(Performance of hybrid rice varieties in two farmers group planting)
Rr. Ernawati dan Arfi Irawati Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung
ABSTRAK
Peningkatan produktivitas padi harus didukung oleh introduksi teknologi baru. Penanaman padi hibrida memiliki peluang yang cukup besar karena berdasarkan hasil penelitian penggunaan padi hibrida terbukti mampu meningkatkan hasil lebih dari 10 %. Pengujian tiga varietas padi hibrida yaitu Bernas Prima, Pioner- 1 dan Intani-2 dilakukan di dua lokasi pertanaman kelompok tani Rukun Maju dan Rukun Sentosa di Desa Karang Endah Kabupaten Lampung Tengah pada musim kering 2007 (April – Agustus 2007). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui keragaan pertanaman padi hibrida di dua kelompok tani. Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tanggap varietas padi hibrida terhadap lokasi pertanaman, terutama pada jumlah anakan, panjang malai dan jumlah gabah isi . Namun secara keseluruhan penggunaan varietas padi hibrida memberikan keragaan produksi yang berbeda, tertinggi dihasilkan oleh varitas padi hibrida Bernas Prima sebesar 4,41 – 4,78 t/ha GKG.
Kata kunci: Keragaan, padi hibrida, kelompok tani
ABSTRACT
The increasing rice productivity must be supported by introduction of new technology. The hybrid rice varities that is very important to increase rice production more 10%. The trial of hybrd rice varities were Bernas Prima, Pioner-1 and Intani-2, of Rukun maju and Rukun Sentosa farmers group planting in Karang Endah village, Central Lampung district at dry season 2007 (April – Agustus 2007). The objective of the assessment was to show performance of hybrid rice varieties on two farmers group planting. Assessment was conducted in randomized block design with two replications. The result showed that there was different response of the hybrid rice varieties by location.
Key words: Performance, hybrid rice, farmers group
PENDAHULUAN
Pelandaian produksi pada akhir-akhir ini disebabkan antara lain oleh degradasi lahan sawah. Beberapa lahan sawah intensifikasi di Sumatera telah mengalami pelandaian produktivitas (Widowati et al., 2003). Berbagai terobosan peningkatan produksi telah dilaksanakan berupa intensifikasi dan perluasan areal panen baik indek pertanaman ataupun pembukaan sawah baru, tetapi belum memberikan hasil yang optimal. Selain itu keterbatasan varietas padi yang tersedia masih perlu diupayakan untuk peningkatan produksi yang diharapkan. Padi hibrida memiliki peluang yang cukup besar karena padi hibrida memiliki keunggulan heterosis 10 – 15 %. Padi hibrida jika ditanam di daerah yang sesuai akan memberikan hasil yang tinggi (Astanto, 2005).
Kriteria lokasi yang sesuai untuk penanaman padi hibrida antara lain tanah yang subur dan irigasi terjamin, bukan daerah endemik hama dan penyakit, serta petani yang inovatif. Oleh karena itu sistem intensifikasi padi sawah terutama sawah irigasi tetap menjadi tumpuan dan sarana utama dalam peningkatan produksi padi.
Di masa yang akan datang penanaman padi dua kali (IP 2000) atau lebih dalam setahun diharapkan dapat mendominasi lahan irigasi di Indonesia. Sehubungan dengan itu harus diciptakan upaya terobosan atau strategi yang dapat mendongkrak peningkatan produksi tersebut, tanpa upaya terobosan peningkatan produksi makin sulit dicapai (Fagi, 1999). Dalam upaya memecahkan kendala tersebut diperlukan reorientasi dan revitalisasi peningkatan produksi padi dalam jangka panjang pada tahun 2010 yang mencakup pengembangan sumberdaya lahan,
irigasi dan teknologi budidaya serta kelembagaan penunjang (Sudaryanto et al., 2000). Peningkatan produksi padi secara nasional selama tiga dekade terakhir diupayakan melalui program intensifikasi terutama pada lahan sawah beririgasi dengan mengimplementasikan teknologi revolusi hijau (Zaini et al., 2002).
Varietas padi hibrida merupakan generasi F1 dari persilangan antara dua galur atau varietas homozigot (Suwarno et al., 2003). Oleh karenanya untuk menjawab tantangan penggunaan varitas hibrida dilakukan pengkajian beberapa varitas hibrida dengan melibatkan dua kelompok tani di Lampung Tengah.
Pengkajian bertujuan untuk mengetahui keragaan pertanaman padi hibrida di dua kelompok tani.
