BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.8 Penataan Distrik Agrowisata
Gambar 6. 7. Gapura pertama menuju Desa Meat
Konsep desain untuk gerbang pertama Desa Meat dibuat sesuai dengan konsep kearifan lokal budaya Batak Toba yaitu menggunakan warna suku Batak Toba dan menerapkan ukiran gorga pada tiang-tiangnya. Karena site eksisting
terletak diantara tebing yang curam dan jurang serta ukuran jalan yang kecil sekitar 3 meter, bentuk gapura dibuat kecil dan sederhana. Gapura ini diharapkan menjadi penanda bahwa wisatawan sudah hampir sampai di lokasi Desa Wisata Meat.
Gambar 6. 8. Gapura kedua Desa Meat
Berdasarkan konsep tersebut, untuk gerbang kedua didapatkan saran rancangan yang menerapkan unsur kearifan lokal budaya Batak Toba. Dari segi warna yaitu warnah merah, hitam, dan putih. Kemudian konsep perancangan bentuk gapura yang bertingkat tiga berasal dari prinsip Dalihan Natolu dan bentukan rumah adat Batak Toba yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas.
Gambar 6. 9. Makna Gapura kedua Desa Meat
Bagian atas yang melambangkan alam para leluhur.
Bagian tengah yang melambangkan alam manusia.
Bagian bawah yang melambangkan alam bawah.
Gapura kedua ini ukurannya lebih besar dari gapura pertama karena lokasi site eksistingnya lebih besar dibandingkan site gapura pertama. Site gapura kedua ini terletak di pinggir sungai Desa Meat dan sesudah jembatan. Site eksisting yang lebih luas dan lebar daripada gapura kedua ini membuat ukuran gapura bisa lebih besar dan menonjol daripada gapura pertama.
Peta Desa Meat
Konsep Desain Gapura Pertama
Konsep Desain Gapura Kedua
Gambar 6. 10. Konsep Desain Gapura
Mengangkat konsep awal dari sejarah Desa Meat yaitu sebagai tempat persinggahan nelayan dan tempat nelayan menambatkan kapalnya kemudian bermukim dan bertani, Dermaga Desa Meat bisa menjadi salah satu potensi untuk menarik wisatawan mengunjungi Desa Meat. Seperti dermaga ferry Tomok yang begitu turun dari kapal, wisatawan melihat banyak toko menjual souvenir khas Batak Toba.
Keberadaan toko-toko souvenir ini diharapkan agar wisatawan yang datang ke Desa Meat melalui dermaga tidak tinggal di dermaga dan homestay saja tetapi bisa berjalan kaki menuju huta dan ikut menikmati atraksi agrowisata yang ditawarkan di Desa Meat.
Gambar 6. 11. Jalan Menuju Dermaga Desa Meat
Gambar 6. 12. Desain Toko Sourvenir
Jalur dari pelabuhan akan dihubungkan dengan jalur baru yang dirancang menuju huta.
Jalur yang dirancang menuju huta ini melewati hamparan sawah yang luas yang terdapat di Desa Meat, ditengah-tengah jalur menuju huta terdapat pondok untuk wisatawan menikmati atraksi agrowisata menanam padi sendiri di sawah, memanen padi ketika musim panen, dan melihat kerbau membajak sawah ketika musim membajak.
Pohon beringin yang terletak di dekat huta dan kompleks perkuburan keluarga Siahaan merupakan pohon beringin yang dianggap keramat oleh warga Desa Meat.
Pohon beringin keramat ini dulu merupakan tempat bagi warga dari luar Desa Meat mencari suaka. Apabila warga tersebut pergi ke lokasi pohon beringin tersebut mencari suaka, maka kepala suku atau raja dan tetua adat Desa Meat harus memberikan suaka kepada warga tersebut.
Jalur baru yang dirancang menuju huta
Pondok tempat atraksi agrowisata diadakan
Gambar 6. 13. Konsep Jalur Atraksi Wisata
Pohon ini
Jalur baru yang dirancang dari dermaga juga melewati lokasi pohon beringin sehingga sejarah pohon beringin bisa diketahui oleh wisatawan dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Selain itu perkuburan keluarga Siahaan juga menjadi daya tarik wisatawan karena perkuburan suku Batak Toba yang terkenal besar dan megah sebagai perlambang kesuksesan keturunannya masih terlihat asing bagi wisatawan yang berasal dari luar daerah.
Gambar 6. 14. Pohon Beringin
Dipelataran huta adat ini dipusatkan berbagai aktivitas adat dan upacara-upacara adat. Berbagai upacara-upacara seperti upacara-upacara kematian, upacara-upacara mangokkal holi, dan acara jamuan kepada wisatawan dipusatkan disini. Atraksi menenun ulos ditampilkan di pelataran rumah adat. Keberadaan pohon beringin dan perkuburan Batak Toba diharapkan dapat menambah daya tarik bagi wisatawan.
Gambar 6. 15. Gerbang menuju Desa Adat dengan Pohon Beringin Keramat
Gambar 6. 16. Lokasi atraksi agrowisata di jalur yang telah tersedia
Dijalur yang telah tersedia juga disediakan pondok-pondok lokasi agrowisata agar wisatawan tidak menumpuk pada dua pondok di jalur yang baru. Selain itu juga luasnya daerah persawahan yang terdapat di Desa Meat bisa menjadi potensi yang harus dikembangkan. Potensi persawahan ini bisa menarik wisatawan. Wisatawan diajak untuk ikut melakukan kegiatan agrowisata seperti ikut menanam padi dan membajak sawah atau sekedar bermain lumpur dan memancing belut didalam sawah yang sedang menunggu musim tanam sesuai dengan musim tanam sawah di Desa Meat.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Lokasi Desa Meat yang terletak di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir ini memiliki bentang alam yang indah dan luas. Hamparan tanah yang subur membuat warga sekitar Danau Toba yang dulunya hanya berlabuh dan beristirahat didalam teluk Desa Meat ini sebelum kembali pergi mencari ikan membuat banyak para nelayan tersebut menetap di Desa Meat.
