BAB IV PEMELIHARAAN HARIAN CONCRETE PUMP
4.3. Pemeriksaan Keliling (Walk Around Inspection)
Tugas awal Operator sebelum mengoperasikan alatnya adalah melakukan pemeriksaan keliling (walk around inspection) pada alat tersebut. Kegiatan ini dilakukan pada saat unit masih terparkir dan engine belum dihidupkan.
Langkah awal ini amat penting untuk memaksimumkan umur alat secara optimal, pada langkah kerja ini diharapkan kelainan-kalainan yang terdapat pada alat dapat dideteksi lebih dini.
4.3.1 Pemeriksaan kebocoran cairan
Cairan-cairan yang ada pada peralatan mempunyai fungsi masing-masing untuk mendukung kinerja yang optimal.
a. Tempat-tempat yang berpotensi mengalami kebocoran cairan
Tidak semua komponen berpotensi mengalami kebocoran cairan sehingga kita hanya mengamati adanya kemungkinan kebocoran cairan untuk :
1) Potensi kebocoran pada sistim bahan bakar dapat ada pada jalur sistim bahan bakar yaitu tangki bahan bakar, selang/ pipa penyalur ke filter bahan bakar, pompa bahan bakar (injection pump), pipa penyalur ke nozzle atau injector. Adanya kebocoran atau rembesan dapat dideteksi dengan adanya debu yang menempel pada tempat rembesan bahan bakar dan adanya bau bahan bakar disekitar jalur sistim bahan bakar.
2) Potensi kebocoran minyak pelumas engine dapat diperiksa pada paking tutup cylinder head, paking silinder head, baut penutup lubang pembuang pelumas, pendingin pelumas (oil cooler).
3) Potensi kebocoran minyak hidrolik ada pada tangki hidrolik dan jalur sistim hidrolik.
4) Potensi kebocoran minyak pelumas transmisi ada pada gearbox transmisi.
5) Potensi kebocoran minyak pelumas diferensial ada pada kotak diferensial.
6) Potensi kebocoran air pendingin pada jalur cooling system yaitu pada radiator, selang (hose) air yang menghubungkan radiator dengan blok engine dan water pump.
7) Potensi Kebocoran minyak rem dapat diperiksa pada brake system yaitu pada tabung minyak rem (brake fluid reservoir) brake master, wheel master dan pipa penyalurnya.
b. Pendeteksian adanya kebocoran minyak pelumas engine, bahan bakar dan air pendingin.
Kebocoran cairan dalam jumlah tertentu dapat dengan mudah diamati pada lantai tempat parkir alat berat. Kebocoran yang berasal dari minyak pelumas, bahan bakar dan air pendingin dalam jumlah tertentu akan menetes dan membasahi lantai parkir. Dari lokasi tetesan bocoran cairan dapat ditelusuri dari arah mana bocoran tersebut berasal.
Sebagai contoh pada pameriksaan kolong alat kita menemukan adanya tetesan yang berbekas pada lantai parkir, dapat dipastikan bahwa lokasi kebocoran berada tepat diatas bekas tetesan cairan yang menetes jatuh. Pada titik itulah kita dapat mendeteksi lokasi kebocoran cairan.
c. Deteksi adanya kebocoran pada sambungan pipa hidrolik/ hose dengan pompa hidrolik
Bila kebocoran pada minyak pelumas engine, bahan bakar dan air pendingin dapat terdeteksi dari teteasan dilantai parkir maka tidak demikian halnya pada minyak hidrolik (kecuali dalam jumlah banyak).
Kebocoran minyak hidrolik dimulai dari kebocoran kecil / rembes yang biasanya ditemukan pada sambungan pipa hidrolik dengan pompa hidrolik dan aktuatornya. Dengan demikian pemeriksaannya difokuskan pada tempat-tempat tersebut.
Pemeriksaan rembesan atau kebocoran ditempat ini ditandai dengan adanya debu yang melekat pada rembesan pelumas ditempat itu sehingga nampak kotor.
d. Pemeriksaan adanya kebocoran yang terdeteksi.
Bila dalam pemeriksaan terdeteksi adanya rembesan atau kebocoran pada komponen tertentu maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap komponen tersebut. Apabila hasil pemeriksaan lanjutan ditemukan adanya kerusakan ringan maka diusahakan untuk dapat diatasi sendiri, namun bila kerusakannya cukup berat dan tidak mampu ditangani operator sendiri maka harus segera dilaporkan ke atasan langsung untuk segera dilakukan langkah perbaikan.
Misalnya ditemukan adanya rembesan di kopling sambungan pipa / selang hidrolik maka perlu diperiksa lebih lanjut apakah kekencangan baut pengikat sambungan sudah cukup kuat. Blia diketahui bautnya kendor maka perlu dilakukan pengencangan secukupnya. Bila baut pengikat sudah cukup kencang namun masih tetap ada kebocoran maka harus segera dilaporkan ke atasan langsung untuk segera dilakukan langkah perbaikan.
