• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data

Dengan memperpanjang pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru.87 Peneliti mengumpulkan data dengan lebih dari satu kali kunjungan dari mulai November 2019 - selesai yang bertujuan untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan. Proses memperpanjang pengamatan ini berguna untuk menguatkan data yang didapat dalam penelitian, serta untuk menguji keabsahan dan validitas suatu data yang di,dapat.

87 Sugiyono, op. cit., h. 270.

2. Triangulasi Data

Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.88 Pada penelitian ini, peneliti dapat mengecek data maupun memperoleh data melalui teknik triangulasi, yakni dengan melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran al-Qur’an bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu beberapakali. Selanjutnya membandingkan data hasil pengamatan dalam proses pembelajaran al-Qur’an dengan data hasil wawancara dengan beberapa guru dan Kepala Sekolah Aluna. Peneliti juga membandingkan hasil wawncara dengan dokumen yang berkaitan.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.89

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, observasi atau pengamatan kepada kegiatan subjek penelitian dan dokumentasi. Data segera dianalisis setelah dikumpulkan dan dituangkan dalam bentuk laporan.

Berikut ini adalah proses analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian, antara lain:

88 Ibid, h. 273.

89 Ibid, h. 245.

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.90 Adapun data yang direduksi meliputi hasil observasi, wawancara dan juga dokumen. Dari semua hasil wawancara yang dilakukan peneliti, ada beberapa data yang memiliki kesamaan sehingga data tersebut tidak dicantumkan semuanya.

2. Data Display (Penyajian Data)

Pada penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.

Paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang sifatnya naratif. Dengan adanya penyajian data tersebut maka data akan terorganisir, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.91 Setelah data direduksi, peneliti melakukan menyajian data dalam uraian singkat, bagan dan menghubungkan keseluruhan data. Hal ini bisa mempermudah untuk memahami apa yang terjadi dan melanjutkan rencana setelahnya.

3. Conclusion Drawing/verification (Penarikan Kesimpulan/Verifikasi) Setelah melalui dua tahap di atas, langkah terakhir yang dilakukan adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Pada tahap ini, kesimpulan awal yang masih bersifat sementara jika didukung dengan data-data yang valid maka bisa dikatakan jika kesimpulan tersebut adalah kredibel.92 Dari

90 Sugiyono, op. cit., h. 247.

91 Ibid, h. 249.

92 Ibid, h. 253.

beberapa data yang diperoleh hasil penelitian berupa data observasi, wawancara dan juga dokumentasi, peneliti mendeskripsikan hasil temuan tersebut kemudian ditarik kesimpulannya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Sekolah Aluna

1. Sejarah Berdirinya Sekolah Aluna

Ibu Rina Jayani adalah founder sekaligus Kepala Sekolah Aluna.

Sejak awal pada tahun 2011 beliau sangat ingin mendirikan sekolah.

Sebelum mendirikan Sekolah Aluna Ibu Rina sudah mempunyai Therapy Center untuk anak gangguan pendengaran agar anak-anak tersebut dapat mendengar dan dapat berkomunikasi verbal. Ibu Rina akhirnya mendirikan sekolah inklusi. Alasan memilih sekolah inklusi karena ibu Rina merasa sekolah inklusi di Indonesia belum banyak. Mungkin sudah ada beberapa sekolah inklusi, tetapi tidak fokus pada anak gangguan pendengaran.

Ibu Rina menginginkan sekolah inklusi yang memperhatikan anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran tersebut. Selain itu juga merupakan bentuk wujud syukur ibu Rina karena anak beliau yang terakhir mengalami gangguan pendengaran. Akan tetapi sekarang anak tersebut tumbuh menjadi anak yang ceria dan mampu berkomunikasi dengan verbal, sehingga ibu Rina ingin berbagi pengalaman bagaimana ibu Rina membesarkan anaknya dengan orang tua lain yang mengalami hal yang sama, senasib dan juga seperjuangan.

