BAB IV PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM KH. A. WAHID HASYIM
B. Respon Terhadap Pembaruan Pendidikan Islam KH. A. Wahid
1. Pemikiran Pendidikan Islam
a. Pentingnya Ilmu Agama dan Umum
Bangsa Indonesia di masa awal kemerdekaan kerap kali masih mengambil sikap bahwa pendidikan anak-anak mereka harus ditujukan
pada maksud untuk menjadikan mereka itu “ahli-ahli agama”.
Akibatnya, kurangnya kesediaan anak-anak itu setelah menjadi dewasa,
24
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), h. 365
25
Sekolah-sekolah dinas yang dimaksud adalah lembaga-lembaga pendidikan keguruan; PGAP/PGAA dan PHIN, yang kemudian setelah lulus dari sekolah tersebut diangkat menjadi pegawai negeri dan karena itu murid-murid di kedua sekolah dinas ini harus berikatan dinas sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 8 Tahun 1951. Namun karena kekurangan anggaran Negara sejak tahun 1969 tidak lagi disediakan ikatan dinas.
83
untuk ikut berlomba-lomba dalam perjuangan hidup yang bersifat modern.
Menurut Wahid Hasyim bahwa untuk menjadikan orang beragama tidaklah perlu orang tersebut diharuskan (ditentukan) mempunyai ilmu
agama terlalu dalam dan luas. Sebaliknya, seorang yang
berpengetahuan agama tidak semua menjadi orang yang beragama dengan baik. Karena sering kali didapati seseorang yang tidak berpengetahuan agama dengan luas dan mendalam, kemudian beragama lebih sempurna dari orang yang berpengetahuan agama, dalam arti yang luas dan mendalam. Juga sebaliknya, sering didapati orang yang sangat mengerti ilmu-ilmu agama yang mendalam, perbuatannya tidak memberikan nama baik sebagaimana seharusnya seorang yang beragama.
Oleh karena itu, pengetahuan tidak boleh dikungkung oleh perasaan keagamaan yang sempit, tiap-tiap Muslim sejati, sebagai seorang demokrat memandang pengetahuan dari sudut logika semata-mata; perasaan dan batin dalam lapangan mencari pengetahuan dan mengadu kebenaran, harus dikesampingkan. Tiap-tiap Muslim diajar oleh
al-Qur’an berlaku tenang di dalam menghadapi lawannya dalam menguji
argumen dan alasan serta dalil. Sampai pun yang sudah dilewati batas kesopanan, harus tetap dihadapi dengan tenang, agar tidak merusakkan persoalan.
Bukan saja pengetahuan harus bebas dari kungkungan perasaan keagamaan yang sempit, tetapi juga menurut pandangan Islam ilmu harus bebas dari pertimbangan-pertimbangan politik. Dengan mengutamakan ilmu sebagai dasar hidup itu, serta menundukkan politik pada pengetahuan, maka perjuangan hidup ummat Islam, walaupun dari sudut bersifat individualitis (perseorangan lawan perseorangan), tetapi dari lain sudut dialaskan pada persaudaraan yang mewajibkan tiap-tiap individu (perseorangan Muslim) memandang sesama individunya tidaklah sebagai lawan, tetapi saudara.
84
Berkali-kali Wahid Hasyim menegaskan pentingnya ilmu
pengetahuan, atau dalam bahasa Wahid Hasyim, logika atau akal. Dia mengatakan bahwa Islam bukan saja menghargai akal dan otak yang sehat, tetapi menganjurkan orang supaya menyelidiki, memikirkan dan
mengupas segala ajaran Islam.26 Lebih jauh dia mengatakan.