4.3.2 Pemeriksaan ban dan baut
a. Pemeriksaan kondisi ban dan kekencangan baut pengikat.
Pompa beton type truck monted berjalan diatas chasis truck yang digerakkan melalui roda ban. Ada dua kelompok ban roda yaitu kelompok ban depan dan kelompok ban belakang yang jumlahnya sesuai spesifikasi truck nya. Kondisi ban akan mengalami keausan karena usia pemakaian dan tekanan anginnya dapat berkurang. Kondisi ban yang kurang prima akan mempengaruhi kinerja truck pada saat traveling, sehingga harus diperiksa sebelum operasi.
b. Pemeriksaan kondisi fisik ban terhadap keausan dan kecukupan tekanan.
Kondisi fisik ban depan dan belakang diperiksa :
1) Periksa secara fisik kecukupan tekanan angin, ban tidak kempes atau agak kempes karena kekurangan angin. Bila perlu diperiksa tekanan anginnya.
2) Periksa area batikan (tread) ban, apakah terjadi keausan, ditemukan benda asing atau ada kerusakan batikan / tread
3) Periksa kondisi velg / rim apakah ada bagian yang berubah bentuk atau rusak.
4) Periksa pertil (valve stem) apakah terpasang dengan baik atau ada yang hilang
5) Perhatikan apabila ada pelumas yang menempel di ban
c. Pemeriksaan semua baut pengikat dari kemungkinan ada yang kendor, rusak atau hilang.
Baut-baut pengikat yang harus diperiksa terhadap kemungkinan kendor atau hilang :
1) Baut-mur roda pada velg.
2) Baut-baut pengikat pada decking dan sub-frame.
3) Baut-mur pada outrigger.
4) Baut-mur pada rotational trush bearing pada penggerak swing.
5) Baut-mur pengikat pada swing-gear.
6) Baut-mur pengikat pada S-valve.
4.3.3 Pemeriksaan kondisi fisik komponen alat
a. Identifikasi letak komponen alat yang akan diperiksa.
Komponen utama pompa beton yang harus diperiksa pada saat walk around inspection adalah : chasis, sub-frame and decking, drive component, Outriggers, boom pedestal and rotation assy, boom, end hose, boom Control valve, Concrete pump, Hopper assy, Agitator, lube system, Control panel, remote Control, hydraulic system, electrical system dan water system.
Pemeriksaan dilakukan secara kasat mata (fisik) terhadap komponen utama untuk memastikan bahwa kondisinya dalam keadaan baik dan layak operasi.
Apabila diketemukan adanya kerusakan atau kekurangan harus segara dilaporkan kepada atasan langsung.
b. Pemeriksaan komponen alat
Komponen utama yang diperiksa adalah : 1) Sub-frame and decking.
Komponen ini adalah komponen pendukung untuk memudahkan operator / mekanik dalam memeriksa atau memperbaiki alat, adapun yang diperiksa adalah :
a) Adanya perubahan bentuk, baut yang hilang dan sambungan yang retak.
b) Kelengkapan kondisi decking, tangga dan walkways.
2) Drive Component, yang diperiksa :
Komponen ini merupakan pusat pengendalian tenaga mekanis dan hidrolik, yang diperiksa adalah :
a) Kedudukan PTO dan level pelumas.
b) Kondisi semua pompa hidrolik.
c) Kondisi kabel, selang dan pipa.
d) Kebocoran minyak hidrolik.
3) Outriggers.
Komponen ini berfungsi untuk menjaga stabilitas alat selama pengoperasian pompa beton, yang diperiksa adalah :
a) Kelengkapan suku cadang seperti roller, pin, mur dan baut.
b) Kondisi silinder hidrolik.
c) Kelengkapan food pads.
d) Kondisi selang dan pipa hidrolik serta pengikatnya.
e) Kebocoran minyak hidrolik.
f) Kondisi niple grease.
4) Landasan boom dan alat pemutar.
Komponen ini :
a) Kerusakan struktur alat pemutar boom, dan kemungkinan adanya sambungan las yang retak.
b) Kekencangan baut pengikat roda gigi swing.
c) Kondisi roda gigi swing dan pinion gear.
d) Kondisi limit stop untuk gerakan swing.
e) Kondisi pipa penyalur beton, snap coupling dan pengikatnya.
f) Kondisi selang dan pipa hidrolik serta pengikatnya.
g) Kebocoran minyak hidrolik.
h) Level minyak hidrolik.
i) Kondisi niple grease.