BAHAN DAN METODE
Pengkajian dilakukan di pertanaman dua kelompok tani (Rukun Maju dan Rukun Sentosa, Desa Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah) pada musim kering tahun 2007 (April – Agustus 2007). Desa tersebut memiliki 765 ha lahan sawah beririgasi teknis. Sebelum pelaksanaan pengkajian kedua lokasi pertanaman kelompok tani dilakukan uji tanah sesuai Tabel 1.
Tabel 1. Analisis contoh tanah sebelum pengkajian di lokasi kelompok tani. Lokasi Kelompok Tani
Sifat Tanah
Rukun Maju Rukun Sentosa
pH H2O pH KCl C-organik (%) N-total (ppm) C/N Ratio P2O5 Bray I (ppm) K-dd (c mol/kg) Ca-dd (c mol/kg) Na-dd (c mol/kg) Mg-dd (c mol/kg) KTK (c mol/kg) Kejenuhan Basa (%) Kejenuhan Al (c mol/kg) Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) 4.8 4.1 0.68 0.07 10 70.3 0.14 1.47 0.05 0.44 3.51 60 0.43 70 10 20 5.2 4.1 0.71 0.05 14 41.3 0.11 1.38 0.05 0.45 4.108 48 0.84 58 14 28 Sumber : Balai Tanah Bogor (2007)
Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Perlakuan tiga varietas padi hibrida yang diuji adalah Bernas Prima, Pioner-1 dan Intani-2. Budidaya tanaman sesuai dengan rekomendasi dengan pendekatan PTT antara lain cara tanam dengan jajar legowo 4:1 jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm pemberian pupuk urea berdasarkan BWD, pupuk P dan K sesuai dengan uji tanah dan lain-lain. Pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, penyulaman dan pengaturan air disesuaikan dengan kondisi lapang. Sedangkan pengendalian hama dan
penyakit mengacu pada konsep PHT (berdasarkan pengamatan). Variabel yang diamati adalah pertumbuhan tanaman, komponen hasil dan hasil padi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Tanaman
Pengukuran tinggi tanaman dan jumlah anakan produktif dilakukan setelah 80%
tanaman berbunga (± 75 hari). Hasil
menunjukkan bahwa lokasi kelompok tani tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman karena lebih nyata dipengaruhi oleh perbedaan varietas hibrida yaitu Bernas Prima nyata lebih rendah dibanding PP-1 dan Intani-2. Sedangkan jumlah anakan produktif
Bernas Prima memiliki jumlah yang sedikit sama dengan Intani-2 yang ada dipertanaman Rukun Maju tetapi di Rukun Sentosa, varitas Bernas Prima menunjukkan jumlah anakan produktif paling banyak (Tabel 2).
Tabel 2. Penampilan tinggi tanaman dan jumlah anakan produktif padi hibrida di lokasi kelompok tani.
Perlakuan
Kelompok Tani/Varitas Padi Hibrida
Tinggi Tanaman (Cm) Jumlah Anakan Produktif RUKUN MAJU Bernas Prima Padi Pioner-1 (PP-1) Intani-2 RUKUN SENTOSA Bernas Prima Padi Pioner-1 (PP-1) Intani-2 101.52 a 115.21 b 113.68 b 98.81 a 117.0 b 115.14 b 9.10 ab 9.85 b 8.25 a 12.0 c 10.55 b 10.55 b KK (CV) % 3.57 12.46
Keterangan: Angka-angka sekolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 LSD.
Produksi Tanaman
Pengamatan terhadap komponen produksi tanaman antara lain panjang malai, jumlah gabah bernas/malai, jumlah gabah hampa/malai, bobot gabah per rumpun, bobot 1000 butir dan produksi padi per ha dilakukan
dengan cara mengubin pada saat seminggu sebelum dilakukan panen keseluruhan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lokasi kelompok tani nyata berpengaruh hanya terhadap panjang malai dan jumlah gabah isi, sedangkan lainnya nyata karena pengaruh perbedaan varietas padi hibrida (Tabel 3). Tabel 3. Penampilan panjang malai, gabah bernas, gabah hampa, bobot per rumpun, bobot 1000
butir dan produksi hasil padi hibrida di lokasi kelompok tani Perlakuan Kel. Tani/ Var.Padi HIbrida Panjang Malai (cm) Jml gabah bernas/ Malai Jml gabah hampa/ malai Bobot gabah /Rumpun (gr) Bobot gabah 1000 butir (gr) Produksi padi GKG (t/ha) RUKUN MAJU Bernas Prima (PP-1) Intani-2 RUKUN SENTOSA Bernas Prima PP-1 Intani-2 23.87 a 25.92 cd 24.71 ab 26.50 de 27.09 e 25.25 c 111.20 a 112.0 a 136.40 b 138.40 b 128.80 b 110.60 a 17.6 a 61.6 b 43.8 b 27.6 a 52.6 b 62.6 b 31.79 a 33.15 a 37.00 a 38.33 a 38.32 a 34.62 a 39.90 b 28.50 a 30.36 a 35.60 b 29.52 a 32.74 ab 4.78 c 3.71 a 4.38 bc 4.41 c 3.62 a 3.77 ab KK (CV) % 2.90 9.77 22.61 15.93 10.41 11.67
Keterangan: Angka-angka sekolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 LSD.
