energi; 3) mengurangi limbah beracun dari hasil produksi; 4) meningkatkan kemampuan daur ulang; 5) memaksimalkan penggunaan energi terbarukan; 6) memperpanjang daya tahan produk; dan 7) meningkatkan intensitas layanan.

576. Indikator eco-efficiency pada tingkat penrusahaan dapat diterapkan untuk mengukur seberapa besar tingkat efisiensi sumberdaya yang digunakan dalam

suatu usaha. Misalnya seberapa besar sumber daya energi, air dan bahan baku utama yang digunakan untuk mentransformasikan menjadi produk yang layak jual. WBCSD menyarankan agar menggunakan ratio antara nilai produk atau jasa per pengaruh lingkungan. Dari pernyataan WBCSD tersebut selanjutanya oleh Fuse, Horikoshi, Y.Kumai dan Taniguchi, dalam penerapannya disebut sebagai faktor eco-efficiency yang dapat diformulasikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:

577.

578. Keterkaitan Eco-Efficiency dengan Infrastruktur Sumber Daya Air

579. Eco-efficient dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air merupakan upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan konstruksi, dalam hal ini adalah konstruksi infrastruktur sumber daya air yang memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam penerapan eco-efficiency, bahan baku yang digunakan perlu mempertimbangkan berasal dari dalam negeri. Hal ini akan mengurangi biaya pengiriman bahan baku sehingga akan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar, yang pada akhirnya dapat mengurangi emisi karbon. Pemanfaatan bahan bangunan dan teknologi ramah lingkungan perlu disosialisasikan dan dilaksanakan secara optimal untuk mengurangi dampak kerusakan ekologis dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air, serta operasi dan pemeliharaannya.

3. Penerapan Eco-Efficiency dalam Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air

580. Dalam rangka penerapan konsep eco-efficiency dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air, Pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya yang dijelaskan di bawah ini:

581. Konservasi Sumber Daya Air

582. Konservasi sumber daya air dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dilatarbelakangi pada beberapa hal sebagai berikut:

• Perlunya keseimbangan kebutuhan air saat ini dan di masa mendatang

• Penggunaan persediaan air yang ditampung pada saat musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau

• Meningkatkan ketersediaan air tanah

• Perbandingan infrastruktur skala besar dengan infrastruktur skala kecil

• Kebijakan Pemerintah Indonesia: peningkatan embung yang dikelola oleh petani di perdesaan dan daerah pertanian.

583. Berdasarkan pengalaman, Pemerintah Indonesia saat ini mencoba untuk meminimalkan dampak pembangunan infrastruktur sumber daya air melalui pembangunan skala mikro yang meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mendukung konsep ramah lingkungan. Dengan partisipasi masyarakat, biaya operasi dan pemeliharaan dapat lebih efisien dan anggaran dapat dikurangi. Perbandingan dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air ditampilkan dalam tabel berikut.

584. Tabel 1: Perbandingan Bendungan dan Embung 585. Kriteria 586. Bendunga

n

587. Field Reservoir

588. (Embung)

Panjang Pendek

592. Investasi 593. Tinggi 594.derat Rendah/Mo

595. Partisipasi

596. Masyarakat 597. Rendah 598. Tinggi

599. Dampak

Sosial 600. Tinggi

601. Rendah/Mo

derat

602. Kapasitas 603. Besar 604. Kecil/Medi

um 605. Dampak 606. Lingkungan 607. Resiko Tinggi 608. Ramah 609. Lingkungan 610.

611. Sebagai tambahan pengembangan waduk dan embung, pemerintah juga mendorong konservasi sumber daya air lainnya yang memberikan lebih banyak pada peningkatan air tanah dan penguranan limpasan air permukaan. Konservasi sumber daya air yang diperkenalkan oleh Handojo (2008) dapat dibagi menjadi konservasi di hulu, tengah dan hilir sungai wilayah.

612. Daerah Hulu (Parit resapan)

1. Parit resapan merupakan penampungan air sementara untuk menampung limpasan air permukaan supaya terserap ke dalam tanah.

2. Fungsi dari parit resapan tersebut adalah untuk mengurangi air limpasan, menyaring polutan, dan meningkatkan pengisian ulang air tanah.

3. Parit resapan dibuat dengan kedalaman kurang dari 1 m dan lebar 80 cm. Parit dapat diisi dengan kerikil atau dikominasikan dengan pipa.

613.

614.Gambar Parit Resapan di Daerah Hulu 615.

616. Daerah Tengah (Embung resapan)

1. Membuat embung resapan: efektif dengan pendekatan keteknikan yang ringan, berdasarkan pada proses alami untuk mengantisipasi banjir dan kekeringan.

617. 2. Menyediakan waktu untuk air dapat terserap

618. 3. Menampung air hujan yang dapat digunakan saat musim kemarau 619. 4. Meningkatkan kualitas air

620.

621.Gambar Embung Resapan di Daerah Tengah 622.

623.

624. Daerah hilir (Sumur resapan) 1. Membangun sumur resapan.

2. Meningkatkan pengisian kembali air tanah.

3. Sebagai upaya untuk mengatasi ekstrasi air tanah yang akan mengakibatkan penurunan tanah.

4. Berkontribusi dalam mengurangi limpasan air permukaan. 625.

626.Gambar Sumur Resapan di Daerah Hilir 627.

628. KESIMPULAN

629. Infrastruktur dan dampaknya terhadap lingkungan adalah konsumsi terhadap sumberdaya (energi, air,bahan dan lahan) selama konstruksi dan operasi. Pengurangan emisi sebagai limbah dari sampah, gas rumah kaca, dan sebagainya perlu dipertimbangkan untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

630. Dalam pembangunan infrastruktur sumber daya air, pemerintah sebagai regulator perlu mensosialisasikan pentingnya pelaksanaan pembangunan dengan mempertimbangkan faktor lingkungan sehingga dapat tercapai efisiensi baik dari sisi ekonomi maupun ekologi. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap peningkatan limbah material bangunan sejalan dengan pemahaman masyarakat mengenai pembangunan berbasis lingkungan. Pada akhirnya, pelaksanaan konstruksi perlu menekan sebanyak mungkin efek terhadap polusi air, udara, dan suara.

631. Pemanfaatan bahan bangunan yang ramah terhadap lingkungan perlu didukung semaksimal mungkin, dengan perhatian khusus dan insentif terhadap harga pasar. Penggunaan tidak hanya didasarkan pada material buatan manufaktur, tetapi perlu juga mempertimbangkan material alami.

Dalam dokumen Pengelolaan Sumber Daya Air (Halaman 151-156)