5) Distributor Boom.
a) Kerusakan struktur dan sambungan.
b) Kondisi bushing, pin dan penahannya.
c) Kondisi silinder hidrolik dan ikatannya.
d) Kondisi selang dan pipa hidrolik serta pengikatnya.
e) Kondisi pipa penyalur beton, snap coupling dan pengikatnya.
f) Kebocoran minyak hidrolik.
g) Kondisi niple grease.
6) Boom Control valve.
a) Kondisi ikatan Control valve.
b) Tuas kendali dapat bergerak bebas dan kembali ke posisi awal bila dilepas.
c) Kondisi karet pelindung tuas kendali.
d) Skala pembacaan terlihat dengan jelas.
e) Sambungan selang/ pipa hidrolik, kabel listri terikat dengan kuat.
f) Tidak ada kebocoran minyak hidrolik.
7) Selang fleksibel (Flexible end hose).
a) Kondisi selang penyalur beton segar.
b) Kondisi klem penyambung dengan pipa baja.
c) Terikat kuat dengan boom dan bracket.
d) Kondisi rantai penahan, pin dan shackles.
8) Pompa beton (Concrete pump).
a) Kerusakan struktur dan keretakan sambungan las.
b) Kondisi silinder hidrolik penggerak.
c) Kondisi silinder pemompa beton.
d) Kondisi water box.
e) Kondisi proximity switch.
f) Kondisi S-valve.
g) Kondisi hydraulic shift cylinder.
h) Kondisi bearing dan seal.
i) Kondisi selang hidrolik dan pengikatnya.
j) Kondisi klem pengikat pipa penyalur beton segar.
k) Nipple grease.
9) Hopper
a) Kerusakan struktur, pesok atau sambungan las yang retak.
b) Kondisi S-tube.
c) Kondisi wear plate, wear ring dan seals.
d) Kondisi sambungan S-tube ke outlet seal dan bearing.
e) Kondisi Hopper grating mudah dibuka-tutup.
f) Kondisi vibrator.
g) Kondisi pengering Hopper berfungsi.
h) Kondisi pipa transfer delivery dan pengikatnya.
i) Kondisi pipa elbow outlet dan pengikatnya.
10) Agitator
a) Kondisi Agitator paddle dan shaft.
b) Kondisi pengikat motor penggerak.
c) Kondisi Control valve, tuas kendali bebas digerakkan.
d) Kondisi selang dan pipa hidrolik serta pengikatnya.
11) Sistim pelumasan.
a) Kondisi pompa pelumas.
b) Kondisi pipa saluran pelumas dan pengikatnya.
c) Persediaan grease di tabung reservoir.
12) Kontrol panel.
a) Kondisi saklar, pada posisi netral.
b) Kondisi instrumen, alat ukur dan lampu.
c) Kondisi huruf terbaca dengan jelas.
13) Remote Controls.
a) Kondisi saklar, pada posisi netral.
b) Tuas kendali boom dapat bergerak bebas dan kembali ke posisi awal bila dilepas.
c) Kondisi steker/ socket.
14) Sistim hidrolik.
a) Filler caps.
b) Level minyak hidrolik cukup.
c) Penunjuk kondisi filter hidrolik.
d) Kondisi oil cooler minyak hidrolik.
e) Kondisi selang dan pipa hidrolik.
15) Sistim kelistrikan.
a) Kondisi sambungan listrik.
b) Kondisi kabel listrik.
16) Sistim air / pencucian.
a) Kondisi tutup tangki air.
b) Kecukupan air.
c) Kondisi selang dan pipa air pendingin.
c. Tindak lanjut sesuai dengan prosedur bila terdeteksi ada kelainan kondisi pada komponen Concrete pump.
1) Prosedur tindak lanjut.
a) Setiap ada kelainan yang terdeteksi selama melakukan pemeriksaan, harus dicatat dan dilaporkan kepada atasan.
b) Jangan melakukan tindakan pebaikan bila belum ada perintah dari atasan atau perbaikannya diluar kewenangan operator.
c) Melakukan kerjasama dengan petugas perbaikan (mekanik) yang ditugaskan untuk mengatasi kelainan tersebut.
2) Tindak lanjut bila terdeteksi ada kelainan pada komponen pompa beton.
a) Periksa komponen pompa beton yang terdeteksi mengalami kelainan.
b) Catat kelainan yang terdeteksi pada komponen tersebut dan laporkan kondisi kelainan yang ditemukan secara lebih rinci.
c) Laporkan hasil pemeriksaan dan temuan yang didapat serta tindakan sementara yang dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih berat d) Sementara itu komponen tidak boleh dioperasikan dahulu, menunggu
hasil pemeriksaan atau perbaikan yang dilakukan oleh mekanik khusus yang ditugaskan mengatasi kerusakan tersebut.
e) Lakukan kerja sama dalam pelaksanaan perbaikan dengan petugas yang ditunjuk (mekanik) untuk mengatasi kelainan tersebut.