• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemikiran Ulama Nusantara di Bidang Hadis

Di atas telah dikemukakan bahwa dalam konteks sejarah pemikiran Islam, Aceh mewariskan karya-karya intelektual serba pertama, baik di bidang tasawuf, tafsir, ikih, dan hadis.

Di antara karya-karya perintis tersebut, bidang hadis masih belum banyak dielaborasi akibat keterbatasan sumber primer, sehingga bidang hadis seolah terlupakan. Nyaris tidak ada sarjana pengkaji Islam Indonesia yang pernah memberikan perhatian khusus serta menelusuri sejauh mana tradisi dan perkembangan awal penulisan kitab-kitab hadis di Nusantara tersebut. Padahal, hadis diyakini oleh semua pemeluk agama Islam, termasuk Muslim Nusantara, sebagai sumber terpenting kedua setelah al-Quran. Karenanya, dalam tradisi keilmuan Islam secara umum, kitab-kitab hadis telah banyak disusun dengan beragam tingkatan kualitas periwayatannya, seperti Sahih al-Bukhari oleh Imam al-Bukhari (w. 870 M), Sahih Muslim oleh Imam Muslim ibn al-Hajjaj (w. 875 M), Sunan al-Sughra oleh al-Nasa’i (w. 915 M), Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (w. 888 M), Sunan al-Tirmidhi oleh Imam al-Tirmidhi (w. 892 M), dan Sunan Ibn Majah oleh Ibn Majah (w. 886 M).

Sesungguhnya, tradisi penulisan kitab-kitab hadis di kalangan ulama Nusantara tidak ‘sesepi’ yang dikesankan selama ini. Meskipun tergolong lambat dan dari segi jumlah memang kalah jauh dibanding bidang keilmuan lain, terutama tasawuf dan ikih, karya-karya lokal di bidang hadis, terutama dalam bahasa Melayu, dapat kita jumpai, baik berupa kompilasi utuh sejumlah hadis maupun semata terjemahan dari kitab hadis berbahasa Arab.

Kelangkaan sumber dan terlalu fokusnya penelitian para sarjana tentang Islam Nusantara terhadap bidang tasawuf dan ikih telah menjadi salah satu penyebab mengapa aspek hadis, dan wacana tentang ulama hadis Nusantara, tidak terlalu banyak diketahui. Bahkan, hal ini pula yang telah memunculkan kesimpulan amat keliru dari sebuah kajian tentang sejarah transmisi hadis Nusantara, yang menegaskan bahwa transmisi hadis di Nusantara baru dimulai secara tegas pada abad ke-19 melalui Mahfuzh al-Tarmasi (w. 1919/1920 M).

Menurut kajian ini, para ulama Nusantara pendahulu al-Tarmasi sejak abad ke- 17, seperti Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri, Nawawi al-Bantani, dan lainnya, tidak memiliki keahlian dalam bidang hadis.58 Kesimpulan seperti ini

perlu ditinjau ulang mengingat adanya sejumlah kitab hadis sebelum al-Tarmasi, seperti akan dikemukakan di bawah.

Seperti telah saya singgung di atas, kitab hadis berbahasa Melayu pertama adalah karangan al-Raniri yang berjudul Hidayat al-habib i-al-targhib wa-al-

tarhib, atau disebut juga dengan judul lain, al-Fawa’id al-bahiyah ‘an al-ahadith al-nabawiyah. Minimnya kajian tentang tradisi penulisan karya-karya hadis, termasuk terhadap teks Hidayat al-habib ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh masih terbatasnya akses terhadap sumber-sumber primer berupa naskah- naskah tulisan tangan (manuscript) di bidang ini.

Selain al-Raniri, ulama Nusantara lain di abad ke-17 yang menghasilkan karya di bidang hadis adalah Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri (1615-1693). Karyanya,

Sharh la if ‘ala arba‘in hadithan lil Imam al-Nawawi, merupakan terjemahan Melayu dari kitab Sharh Arba‘in karangan Sa‘d al-Din Mas‘ūd ibn ‘Umar al- Taftajani, yang berisi komentar atas 40 hadis al-Nawawi. Sejauh penelusuran yang telah dilakukan, masing-masing satu salinan naskah kitab ini terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden nomor Cod. 3301 dan Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) nomor MS 1314.59