Selain itu, ibu Rina juga ingin mensosialisasikan bahwa anak gangguan pendengaran itu mempunyai tiga solusi, pertama adalah bahasa isyarat, kedua adalah membaca gerak bibir (lips reading), dan ketiga mendengar dan berkomunikasi verbal. Solusi apapun yang dipilih orang tua adalah yang terbaik asal dilakukan dengan konsisten. Di sekolah Aluna mengambil solusi yang ketiga, yakni mendengar dan komunikasi verbal.

Akan tetapi, syaratnya harus usia dini dan bekerja keras. Itulah yang

53

diajarkan di terapi dan di sekolah, bahwasanya suara yang ada di sekeliling mereka perlu didengar dan mengandung makna.

2. Arti nama “Aluna” dan Maskot dari Sekolah Aluna

Aluna berarti siswa/murid dalam bahasa Portugis. Kami percaya bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kecepatan belajar dan bakat masing-masing anak.

Sedangkan maskot dari Sekolah Aluna adalah kura-kura. Kura-kura adalah binatang yang berjalan dengan percaya diri dengan kecepatannya sendiri yang khas tapi pasti untuk mencapai tujuannya. Untuk mencapai tujuan yang paling penting adalah mengikuti prosesnya. Kamipun yakin bahwa tidak ada pencapaian yang instan.

3. Visi, Misi dan Motto Sekolah Aluna

Visi Sekolah Aluna:

Terbentuknya anak yang mandiri, percaya diri, peka terhadap lingkungan, kreatif, dan berprestasi maksimal sesuai bakat dan minat masing-masing.

Misi Sekolah Aluna:

Memberikan lingkungan yang disiapkan dengan menganut prinsip-prinsip dari metode Montessori serta guru-guru yang memiliki semangat mengajar anak-anak serta paham Pendidikan anak usis adini dan metode Montessori.

Motto Sekolah Aluna:

“Sekolah Untuk Semua”

Sekolah yang menyatukan semua anak yaitu anak regular dan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus (khususnya anak-anak-anak-anak gangguan pendengaran) dari berbagai latarbelakang finansial dan agama.

Maksud dari motto tersebut yaitu Sekolah Aluna adalah sekolah yang ditujukan untuk semua anak dari berbagai kalangan, baik anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dalam hal ini khusus anak-anak dengan gangguan pendengaran serta dari berbagai latarbelakang ekonomi keluarga. Semua anak mendapatkan perlakuan dan pembelajaran yang sama.

4. Sarana dan Prasarana Sekolah Aluna

Sekolah Aluna adalah sekolah inklusi berbahasa Indonesia yang menggunakan metode Montessori. Terbuka bagi anak mulai usia 1,5 tahun.

Tersedia Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak dan PKMB (setara SD).

Fasilitas Sekolah Aluna:

a. Ruang kelas luas dengan AC b. Peralatan Montessori yang lengkap c. Alat bermain yang bervariasi d. Arena bermain

e. Perpustakaan f. Daycare

g. Therapy Center

5. Keadaan Guru dan Siswa Sekolah Aluna a. Keadaan Guru

Guru merupakan unsur yang sangat vital dalam suatu lembaga pendidikan. Guru-guru yang mengajar di Sekolah Aluna khususnya di PKMB Sekolah Aluna sebagian besar merupakan lulusan dari S1 Pendidikan, sesuai dengan hasil penelitian, tenaga guru di PKMB

Sekolah Aluna berjumlah 10 orang dan 1 kepala sekolah, sebagimana tertera dalam tabel di bawah ini:93

Tabel 4.1

Data Guru PKMB Sekolah Aluna Tahun Ajaran 2019/2020

No Nama Guru Jabatan

1. Rina Jayani Kepala Sekolah

2. Halimatussakdiah, S.Sos. Guru Bahasa Indonesia 3. Eryana Rismayanti, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia,

