BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENELAAHAN PUSTAKA A Daun Sirsak

D. Pemeriksaan Histologi Hat

Pengamatan makroskopis hati tikus jantan dan betina dilakukan dengan melihat apakah ada perubahan morfologi pada hati tikus kelompok perlakuan yang dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada pengamatan tersebut, tidak dijumpai perbedaan pada kelompok kontrol dan perlakuan.

Selanjutnya dilakukan penimbangan bobot hati. Berat organ merupakan petunjuk yang sangat peka dari efek yang terjadi pada hati, meskipun efek tersebut tidak selalu menunjukkan toksisitas (Lu, 1995). Rata-rata bobot hati tiap kelompok ditampilkan pada tabel XII.

TabelXII. Rata-rata bobot hati tikus jantan dan betina pada kelompok perlakuan dan kontrol

Kelompok

Rata-rata bobot hati

Jantan Betina Setelah 30 hari (n=2) Setelah 45 hari (n=3) Setelah 30 hari (n=3) Setelah 45 hari (n=2) Kontrol aquadest dosis

503 mg/kg BB

11,1 ±0,4 9,6 ± 1,6 8,0 ± 0,3 5,3 ± 0,2 Infusa daun sirsak dosis

108 mg/kg BB

9,4 ± 0,9 10,2 ±1,5 9,3 ±0,8 6,4 ± 0,3 Infusa daun sirsak dosis

180 mg/kg BB

10,9 ±0,7 9,3 ±1,3 8,4±0,7 7,5 ± 0,8 Infusa daun sirsak dosis

301 mg/kg BB

11,5 ±0,1 8,1 ±0,8 7,6 ± 0,7 6,3 ±0,4 Infusa daun sirsak dosis

503 mg/kg BB

12,5 ±0,7 8,5 ±0,4 9,2 ± 1,7 5,8 ± 0,5

Keterangan: data direpresentasikan dalam mean ± SD

Data bobot hati pada penelitian ini adalah sebagai data pendukung dari pengamatan histologi organ hati. Secara sekilas terlihat bahwa bobot hati perlakuan lebih besar dari bobot hati kelompok reversibel. Data seharusnya diuji secara statistik untuk memastikan perbedaan kelompok perlakuan dan kelompok

reversibel tetapi hal tersebut tidak dapat dilakukan karena jumlah sampel yang hanya 2 pada hewan uji jantan setelah 30 hari dan hewan uji betina setelah 45 hari.

Metode lain untuk melihat pengaruh suatu senyawa pada tubuh makhluk hidup adalah dengan melakukan pengamatan kualitatif terhadap organ vital yang dapat terkena dampak dari adanya senyawa uji maupun metabolitnya. Pemeriksaan histologi dilakukan untuk melihat adanya kerusakan organ tingkat seluler yang tidak tampak pada pengamatan makroskopik. Pemeriksaan ini penting untuk memperkirakan spectrum efek toksik yang ditimbulkan akibat pemberian sediaan uji.

Pada penelitian ini dilakukan pengamatan histologi pada organ hati. Pembedahan dilakukan 2 tahap yaitu pada hari ke 30 dan setelah 15 hari penghentian administrasi sediaan uji. Pada hari ke 30, 5 ekor hewan uji dikorbankan tiap dosisnya dengan cara dislokasi leher sedangkan pada hari ke 45 hewan uji sisanya dikorbankan dengan cara pembiusan. Hasil pemeriksaan histopatologi hati tikus jantan dan betina setelah 30 hari pemejanan dan 14 hari masa reversibilitas ada pada tabel XIII.