Dalam Islam… logika adalah pokok yang penting bagi menentukan
benar atau salah. Suatu hal atau suatu kejadian atau suatu peristiwa yang menurut logika tidak dapat diterima, di dalam anggapan Islam
tidak bisa juga diterima. …Islam tidak mengakui segala yang tidak
tunduk pada logika.27 Namun, Wahid Hasyim juga mengingatkan akan
keterbatasan akal. Karena itu, meski tidak harus dikungkung agama, ilmu pengetahuan tetap harus dilengkapi dengan agama. Dengan agama itulah, menurut Wahid Hasyim, manusia bisa membedakan antara akal
sehat dan hawa nafsu.28 “Kemajuan otak yang tidak disertai dengan
kemajuan budi pekerti atau takwa telah menyebabkan nilai dan pandangan manusia jadi berubah banyak, tidak ke atas tapi ke
bawah.”29
Menurut Wahid Hasyim, Islam memandang bahwa ilmu pengetahuan tidaklah dianggap sebagai satu syarat hidup yang dapat berdiri sendiri. Di samping pengetahuan, diletakkan syarat lain yaitu takwa, dan takwa ditafsirkan menjaga diri dengan arti takut dengan Allah, juga takwa ditafsirkan menjaga diri dari kesalahan. Dua syarat hidup tersebut, ilmu pengetahuan dan takwa dalam pandangan Islam tiada mungkin dijauhkan, dan harus sama-sama cukup lengkap. Bahkan Islam memandang lebih condong pada takwa dari pada kepada ilmu. Ilmu sebagai buah otak, haruslah diimbangi dengan takwa sebagai isi hati. Kemajuan otak yang tidak disertai dengan kemajuan (atau naiknya) budi pekerti atau takwa, telah menyebabkan nilai dan
26
Aboebakar, Sejarah Hidup…, h. 681
27
Aboebakar, Sejarah Hidup…, h. 634 28
Aboebakar, Sejarah Hidup…, h. 687-688
29
85
pandangan manusia jadi berubah banyak, bukannya ke atas, tetapi ke bawah, sehingga sesuatu kejahatan kecil seperti merusakkan jiwa/nyawa seseorang, dianggap perbuatan jahat, tetapi merusakkan jiwa/nyawa satu bangsa seluruh negeri, tidaklah dianggap kejahatan, bahkan orang yang membuatnya mendapat penghormatan dan nama. b. Perguruan Tinggi Islam
Dalam pembukaan PTAIN, Wahid Hasyim menyampaikan pidatonya, mengungkapkan bahwa dia sangat bergembira sekali dengan hadirnya PTAIN ini, karena akan menambah tenaga kehidupan kepada umat Islam Indonesia dan dia juga menegaskan seandainyapun dia bukanlah seorang Muslim sekalipun hanya berbangsa Indonesia dia akan tetap bergembira dan berbesar hati dengan pembukaan Perguruan Tinggi Agama Islam ini.
Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa hal. Pertama, karena umat Islam
Indonesia adalah golongan terbesar dari pada bangsa Indonesia, dan bukanlah rahasia lagi, bahwa tenaga kehidupan mereka ukuran-ukuran sekarang (baca: saat itu) lemah sekali. Maka satu langkah untuk menambah tenaga kehidupan mereka, pasti akan disambut dengan gembira oleh tiap-tiap putra bangsa Indonesia yang demokrat, walaupun bukan
Muslim. Kedua, karena umat Islam Indonesia sebagai golongan terbesar di
dalam keadaan seperti sekarang (baca: saat itu), tidak mungkin dibangunkan sebagai jembatan untuk membangun rakyat dan negara dengan cepat dan tepat. Kecuali dengan cara-cara yang dapat
menggerakkan jiwanya dengan jitu. Ketiga, karena dengan usaha
menyempurnakan pendidikan tinggi bagi umat Islam Indonesia sebagai golongan terbesar dari bangsa Indonesia, akan tercegahlah suatu bahaya yang hingga kini mengancam, walaupun banyak tidak disadari orang. Yaitu bahaya terbelahnya generasi bangsa.
Dalam hubungan ini, dalam pidatonya tersebut Wahid Hasyim menegaskan bahwa perguruan tinggi ini kelak dapat menghasilkan manusia cerdik pandai dan ulama yang mempunyai takwa, perasaan takut pada Allah swt dan dengan sendirinya menimbulkan rasa tanggung jawab
86
pada kehadirat-Nya lebih besar dari pada segala pertanggungjawaban yang lainnya; dan dengan demikian lalu sikap jujur serta berani membela kebenaran, menunjukkan politik kepada ilmu pengetahuan sebagaimana halnya ulama-ulama yang benar adalah ulama-ulama seperti itu.