IPA & SBdP 4. Dian Larasati H, S.E. Guru Matematika 5. Ade Purnama Sari, S.Pd. Guru Matematika & IPA 6. Reni Ariskawati, S.Si. Guru Tematik 7. Rafika Tri Dewi, S.Pd. Guru Matematika 8. Defi Intan Pusparini S.Pd. Guru Tematik 9. Elma hanani, S.Pd. Guru Matematika 10. Vifih Herlina, S.Pd. Guru Tematik 11. Nurhayati, S.T. Guru Matematika

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwasanya sebagian besar guru berlatarbelakang pendidikan S1 bidang Pendidikan, sekalipun ada guru yang bukan lulusan S1 bidang Pendidikan, akan tetapi mereka sudah memiliki pengalaman dalam mengajar. Adapun guru yang mengajar mata pelajaran agama di PKMB Sekolah aluna masih dalam proses, karena mengingat kondisi siswa yang membutuhkan pelayanan khusus dalam bidang keagamaan. Selain itu, di Sekolah Aluna juga terdapat psikolog untuk menterapi siswa berkebutuhan khusus.

93 Dokumentasi PKMB Sekolah Aluna

b. Keadaan Siswa

Jumlah siswa PKMB Sekolah Aluna pada tahun ajaran 2019/2020 semester 1 seluruhnya tercatat sebanyak 52 orang siswa, dengan rincian perkelasnya antara lain:

Tabel 4.2

Data Siswa PKMB Sekolah Aluna Tahun Ajaran 2019/2020

Kelas Jumlah Siswa

Kelas Satu 13 Siswa

Kelas Dua 10 Siswa

Kelas Tiga 14 Siswa

Kelas Empat 8 Siswa

Kelasa Lima 7 Siswa

TOTAL 52 Siswa

B. Hasil Temuan

1. Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu di Sekolah Inklusi Aluna Jakarta

Pada penelitian ini membahas tentang pembelajaran membaca al-Qur’an bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Inklusi Aluna bertempat di Jakarta. Pembelajaran membaca al-Qur’an bagi anak berkebutuhan khusus di antaranya adalah anak tunarungu yang beragama Islam merupakan pembelajaran yang penting. Pembelajaran memaca al-Qur’an bagi peserta didik tunarungu bertujuan untuk menjadikan peserta didik mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Sekolah Aluna merupakan sekolah inklusi dengan model kelas regular yakni dalam satu kelas digabung antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal.

Begitupun dalam pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an baik anak

berkebutuhan khusus dengan anak normal dapat belajar bersama-sama dalam satu kelas.

Jika proses pembelajaran pada umumnya sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai, pendidik terlebih dahulu membuat perencanaan pembelajaran yang akan dilakukan, baik seperti silabus maupun RPP. Akan tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna tidaklah demikian.

Pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna dilakukan setiap hari yakni pada hari Senin sampai Jum’at pukul 07.30 – 08.00. Pembelajaran membaca al-Qur’an ini dibimbing langsung oleh wakli kelas pada masing-masing kelas. Setiap pagi sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar, peserta didik secara bergantian belajar membaca al-Qur’an dihadapan guru.94 Bahkan karena semangatnya peserta didik untuk belajar membaca al-Qur’an, terkadang sebelum guru datang mereka sudah mempersiapkan meja untuk mengaji sendiri. Sehingga ketika pendidik datang, mereka langsung mulai membaca dihadapan guru satu persatu.

Guna mengantarkan sebuah pembelajaran kearah yang ideal dengan tepat dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka perlu adanya metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, pendidik menggunakan metode yang dapat membantu peserta didik untuk lebih mudah memahami pembelajaran.

Banyak sekali berbagai metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca al-Qur’an.