Selain kitab tersebut, sejumlah sarjana juga menyebut al-Mawa‘iz al-badi‘ah

sebagai kitab hadis karangan Abdurrauf al-Fansuri.60 Akan tetapi, setelah

memperhatikan lebih terperinci, karya ini tampaknya lebih tepat dianggap sebagai kitab akhlak (etika) karena berisi nasihat-nasihat keagamaan, atau pengarang menyebutnya ‘pengajaran’, yang banyak, tetapi tidak selalu, disandarkan pada hadis-hadis qudsi (Kalam Allah yang dilisankan melalui Nabi Muhammad, dan tidak sebagai bagian dari al-Quran). Sebetulnya, penyebutan karya ini sebagai karangan Abdurrauf al-Fansuri juga belum didukung data yang meyakinkan karena belum ada satu sumber otentik yang menyebut secara jelas bahwa karya ini adalah karangannya.61 Karenanya, masih diperlukan penelitian

lebih jauh tentang otentisitas karya ini sebagai karya Abdurrauf al-Fansuri. Kitab hadis karya ulama Nusantara lain yang dapat disebut setelah Hidayat al- habib adalah Tanbih al-ghailin karya Abdullah bin Lebai Abdul Mubin Pauh Bok al-Fatani, yang selesai ditulis pada 1184 H/1770 M.62 Teks ini merupakan

terjemahan kitab dengan judul yang sama karangan Abū Layth al-Samarqandi. Abdullah bin Abdul Mubin Pauh Bok al-Fatani sendiri adalah putra Lebai Abdul Mubin bin Muhammad Jailani Pauh Bok al-Fathani, seorang ulama asal Patani di Thailand Selatan yang sezaman dengan Abdurrauf al-Fansuri (1615-1693 M). Pada periode abad berikutnya, Dawud bin Abdullah al-Fatani (lahir 1718 M), yang dalam kebanyakan sumber lebih sering disebut sebagai penulis karya- karya ikih dan tasawuf saja, ternyata juga memiliki karya-karya di bidang hadis.

Fara’id fawa’id al-ikr il imam al-mahdi, yang selesai ditulis pada 1215 H/1800 M, adalah salah satunya, yang manuskripnya terdapat antara lain di PNM Malaysia dengan kode MS 652, dan dalam koleksi pribadi almarhum Hj. Wan Mohd. Shagir Abdullah.63 Karya ini merupakan terjemahan Melayu dari kitab

berbahasa Arab dengan judul yang sama karangan Shaykh Mirghani ibn Y suf. Selain al-Raniri,

ulama Nusantara lain di abad ke-17 yang menghasilkan karya di bidang hadis adalah Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri (1615-1693). Karyanya,

Sharh la if ‘ala arba‘in hadithan lil Imam al- Nawawi, merupakan

terjemahan Melayu dari kitab Sharh Arba‘in

karangan Sa‘d al-Din Mas‘ d ibn ‘Umar al- Taftajani, yang berisi komentar atas 40 hadis

al-Nawawi.

Kitab hadis karya ulama Nusantara lain yang dapat disebut setelah Hidayat al-habib adalah Tanbih al-ghailin karya

Abdullah bin Lebai Abdul Mubin Pauh Bok

al-Fatani, yang selesai ditulis pada 1184

H/1770 M.62

Dawud bin Abdullah al-Fatani (lahir 1718 M)

memiliki karya-karya di bidang hadis. Fara’id

fawa’id al-ikr il imam al-mahdi, yang selesai

ditulis pada 1215 H/1800 M, adalah salah

Sesuai dengan judulnya, kandungan hadis yang terdapat dalam kitab ini berisi berbagai keterangan tentang Imam Mahdi. Dalam konteks Melayu, barangkali inilah kitab hadis pertama yang secara khusus membicarakan tentang Imam Mahdi secara lengkap.