Dari pandangannya itu dapat disimpulkan bahwa Wahid Hasyim adalah sosok yang moderat, dalam pengertian tidak menganggap salah satu ilmu lebih unggul daripada lainnya, atau akal lebih utama daripada akhlak. Moderasi tersebut diimplementasikan dalam beberapa kebijakannya sebagai Menteri Agama. Salah satu implementasi dari pandangannya ini adalah keputusannya untuk mendirikan sebuah perguruaan tinggi Islam yang baik. Dari pendidikan ini diharapkan akan lahir sarjana yang mengusai dua lapangan ilmu sekaligus yaitu ilmu agama dan umum. Lembaga pendidikan yang beliau bayangkan adalah tempat untuk mempelajari Islam dengan menggunakan sistem pendidikan modern yang menekankan pentingnya rasionalitas.
c. Prinsip Pendidik
Dalam perspektif pendidikan Islam keberadaan dan peranan guru merupakan suatu keharusan yang tak dapat diingkari. Peran dan tanggung jawab guru dalam proses pendidikan yang berkualitas tidak hanya sebatas menyampaikan materi kepada peserta didik, tetapi guru juga harus memiliki kepribadian luhur yang dapat memberikan contoh atau ketauladanan bagi murid-muridnya. Keteladanan seorang guru merupakan
sifat dasar dari kegiatan pembelajaran.30 Tauladan dipandang sebagai suatu
cara yang ampuh untuk membina akhlak dan menanamkan prinsip-prinsip terpuji pada jiwa anak didik.
Menjadi seorang guru agama yang baik juga harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Dalam hal ini, Athiyah al-Abrasyi menyebutkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang guru agama, yaitu:
30
Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), cet.1, h. 127
87
1. Memiliki ilmu agama yang cukup luas, memahami dan
mengamalkannya.
2. Memiliki sifat zuhud, yaitu niat mengajar semata-mata mencari
keridhaan Allah swt.
3. Bersih jasmani dan rohani, guru agama harus menampilkan kebersihan
pakaian, tempat tinggal, dan lingkungan (bersih jasmani) dan juga terhindar dari sifat iri, degki, permusuhan, dosa kecil dan besar (bersih rohani).
4. Memiliki sifat pemaaf dan penyabar, serta sifat-sifat terpuji lainnya.
Guru agama harus berkepribadian yang baik, memiliki harga diri, sabar, dan dapat menahan diri dari marah.
5. Guru agama tidak asal mengajar saja, tetapi harus mengethaui tabiat,
adat, kebiasaan, dan kemampuan berpikir agar dapat menentukan bahan
pelajaran yang tepat bagi mereka.31
Menurut Wahid Hasyim beberapa prinsip pendidikan yang harus diterapkan oleh seorang pendidik dalam mendidik yaitu:
a.Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian.
b.Kesabaran.
c.Pendidikan adalah proses bukan serta merta menjadi hasil.
d.Keberanian.
e.Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas. 32
Dengan demikian, tidak akan lahir murid yang berbudi luhur dari guru yang tidak mempunyai kepribadian luhur juga. Sebab guru adalah orang yang digugu dan ditiru sehingga kepribadiaannya akan diteladani dan ditiru oleh anak didiknya.
d. Kemajuan Bahasa Berarti Kemajuan Bangsa
Dalam sebuah tulisan Wahid Hasyim yang berjudul ”Kemajuan Bahasa Berarti Kemajuan Bangsa”, dia mengungkapkan bahwa pada saat itu
31
M. Athiyah al-Abrasyi, At-Tarbiyatul Islamiyah, Terj. dari Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Oleh Bustami a. Ghani dan Djohar Bahri, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), Cet. I, h. 136
32
88
muncul fenomena dimana putra-putri bangsa ini sangat ”tergila-gila” pada
bahasa asing sehingga bahasa ”Ibu” mereka lupakan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan bahasa berarti kemajuan bangsa ini. Namun Wahid Hasyim sangat menyayangkan dengan sikap generasi bangsa yang melupakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dengan sesama bangsa Indonesia. Hal ini bukanlah menunjukkan bahwa Wahid Hasyim tidak setuju kepada mereka yang belajar bahasa asing, karena Wahid Hasyim sangat mendukung kepada mereka yang belajar bahasa asing dan dituntut untuk memiliki kepandaian dalam berbagai ilmu pengetahuan yang beraneka ragam. Akan tetapi Wahid Hasyim menginginkan selama kita belajar itu, bangsa Indonesia harus tetap beranggapan dan percaya bahwa sebagai anak bangsa, kita juga memiliki bahasa sendiri.