Metode yang digunakan pada pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an adalah metode iqro’. Pada prosesnya, pendidik menggunakan

94 Hasil observasi lapangan pada Kamis 12 Desember 2019

buku acuan iqro’ yang terdiri dari enam jilid sebagai dasarnya. Setiap peserta didik memiliki buku iqro’ maisng-masing. Dimulai dari tahap sederhana lalu tahap demi tahap sampai pada tingkatan sempurna. Hal ini disampaikan oleh Ibu Elma yang mengatakan:

“Untuk basic-nya kita menggunakan iqro’, sedangkan Metode yang digunakan masih biasa saja, karena mereka harus berbicara konkrit, jadi benar-benar dari al-Qur’annya kita tunjuk, mana tanda baca panjang, pendek, mana tanda berhenti dan mana tanda lanjut. Pembelajarannya pun bertahap sesuai dengan tingkatan dalam membaca iqro’nya.”95

Materi dalam pembelajaran al-Qur’an di Sekolah Aluna menyesuaikan dengan metode iqro’ yang bersifat fleksibel yaitu menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik, karena setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Adanya sifat fleksibel ini untuk menghargai perbedaan individual dan keberagaman kecerdasan.

Dengan demikian materi yang diajarkan kepada peserta didik disesuaikan dengan kemampuannya pada tingkatan jilid iqro’. Dan bagi peserta didik yang sudah menyelesaikan tahapan sampai jilid enam pada iqro’ bisa melanjutkan bacannya ke tingkat al-Qur’an.

Pada metode iqro’ dalam pratiknya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada bacaannya (membaca huruf al-Qur’an dengan fasih dan benar). Membacanya tanpa di eja. Metode iqro’

pun memiliki karakter di antarnya adalah praktis, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yakni peserta didik yang aktif membaca sedangkan pendidik hanya menyimak. Pendidik tidak menuntun, akan tetapi hanya mencontohkan saja pada pokok pembahasan. Selain itu, karakter selanjutnya adalah privat, yakni menyimak bacaan seseorang secara bergantian. Hal ini di terapkan pada pembelajaran membaca al-Qur’an di Sekolah Aluna.

95 Wawancara dengan Ibu Elma selaku wali kelas 3 pada 12 Desember 2019

Sebagaimana diketahui bahwasanya ada tiga solusi cara berkomunikasi untuk anak tunarungu yakni pertama adalah bahasa isyarat, kedua adalah membaca gerak bibir (lips reading), dan ketiga mendengar serta berkomunikasi verbal. Di sekolah aluna mengambil solusi yang ketiga yakni mendengar dan berkomunikasi verbal. Ibu Elma mengatakan:

“Untuk anak tunarungu kita biasakan mereka berbicara dan tidak menggunakan bahasa isyarat. Dan anak tunarungu di sini semua menggunakan alat bantu dengar baik itu implant maupun ABD biasa, jadi kita membiasakan berbicara dengan mereka sama seperti anak-anak yang lainnya”96

Sama halnya dalam pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an, peserta didik tidak diperkenankan menggunakan bahasa isyarat. Akan tetapi peserta didik dilatih untuk mampu membaca al-Qur’an dengan mengucapkan langsung dan juga mampu mendengar apa yang dilafalkan oleh pendidik. Karena setiap peserta didik tunarungu di Sekolah Aluna menggunakan alat bantu dengar, baik alat bantu dengar biasa maupun implant. Fungsi alat bantu dengar ini untuk memperkuat rangsangan bagian sel-sel sensorik telinga bagian dalam yang rusak terhadap rangsangan suara dan bunyi-bunyian dari luar. Hal serupa disampaikan oleh ibu Nurhayati:

“Waktu awal saya ke sini juga saya gak ngerti bagaimana komunikasi dengan mereka (anak tunarungu), tapi memenag kita harus face to face dan jarak kita berbicara juga jangan terlalu jauh nanti gak ngerti maksud mereka apa, paling harus deket. Dan biasanya anak tunarungu itu suka melihat mimik mulut kita, dan di sini gaboleh, jadi kita harus berbicara disamping alatnya, hal itu untuk mengecek juga apakah alatnya berfungsi atau tidak. Karena kan sayang alatnya sudah di beli mahal-mahal tapi ternyata tidak berfungsi. Jadi makanya disuruh komunikasi disamping alatnya itu.” 97

