Dan artinya begini, ada perbedaan tentang besaran upah, kurator bilang bahwa upahnya itu dihitung dari saat pailit sampai kurator melakukan PHK. Karena dalam ketentuan Undang-Undang Kepailitan kurator dapat mem-PHK buruhnya 45 hari setelah dinyatakan pailit. Tetapi dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan sendiri sebagaimana amanat Undang-Undang Kepailitan bahwa ini harus diselesaikan berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Artinya upah itu wajib dibayar setelah ada Putusan Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Pasal 151 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Nah, kalau misalnya ini terjadi, sedangkan belum ada mekanisme yang sebagaimana diatur oleh undang-undang, kemudian apakah penyelesaiannya itu direnvoi oleh hakim pengawas beserta kurator atau buruh tetap harus maju walaupun nanti gugatannya nanti dinyatakan gugur demi hukum?
56. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H. Silakan.
57. AHLI DARI PEMOHON :Dr. SURYA CANDRA, S.H., LL.M.Ph.D
Pertanyaannya saya belum menangkap secara jelas, tetapi apa yang Saudara katakan itu argumen yang saya sepakati. Artinya itu persis problem dalam yang sedang menjadi persoalan kita di sini dan barangkali kalau boleh saya tambahkan sedikit penjelasan soal mekanisme PHK misalnya dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, semua PHK harus dengan penetapan dan semacam penetapan oleh lembaga penyelesaian perselisihan perburuhan. Dan kurator tidak termasuk seperti yang diatur di undang-undang itu, dan satu-satunya lembaga yang sekarang bisa menetapkan itu adalah Pengadilan Hubungan Industrial yang berada di tiap ibukota provinsi saat ini dengan Majelis yang cukup kompleks melibatkan cuma tidak hanya hakim karir yang harus mengikuti pelatihan lebih dahulu selama dua minggu minimal dan hakim ad-hoc dari yang diutus atau dicalonkan oleh serikat pekerja dan organisasi pengusaha dan mereka mengikuti pelatihan satu bulan terlebih dahulu, khusus untuk menjadi hakim ad-hoc. Dan mereka bekerja secara full time di PHI terus menerus setiap hari sehingga itu melatih sensitivitas terhadap isu ketenagakerjaan. Harapannya adalah mereka sensitif dan bisa paham kompleksitas persoalan ketenagakerjaan. Kemudian itu direfleksikan dalam putusannya.
Itu yang saya kira tidak dimiliki oleh kurator dan saya bisa berspekulasi kurator akan lebih memikirkan kepentingan kreditur dan bukan buruh, bukan pekerjanya . Kenapa begitu ? karena memang tugas
dia itu. Dan ya di situlah menjadi persoalan ada benturan antara dua rezim hukum. Dan bagaimana ini bisa kita diselesaikan, bisa dicari solusi yang paling tepat untuk semua. Sekali lagi harus saya katakan buruh tidak anti investasi, buruh perlu investasi tetapi pada titik yang sama haknya yang sudah ditentukan oleh undang-undang secara minimal tidak juga bisa dikurangi. Nah, bagaimana kita menemukan harmoni di situ, itu yang saya sendiri tidak sanggup,
Mungkin Majelis Hakim Konstitusi bisa. 58. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Baik, semua keterangan sudah direkam, dicatat disini, nanti tentu hakim akan mendiskusikannya secara cermat. Masih ada lagi? Singkat ya, jangan mengulang-ulang dan substansinya saja yang di—tidak usah ilustrasi
59. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Pemohon Prinsipal ada yang mau bertanya Majelis Hakim. 60. PEMOHON : KOMARUDIN
Terima kasih untuk kesempatannya.
Karena terus terang saya merasa agak lagi prihatin banget tentang masalah buruh itu yang hampir dikesampingkan anggota dewan yang notabene yang mewakili rakyatpun kesannya justru mengesampingkan buruh ya, di samping juga pemerintah juga, karena buruh itu adalah kelompok yang lemah yang tidak mempunyai kekuatan begitu kan, kalau tidak percaya silakan saja dibuktikan seberapa banyak buruh yang sudah menjadi korban ketika ter-PHK tidak mendapatkan apa-apa itu, ini hubungannya nanti dengan saksi ahli, karena saksi ahli kebetulan cukup berpengalaman di masalah ketenagakerjaan. Artinya banyak test case test case yang dialami, berapa banyak kasus yang dilakukan dan seberapa sulit yang bisa dilakukan sehingga buruh pun menjadi korban. Mungkin itu yang bisa disampaikan, artinya kesulitan-kesulitan sebagai advokatnya untuk membela yang namanya pekerja atau buruh karena yang saya perhatikan itu hampir kebanyakan ketika PHK buruh itu tidak dapat apa-apa begitu.
