• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemerintah Pusat Menurut Organisasi, 2005—2009

Sesuai dengan ketentuan dalam Undang Undang bidang keuangan negara, kementerian negara/lembaga (K/L) melalui satuan-satuan kerjanya merupakan business unit pengelola anggaran pemerintah. Karena itu, semua kementerian negara/lembaga selaku pengguna anggaran dan/atau pengguna barang harus menyusun rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-K/L) sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Selanjutnya, masing-masing K/L tersebut juga harus melaksanakan, mempertanggungjawabkan, dan melaporkan realisasi anggaran dan kinerja yang telah dicapainya.

Dari evaluasi yang dilakukan terhadap perkembangan pelaksanaan anggaran belanja pemerintah pusat menurut organisasi selama kurun waktu lima tahun pelaksanaan RPJMN 2004–2009, dapat ditarik garis simpul sebagai berikut:

Pertama, realisasi anggaran belanja kementerian negara/lembaga (K/L) pada rentang

waktu 2005–2009 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, yaitu rata-rata sekitar 28,9 persen per tahun, dari sebesar Rp120,8 triliun (4,4 persen terhadap PDB) dalam tahun 2005, dan diperkirakan mencapai Rp314,7 triliun (5,8 persen terhadap PDB) dalam tahun 2009.

Kedua, porsi anggaran belanja K/L terhadap total belanja Pemerintah Pusat dalam periode

yang sama,mengalami peningkatan dari sebesar 33,5 persen dalam tahun 2005 menjadi sekitar 45,5 persen dalam tahun 2009. Faktor utama penyebab kenaikan porsi anggaran belanja K/L terhadap total anggaran belanja Pemerintah Pusat dalam periode tersebut, yaitu adanya program stimulus fiskal dalam rangka mengatasi krisis global dalam tahun 2009.

Ketiga, dalam rangka pelaksanaan tiga agenda pembangunan (yaitu: menciptakan

Indonesia yang aman dan damai; menciptakan Indonesia yang adil dan demokratis; serta meningkatkan kesejahteraan rakyat), yang mencerminkan platform Presiden, dan sejalan dengan perubahan orientasi kebijakan fiskal dalam periode 2005–2009, yang lebih mengedepankan aspek stimulasi terhadap perekonomian (pro-growth, pro-job, dan

pro-poor), maka sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing K/L dalam

terdapat sepuluh K/L yang selalu memperoleh alokasi anggaran cukup besar. Sepuluh K/L tersebut adalah (1) Departemen Pendidikan Nasional; (2) Departemen Pertahanan; (3) Departemen Pekerjaan Umum; (4) Kepolisian Republik Indonesia; (5) Departemen Agama; (6) Departemen Kesehatan; (7) Departemen Perhubungan; (8) Departemen Keuangan; (9) Departemen Dalam Negeri; dan (10) Departemen Pertanian.

Pada Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), realisasi anggaran belanja dalam kurun waktu 2005-2009 mengalami peningkatan rata-rata 28,0 persen per tahun, yaitu dari Rp23,1 triliun (0,8 persen terhadap PDB) dalam tahun 2005, dan diperkirakan menjadi Rp60,3 triliun (1,1 persen terhadap PDB) dalam APBN-P tahun 2009. Sejalan dengan itu, realisasi penyerapan

anggaran belanja Depdiknas dalam periode tersebut juga mengalami peningkatan rata-rata 3,2 persen per tahun, yaitu dari 85,6 persen terhadap pagu anggaran dalam APBN-P dalam tahun 2005 menjadi sekitar 97,1 persen dari pagunya dalam dokumen stimulus fiskal tahun 2009.

Realisasi anggaran belanja Depdiknas dalam periode tersebut digunakan untuk

158,0 214,4 244,6 290,0 333,5 120,8 189,4 225,0 259,7 314,7 76,5 88,3 92,0 89,5 94,4 -10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 80,0 90,0 100,0 -50,0 100,0 150,0 200,0 250,0 300,0 350,0 400,0 2005 2006 2007 2008 GRAFIK IV. 1 PERKEMBANGAN BELANJA K/L, 2005−2009

APBN-P Realisasi Persentase thd Pagu Rata-rata 2005-2008 Dok. Stim 2009 APBN-P 2009 Rata-rata 86,7 % Persen Triliun Rp

