Vocational school berkembang dengan sangat pesat di Eropa, terutama di Jerman yang menganut Dual Education System (sistem pendidikan ganda). Sekolah ini menciptakan lulusan-lulusan yang siap memasuki dunia kerja dengan daya saing yang tidak kalah hebat dengan lulusan sekolah umum.
Sistem pendidikan dalam vocational school didesain oleh Federal Ministry of Education and Research yang kemudian juga mendapatkan arahan dari Institusi Pendidikan dan Pekerjaan di Jerman. Lembaga ini memiliki tujuan untuk pemupukan pengetahuan dan pemupukan keterampilan. Pengetahuan dipelajari di sekolah kejuruan dan pemupukan keterampilan diberikan dengan praktek di perusahaan.
Hal terpenting dalam menjalankan vocational school adalah bagaimana membangun kemitraan antara sekolah dan perusahaan. Kedua institusi ini memiliki tanggung jawab bersama dalam memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para siswa.
Mekanisme pembelajaran yang diterapkan dalam vocational school di Jerman sangatlah komprehensif. Siswa tidak hanya mempelajari teori dan keterampilan di sekolah, melainkan terjun langsung di perusahaan selama 3,5 hari dalam seminggu, kemudian sisanya adalah mempelajari teori di sekolah. Dalam hal ini dibutuhkan peran aktif sekolah untuk membangun kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Jerman. Sarana dan prasarana belajar yang dimiliki sekolah juga sangat mendukung untuk mencapai kualitas pembelajaran yang diinginkan.
Jerman sangat serius dengan pengembangan sumber daya manusianya melalui vocational school yang kemudian menciptakan manusia-manusia dengan kualitas keterampilan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar (dunia kerja/perusahaan). Hal tersebut dilakukan pemerintah Jerman bersama-sama dengan institusi pendidikan danperusahaan dengan memperhatikan sarana belajar, kurikulum pembelajaran, anggaran dan
Berkali-kali harus digarisbawahi bahwa graduasi ke status pendapatan tengah tinggi dan ke pendapatan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan sangat tergantung dari difusi dan akuisisi teknologi. Sistem inovasi nasional sangat diperlukan untuk menjalin koneksi efektif antara pendidikan, penelitian dasar yang dimotori oleh lembaga-lembaga riset pemerintah, penelitian aplikatif yang dimotori oleh lembaga riset semi-publik, dan riset komersial yang dimotori oleh dunia usaha, termasuk UKM. Jerman menjadi ekonomi maju yang tergolong inklusif dan berkelanjutan antara lain adalah sumbangan sistem inovasi nasional yang unggul dengan pelaku-pelaku yang terkemuka dibidangnya masing-masing, seperti Max Planck Gesellschaft dalam penelitian aplikatif, dan riset korporat usaha besar dan UKM. Dalam sistem inovasi nasional ini, pemerintah federal dan negara bagian bekerjasama dengan erat, terutama melalui skema pendanaan kolaboratif.
Dalam kasus Indonesia, perubahan teknologi masih sangat terbatas yang berasal dari program akuisisi nasional. Ketergantungan atas difusi teknologi impor masih sangat tinggi. ndikator-indikator yang mencerminkan akuisisi teknologi masih sangat lemah dibanding negara yang bersaing dengan Indonesia dalam graduasi, apalagi dibanding negara-negara yang hendak dilomba. Pengeluaran total Indonesia untuk riset dan pengembangan (R&D) masih sangat kecil, demikian juga angkatan kerja R&D. Program R&D yang kecil itu sangat tergantung pada pemerintah dalam perencanaan pelaksanaan dan pendanaan. Revolusi R&D diperlukan sebagai bagian dari upaya penciptaan kondisi yang kondusif bagi graduasi Indonesia dalam tangga perkembangan bangsa-bangsa.
