• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

Pada sub bab ini, peneliti akan menjelaskan hasil analisis data yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Analisis data menguraikan penanda fatis dan fungsi fatis sudah sesuai dengan teori-teori yang dipaparkan oleh peneliti. Data yang sudah dianalisis dan masih perlu untuk dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penanda fatis dan fungsi fatis dari tuturan yang ada dalam Mata Najwa Edisi September-Desember 2018. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan beberapa jenis penanda fatis. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan beberapa jenis penanda fatis. Secara keseluruhan, peneliti menemukan 14 penanda

fatis, diantaramya penanda fatis sapaan 4 tuturan, penanda fatis kekecewaan 3 tuturan, penanda fatis ucapan terima kasih 5 tuturan, penanda fatis bercanda 3 tuturan, penanda fatis pujian 5 tuturan, penanda fatis permohonan maaf 2 tuturan, penanda fatis penolakan 2 tuturan, penanda fatis ketidaksetujuan 4 tuturan, penanda fatis penghindaran 2 tuturan, penanda fatis pengucapan salam 5 tuturan, penanda fatis suruhan 3 tuturan, penanda fatis tawaran 1 tuturan, penanda fatis penegasan 6 tuturan, penanda fatis pengingatan 3 tuturan. Sementara, untuk fungsi fatis yang ditemukan dalam penelitian ini berjumlah 14 fungsi fatis. Adapun rincian jenis fungsi fatis tersebut sebagai berikut, kefatisan berbahasa dengan fungsi sapaan 4 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi kekecewaan 3 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi ucapan terima kasih 5 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi bercanda 3 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi pujian 5 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi permohonan maaf 2 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi penolakan 2 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi ketidaksetujuan 4 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi penghindaran 2 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi pengucapan salam 5 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi suruhan 3 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi tawaran 1 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi penegasan 6 tuturan, kefatisan berbahasa dengan fungsi pengingatan 3 tuturan.

Empat belas fungsi fatis tersebut selaras dengan teori fungsi fatis yang dikemukakan oleh Rahardi dan Setyaningsih (2017:187) mengklasifikasikan fungsi fatis ke dalam lima belas bagian, yaitu kefatisan berbahasa dengan fungsi sapaan, kefatisan berbahasa dengan fungsi kesopanan, kefatisan berbahasa dengan

fungsi kekecewaan, kefatisan berbahasa dengan fungsi ucapan terima kasih, kefatisan berbahasa dengan fungsi bercanda, kefatisan berbahasa dengan fungsi pujian, kefatisan berbahasa dengan fungsi permohonan maaf, kefatisan berbahasa dengan fungsi penolakan, kefatisan berbahasa dengan fungsi ketidaksetujuan, kefatisan berbahasa dengan fungsi penghindaran, kefatisan berbahasa dengan fungsi pengucapan salam, kefatisan berbahasa dengan fungsi suruhan, kefatisan berbahasa dengan fungsi tawaran, kefatisan berbahasa dengan fungsi penegasan, dan kefatisan berbahasa dengan fungsi pengingatan.

154

BAB V

PENUTUP

Bab ini terdiri dari dua hal pokok, yaitu kesimpulan dan saran.

Kesimpulan berisi rangkuman keseluruhan isi dari penelitian ini. Bagian kesimpulan memiliki dua bagian. Bagian pertama berisi keimpulan tentang penanda fatis dan bagian kedua berisi tentang fungsi fatis. Saran berisi hal-hal relevan yang perlu diperhatikan untuk pembaca maupun untuk penelitian selanjutnya. Berikut ini mengenai paparan kesimpulan dan saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam penelitian yang berjudul,

“Fungsi Fatis dalam Komunikasi Antarpenutur Pada Acara “Mata Najwa”