Sumber : Departemen Keuangan

-10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 2005 2006 2007 2008 2009 *) 27,0 40,1 40,1 45,3 62,1 23,1 37,1 40,5 43,5 60,3 Triliun (Rp) GRAFIK IV. 2

PERKEMBANGAN BELANJA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL, 2005−2009

APBN-P Realisasi

*)Dok. Stim, APBN-P

mewujudkan salah satu misi pembangunan nasional dalam RPJMN 2004-2009, yaitu mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas. Hal ini dilaksanakan melalui berbagai program yang antara lain: (1) program pendidikan anak usia dini (PAUD), dengan peningkatan alokasi anggaran dari Rp258,4 miliar pada tahun 2005 menjadi Rp606,5 miliar pada tahun 2009; (2) program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, dengan peningkatan alokasi anggaran dari sebesar Rp10,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp31,0 triliun pada tahun 2009; (3) program pendidikan menengah, dengan peningkatan alokasi anggaran dari sebesar Rp2,4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp6,4 triliun pada tahun 2009; (4) program pendidikan tinggi, dengan peningkatan alokasi anggaran dari sebesar Rp5,8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp17,9 triliun pada tahun 2009; serta (5) program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dengan peningkatan alokasi anggaran dari sebesar Rp2,3 triliun pada tahun 2005 menjadi sebesar Rp2,8 triliun pada tahun 2009.

Dari pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, dihasilkan

output diantaranya berupa: (1) terlaksananya penyediaan bantuan operasional sekolah

(BOS), dengan alokasi anggaran yang meningkat dari sebesar Rp5,1 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp16,2 triliun pada tahun 2009 dengan sasaran penerima BOS sebanyak 27,1 juta siswa SD dan 9,4 juta siswa SMP; (2) terlaksananya penyediaan beasiswa untuk siswa miskin SD dan SMP dari masing-masing sebanyak 698.570 siswa dan 669.500 siswa pada tahun 2005 menjadi masing-masing sebanyak 1,7 juta siswa SD dan 710.057 siswa SMP pada tahun 2009; (3) terlaksananya rehabilitasi ruang kelas 284.976 ruang untuk SD dan 29.894 ruang kelas SMP dalam kurun waktu 2005-2008. Sedangkan khusus untuk tahun 2009, sampai dengan bulan Juni 2009 telah terlaksana rehabilitasi 59.851 ruang kelas SD, 9.731 ruang perpustakaan, dan 1.800 paket rehabilitasi sarana dan prasarana SMP; (4) terlaksananya pembangunan SMP pada tahun 2005-2008 sebanyak 1.856 unit sekolah baru (USB) dan 41.410 ruang kelas baru (RKB). Sementara itu, untuk tahun 2009, sampai dengan bulan Juni 2009, telah terbangun 2.033 USB dan 43.410 RKB SMP. Output yang dihasilkan dari pembiayaan program pendidikan menengah diantaranya berupa: (1) meningkatnya penyediaan beasiswa untuk siswa miskin pada jenjang pendidikan menengah, yaitu dari 312.137 siswa selama tahun 2005, menjadi 577.391 siswa pada tahun 2009; dan (2) terlaksananya pembangunan 237 USB SMA dan 466 USB SMK, serta 7.051 RKB SMA dan 6.918 RKB SMK pada tahun 2005-2008, sedangkan sampai dengan Juni 2009 telah terbangun 662 USB SMK. Di samping itu, dalam kurun waktu 2005 sampai dengan Juni 2009 telah dibangun pula 1.730 perpustakaan SMA dan 357 perpustakaan SMK. Sedangkan output yang dihasilkan dalam rangka pembiayaan kegiatan pada program pendidikan tinggi antara lain berupa terlaksananya penyediaan beasiswa bagi 130.169 mahasiswa miskin pada tahun 2005 dan pada tahun 2009 akan dialokasikan bagi 240.000 mahasiswa miskin.