Selain menjadi nelayan, mereka juga bertani yaitu bersawah. Apabila tidak sedang musim panen, mereka kembali menjadi nelayan. Dan untuk kaum perempuannya apabila tidak sedang musim panen menenun ulos. Hamparan tanah yang luas ini menjadi potensi yang bagus untuk mengembangkan atraksi agrowisata.
Disinilah agrowisata memegang peran penting untuk menjadi penguat destinasi wisata alternatif Danau Toba.
7.2 Saran
Lokasi Desa Meat yang terletak didalam lembah dan teluk ini menyimpan banyak potensi yang bisa dikembangkan sebagai tujuan wisata agrowisata Danau Toba.
Hamparan lahan pertanian yang luas dan pemandangan Danau Toba yang terlihat dari Desa Meat menjadi potensi utamanya.
Potensi yang dikembangkan di Desa Meat ini tidak akan bisa berlangsung lama apabila tidak dijaga dengan baik oleh masyarakat sekitar dan pemerintah. Pemerintah bertugas untuk mengedukasi warga agar warga memiliki rasa sayang terhadap fasilitas yang didirikan sehingga fasilitas dijaga dengan baik oleh warga.
Pemerintah yang jujur dan amanah dalam merawat dan mengembangkan Desa Meat juga berperan penting dalam kelancaran pengembangan agrowisata Desa Meat.
Pegawai pemerintah juga ada baiknya untuk ikut terlibat dalam memadu wisatawan dalam berwisata di Meat karena para pegawai pemerintah dianggap lebih professional daripada warga.
Model Penataan Distrik Agrowisata Desa Meat
DAFTAR PUSTAKA
Afandhi, A. (2005). Etika Pembangunan dan Pengembangan agrowisata di Indonesia (Ethics of Agrotourism Development in Indonesia). Jakarta:
University of Trisakti Indonesia.
Alexander, Christopher. (1979). The Timeless Way of Building. New York: Oxford University Press.
Bartle, Gregory. (2009). Sacred Places : Public Places. McGill University : Montreal.
Cernea, M.M. (1991). The social actors of participatory afforestation strategies.
In: Cernea MM (ed) Putting People First: Sociological variables in rural development, 2nd edition : pp 340–393 . Oxford University Press: Oxford.
Conzen, M. R. G. (1966). Historical Townscapes in Britain: A Problem in Applied Geography (pp.56-78) . J. W. House (Ed.): Northern Geographical Essays.
Damardjati, R.S. (1995). Istilah-istilah Dunia Pariwisata. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.
Garnham, H.L. (1985). Maintaining the Spirit of Place: A Process for the Preservation of Town Character. Meza, Arizona: PDA Publishers Corporation.
Haeruman, H. (1989). Makalah pada Seminar Wisata Agro. Bogor: IPB.
Jolly,D.A. & Reynolds, K.A. (2005). Consumer Demand for Agricultural and On-Farm Nature Tourism. California Small On-Farm Center: University of California.
Kodhyat, H. (1997). Hakekat dan Perkembangan Wisata Alternatif. Bandung : ITB.
Lynch, Kevin. (1960). The Image of The City. Cambridge : The MIT Press Massachusette.
Middleton, V.T.C. & Hawkins, R. (1998). Sustainable Tourism: A marketing Perspective. Butterworth-Heinemann, Oxford.
Mieczkowski, Z. (1995). Environmental Issues of Tourism and Recreation. Lanham, Md.: University Press of America.
Pitana, I Gde. (2002). “Pengembangan Ekowisata di Bali”. Makalah disampaikan pada Seminar Ekowisata di Auditorium Universitas Udayana pada tanggal 29 Juni 2002.
Putri, H.P.J. & Manaf, A. (2013). Faktor–Faktor Keberhasilan Pengembangan Desa Wisata di Dataran Tinggi Dieng. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota).
Ruskin, John (1849). The Seven Lamps of Architecture. London: Smith, Elder, and Co.
Sastrayuda, G.S. (2010). Hand out mata kuliah concept resort and leisure,strategi pengembangan dan pengelolaan resort and leisure. Bandung: Penerbit UPI.
Schulz, Norberg & Christian. (1980). Genius Loci: Towards a Phenomenology in Architecture. Rizolli: New York
Sutjipta, I Nyoman. (2001). Agrowisata. (Diktat) Magister Manajemen Agribisnis.
Universitas Udayana. Bali
Tirtawinata, M.R. dan L. Fachruddin. (1996). Daya Tarik Dan Pengelolaan Agrowisata. Jakarta: Penebar Swadaya.
Utama, I Gst Bagus Rai. (2012). Agrotourism as an alternative form tourism in Bali. CHN Dissertation: Netherlands.
Worskett, Roy. (1969). The Character of Towns. London: Architectural Press.
Yoeti, O. A. (2000). Pengantar Ilmu Kepariwisataan (EDISI 1). Yogyakarta:
Erlangga