Tabel XIII. Hasil pemeriksaan histopatologi hati tikus jantan dan betina setelah 30 hari masa pemejanan dan 14 hari masa reversibilitas

Jenis kelamin

Perlakuan Hari ke 30 Hari ke 45

N Hasil

pemeriksaan

N Hasil

pemeriksaan

Jantan Kontrol 2 Normal 3 Normal

Infusa daun sirsak dosis 108 mg/kg BB

2 Normal 3 Normal

Infusa daun sirsak dosis 180 mg/kg BB

2 Normal 3 Normal

Infusa daun sirsak dosis 301 mg/kg BB

2 Normal 3 Normal

Infusa daun sirsak dosis 503 mg/kg BB

2 Normal 3 Normal

Betina Kontrol 3 Normal 2 Normal

Infusa daun sirsak dosis 108 mg/kg BB

3 Normal 2 Normal

Infusa daun sirsak dosis 180 mg/kg BB 3 1 hewan Normal, 1 hewan degenerasi hidrofobik, 1 hewan glikogennya naik 2 Normal

Infusa daun sirsak dosis 301 mg/kg BB

3 Normal 2 Normal

Infusa daun sirsak dosis 503 mg/kg BB 3 2 hewan Normal, 1 hewan degenerasi hidrofobik 2 Normal

Keterangan: Normal = vena sentralis berbentuk lingkaran (agak lonjong) dikelilingi oleh hepatosit yang tersusun radier dengan inti berwarna biru tua. Sinusoid diantara hepatosit dengan sel endotel yang pipih dan gelap.

Pada kontrol, semua hewan uji jantan baik dari kelompok perlakuan maupun kelompok reversibel kondisi histologi hatinya dinyatakan normal. Gambaran hati normalnya tampak seperti pada gambar 11. Pada gambar a nampak lobus berbentuk poligonal, dan pada lobus terdapat vena sentralis. Tampak pula

pada gambar b, hepatosit dengan inti sel yang nampak normal begitu juga dengan sinusoid yang juga normal.

a.

b.

Gambar11. penampakan hati normal. a. perbesaran 100x. b. perbesaran 400x pada kontrol jantan

Keterangan gambar:a. vena centralis b. hepatosit c. sinusoid d. nucleus hepatosit

Pada hewan uji betina dari kelompok perlakuan terdapat tikus yang pada gambaran histologinya, terdapat banyak sel darah merah pada vena sentralisnya. Akan tetapi hal tersebut adalah normal karena cara euthanasia hewan uji dilakukan dengan dislokasi leher. Pada gambar 12 (perbesaran 400) terlihat jaringan mengalami infiltrasi sel radang disekitar sel retikuloendotelial pada sinusoid dan terlihat sinusoid disekitar vena sentralis melebar akan tetapi hal itu masih dianggap normal karena infasinya tidak melebihi batas normal.

Gambar pada hewan uji yang lain dari kelompok kontrol perlakuan maupun reversibel, histologi hatinya dinyatakan normal dengan gambaran seperti pada hewan uji jantan sehingga secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa sel hati pada kelompok kontrol adalah normal.

Gambar12. hati tikus yang mengalami infiltrasi sel radang perbesaran 400x pada kontrol betina

Keterangan gambar: a. vena sentralis b. sinusoid yang melebar c. sel radang d. hepatosit

Pada kelompok yang mendapat infusa daun sirsak dosis 108 mg/kg BB, hewan jantan dan betina pada kelompok perlakuan dan kelompok reversibel kondisi hispatologinya dinyatakan normal seperti pada gambar 11. Lobus berbentuk poligonal dan dalam poligonal tersebut terdapat vena sentralis. Hepatosit dan sinusoidnya juga terlihat jelas.

Pada kelompok yang mendapat infusa daun sirsak dosis 180 mg/kg BB, semua hewan uji jantan baik dari kelompok perlakuan maupun kelompok reversibel kondisi histologi hatinya dinyatakan normal (gambar 11 a dan b). Pada gambar a nampak lobus berbentuk poligonal, dan pada lobus terdapat vena sentralis. Tampak pula pada gambar b, hepatosit dengan inti sel yang nampak normal begitu juga dengan sinusoid yang juga normal.