Setiap peserta didik maju satu persatu untuk membaca iqro’

dihadapan pendidik. Pelaksanaan pembelajaran membaca al-Qur’an ini

96 Wawancara dengan Ibu Elma selaku wali kelas 3 pada 12 Desember 2019

97 Wawancara dengan Ibu Nurhayati selaku wali kelas 4 pada 13 Desember 2019

disesuaikan juga dengan keadaan peserta didik. Apalagi sekolah Aluna ini merupakan sekolah inklusi di mana dalam satu kelas terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus. Rata-rata untuk peserta didik normal di sekolah Aluna sudah menyelesaikan tahapan jilid dalam iqro’ sehingga bisa melanjutkan ke tingkat al-Qur’an. Sedangkan untuk peserta didik berkebutuhan khusus tunarungu masih dalam tahapan iqro’. Peserta didik tunarungu bukan hanya mengalami gangguan dalam pendengaran namun mengalami kesulitan juga dalam berbicara. Begitupun dalam pembelajaran al-Qur’an, untuk melafalkan huruf-huruf hijaiyah masih cukup sulit sehingga terdengar pada huruf-huruf tertentu seperti sama pengucapannya.

Ketika proses pembelajaran berlangsung, posisi duduk antara peserta didik normal dengan peserta didik berkebutuhan khusus tunarungu sedikit berbeda. Jika peserta didik normal posisi duduknya berhadapan langsung dengan pendidik, akan tetapi untuk peserta didik tunarungu posisi pendidik berada di samping alat dengar peserta didik. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa alat bantu dengar bisa berfungsi dengan baik dan juga untuk menghindari peserta didik tunarungu membaca gerak bibir pendidik.98

Untuk melihat ketercapaian dari suatu pembelajaran perlu diadakan evaluasi. Evaluasi menjadi hal penting untuk dilakukan dalam tiap pembelajaran. Adapun model penilaian yang digunakan sekolah Aluna dalam Pembelajaran membaca al-Qur’an dengan metode iqro’ ini dengan cara evaluasi harian. Cara pendidik mengevaluasi pembelajaran membaca al-Qur’an menggunakan metode iqro’ yakni dengan menilai peserta didik dalam menentukan apakah bacaannya bisa dilanjutkan atau mengulang.

Pendidik melihat komponen bacaan pada tiap-tiap siswa, jika komponen seperti kelancaran, tajwid berupa panjang pendek, dan fashah sudah

98 Hasil observasi lapangan pada Kamis 12 Desember 2019

dikuasai, maka peserta didik bisa melanjutkan bacaan. Akan tetapi jika masih belum, maka mengulang-ulang pada halaman yang masih belum lancar sampai peserta didik dirasa sudah cukup jelas terkhusus bagi peserta didik tunarungu dalam pengucapan hurufnya, serta ketentuan panjang pendeknya bacaan.99 Megingat bahwasanya metode iqro’ ini bersifat individual, oleh sebab itu ketika evaluasi pun juga tergantung pada jilid dan kemampuan peserta didik.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pelaksanaan Membaca Pembelajaran Al-Qur’an Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu Di Sekolah Inklusi Aluna Jakarta

a. Faktor Pendukung

1) Sikap saling menghargai dan menyemangati sesama peserta didik Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu pengetahuan saja, akan tetapi sekolah juga menjadi tempat yang dapat memberikan pengaruh dalam pembentukan sikap peserta didik. Di sekolah peserta didik dibimbing untuk bersosialisasi dengan orang lain. Adanya sekolah tidak hanya bermanfaat bagi orang normal saja, melainkan juga bagi anak berkebutuhan khusus yang mempunyai keterbatasan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini, solusi yang dianggap tepat adalah dengan memasukkan anak ke sekolah inklusi.

