• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.2.2. Pemilik Tanah

Informan adalah seorang pria berusia 51 tahun. Pendidikannya hanya sampai di tingkat SD (Sekolah Dasar). Informan mempunyai seorang istri dan empat orang anak. Dua orang anaknya telah bekerja sebagai tenaga honorer sedangkan dua orang lainnya sudah memiliki tanah/ladang sendiri.

Informan merupakan salah seorang petani yang sukses di desa Rakut Besi. Selain memiliki tanah/lahan pertanian yang luas, dia juga sukses sebagai kepala rumah tangga yang telah dapat mendidik anaknya sampai mendapat pekerjaan. Namun, saat ini istrinya sedang jatuh sakit. Masyarakat desa sering datang dan berkunjung untuk melihat istrinya.

Informan telah menyewakan tanah seluas 2,5 Ha. Dia juga tetap mengolah tanah/lahan pertaniannya sendiri. Alasannya, untuk mengisi waktu luang dan menambah penghasilan.

“...Rp. 3.000.000 per bulan memang cukup untuk kebutuhan sehari–hari. Tapi sekarang tidak cukup lagi karena harus beli obat (obat istri yang mahal). Tabungan masih ada, cuman sekarang tidak bisa nabung lagi kayak dulu (sebelum istri jatuh sakit )”. (Wawancara, April 2007)

Informan telah menyewakan tanah kepada sejumlah orang. Dia hanya menyewakan kepada orang yang dapat dipercayai, tidak harus selalu kepada anggota keluarga.

Informan tidak memasang ketentuan atau syarat tertentu dalam menyewakan tanah. Bentuk perjanjian dilakukan secara lisan ataupun tulisan. Baginya yang terpenting adalah penyewa membayar sewa. Pembayaran dapat berupa uang tunai atau bayar panen (bagi hasil). Dia mengaku tidak pernah mengatur ataupun memaksa penyewa.

Informan mengaku bahwa petani penyewa tanah pernah melanggar janji dan terlambat membayar sewa. Akan tetapi, dia hanya mengingatkan dan memberi tambahan waktu pengembalian/pembayaran saja. Biasanya dia kurang

percaya lagi kepada petani penyewa tersebut. Sering sekali, pada musim berikutnya tanah/lahan ditarik dari petani penyewa tersebut.

Dia tidak mempunyai cara khusus mencegah petani penyewa menunggak pembayaran sewa. Dia hanya berusaha mengingatkan saja. Bahkan, sering sekali petani penyewa meminta tambahan modal untuk membeli obat, pupuk, membayar tenaga kerja, membayar ongkos angkut, dll. Menurutnya, pinjaman tersebut membantu para petani. Dia tidak memberi bunga yang tinggi kepada para petani yang meminjam kepadanya.

Biasanya, dia meminta penyewa menjual hasil panen sebagai cara pembayaran. Menurutnya, cara tersebut lebih efisien dan memudahkan penyewa dibandingkan mencari calon pembeli lain. Sebagai distributor, informan juga dapat menjaga jumlah penjualan.

Namun, dia tidak memaksakan cara pembayaran tersebut. Dia mengijinkan cara yang lain (misal: uang tunai dan tenaga/jasa). Yang terpenting sudah di diskusikan terlebih dahulu. Bahkan tidak jarang, penyewa meminta bekerja sebagai buruh tani atau tenaga kerja pada saat menanam ataupun panen.

Dia sangat menghargai petani penyewa yang rajin dan pekerja keras. Dia tidak pernah takut tersaingi apabila petani penyewa lebih berhasil darinya. Berdasarkan pengalaman, kesuksesan yang diperoleh informan berasal dari kerja keras. Sebelumnya, informan mengaku hanya memiliki tanah beberapa hektar saja dan merupakan warisan orang tua. Namun, kerja keras dan doa berhasil membuatnya sukses bahkan informan sudah memiliki tanah/lahan lain di Pekan Baru dan dapat memperkerjakan orang sebagai penjaganya.

b. Esron Girsang

Informan adalah seorang pria berusia 42 tahun. Istrinya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di salah satu Sekolah Dasar di desa tetangga. Informan menyelesaikan pendidikan sampai ke jenjang Sekolah Teknik Menengah (STM). Informan memiliki empat orang anak yang sekolah, di tingkat SMA dan tingkat SD. Menurutnya, pendidikan akan membawa manfaat bagi masa depan anak–anak. Oleh karena itu, dia berusaha menyekolahkan anak–anak sampai tingkat yang tertinggi. Penghasilan istri yang bekerja sebagai PNS dirasakan cukup membantu. Dari penghasilan yang tetap tersebut, dia dapat membiayai sekolah anak-anaknya.

Informan berpendapat bahwa penghasilan yang diperoleh dari menyewa tanah lebih dari cukup dan bahkan dia sanggup menabung. Pengeluaran sehari-hari adalah kebutuhan dapur, ongkos transport dan jajan anak–anak, ongkos kerja istri, dan upah tenaga kerja. Dengan penghasilan istri Rp.1.500.000 per bulan dan Rp. 2.000.000 dari bertani dan menyewakan tanah dirasa cukup baginya.

Informan telah lama menyewakan tanah kepada orang lain. Bahkan, dia dapat mempekerjakan orang untuk menjaga tanah/ladangnya. Informan memperkerjakan sepasang suami–istri dan memberinya tempat tinggal di ladang. Pekerja merupakan warga pendatang dari luar desa. Pekerja juga di berikan beberapa rante tanah untuk mereka usahakan dan penghasilannya menjadi hak mereka.