Terima kasih.
61. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Saya kira itu tidak relevan dengan substansi masalah itu, itu soal lain ini kan pengujian sebuah pasal terhadap Undang-Undang Dasar begitu ya? Kalau yang soal itu, itu penting tetapi relevansinya tidak
langsung dengan itu. Saya kira tidak perlu dijawab itu Saudara (...) 62. AHLI DARI PEMOHON :Dr. SURYA CANDRA, S.H., LL.M.Ph.D
Barangkali Pak Hakim Ketua kalau boleh saya usul menarik juga mendengarkan buruhnya langsung dari Sindoll misalnya mengalami itu, apakah dimungkinkan dalam forum ini.
Terima kasih Pak.
63. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Saya kira tidak terlalu relevan soal itu, soal itu sudah banyak informasi, kita sudah tahu dari koran kita ini langsung saja pengujian sebuah pasal terhadap UUD 1945 dimana letak ketidakadilannya, letak ketidakpastian hukumnya dan sebagainya kalau soal nasib buruh itu sudah banyak saya kira nanti kita bisa bicara di luar sidang ini, kami persilakan.
64. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Majelis, ada satu hal yang kami inginkan dari DPR mohon (…)
65. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Tunggu dulu nanti ada gilirannya kepada DPR, silakan duduk dulu.
Nah sekarang tiba gilirannya Saudara dari Pemohon untuk menanggapi atau menanyakan yang terkait yang disampaikan Pemerintah dan DPR tadi. Kalau bisa singkat-singkat juga atau to the point , silakan
66. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Pertama-tama karena kita ini sedang menguji suatu peraturan perundang-undangan maka mohon kiranya melalui Majelis kami minta DPR ini mempersiapkan risalah pembuatan pertama Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Perpu Nomor 4 Tahun 1998 itu kemudian risalah pembuatan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 sehingga kita dapat penjelasan apa kepentingan atau argumen dibalik pembuatan pasal itu, itu pertama dan kemudian kedua kami ingin menegaskan bahwa pengujian pasal-pasal Undang-Undang Kepailitan ini tidak ada kaitannya dengan perkara kepailitan karena sudah selesai itu sudah
inkraht, tolong dibaca secara cermat, secara teliti permohonan kami, dan yang ketiga saya kira kalau memang dibutuhkan Majelis bisa mengirim satu tim meninjau konkret situasi di lapangan PT Sindoll ini sekedar saran karena ini satu test case pertama dari persoalan
perburuhan yang tidak atau memang terkait dengan peraturan perundang-undangan, jadi kira-kira itu tanggapan kami terima kasih. 67. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Tampaknya tadi bukan pertanyaan itu ada usul tapi Saudara mau menanggapi dari DPR, silakan
68. DPR-RI : NURSYAMSI NURLAN, S.H. (KOMISI III DPR-RI)
Dari DPR kami ingin menanggapi, pertama mengenai risalah sebagaimana biasanya insya Allah nanti kami akan lengkapi dalam persidangan-persidangan sebelumnya juga seperti itu. Kemudian yang kedua tadi memang ada perasaan tidak enak karena ini kesalahpahaman barangkali, masalah yang kita hadapi di sini, kasus yang kita hadapi disini adalah yang menyangkut adanya undang-undang yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar itu yang kita persoalkan dalam forum ini, yaitu Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Pasal 29, Pasal 55, Pasal 59 ayat (1) dan Pasal 138. inilah yang harus dibuktikan bahwa itu bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) ini yang kita bicarakan, jadi dalam hal ini kami, apa yang kami kemukakan tadi dalam kerangka itu, jadi kami tidak sependapat bahwa DPR tidak komit dengan nasib buruh bukan itu persoalannya. Benarkah Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Pasal 29, Pasal 55 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), Pasal 138 itu bertentangan tidak dengan Undang-Undang Dasar Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) tadi ahli mengatakan ini perbenturan antara Undang-Undang Ketenangakerjaan dengan Undang-Undang Kepailitan, ahli sendiri mengakui dikembalikan kepada Undang-Undang Dasar, ini artinya tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Nah inikan persoalan yang ingin saya sampaikan terima kasih Pimpinan.
69. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Pemerintah kalau ada?
70. PEMERINTAH : SYAMSUDIN MANAN SINAGA (DIRJEN