Hasil di atas menunjukkan bahwa penampilan padi hibrida lebih banyak dipengaruhi karena penggunaan varietas padi hibrida yang berbeda terutama terhadap jumlah gabah hampa dan produksi padi GKG (t/ha). Varietas Bernas Prima adalah varitas padi hibrida dengan jumlah gabah hampa per malai paling rendah yaitu berkisar 17 – 27 butir per malai dengan produksi GKG (ka 14%) per ha paling tinggi yaitu berkisar 4,41 – 4.78 ton/ha (Tabel 3). Sedangkan perbedaan kelompok tani hanya sedikit/hampir tidak berbeda pengaruhnya terhadap penampilan produksi tanaman. Hal ini jika dikaitkan dengan hasil analisis tanah (Tabel 1) terlihat bahwa kedua lokasi pengkajian hampir tidak jauh berbeda, masing-masing menunjukkan bahwa sifat kimia tanah kedua lokasi sama tergolong masam dengan pH H2O masing- masing 4.8 di Rukun Maju dan 5.2 di Rukun Sentosa.
Nisbah C/N tergolong sedang berkisar antara 10 di Rukun Maju dan 14 di Rukun Sentosa, dengan kandungan P (Bray I) tergolong tinggi, masing-masing 70.3 ppm di Rukun maju dan 41.3 ppm di Rukun Sentosa. Tingginya kandungan P di kedua lokasi tersebut diduga disebabkan oleh intensifnya penggunaan pupuk TSP/SP 36 selama ini (Abdulah., 2004).
KESIMPULAN
1. Pertanaman dua kelompok tani Rukun
Maju dan Rukun Sentosa tidak banyak mempengaruhi penampilan varitas padi hibrida, pengaruh yang nyata hanya terhadap jumlah anakan produktif, panjang malai dan jumlah gabah bernas.
2. Penampilan pertumbuhan dan produksi
padi hibrida nyata lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan varitas padi hibrida yang digunakan. Varitas Bernas Prima memiliki tinggi tanaman dan produksi gabah kering giling per ha adalah yang tertinggi yaitu 4,4 ton /ha GKG di Rukun Sentosa dan 4,78 ton/ha GKG di Rukun Maju.
PUSTAKA
Abdullah S. 2004. Kajian alternatif paket teknologi produksi padi sawah. Buku III Kebijakan Perberasan dan Inovasi Teknologi Padi. Puslitbang Tanaman Pangan. Bogor (III) : 667 - 680.
Astanto. 2005. Teknologi unggulan Balai Penelitian tanaman Padi. Makalah pada workshop konsolidasi pelaksanaan kegiatan PAATP tanggal 5 – 8 September 2005 di Solo. 6 p.
Fagi, AM. 1999. Strategi perluasan dan pengelolaan lahan sawah irigasi untuk meningkatkan pendapatan petani dan meraih kembali swasembada beras. Makalah pada Seminar nasional Sumberdaya lahan tanggal 7 – 11 Pebruari 1999. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Bogor. 20 p.
Sudaryanto T, I.W. Rusastra dan E Jamal. 2000. Kebijakan strategis pembangunan pertanian dan pedesaan dalam mendukung otonomi daerah. Makalah pada diskusi prespektif pembangunan pertanian pedesaan dalam era otonomi daerah. Tanggal 3 April 2000 di Jakarta. 12p.
Suwarno, B. Suprihatno, U.S. Nugraha dan I.N. Widiarta. 2003. Panduan teknis produksi benih dan pengembangan padi hibrida. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. 24p
Widowati L.R., A. Kencana Sari, S. Widiati, Maryam dan Rochayati. 2003. Evaluasi sifat kimia tanah sebagai faktor pembatas pertumbuhan padi sawah pada tanah masam. Proseding Simposium Nasional Pendayagunaan Tanah Masam. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Bogor (II) : 29- 41.
Zaini Z., I. Las, Suwarno, B. Sudaryanto, Suntoro dan E. Ananto. 2002. Panduan umum kegiatan percontohan peningkatan produktivitas padi terpadu. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. 22p.
BUDIDAYA KELINCI SECARA RASIONAL BERKELANJUTAN MELALUI