Tabel 2.7 Indeks GERD, Indonesia-Jerman, 2002-2007
Sumber: UNESCO, 2012
Keteragan Tahun Indonesia Jerman
GERD in PPP$ thousands 2002 249,957-1 56,657,086
2007 347,237-2 72,241,917
GERD per capita (PPP$) 2002 1.2-1 689
2007 1.6-2 877.3
GERD per researcher full-time equivalent PPP$ thousands
2002 5.9-1 213.1e
2007 –
248.4
GERD per researcher headcounts PPP$ thousands
2002 2.7-1 149.6+1
2.3. Pemerataan Pemilikan
Daya saing ekonomi berupa keunggulan dalam biaya dan dalam diversifikasi produk dan layanan, memerlukan persaingan yang wajar dalam arti diatur dengan regulasi yang baik sehingga bebas dari konsentrasi yang berlebihan dan bebas dari praktek-praktek penyalahgunaan kekuasaan pasar. Untuk itu diperlukan penurunan konsentrasi pemilikan dunia usaha. Penurunan konsentrasi ini dapat didorong antara lain lewat prakarsa-prakarsa pemerataan pemilikan, terutama dalam bentuk upaya-upaya khusus dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Dalam prakarsa ini diperlukan perbaikan akses ke informasi, teknologi, modal human, pemasok masukan, pembeli keluaran dan sumber keuangan.
Akses informasi diperbaiki melalui penggambaran oleh asosiasi, industri, APINDO, KADIN, Kadinda, pemerintah, dan perguruan tinggi. Akses teknologi dapat diperbaiki melaluipameran-pameran. Sumber daya manusia dapat dimotivasi melalui kepesertaan dalam pameran lowongan kerja. Akses ke pasar masukan dan keluaran diperbaiki melalui kemitraan dengan usaha sedang dan besar. Perbaikan akses keuangan dapat diupayakan melalui reposisi bank-bank pembangunan daerah menjadi bank pembangunan UMKM dengan dana tambahan dari APBN dan APBD yang penggunaannya dikaitkan dengan persyaratan kinerja.
Menggunakan data Sensus Ekonomi 2006 (BPS), ditemukan bahwa konsentrasi dalam industri pengolahan Indonesia adalah relatif rendah. Dengan menggunakan ukuran
Concentration Ratio 4 perusahaan (CR4) atau pangsa empat perusahaan terbesar dalam
outputuntuk mengukur market power, dari 66 kelompok industri di Indonesia, 87 persen memiliki tingkat konsentrasi 0-50 persen. Dengan kata lain, hanya sekitar 7 kelompok industri yang memiliki tingkat konsentrasi diatas 50 persen. Dalam KBLI 3 digit, hanya 3 persen dari seluruh industri yang mempunyai CR4 yang cukup tinggi, yaitu diatas 80 persen. Mereka adalah industri kereta api, bagian-bagian dan perlengkapannya serta perbaikan kereta api dan industri pesawat terbang dan perlengkapannya serta perbaikan pesawat terbang. Hal ini mengindikasikan bahwa 2 perusahaan terbesar dapat menguasai pasar lebih dari 80 persen, walaupun harus dicatat bahwa kedua industri ini menikmati status sebagai industri strategis yang secara umum ditandai oleh konsentrasi yang tinggi. Rincian tingkat konsentrasi industri pengolahan dapat dilihat dalam Tabel A.3
3.1. Neksus Ekonomi-Sosial
“Survival of the fittest” adalah istilah yang dikenal oleh paling banyak manusia dari buku Charles Darwin tentang asal-usul spesies dengan konotasi negatif bahwa dalam persaingan yang terjadi adalah yang kuat mengalahkan yang lemah. Hampir satu abad lebih dahulu terbit buku Adam Smith tentang penulusuran alam kekayaan bangsa-bangsa. “Invisible hand” disebut satu kali dalam buku ini tetapi istilah itulah yang diasosiasikan sangat luas dengan ekonomi pasar atau kapitalisme. Dalam zaman yang lebih baru, Richard Dawkins menerbitkan “The Selfish Gene” yang memberi kesan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat keakuan (selfish), walaupun yang hendak dikatakan adalah bahwa satuan evolusi adalah gene yang berusaha mengabadikan keberadaannya, sedangkan selebihnya adalah sarana pengabadian bagi gene. Baik Adam Smith, Charles Darwin maupun Richard Dawkins tidak mengatakan bahwa manusia adalah semata-mata mesin persaingan. Dalam tahun 2000-an ini, sosialitas manusia bahkan mendapat perhatian yang semakin kuat dalam anthropologistik dan sosial maupun ilmu ekonomi.