Sejalan dengan Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 2006 tentang Dewan Teknologi dan Komunikasi Nasional (Detiknas), anggaran Depdiknas juga digunakan untuk membangun jejaring pendidikan nasional berbasis teknologi informasi dan komunikasi (Jardiknas), baik untuk mendukung e-pembelajaran maupun e-administrasi. Pada tahun 2008 Jardiknas telah menghubungkan 16.072 titik, yaitu 869 pada zona kantor, 203 pada zona perguruan tinggi, dan 15.000 pada zona sekolah. Zona kantor meliputi 12 unit Depdiknas Pusat, 34 Dinas Pendidikan Provinsi, 461 Dinas Pendidikan Kabupaten/

Kota, 17 balai bahasa, 17 balai telkom, 7 balai Pendidikan Non Formal (PNF), 16 Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB), 7 balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP), 4 kantor bahasa, 31 Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), 12 Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), 60 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), 161 Information and

Communication Technology (ICT) Center, 20 perpustakaan, dan 10 museum nasional.

Zona perguruan tinggi meliputi 154 perguruan tinggi Indonesia Higher Education

Network (INHERENT), 37 Unit Pendidikan Belajar Jarak Jauh–Universitas Terbuka

(UPBJJ-UT), dan 12 Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis). Sedangkan zona sekolah menghubungkan 10.502 SMA/SMK/sederajat, 3.996 SMP/sederajat, 464 SD, dan 38 SLB.

Selain itu, Depdiknas juga melakukan terobosan dalam mengendalikan harga buku pelajaran melalui reformasi perbukuan secara mendasar. Kebijakan perbukuan nasional memasuki fase baru sejak terbitnya Peraturan Mendiknas Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran, yang kemudian diamandemen dengan Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008 tentang Buku. Substansi Permendiknas ini meliputi: (1) tidak ada lagi monopoli penulisan, penggandaan, penerbitan, dan pendistribusian buku oleh Depdiknas maupun pihak lain, bahkan mendorong sebanyak mungkin orang atau lembaga untuk menulis, menerbitkan, dan memperdagangkan buku dengan persaingan yang sehat; (2) buku dipilih sendiri oleh sekolah melalui rapat dewan guru dengan masa pakai minimal lima tahun; (3) peserta didik yang mampu dianjurkan untuk memiliki buku teks pelajaran dengan cara membelinya langsung di toko buku pengecer, dan guru tidak diperbolehkan untuk berdagang buku kepada peserta didik; (4) satuan pendidikan wajib menyediakan buku teks pelajaran dalam jumlah yang cukup di perpustakaan dalam rangka memberikan akses kepada siswa miskin; (5) pemerintah membeli hak cipta buku teks pelajaran, kemudian mengizinkan siapa saja untuk menggandakannya, menerbitkannya, atau memperdagangkannya dengan harga murah; dan (6) Depdiknas, Depag, dan pemerintah daerah memberikan subsidi modal kerja bagi calon pendiri toko buku di daerah-daerah yang belum memiliki toko buku pengecer. Pada tahun 2007, Depdiknas telah membeli hak cipta buku teks pelajaran sebanyak 37 judul buku. Program ini dilanjutkan dan ditingkatkan skalanya pada tahun 2008 menjadi sebanyak 407 judul buku untuk pendidikan dasar dan menengah, dan tersedia di situs Internet Buku Sekolah Elektronik sebagai bagian dari program Buku Murah. Dengan reformasi ini, diharapkan buku pelajaran yang digunakan di satuan pendidikan tersedia dalam jumlah yang cukup, sesuai dengan kebutuhan satuan

pendidikan, dan dapat diakses oleh peserta didik miskin.

Outcome yang dihasilkan dari

alokasi anggaran pada berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Depdiknas dalam periode tersebut, antara lain adalah sebagai berikut.Pertama, meningkatnya perluasan akses pendidikan pada semua jenjang pendidikan, seperti tercermin dari

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

REAL 2005 REAL 2006 REAL 2007 REAL 2008 TARGET 2009 Persen (%)

Grafik IV. 3

PENCAPAIAN KINERJA PERLUASAN AKSES PENDIDIKAN TAHUN 2005−2009

APM

SD/MI/Paket A APKSMP/MTs/Paket B APKSMA/SMK/MA/Paket C APK PAUD APKPT/PTA termasuk UT

angka partisipasi murni (APM) dan angka partisipasi kasar (APK) yang semakin meningkat pada setiap jenjangnya. Peningkatan APM dan APK ini dapat dilihat pada

Grafik IV.3. Selain itu, perluasan akses pendidikan ini juga terlihat dari menurunnya

persentase buta aksara pada penduduk berusia 15 tahun keatas. Pada tahun 2005, persentase buta aksara pada penduduk berusia 15 tahun keatas mencapai 9,55 persen. Jumlah ini menurun menjadi 5,97 persen pada tahun 2008, dan diperkirakan akan turun menjadi 5,0 persen pada 2009. Depdiknas cukup optimis dengan target penurunan 5,0 persen tersebut akan tercapai, sehingga Indonesia 6 tahun lebih cepat dalam memenuhi komitmen PBB untuk menurunkan buta aksara sampai 50,0 persen pada tahun 2015.