Dawud al-Fatani juga menulis Kashf al-ghummah pada tahun 1236 H/1822 M, yang merupakan terjemahan Melayu atas kitab dengan judul sama karangan ‘Abd al-Wahhab al-Sha’rani.64 Ketika ‘dinasti Fathaniyah’ mencapai masa

kejayaannya dalam hal dunia percetakan, kitab ini termasuk salah satu yang ditashih dan dicetak pada tahun 1303 H/1885 M. Pada periode ini, kita juga bisa menjumpai sebuah kitab hadis berbahasa Melayu yang belum diketahui pengarangnya. Kitab, yang selesai ditulis pada 2 Ramadan 1225 H/1 Oktober 1810 M, tersebut berjudul Shifa’ al-qulūb, dan mengandung 40 bab hadis. Dalam pengantarnya dijelaskan:

“…Aku himpunkan akan beberapa hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan akan dia dengan isnad yang sahih dan dengan riwayat yang kepercayaan, tetapi di sini aku buangkan segala isnadnya dan aku tinggalkan akan alfaznya, aku ambilkan akan segala maksudnya juga supaya jangan payah orang yang menyurat dia, dan supaya jangan jemu orang yang membaca dia, dan aku jadikan akan dia satu kitab.

Kemudian, berdasarkan sejumlah sumber, Hasan Besut ibn Ishaq al-Fathani (w. 1860 M) juga pernah menulis sebuah terjemahan hadis empat puluh karangan ‘Abd al-‘A im al-Munziri. Ia memberi judul kitab terjemahan tersebut sebagai

Hidayat al-mukhtar i fal al- alab al-‘ilm wa-fa l Sahibihi min kalam sayyid al- akhyar, yang diselesaikan pada tahun 1259 H/1833 M.65

Tradisi penulisan kitab hadis di Nusantara pada masa berikutnya dilanjutkan oleh seorang ulama Banten, yang juga cucu murid Dawud al-Fatani, yakni Nawawi al- Bantani (lahir 1230 H/1814 M). Di antara sejumlah karyanya, terutama di bidang ikih, dua adalah kitab hadis, yaitu pertama kitab dalam bahasa Arab berjudul

Tanqih qawl hathith bi-sharh lubab al-hadith, yang merupakan komentar atas kitab Lubab al-hadith karya Imam al-Suyūi.

Kitab hadis kedua bagi al-Nawawi adalah Nasa’ih al-‘ibad sharh munabbihat ‘ala al-isti dad li-yawm al-ma ad, yang diselesaikan pada hari Kamis, 21 Safar 1311 H/1893 M, dan memuat sekitar 250 buah hadis. Seperti tertera dalam judulnya, kitab hadis al-Nawawi ini merupakan komentar atas kitab munabbihat ‘ala al-isti dad karya Shihab al-Din Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad al-Shai i, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Hajar al- Athqalani.

Dawud al-Fatani juga menulis Kashf al- ghummah pada tahun

1236 H/1822 M, yang merupakan terjemahan

Melayu atas kitab dengan judul sama

karangan ‘Abd al- Wahhab al-Sha’rani.64

Nawawi al-Bantani (lahir 1230 H/1814 M).

Di antara sejumlah karyanya, terutama di bidang ikih, dua adalah kitab hadis, yaitu pertama kitab dalam bahasa Arab berjudul Tanqih qawl

hathith bi-sharh lubab al-hadith, yang merupakan komentar atas kitab Lubab al-

hadith karya Imam al-Suy i. Kitab hadis kedua bagi al-Nawawi adalah Nasa’ih al-‘ibad

sharh munabbihat ‘ala al-isti dad li- yawm al-ma ad, yang diselesaikan pada hari

Kamis, 21 Safar 1311 H/1893 M, dan memuat

Jelas bahwa melalui kitab-kitab hadis yang ditulisnya, al-Bantani telah menunjukkan bahwa dirinya memiliki sanad kuat dengan para ulama hadis, dan karenanya memiliki otoritas tinggi, di bidang tersebut. Selain oleh al-Bantani, ulama Nusantara lain yang menulis komentar atas Lubab al-hadith adalah Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan al-Kelantani dengan judul al-Jawhar al-mawh b, yang diselesaikan pada malam Selasa, 2 Jumadil awal 1306 H /1888 M. Jika al- Bantani membuat komentarnya dalam bahasa Arab, maka al-Kelantani menulis kitab komentar tersebut dalam bahasa Melayu.