Dengan berkembangnya studi genetik semakin tampak jelas bahwa kerjasama adalah mekanisme yang lebih tua daripada persaingan dalam kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Eukaryot adalah fusi dari dua prokaryot yang bekerjasama. Simbiosis mutualistik adalah proses yang sangat lumrah di alam. Seks adalah mekanisme kerjasama untuk rekombinasi genetik untuk melahirkan keturunan yang lebih tahan (fit) menghadapi perubahan lingkungan. Singkatnya, sosialitas adalah sesuatu yang sangat mendasar dari dalam kehidupan, meskipun ia berlangsung bersama-sama dengan persaingan. Kehidupan, termasuk kehidupan manusia adalah ko-evolusi kerjasama dan persaingan. Ada kalanya persaingan menonjol, tetapi dikala lain kerjasama yang menonjol. Sayangnya, persaingan sering lebih ditonjolkan dalam kehidupan ekonomi modern daripada kerjasama sebagai ungkapan dari sosialitas. Persaingan dalam penguasaan modal alam sering bermuara dalam konsentrasi pemilikan yang sangat tajam. Persaingan dalam memperebutkan pasar pembeli sering ditarung dengan harga
BAB 3
terendah yang dihulunya dapat berarti upah subsisten bagi buruh di satu pihak, tetapi gaji sangat tinggi bagi direktur. Persaingan yang sama sering ditarung oleh perusahaan dengan mengabaikan kewajiban terhadap petaruh (stakeholders) yang lebih luas, termasuk alam.
Era baru tampaknya terbit bagi kerjasama dengan “open system”. The Royal Society
pernah melaporkan bahwa penelitian dasar dewasa ini semakin sering dilakukan dalam bentuk kerjasama atau kolaborasi internasional. Pesan serupa juga disebarkan oleh World Science Report dari UNESCO. Bukan saja penelitian semakin jauh dari jangkauan satu orang atau satu lembaga penelitian, probilitas keberhasilannya semakin tinggi jika dirancang dan diselenggarakan sebagai penelitian kooperatif. Kultur keragaman dalam penelitian semakin diakui sebagai kultur yang lebih subur bagi kreativitas dan keinovatifan daripada kultur homogen.
Dalam tataran kebijakan, salah satu unsur yang sangat mendasar dari kerja sama adalah perlindungan dan jaminan sosial sebagai padanan bagi kegiatan ekonomi, baik yang informal maupun yang formal. Pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan memerlukan pre-komitmen terhadap perlindungan beberapa hak-hak sosial dasar. Hanya dengan pre-komitmen seperti itu pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ekonomi dapat berdamai dan bersatu mengejar tujuan yang konvergen. Memang perlindungan dan jaminan sosial pun harus dibangun di atas realism. Mereka tidak boleh menjadi hambatan yang prohibitif bagi ekspansi kegiatan ekonomi.
Kenaikan upah yang progresif ketika pengangguran masih tinggi adalah hambatan prohibitif seperti itu. Di lain pihak mereka harus disesuaikan dengan keadaan ekonomi yang membaik. Upah minimum adalah hambatan produktivitas ketika perusahaan sudah melewati tahap formatif dalam daur hidupnya. Yang sudah tetapi perlu dipadu adalah jalan “berakit-rakit ke hulu” yang terbukti menjadi jalan keberhasilan bagi negara-negara atau ekonomi-ekonomi Asia Timur yang sudah maju lebih dahulu, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Hong Kong SAR, Taiwan, dan barangkali juga RR Tiongkok. Mereka masing-masing mengejar dengan cepat kesibukan penuh dengan upah yang naik lebih lambat daripada perbaikan produktivitas untuk kemudian disusul oleh kenaikan upah yang sangat progresif segera sesudah kesibukan penuh dicapai. Tampaknya realism seperti itu juga terkandung dalam “kultur Germanik” Eropa yang tercermin dalam daya saing ekonomi dan kohesi sosial Jerman dan Swiss.