Kedua, meningkatnya pemerataan akses pendidikan. Hal ini terlihat dari tingkat disparitas

akses pendidikan antar kabupaten dan kota yang semakin menurun, yaitu: (1) disparitas APK pendidikan anak usia dini (PAUD) antar kabupaten dan kota; (2) disparitas APK SD/MI/SDLB/Paket A antar kabupaten dan kota; (3) disparitas APK SMP/MTs/SMPLB/ Paket B antar kabupaten dan kota; serta (4) disparitas APK SMA/MA/SMK/SMALB/ Paket C antar kabupaten dan kota. Perkembangan disparitas APK tersebut dapat dilihat pada Tabel IV.1.

Ketiga, meningkatnya mutu dan daya saing pendidikan, yang tercermin antara lain dari:

(1) meningkatnya rerata nilai ujian nasional; (2) tercapainya peningkatan kinerja ujian nasional melalui perbaikan sarana pembelajaran, perbaikan pendanaan pendidikan melalui program bantuan operasional sekolah (BOS) dan berbagai program beasiswa, peningkatan kompetensi guru dan dinaikkannya batas ambang kelulusan;

(3) meningkatnya proporsi guru dan dosen yang memenuhi kualifikasi akademik sesuai

dengan ketentuan ketentuan UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; (4) meningkatnya jumlah sekolah bertaraf internasional atau dirintis bertaraf internasional; dan (5) meningkatnya citra Indonesia melalui perolehan medali emas oleh pelajar Indonesia pada kompetisi dan olimpiade pendidikan internasional. Pada tahun 2006, melalui berbagai ajang kompetisi dan olimpiade internasional, siswa-siswi Indonesia mampu meraih sebanyak 51 medali emas. Prestasi yang sama (meraih 51 medali emas) juga dicapai pada tahun 2007. Sementara itu, pada tahun 2008 berhasil diraih sebanyak 117 medali emas pada olimpiade internasional. Selain itu, peningkatan

TABEL IV. 1

PENCAPAIAN KINERJA PEMERATAAN AKSES PENDIDIKAN TAHUN 2005-2009

Target 2005 2006 2007 2008 2009

1 Disparitas APK PAUD antara kab/Kota 5,42% 4,37% 4,20% 3,61% 3,02%

2 Disparitas APK SD/MI/Paket A antara kab dan kota 2,49% 2,43% 2,40% 2,28% 2,00%

3 Disparitas APK SMP/MTs/Paket B antara kab dan kota 25,14% 23,44% 23,00% 20,18% 13,00%

4 Disparitas APK SMA/MA/SMK/Paket C antara kab dan kota 33,13% 31,44% 31,20% 29,97% 25,00%

5 Disparitas APK antar gender di jenjang pendidikan menengah 6,07% 5,50% 5,45% 4,45% 5,71%

6 Disparitas APK antar gender di jenjang pendidikan tinggi 9,62% 0,17% 0,59% -2,28% 8,48%

7 Disparitas antar gender buta huruf 6,59% 5,33% 5,09% 3,24% 3,65%

Sumber : Departemen Pendidikan Nasional

Realisasi No. Indikator Kunci Kinerja

mutu dan daya saing pendidikan juga tercermin dari meningkatnya mutu pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi yang dapat dilihat dari keberhasilan beberapa perguruan tinggi masuk dalam kategori berkelas dunia maupun kategori universitas berkelas Asia. Pada tahun 2006, 3 bidang studi di UGM, yaitu Ilmu-ilmu Sastra dan Budaya (peringkat 47), Ilmu-ilmu Sosial (peringkat 70), dan Ilmu Bio-Kedokteran (peringkat 74) berhasil masuk peringkat 100 terbaik dunia menurut Times Higher Education Supplement (THES). THES pada tahun yang sama juga memasukkan 4 perguruan tinggi di Indonesia, yaitu UI (peringkat 250), ITB (peringkat 258), UGM (peringkat 270), dan UNDIP (peringkat 495), dalam 500 universitas terbaik dunia (World Class University). Selain itu, pada tahun 2006 UT juga telah berhasil mendapatkan akreditasi Internasional Council for