Stasiun Televisi Trans 7 Edisi September-Desember 2018”, peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Penanda fatis yang ditemukan oleh peneliti, ada 14 penanda fatis, diantaramya penanda fatis sapaan 4 tuturan, penanda fatis kekecewaan 3 tuturan, penanda fatis ucapan terima kasih 5 tuturan, penanda fatis bercanda 3 tuturan, penanda fatis pujian 5 tuturan, penanda fatis permohonan maaf 2 tuturan, penanda fatis penolakan 2 tuturan, penanda fatis ketidaksetujuan 4 tuturan, penanda fatis penghindaran 2 tuturan, penanda fatis pengucapan salam 5 tuturan, penanda fatis suruhan 3 tuturan, penanda fatis tawaran 1 tuturan, penanda fatis penegasan 6 tuturan,

penanda fatis pengingatan 3 tuturan. Peneliti menemukan 14 kategori mengenai fungsi fatis, yaitu kefatisan berbahasa dengan fungsi sapaan, kefatisan berbahasa dengan fungsi kekecewaan, kefatisan berbahasa dengan fungsi ucapan terima kasih, kefatisan berbahasa dengan fungsi bercanda, kefatisan berbahasa dengan fungsi pujian, kefatisan berbahasa dengan fungsi permohonan maaf, kefatisan berbahasa dengan fungsi penolakan, kefatisan berbahasa dengan fungsi ketidaksetujuan, kefatisan berbahasa dengan fungsi penghindaran, kefatisan berbahasa dengan fungsi pengucapan salam, kefatisan berbahasa dengan fungsi suruhan, kefatisan berbahasa dengan fungsi tawaran, kefatisan berbahasa dengan fungsi penegasan, dan kefatisan berbahasa dengan fungsi pengingatan.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memiliki tiga saran yang ditujukan kepada peneliti berikutnya, pembaca, dan pendidik. Saran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Bagi Peneliti Berikutnya

Peneliti berharap agar peneliti berikutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan subjek, objek, dan ranah yang berbeda, dan bisa memperdalam mengenai penanda fatis dan fungsi fatis, serta dapat menemukan penanda fatis dan fungsi fatis yang baru.

2. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam memahami penanda fatis dan fungsi fatis yang belum pernah ada sebelumnya.

3. Bagi Pendidik

Semoga para pendidik semakin meningkatkan komunikasi dengan peserta didik, dan menerapkan komunikasi fatis dalam keterampilan berbicara maupun keterampilan menulis, karena komunikasi fatis diperlukan untuk memulai tuturan dan mempertahankan tuturan.

157

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Manajemen Peneltian. Jakarta: Rineka Cipta.

Baryadi, Praptomo. 2015. Teori-teori Linguistik Pascastruktural. Yogyakarta: PT.

Kanisius.

Cook, Guy. 1989. Discourse. New York: Oxford University Press.

Dabala, Jacek. 2012. Mysteri and Suspense in Reactive Writing. Poland: John Paul II Catholic University.

De Lima, Jose Pinto. 2002. New Reflections on Grammarticalization Edited by Ilse Wischer and Gabriele Diewald. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.

Dubois, Jean, dkk. 2001. Dictionnaire De linguistique. Editeur by Larousse.

Perancis: Larousse.

Ibrahim, Abdul Syukur. 1993. Kajian Tindak Tutur. Surabaya: Usaha Nasional.

Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (Edisi Kedua). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa : Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mahsun. 2011. Metode Penelitian Bahasa : Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya (Edisi Revisi). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mey, Jacob. L. 1993. Pragmatics an Introduction. London: Blackwell.

Mulyana. 2005. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nababan, P. W. J. 1986. Sosiolinguistk Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia.

Nadar, F. X. 2009. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang:

Dioma.

______________. 2005. Pragmatik : Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.

Jakarta: Erlangga.

______________. 2009. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:

Erlangga.

______________. 2016. Pragmatik : Fenomena Ketidaksantunan Berbahasa.

Jakarta: Erlangga.