Gabungan yang berkelanjutan antara persaingan dan perlindungan dan jaminan sosial akan sangat diperlukan Indonesia dalam peralihannya menuju kelompok pendapatan tengah atas. Pada tahap ini andalan sektoral yang realistik adalah industri pengolahan karena besarnya dan mudanya penduduk.Industri pengolahan Indonesia kehilangan momentum sesudah RR Tiongkok bangkit secara besar-besaran dalam pertengahan 1990-an, sebentar sebelum Indonesia ditimpa oleh krisis keuangan yang sangat parah dalam 1997-1998. Sejak itu, momentum itu belum pernah dipulihkan. Industri pengolahan Indonesia tumbuh masih lebih lambat daripada PDB total. Saatnya sudah sangat mendesak untuk memulihkan momentum itu. Lingkungan internasional sebenarnya akan berubah lebih kondusif karena peralihan RR Tiongkok ke industri-industri yang semakin padat pengetahuan. Mengantisipasi lingkungan baru itu, upaya sekeras-kerasnya harus digalang untuk meramu lingkungan industrial yang subur bagi perdamaian industrial di Indonesia, antara lain dengan memupuk secara gradual perlindungan dan jaminan sosial yang berkelanjutan.
Keadilan sosial tidak saja sangat penting karena merupakan amanat konstitusional, melainkan juga karena merupakan conditio-sine-quanon bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Kegagalan memperbaiki keadialan sosial adalah bagian penting dari perangkap pendapatan sedang yang terbukti sudah menimpa banyak negara.
Dunia dalam sekitar 35 tahun terakhir memang menyaksikan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Namun demikian, pertumbuhan tinggi itu disertai oleh krisis yang terjadi pada frekuensi yang meninggi dan keparahan yang memburuk. Pada waktu yang sama kepincangan memburuk di hampir semua negara, seperti tercermin dalam kenaikan koefisien gini. Persoalan ini adalah persoalan yang sangat kompleks dan memerlukan pengkajian yang sangat mendalam. Namun demikian, beberapa hal dapat diajukan untuk mendorong lahirnya prakarsa-prakarsa baru yang berintikan perbaikan proteksi sosial dan jaminan sosial.
Negara Koefisien Gini
Indonesia 0,36
Korea Selatan 0,35
Germany 0,28
Cina 0,47
USA 0,45
Tabel 3.1 Statistik Koefisien Gini Tahun 2005
3.2. Penurunan Pengangguran
Salah satu elemen paling dasar dari keadilan ekonomi adalah emploimen (employment). Semakin tinggi emploimen (semakin rendah pengangguran), semakin kondusif ekonomi bagi perbaikan keadilan sosial. Dalam keadaan emploimen penuh (full
employment) pertumbuhan berkelanjutan akan terjadi serentak dengan perbaikan
keinklusifan, terutama karena dalam keadaan seperti itu sumber yang terbatas akan direalokasi ke kegiatan-kegiatan dengan produktivitas yang lebih tinggi dan upah cenderung naik progresif. Negara-negara Asia Timur yang sudah melewati perangkap pendapatan sedang, seperti Jepang dan Korea Selatan, maupun negara-negara yang sedang melewati perangkap itu menekan pengangguran ke tingkat alamiahnya (natural un-employment) melalui pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan seraya menikmati pertumbuhan upah yang progresif.
Gambar 3.1 Statistik Tingkat Pengangguran di Indonesia Tahun 2000 – 2011
Sumber: CEIC Database, 2012
Indonesia menikmati dalam beberapa tahun terakhir penurunan pengangguran terbuka ke tingkat yang rendah sekitar 6 persen. Penurunan pengangguran ini adalah sebagian dari faktor yang menekan kemiskinan di Indonesia. Namun demikian, bagian besar dari angkatan kerja Indonesia bekerja dalam kegiatan-kegiatan yang rentan (vulnerable employment), yaitu kurang dari 20 persen angkatan kerja Indonesia masuk dalam kategori kegiatan dengan kerentanan yang sangat tinggi (very high vulnerability). Penurunan emploimen rentan merupakan tantangan prioritas bagi pembanguanan ekonomi Indonesia dalam jangka pendek dan sedang. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan pertumbuhan industri pengolahan yang kadang-kadang disebut sebagai reindustrialisasi.