Open and Distance Education (ICDE). Sementara itu, pada tahun 2007, 4 perguruan

tinggi, yaitu UGM (peringkat 360), ITB (peringkat 369), UI (peringkat 395), dan UNDIP (peringkat 401–500) kembali masuk dalam daftar 500 perguruan tinggi terbaik dunia versi THES. Di samping itu, 2 perguruan tinggi lain berhasil masuk dalam daftar 500 terbaik dunia tersebut, yaitu UNAIR (peringkat 401–500) dan IPB (peringkat 401–500). Status UT yang berakreditasi ICDE masih tetap berlaku pada tahun 2007. Tujuh perguruan tinggi berkelas dunia tersebut, secara keseluruhan memiliki 858 program studi, dan melayani kurang lebih 14 persen dari seluruh mahasiswa di Indonesia yang berjumlah sekitar 4,3 juta jiwa. Sedangkan, pada tahun 2008 terdapat 3 universitas yang masuk dalam daftar 500 terbaik dunia versi THES yaitu UI (peringkat 287), ITB (peringkat 315), dan UGM (peringkat 316) yang seluruhnya memiliki 520 program studi (prodi), sedangkan UT dengan 47 prodi mendapat akreditasi dari ICDE. Total prodi berkelas dunia dalam tahun 2008 mencapai 567 prodi yang melayani kurang lebih 12 persen dari seluruh mahasiswa Indonesia.

Di samping berbagai capaian yang telah diraih, disadari bahwa upaya pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mencapai hasil yang diharapkan sebagaimana tercantum dalam sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004– 2009. Hal ini terutama disebabkan peningkatan layanan pendidikan belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah perdesaan, wilayah terpencil, kepulauan, dan wilayah lain yang secara geografis sulit dijangkau oleh anak-anak yang berasal dari keluarga miskin. Hal itulah yang menjadi kendala utama, sehingga belum semua penduduk usia sekolah dapat memperoleh layanan akses pendidikan dengan baik. Di samping kendala geografis, faktor ekonomi dan kesadaran orang tua juga menjadi faktor fundamental munculnya kesenjangan akses pendidikan di berbagai lapisan masyarakat. Hal ini terutama karena ketidakmampuan orang tua untuk membiayai sekolah, yang diduga berkaitan erat dengan adanya biaya tidak langsung yang harus dikeluarkan oleh orang tua, seperti biaya transportasi, seragam, dan peralatan sekolah. Berkaitan dengan itu, Pemerintah akan terus melaksanakan kebijakan pembangunan pendidikan yang diupayakan pada: (1) pemerataan dan perluasan akses pendidikan; (2) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan; serta (3) pemantapan good governance. Walaupun upaya-upaya yang dilakukan secara bertahap tersebut telah membuahkan hasil, yang ditandai antara lain dengan meningkatnya taraf pendidikan, yang tercermin dari peningkatan angka partisipasi sekolah (APS), APK, dan penurunan angka buta aksara, baik untuk anak usia dini, pendidikan dasar, menengah, maupun perguruan tinggi, namun upaya keras harus tetap dilaksanakan, terutama upaya-upaya yang terkait dengan sinkronisasi program,

pengurangan kesenjangan akses pendidikan antar kelompok di masyarakat dan kesenjangan pada pastisipasi pendidikan, yang diarahkan pada peningkatan akses layanan pendidikan, terutama bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

Dalam periode yang sama, realisasi anggaran belanja yang dikelola oleh

Departemen Pertahanan

mengalami peningkatan rata-rata 12,8 persen per tahun, yaitu dari Rp20,8 triliun (0,8 persen terhadap PDB) dalam tahun 2005, dan diperkirakan menjadi Rp32,0 triliun (0,6 persen terhadap PDB) dalam APBN-P tahun 2009. Demikian pula, realisasi penyerapan anggaran belanja Departemen Pertahanan dalam periode tersebut juga mengalami peningkatan rata-rata 0,8 persen per tahun, yaitu dari 94,4 persen terhadap pagu anggaran belanja Departemen Pertahanan dalam APBN-P tahun 2005, dan diperkirakan menjadi sekitar 95,0 persen terhadap pagunya dalam dokumen stimulus fiskal tahun 2009. Peningkatan alokasi anggaran belanja Departemen Pertahanan selama kurun waktu tersebut, terutama berkaitan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan salah satu agenda pembangunan nasional dalam RPJM 2004-2009, yaitu mewujudkan Indonesia yang aman dan damai dengan membangun kekuatan pertahanan negara yang diselenggarakan secara terpadu dan bertahap, serta diarahkan untuk mewujudkan pertahanan yang profesional dan modern yang mampu menanggulangi setiap ancaman dan gangguan.