Sedangkan hewan uji betina, terdapat hewan yang mengalami degenerasi hidropik. Degenerasi hidropik merupakan perubahan seluler yang diakibatkan karena adanya gangguan metabolisme seperti hipoksia dan keracunan bahan kimia yang mempengaruhi sodium channel. Perubahan ini bersifat reversibel. Tampak pembengkakan sel hati sehingga terlihat sitoplasma lebih terang (karena sel mengalami lisis) jika dibandingkan dengan sitoplasma hati normal dan juga batas sel tidak jelas (gambar 13).

Gambar13. hati yang mengalami degenerasi hidropik perbesaran 400x pada dosis 180 mg/kg BB

Keterangan gambar: a. vena sentralis b. nucleus hepatosit

c. batas antar sel yang tidak jelas

d. hepatosit yang mengalami degenerasi hidrofobik

Selain itu terlihat gambaran histologi pada hati hewan uji betina yang terdapat penumpukan glikogen. Infiltrasi glikogen mendesak inti sel hati ke samping sehingga banyak dari sel hati yang intinya terlihat pecah dan pada gambaran tersebut sitoplasmanya menjadi sangat terang. Selain itu adanya kenaikan glikogen juga menyebabkan batas antar sel tidak jelas dan sinusoid mengalami pelebaran (gambar 14). Glikogen yang banyak pada hewan uji betina kemungkinan berasal dari makanannya karena pada tikus betina kelompok dosis 2 mengalami peningkatan pola makan dibanding dengan kontrol.

Gambar14. sel mengalami penumpukan jumlah glikogen perbesaran 400x pada dosis 180 mg/kg BB

Keterangan gambar: a. duktus

b. hepatosit yang mengalami penumpukan glikogen c. glikogen

d. nucleus

e. batas antar sel yang tidak jelas

Pada kelompok yang mendapat infusa daun sirsak dosis 301 mg/kg BB, semua hewan uji jantan dan betina baik dari kelompok perlakuan maupun kelompok reversibel gambaran histologi hatinya menunjukkan gambaran normal (gambar 11 a dan b). Pada gambar a nampak lobus berbentuk polygonal, dan pada lobus terdapat vena sentralis. Tampak pula pada gambar b, hepatosit dengan inti sel yang nampak normal begitu juga dengan sinusoid yang juga normal.

Pada kelompok yang memperoleh infusa daun sirsak dosis 503 mg/kg BB, semua hewan uji jantan baik dari kelompok perlakuan maupun kelompok reversible kondisi histologi hatinya dinyatakan normal (gambar 11 a dan b). Pada gambar a nampak lobus berbentuk polygonal, dan pada lobus terdapat vena

sentralis. Tampak pula pada gambar b, hepatosit dengan inti sel yang nampak normal begitu juga dengan sinusoid yang juga normal.

Sedangkan hewan uji betina, terdapat hewan yang mengalami degenerasi hidropik. Degenerasi hidropik merupakan perubahan seluler yang diakibatkan karena adanya gangguan metabolisme seperti hipoksia dan keracunan bahan kimia yang mempengaruhi sodium channel. Perubahan ini bersifat reversibel. Tampak pembengkakan sel hati sehingga terlihat sitoplasma lebih terang (karena sel mengalami lisis) jika dibandingkan dengan sitoplasma hati normal dan juga batas sel tidak jelas (gambar 13).

Secara umum dapat disimpulkan bahwa selama pemberian infusa daun sirsak selama 30 hari dan masa uji reversibilitas 15 hari terjadi perubahan organ secara tidak bermakna. Hal ini didukung dari nilai SGPT yang menunjukkan perubahan yang tidak bermakna setelah pemberian sediaan uji dan bobot hati yang berbeda tidak bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Perlu dilakukan uji toksisitas seumur hidup hewan uji (toksisitas kronik) untuk mengetahui efek toksik infusa daun sirsak pada masa yang lebih lama.

59 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen Uji toksisitas subkronis infusa daun sirsak (Annonae muricatae folium) terhadap organ hepar dan kadar SGPT tikus putih jantan dan betina. (Halaman 94-103)