Rahardi, Kunjana dan Yuliana Setyaningsih. (2017). Kefatisan Berbahasa : Studi Fenomena Kebahasaan dalam Perspektif Sosiokultural dan Situasional.

Yogyakarta: Amara Books.

Suandi. 2014. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sudaryanto. 1990. Menguak Fungsi Hakikat Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kulalitatif dan R&D. Bandung: Alfabeth.

Waridin. 2008. Ungkapan Fatis dalam Acara Temu Wicara Televisi. Jakarta: FIB UI.

Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Yusra, Kamaludin. 2012. Language and Social Solidarity. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

159

LAMPIRAN

160 Lampiran 1 Surat Permohonan Triangulasi

161

162

No. Kode Data Penanda Fatis Fungsi Fatis Konteks Trianggulator Komentar

Ya Tidak memulai sebuah acara.

Tujuan tuturan :

163 sindikat narkoba

tak pernah benar-benar tumbang.

Bahkan walau negara telah menyatakan

“perang”, aparat malah ikut terlibat di penjara, narkoba terus dibuat di penjara pula, pesta narkoba terbukti dihelat.

Jika penegak dan institusi hukum malah ikut bermain, bukankah pemberantasan narkoba, ibarat menjaring angin?

Inilah Mata Najwa “Pesta Narkoba di Penjara”.

selamat datang di Mata Najwa.

Tuturan sebagai bentuk tindakan : penyapa ingin mengupas tuntas mengenai pesta

narkoba yang terjadi di penjara Indonesia.

164

165

166 Trans 7 dan saat acara Mata Najwa ada 2 mitra tutur yang

167

168

bentuk tindakan : penutur ingin menggali informasi yang lebih dalam mengenai mantan napi korupsi yang bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

169

170

171 mitra tutur ada 4 orang.

Pertama, ada Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, yang kedua ada Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, yang ketiga ada ketua DPRD DKI Jakarta.,

172

173

174 Trans 7 pada saat acara Mata Najwa

175

176

177 punya kolateral.

Kalau ultramikro tidak perlu kolateral.

Pinjamannya satu sampai sepuluh juta rupiah. Dan bukan KUR.

sudah jelas, performance nya tidak sesuai dengan

kebutuhan masyarakat.

Penutur : Oke.

Bagaimana ?

Mitra tutur 1 : Itu KUR. Itu udah ada sejak jaman Pak SBY. 1,3triliun!

Mitra tutur 2 : Bukan KUR ibu, kredit ultramikro.

Kalau KUR harus punya kolateral. Kalau ultramikro tidak perlu kolateral.

Pinjamannya

178 satu sampai

sepuluh juta rupiah. Dan bukan KUR.

Penanda Fatis : - Maka, itu sudah jelas, performance nya tidak sesuai dengan

kebutuhan masyarakat.

- Itu KUR. Itu udah ada sejak jaman Pak SBY. 1,3triliun!

- Bukan KUR ibu, kredit ultramikro.

Kalau KUR harus punya kolateral. Kalau ultramikro tidak perlu kolateral.

Pinjamannya satu sampai

179

180

181

182

berusia 41 tahun yang merupakan pembawa

183 kami.

Mitra tutur:

bagaimana maksudnya?

Penutur : kami budaya egaliter.

kejelasan kepada Polri, apakah gerakan

tersebut bisa

dilaksanakan atau tidak dan ingin mendapat kepastian bahwa masyarakat Minangkabau

menunggu pernyataan resmi dari Mabes Polri mengenai tagar 2019 ganti presiden diizinkan atau tidak dan

menegaskan bahwa masyarakat

Minangkabau memiliki budaya egaliter.

Tuturan sebagai bentuk tindakan : penutur ingin meminta kepastian dari Mabes Polri mengenai kegiatan tagar 2019 ganti presiden yang akan dilaksanakan di Sumatra Barat

mendapatkan izin atau

184