Realisasi anggaran belanja Departemen Pertahanan dalam kurun waktu tahun 2005-2009, sebagian besar merupakan realisasi anggaran dari program: (1) pengembangan pertahanan integratif; (2) pengembangan pertahanan matra darat; (3) pengembangan pertahanan matra laut; (4) program pengembangan pertahanan matra udara; (5) program penegakan kedaulatan dan penjagaan keutuhan wilayah NKRI; serta (6) program pengembangan industri pertahanan.

Realisasi anggaran belanja Departemen Pertahanan dalam periode tersebut antara lain digunakan untuk membiayai pelaksanaan kegiatan-kegiatan: (1) pembangunan dan pengembangan kekuatan dan kemampuan sistem, personel, materiil dan fasilitas TNI; (2) pembentukan kemampuan pertahanan pada skala kekuatan pokok minimum

(minimum essential force) mencapai kesiapan alutsista rata-rata 45 persen dari yang

dimilikinya; serta (3) penambahan baru, menghidupkan kembali, atau repowering terhadap alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang secara ekonomi masih bisa dipertahankan.

Selain itu, realisasi anggaran belanja Departemen Pertahanan selama kurun waktu yang sama juga digunakan untuk membiayai pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengembangan sarana, prasarana dan fasilitas TNI, dengan output antara lain berupa terlaksananya pembangunan/renovasi asrama dan perumahan dinas/perumahan prajurit, perkantoran, serta pangkalan dan fasilitas pemerliharaan dengan kondisi mantap mencapai 40 persen.

-5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0 40,0 2005 2006 2007 2008 2009*) 22,1 27,5 29,8 32,9 33,7 20,8 23,9 30,6 31,3 32,0 Triliun (Rp) GRAFIK IV. 4

PERKEMBANGAN BELANJA DEPARTEMEN PERTAHANAN, 2005−2009

APBN-P Realisasi

Sumber : Departemen Keuangan

Dalam kurun waktu tahun 2005-2009 tersebut, telah dapat dicapai beberapa kemajuan penting di bidang pertahanan, baik yang terkait dengan sistem perundangan, peningkatan profesionalisme personel dan kesejahteraan prajurit maupunrestrukturisasi bisnis TNI. Di bidang sistem perundangan, guna meningkatkan kemampuan pertahanan, telah disusun Rencana Strategi Pertahanan 2005–2009 dalam rangka penyiapan cetak biru pertahanan dan sebagai kebijakan umum serta kebijakan penyelenggaraan pertahanan. Selain itu, telah pula disusun Strategic Defence Review sebagai acuan dalam rangka pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan pertahanan negara. Sementara itu, dalam upaya meningkatkan profesionalisme personel, khususnya menyangkut penghapusan bisnis TNI, telah dilakukan restrukturisasi bisnis TNI yang dimulai dengan tahapan inventarisasi secara cermat, berhati-hati, dan bertanggung jawab, sebagai tindak lanjut dalam rangka melaksanakan amanat UU No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Reformasi TNI juga telah berhasil menempatkan TNI secara tepat sesuai dengan peran dan tugas pokok yang diembannya, yaitu dalam rangka menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dari setiap ancaman dan gangguan.

Namun demikian, upaya untuk mencapai sasaran yang diinginkan masih menemui berbagai kendala sehingga hasil-hasil yang dicapai belum optimal. Permasalahan yang dihadapi terutama berkaitan dengan: (1) belum tercapainya postur pertahanan pada skala minimum essential force; (2) penurunan efek penggentar pertahanan yang diakibatkan oleh ketertinggalan teknologi dan usia teknis yang tua; (3) wilayah perbatasan dan pulau terdepan (terluar) yang masih rawan dan berpotensi terjadinya pelanggaran batas wilayah dan gangguan keamanan; (4) sumbangan industri pertahanan yang belum optimal; (5) gangguan keamanan dan pelanggaran hukum di wilayah yurisdiksi NKRI; dan (6) keamanan dan keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan ALKI.