Informan tidak membuat ketentuan/syarat dalam menyewakan tanah. Yang penting adalah penyewa tepat waktu membayar dan rajin bekerja. Dalam pembayaran, dia lebih suka dengan sistem pembayaran menggunakan uang tunai. Akan tetapi, dia mengijinkan penyewa melakukan pembayaran dengan sistem pembayaran bagi hasil, tenaga kerja atau bentuk lainnya.

Pengetahuan dan pendidikan informan yang cukup baik serta didukung pengalaman istri membuatnya lebih memilih menyewakan tanah dalam perjanjian tertulis.

“...perjanjian tertulis supaya lebih aman. Dan kami bebas menyewakan (tanah) pada siapa saja.. yang penting jelas orangnya, dan punya jaminan (mis: saudaranya). bisa aja orang lain walaupun baru kena, tapi bayarnya duluan supaya aman”. (Wawancara, April 2007)

Hubungan kekerabatan antar masyarakat desa sangat dirasakan bermanfaat. Untuk menjaga hubungan antra keluarga, dia selalu berusaha mengunjungi mereka. Dia biasa berdiskusi tentang pertanian. Terkadang informan berdiskusi dengan petani yang menyewakan tanahnya. Dia membantu dengan berbagi pengalaman serta menawarkan bantuan apabila dibutuhkan.

Berdasarkan pengalamannya, petani pernah terlambat membayar uang sewa tanah kepadanya. Maka, sebelum panen lahan akan kami tarik dan informan akan meneruskan sampai panen kemudian menjualnya. Cara tersebut dirasakan cukup berhasil dan menguntungkan walaupun merugikan petani penyewa. Biasanya, petani penyewa tetap meminta agar pemilik tanah tetap menyewakan tanah pada musim berikutnya.

Informan tidak pernah memaksa dalam menawarkan bantuan baik berupa uang ataupun modal kepada petani penyewa. Berdasarkan pengalaman, petani penyewa sering meminta bantuan atau pinjaman baik berupa modal, ataupun alat-alat pertanian seperti pupuk dan obat-obatan.

Selain menyewakan tanah/lahan, informan juga menyewakan kendaraan pengangkut (mobil pengangkut). Akan tetapi, dia lebih suka menggunakannya daripada menyewakannya. Selain itu, informan juga memberi pinjaman modal/uang, pupuk dan obat-obatan. Menurutnya, usaha meminjamkan uang/modal, pupuk atau obat-obatan yang dapat memberi keuntungan besar.

Informan berpendapat bahwa kesuksesan yang diperolehnya berasal dari usaha dan kerja keras. Namun, terkadang distributor juga sering menentukan harga. Menurutnya, petani penyewa lebih sering dirugikan oleh distributor dibandingkan pemilik tanah karena bebas memilih atau menjual kepada distributor. Dia berpendapat, pemilik tanah wajar menaikkan harga sewa tanah apalagi letaknya strategis, kondisinya bagus serta panennya selalu berhasil.

c. Jansen Karo Sekali

Informan adalah seorang pria yang berusia 29 tahun. Informan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sedangkan istrinya menyelesaikan pendidikan di tingkat SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Informan memiliki empat orang anak. Dua orang anaknya sudah bersekolah di Sekolah Dasar (SD), dan dua orang lagi belum bersekolah.

Luas tanah/lahan pertanian yang dimiliki sebagian diperoleh dari orangtua. Informan mengolah tanah/lahan pertanian sendiri, selain menyewakan kepada orang lain. Penghasilan dari menyewakan tanah dirasakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, informan tetap mengelola lahan pertanian karena tidak memiliki keahlian di luar bertani.

Penghasilan informan selama sebulan sekitar Rp.2.000.000. Informan berpendapat, jumlah tersebut lebih dari cukup. Selain itu, biaya untuk pendidikan atau sekolah anak tidak mahal. Pengeluaran lainnya adalah untuk biaya tenaga kerja sewaktu musim tanam ataupun panen.

Informan adalah salah seorang pemilik tanah yang berhasil di desa Rakut Besi. Selain mempunyai tanah dengan luas ± 3 Ha, informan juga masih berusia muda. Informan memiliki pendapat yang sama dengan pemilik tanah lainnya yaitu penting sekali membangun hubungan kerjasama antara masyarakat sekalipun dengan petani penyewa. Syarat yang diberlakukan iinforman bagi petani penyewa adalah rajin, jujur dan tidak terlambat membayar.

Informan menerapkan cara pembayaran sewa tanah dengan uang tunai. Akan tetapi, apabila petani penyewa tidak sanggup atau tidak bersedia, dia menerima pembayaran cara lain, seperti bagi hasil ataupun jual panen.

Dari pengamatan, informan cukup sering berdiskusi dengan penyewa tanah. Menurutnya, cara tersebut dapat memotivasi dan mengingatkan penyewa secara baik agar tidak terlambat membayar sewa kepadanya.

Informan berpendapat bahwa petani penyewa dapat maju dan berkembang bahkan memiliki tanah sendiri namun ketiadaan modal yang

membuat tidak berhasil. Dari pengamatan, informan sering memberi tambahan modal kepada petani penyewa.

Dengan terpenuhinya kebutuhan sehari–hari, pendidikan anak terlaksana serta telah memiliki tabungan, informan dapat membeli atau memperluas tanahnya.

Informan memiliki pendapat yang sama dengan para pemilik tanah lainnya bahwa menaikkan atau memberi harga sewa tanah tinggi merupakan hal yang wajar. Informan tidak merasa salah apabila mempekerjakan petani penyewa di luar perjanjian yang telah disepakati. Namun, informan tetap memberikan imbalan atas jasa dan tenaga apabila petani penyewa tanahnya melakukan hal tersebut.

Dokumen terkait