6,1 8,1 9,1 9,5 9,9 11,2 10,3 9,1 8,4 7,9 7,1 6,6 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Gambar 3.2 Statistik Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, Febuari 2013
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013
Bagi negara yang berpenduduk besar seperti Indonesia, emploimen penuh hanya dapat dipelihara secara berkelanjutan jika industri pengolahan menyediakan lapangan kerja yang lebih besar dari yang ada sekarang di Indonesia. Reindustrialisasi seperti itu memerlukan hubungan industrial yang damai dalam arti bahwa pengusaha dan pekerja berikut organisasi-organisasinya dapat memelihara hubungan yang saling percaya. Dibawah hubungan industrial yang seperti itu biaya tenaga kerja satuan (unit labour cost) dapat dipelihara pada tingkat yang kompetitif secara internasional. Kenaikan upah dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa merugikan daya saing internasional, yaitu kenaikan yang tidak lebih tinggi dari kenaikan produktivitas.
Seperti tampak dari Gambar 3.2 diatas, 35 persen angkatan kerja di Indonesia masih bekerja di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan. Sedangkan yang bekerja di sektor industri hanya 13 persen. Reindustrialisasi dimaksudkan untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar dan mengurangi tingkat pengangguran. Namun, industrialisasi yang berkualitas dan berkelanjutan membutuhkan tenaga kerja yang berkualitas dari segi pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan. Berdasarkan World Development Indicatorstahun 2012, pendidikan rata-rata angkatan kerja di Indonesia masih rendah, walaupun berubah cepat. Lulusan sekolah dasar masih mewakili dengan persentase 53,50 persen dari total angkatan kerja pada tahun 2008.
Pertanian, Perkebunan, Kehutanan,
Perburuan
dan Perikanan Pertambangan
d an Penggalian Industri Listr ik , Gas d a n Air Ko n st ruksi Perdagangan, Rumah
Makan dan Jasa Akomo
dasi Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi Lembaga Keuangan , Real Estate, Usaha Persewaan
dan Jasa Perusahaan Jasa Kemasy
arak a tan, So sial dan Perorangan 39 959 073 1 555 564 14 784 843 254 528 6 885 341 24 804 705 5 231 7753 012 770 17 532 590
3.3. Pertumbuhan Berkelanjutan
Pertumbuhan berkelanjutan yang semakin inklusif sangat memerlukan pergeseran dalam pengeluaran negara ke arah pemupukan modal human, perlindungan sosial, dan jaminan sosial. Dalam kaitan dengan pemupukan modal human Indonesia memang sudah membuat banyak kemajuan. Tetapi persoalan modal human adalah persoalan yang sangat struktural dan memerlukan waktu panjang untuk berubah. Oleh karena itu, Indonesia dewasa ini masih menghadapi ketertinggalan dibanding tetangga-tetangga di Asia Timur. Untuk memungkinkan pergeseran pengeluaran negara ke bidang-bidang tersebut diatas diperlukan perubahan struktural berupa pemotongan subsidi-subsidi atas konsumsi (current consumption subsidies) dan kenaikan pengeluaran untuk modal human, berupa kesehatan dasar pendidikan dan pelatihan, layanan publik seperti angkutan umum dasar dan telekomunikasi dasar dan kewirausahaan. Rasionalisasi juga diperlukan dalam pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan proteksi sosial (BLT, Raskin, dan BOS) dengan maksud untuk memaksimasi dampak sosialnya dalam arti bahwa proteksi dirancang berbanding terbalik dengan tingkat pendapatan penduduk (semakin rendah pendapatan, semakin tinggi proteksi sosial).