Sekolah inklusi adalah sekolah yang menempatkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal dalam satu kelas di sekolah umum. Di antara tujuan diadakannya sekolah inklusi adalah untuk mewujudkan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak adanya sikap diskriminatif bagi semua peserta didik.

99 Hasil wawancara dengan Ibu Elma selaku wali kelas 3 pada 12 Desember 2019

Sekolah Aluna menjadi salah satu sekolah inklusi yang ada di Jakarta. Di Sekolah Aluna pendidik mengajarkan untuk saling menghargai dengan perbedaan yang ada. Selain itu, para peserta didik juga memiliki sikap saling tolong menolong, dan juga saling menyemangati satu sama lain tanpa memandang temannya itu normal ataupun berkebutuhan khusus.

Begitupun dalam pembelajaran al-Qur’an, ketika ada peserta didik yang enggan untuk mengaji iqro’ terkhusus bagi anak berkebutuhan khusus tunarungu, maka teman-teman yang lain mengajaknya agar peserta didik tersebut mau mengaji. Dan hal inipun berhasil membuat peserta didik tersebut menjadi ingin membaca iqro’nya. Hal serupa dikatakan oleh ibu Elma:

“Dari teman-teman mereka saja sering suka mengajak untuk membaca iqro’, karena terkadang ada anak yang lupa atau malas, tetapi ketika diajak oleh temannya baru mereka mau baca.”100 2) Peran serta orang tua

Bagi anak berkebutuhan khusus, orang tua merupakan sumber utama pemberi dukungan dalam hidupnya. Penerimaan dari orang tua membuat anak menjadi merasa berharga, Dukungan orang tua bisa berupa beberapa bentuk termasuk mengasuh di dalam rumah, menciptaan suasana yang aman serta menjadi model pengasuh yang tepat. Seorang anak berkebutuhan khusus akan mencapai potensinya secara maksimal apabila mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya.

Adanya dukungan orang tua mampu mengembangkan kompetensi anak. Begitupun dalam kompetensi beragama. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dalam beragama. Mengenai anak

100 Wawancara dengan Ibu Elma selaku wali kelas 3 pada 12 Desember 2019

berkebutuhan khusus, bagaimanapun keadaannya mereka tetaplah makhluk Allah yang dinilai dari segi kemanusiaan mendapat pelayanan-pelayanan kesejahteraan bagi mereka dengan cara memberikan bimbingan rohani. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengenalkan serta mengajarkan pada Tuhan dan kitab suci-Nya.

Pengetahuan agama bukan hanya diberikan oleh orang tua, akan tetapi di berikan juga di sekolah. Salah satunya adalah Sekolah Aluna.

Di sekolah, peserta didik diajarkan pengetahuan agama. Selain itu, sebagai penunjang pembelajaran agama diadakan pembelajaran membaca al-Qur’an melalui iqro’. Sebagimana diketahui bahwasanya mempelajari Al-Qur’an adalah wajib bagi setiap umat Islam, baik yang memiliki fisik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus.

Ketika ditanyakan mengenai peranan orang tua dalam mendukung pembelajaran al-Qur’an bagi peserta didik berkebutuhan khusus tunarungu, ibu Nurhayati menjawab:

“Ada orang tua yang mendukung, jadi dirumah anak diajarkan dulu untuk membaca, ada juga yang dilesin qur’an membaca iqro’.”101

Orang tua dan sekolah bersinergi dalam memberikan pembelajaran membaca al-Qur’an bagi anak. Orang tua mengajarkan membaca al-Qur’an dirumah sedangkan pendidik mengajarkannya di

Orang tua dan sekolah bersinergi dalam memberikan pembelajaran membaca al-Qur’an bagi anak. Orang tua mengajarkan membaca al-Qur’an dirumah sedangkan pendidik mengajarkannya di

Dokumen terkait