Suatu ketika dalam sebuah rapat, Ki Hajar Dewantara berkata: ”tidaklah
saya merasa heran jika melihat seorang dari bangsa ini berjalan beriringan dengan orang asing, kemudian bercakap-cakap menggunakan bahasa asing itu pula. Tetapi saya sangat heran melihat seorang dari bangsa ini yang berjalan beriringan dengan bangsanya, kemudian bercakap-cakap, dan percakapannya itu bukanlah memakai bahasa Indonesia, tetapi
menggunakan bahasa orang lain.”
Dalam sejarah dunia, Wahid Hasyim menyebutkan nama Nevile Chamberlain seorang Perdana Menteri Kerajaan Inggris yang cinta kepada perdamaian dan nama Adolf Hilter yang juga merupakan seorang pemuka Jerman. Ketika keduanya bertemu dalam sebuah pertemuan Internasional, masing-masing menggunakan bahasa bangsanya sendiri. Adolf Hilter dengan bahasa Jermannya sedang Nevile Chamberlain juga dengan memakai bahasa Inggrisnya. Pada hal ini diketahui masing-masing dari keduanya bisa dan pandai berbahasa; Chamberlain pandai berbahasa Jerman dan Hilter pun sangat lancar berbahasa Inggris. Karena itu walaupun dalam pertemuan tersebut masing-masing kedua orang tersebut
89
mengerti bahasa yang dipergunakan namun tetap tidak meninggalkan juru bahasa dan perundingan berjalan melalui perantaraan juru bahasa tersebut.
Dari hal di atas menurut Wahid Hasyim terdapat teladan dari mereka yang mengerti dengan harga sebuah bahasa dan menunjukkan sikap saling menghormati terhadap bahasa mereka masing-masing.
Jadi, dalam hal ini Wahid Hasyim menegaskan betapa pentingnya arti sebuah bahasa dan dia berpesan hendaklah percakapan yang kita lakukan sehari-hari kepada sesama bangsa ini dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan begitu menurut Wahid Hasyim akan terhindar dari kerusakan bahasa Indonesia yang pada masa itu sudah banyak terjadi dan belum terwujudnya sebuah kamus dalam bahasa Indonesia yang lengkap pada masa itu.
Namun untuk menghindari kesalahpahaman atas penegasannya
tersebut, Wahid Hasyim mengungkapkan bahwa maksud dari
pemikirannya tersebut bukanlah memaknai cara yang sama dipergunakan
di Turki; Qur’an diganti dengan bahasa tanah air Indonesia, azan diganti
dengan bahasa ”Ibu”, dan doa shalat disalin dengan bahasa persatuan. Dengan tidak seperti itu, biarkan Qur’an dengan bahasa Arab yang fasih, azan dan shalat tetap sama sesuai dengan tuntunannya karena hal tersebut merupakan hubungan antara makhluk dengan Tuhan, sedangkan Wahid Hasyim hanya menghendaki hubungan manusia dengan manusia; dalam
hal ini bangsa Indonesia dengan sesama bangsa Indonesia. 33
Dari beberapa pendapatnya menunjukkan bahwa Wahid Hasyim merupakan seseorang yang sangat memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan khususnya pendidikan Islam pada zamannya. Segala kebijakan-kebijakan penting yang berkaitan langsung demi pembaruan pendidikan Islam yang dia lakukan merupakan realisasi dari pemikiran-pemikirannya di atas. Sehingga ada tiga hal pembaruan pendidikan Islam yang sangat menonjol ketika dia memipin Kementerian Agama RI yaitu dengan mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam, memasukkan
33
90
pendidikan agama di sekolah umum dan pendidikan umum di sekolah madrasah agar seimbang, dan menyiapkan guru-guru agama untuk ditempatkan di sekolah-sekolah umum.