Di penghujung abad ke-19, masih ada ulama Nusantara lain yang memiliki perhatian terhadap bidang keilmuan hadis, yakni Ahmad al-Fathani, anak ulama

Fathani฀lainnya,฀Muhammad฀Zayn฀al-Fathani.฀Ia฀menulis฀sejumlah฀kitab฀hadis,฀

baik berbahasa Arab maupun Melayu, antara lain Bisharat al-‘amilin wa-nazarat al-ghailin, Hadis memulakan makan dengan garam dan disudahi dengannya, Hadis-hadis pilihan, serta Daftar rijal hadis.66

Di antara ulama Nusantara yang paling terkemuka sebagai ahli hadis di penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah Mahfudz Termas, yang memiliki nama lengkap Muhammad Mahfuz bin Abdullah bin Abdul Manan bin Abdullah bin Ahmad al-Tarmasi. Ia lahir di Termas, Pacitan, Jawa Tengah, pada 12 Jumadil awal 1285 H/31 Agustus 1868 M, dan bermukim di Mekah hingga akhir hayatnya pada 1 Rajab 1338 H/ 20 Mei 1919 M.67

Kitab hadis karangan Mahfudz Termas adalah Manhaj dhawi al-nazar i sharh al-manzūmat 'ilm al-athar, yang selesai ditulis pada 1329 H/1911 M, sekitar sembilan tahun sebelum ia wafat. Kitab berbahasa Arab ini merupakan komentar atas kitab al-Manzumat 'ilm al-athar karangan Jalal al-Din al-Suy i, dan berhasil menempatkan Mahfudz Termas menjadi salah seorang ulama Nusantara terkemuka di bidang hadis, sehingga kitab tersebut dirujuk oleh para ulama di dunia Islam secara keseluruhan.

Memasuki abad ke-20, penulisan kitab hadis di Nusantara ternyata juga tidak surut. Setidaknya tercatat kitab Hadith ‘Ataqah, karya Muhammad Mukhtar bin Ataridi al-Jawi al-Batawi al-Bawaqiri, seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat, yang mengemukakan beberapa permasalahan ‘ataqah kubra. Kitab ini diselesaikan

oleh฀penulisnya฀pada฀21฀Zulhijjah฀1330฀H/1฀Desember฀1912.฀

Akhirnya, kitab hadis berbahasa Melayu terakhir yang dapat kita jumpai adalah

Bahr al-madhi sharh bagi mukhtaSar Sahih al-Turmudhi, sebuah komentar atas kitab Sahih al-Turmudhi yang ditulis oleh Muhammad Idris ‘Abdurrauf al-Marbawi al-Azhari pada 2 Jumadil akhir 1377 H/24 Desember 1957 M. seperti dijelaskan dalam pendahuluan jilid pertama, kitab ini ditulis berdasarkan ingatan dan pengetahuan pengarang atas berbagai pelajaran hadis yang pernah diterima dari Di penghujung abad

ke-19, masih ada ulama Nusantara lain yang

memiliki perhatian terhadap bidang keilmuan hadis, yakni

Ahmad al-Fathani, anak ulama Fathani lainnya, Muhammad

Zayn al-Fathani. Ia menulis sejumlah kitab

hadis, baik berbahasa Arab maupun Melayu, antara lain Bisharat al-‘amilin wa-nazarat

al-ghailin, Hadis memulakan makan dengan garam dan disudahi dengannya,

Hadis-hadis pilihan, serta Daftar rijal hadis.66 Di antara ulama

Nusantara yang paling terkemuka sebagai ahli hadis di penghujung

abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah

Mahfudz Termas, yang memiliki nama lengkap Muhammad Mahfuz bin Abdullah bin Abdul

Manan bin Abdullah bin Ahmad al-Tarmasi.

gurunya semasa di Al-Azhar, yakni Muhammad Ibrahim al-Samaluti, ditambah dengan rujukan pada sejumlah sumber terpercaya. Pengarang mengatakan:

“…kemudian manakala aku pulang ke rumah, tiadalah lagi berpaling melainkan aku jalankan batang kalam aku di pipi sahifah-sahifah sebagaimana yang kuingat dan aku paham daripadanya, berikut dengan sedikit-sedikit perkataan Imam Shai’i di dalam al-Umm, dan perkataan Nawawi di dalam Sharh Muslim, dan perkataan al-Qustalani, dan Ibn al- ‘Arabi, dan lainnya…”68

Demikianlah tradisi penulisan hadis di kalangan ulama Nusantara sejauh yang dapat ditelusuri. Kelangkaan referensi terkait topik ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengkaji di bidang terkait untuk terus melakukan berbagai penelitian lanjutan.