Selanjutnya, realisasi anggaran belanja yang dikelola oleh Departemen Pekerjaan

Umum dalam kurun waktu 2005-2009 mengalami peningkatan rata-rata 32,9 persen

per tahun, yaitu dari Rp13,3 triliun (0,5 persen terhadap PDB) dalam tahun 2005, dan diperkirakan menjadi Rp39,1 triliun (0,7 persen terhadap PDB) dalam dokumen stimulus fiskal tahun 2009. Realisasi penyerapan anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum dalam periode tersebut juga mengalami peningkatan rata-rata 7,7 persen per tahun, yaitu dari 69,8 persen terhadap pagu anggaran Departemen Pekerjaan Umum dalam APBN-P tahun 2005, dan diperkirakan menjadi 93,9 persen dari pagunya dalam dokumen stimulus fiskal tahun 2009. Dengan

perkembangan tersebut, maka porsi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum terhadap total belanja Kementerian Negara/Lembaga (K/L), meningkat sebesar 1,3 persen, yaitu dari 11,0 persen dalam tahun 2005 menjadi sebesar 12,3 persen dalam tahun 2009. Peningkatan porsi alokasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum selama kurun waktu tersebut, terutama berkaitan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan salah satu agenda

-5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0 40,0 45,0 2005 2006 2007 2008 2009*) 19,1 21,3 24,9 32,8 41,6 13,3 19,2 22,8 30,7 39,1 Triliun (Rp) GRAFIK IV. 5

PERKEMBANGAN BELANJA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM, 2005-2009

APBN-P Realisasi

Sumber : Departemen Keuangan

pembangunan nasional dalam RPJMN 2004-2009, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui penyediaan sarana dan prasarana dasar yang dibutuhkan untuk investasi guna memacu pertumbuhan ekonomi, dan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan dasar.

Realisasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum dalam periode tersebut, sebagian besar digunakan untuk membiayai upaya percepatan pembangunan dan penyediaan infrastruktur guna mendorong pertumbuhan ekonomi, yang dilaksanakan melalui berbagai program, yang meliputi antara lain: (1) program peningkatan/ pembangunan jalan dan jembatan; (2) program rehabilitasi pemeliharaan jalan dan jembatan; (3) program pemberdayaan komunitas perumahan; (4) program pengembangan, pengelolaan, dan konservasi sungai, danau dan sumber air lainnya; serta (5) program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya.

Outcome yang dihasilkan dari alokasi anggaran belanja Departemen Pekerjaan Umum

dalam periode tersebut, diantaranya adalah: (1) terpeliharanya dan meningkatnya daya dukung, kapasitas, maupun kualitas pelayanan prasarana jalan untuk daerah-daerah yang perekonomiannya berkembang pesat, dari kondisi mantap jalan sebesar 82,2 persen dengan kecepatan rata-rata 43,3 km/jam dalam tahun 2005 menjadi 86,0 persen dan 46 km/jam dalam tahun 2009; (2) meningkatnya aksesibilitas wilayah yang sedang dan belum berkembang melalui dukungan pelayanan prasarana jalan yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan transportasi, baik dalam hal kecepatan maupun kenyamanan, khususnya pada koridor-koridor utama di masing-masing pulau dan wilayah; (3) meningkatnya kemampuan pemenuhan kebutuhan air bagi rumah tangga, pemukiman, pertanian dan industri dengan prioritas utama untuk kebutuhan pokok masyarakat dan pertanian rakyat; (4) berkurangnya dampak bencana banjir dan kekeringan; (5) terlindunginya daerah pantai dari abrasi air laut terutama pulau-pulau kecil, daerah perbatasan dan wilayah strategis; (6) optimalnya kapasitas penyediaan air baku; (7) optimalnya fungsi dan kapasitas tampungan air baku; (8) terlaksananya pembangunan prasarana dan sarana dasar permukiman bagi perumahan PNS/TNI-Polri/Pekerja; (9) menurunnya luas kawasan kumuh dari 384 ha dalam tahun 2005 menjadi 50,0 persen dari luas 47.500 ha dalam tahun 2009; (10) meningkatnya jumlah sampah terangkut menjadi 75,0 persen dalam tahun 2009; dan (11) optimalnya kondisi