BAB III KEADAAN UMUM
NAMA DAS NAMA DESA
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.8. Penataan Ruang Wisata dalam Zona Pemanfaatan
Polygon Polygon
Rencana Zona Pemanfaatan
Wilayah Seksi Bungan
19.822
356.950
Zona pemanfaatan seluas 19.822 hektar tersebut berarti 5,55 % dari luas wilayah Seksi Bungan. Hal tersebut berarti ruang yang akan difungsikan untuk kegiatan perlindungan dan pengawetan berupa Zona Rimba dan Zona Inti masih tersisa seluas 337.127 hektar.
5.8. Penataan Ruang Wisata dalam Zona Pemanfaatan
Dengan mempertimbangkan visi dan misi pemanfaatan taman nasional untuk pariwisata serta ketepatan mengenai lingkup kegiatan pariwisata yang dapat dilakukan, maka pemanfaatan taman nasional pada masing-masing zona, khususnya pemanfaatan adalah sebagai pusat pelayanan pariwisata dengan fungsi utama untuk pengembangan sarana dan prasarana pelayanan pariwisata tanpa mengesampingkan fungsi-fungsi lain yang dapat dikembangkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku ( Ditjen PHKA, 2001).
Guna mencapai penyelenggaraan wisata yang berkelanjutan dengan mengedepankan prinsip keseimbangan ekologi, ekonomi dan sosial maka di dalam zona pemanfaatan perlu dilakukan penataan ruang (areal) sesuai dengan potensi dan peruntukannya secara optimal.
Sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pembagian areal wisata dalam zona pemanfaatan tersebut adalah aspek sosial masyarakat setempat
seperti lokasi pemukiman, kegiatan perladangan, menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan, aspek ekonomi yaitu berbagai potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara lestari seperti lokasi objek-objek wisata potensial dan aspek ekologi seperti lokasi habitat satwa endemik atau ekosistem khusus yang peka terhadap gangguan.
Menurut Gunn (1997) bahwa prinsip dasar untuk memahami semua disain adalah land use dibanding yang lainnya. Seorang perencana yang menggunakan pendekatan tradisional dan kontemporer dalam rancangannya harus memperhatikan persepsi dan kepuasan pengunjung terhadap sumber daya yang ada. Ruang pada tapak tidak sekedar tanah kosong yang tidak memiliki bangunan, tetapi semua harus dirancang secara fungsional. Selanjutnya perlu dilakukan pengelompokan jenis kegiatan dan fasilitas di dalam satu areal tertentu.
Kemudian di jelaskan oleh Forster (1974) dalam Gunn (1994), di dalam zona pemanfaatan dapat di bagi menjadi beberapa areal pemanfaatan wisata sehingga peruntukan ruang dapat berjalan optimal. Pembagian areal tersebut terdiri dari :
a. Areal Wisata Intensif : b. Areal Wisata Umum c. Areal Wisata Alami
d. Arial Wisata Alami Khusus
e. Areal Khusus Perlindungan Masyarakat Setempat
Guna mendukung pembagian areal-areal tersebut dilakukan overlay antara Peta Potensi Wisata dengan peta tutupan lahan, tipe ekosistem dan peta pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat setempat seperti terlihat pada gambar 24 dan 25.
Hasil dari overlay peta-peta di atas diperoleh pembagian areal wisata yaitu areal pemanfaatan intensif, areal wisata umum, areal wisata alami, areal wisata alami khusus dan areal wisata khusus untuk perlindungan masyarakat, seperti terlihat pada tabel 13.
Tabel 15. Luas areal wisata dalam zona pemanfaatan wilayah Seksi Bungan
No Ruang Identitas Ruang Luas (Ha)
Perbandingan dgn Zona Pemanfaatan (%) 1. 2. 3. 4. 5. Polygon Polygon Polygon Polygon Polygon Jumlah
Areal wisata Intensif Areal Wisata Umum Areal Wisata Alami Arial Wisata Alami Khusus Areal Khusus Perlindungan Masyarakat 2.136 4.321 10.027 3.250 88 19.822 10,8 21,8 50,6 16,4 0,4
Sumber : Analisis spasial
Pembagian areal wisata tersebut di dalam zona pemanfaatan dapat dilihat pada gambar 26.
Dasar dari pembagian areal wisata dalam zona pemanfaatan tersebut dengan cara
overlay adalah mengelompokkan jenis aktivitas pemanfaatan lahan oleh masyarakat
setempat dan keberadaan objek wisata dalam zona pemanfaatan tersebut, yaitu : a. Wilayah permukiman masyarakat menjadi areal perlindungan khusus, yaitu
wilayah permukiman Desa Bungan dan Tanjung Lokang.
b. Wilayah dengan pembukaan lahan untuk kegiatan pertanian masyarakat dan jalur lalu lintas wisatawan menjadi areal wisata umum, yaitu wilayah Sungai Bungan dari Permukiman Desa Bungan hingga Desa Tanjung Lokang yang menjadi koridor kedua desa tersebut.
c. Wilayah potensial dibangun fasilitas wisata permanen, yaitu lahan hutan sekunder yang dekat dengan Desa Bungan dan Desa Tanjung Lokang menjadi areal pemanfaatan intensif.
d. Wilayah terdapat objek dengan kerentanan terhadap gangguan dan adanya pemanfaatan sumber daya alam non kayu oleh masyarakat dengan tidak membuka lahan menjadi areal wisata alami yaitu lokasi terdapat objek jeram dan gua sampai batas pengumpulan hasil hutan non kayu oleh masyarakat Desa Bungan dan Desa Tanjung Lokang.
e. Wilayah terdapat objek dengan kerentanan terhadap gangguan yaitu habitat satwa liar (Hylobathes mullerii) dan ekosistem khusus (Dipterocarpaceae dataran tinggi). Di dalam areal ini tidak ada aktivitas masyarakat memanfaatkan sumber daya sehingga dapat ditetapkan menjadi areal wisata alami khusus. Wilayah ini dimulai dari batas aktivitas masyarakat memanfaatkan sumber daya alam sampai ke batas wilayah Provinsi Kalimantan Timur.
Fungsi dari masing-masing areal wisata di dalam rencana zona pemanfaatan tersebut adalah :
a. Areal wisata intensif
1) Areal pelayanan pengunjung (service area), segala fasilitas permanen untuk pelayanan pengunjung yaitu pondok pengunjung, pusat informasi pengunjung (visitor information centre), darmaga perahu, shelter, menara pengamatan
satwa, canopy trail, sarana komunikasi (telephone/pemancar radio komunikasi).
2) Pintu gerbang menuju daerah tujuan (welcome area).
3) Areal budidaya tanaman oleh masyarakat secara terbatas, terutama pembatasan pada lokasi yang berdekatan dengan lokasi pembangunan fasilitas wisata.
4) Areal yang menjadi lokasi aktivitas masyarakat setempat yaitu berburu secara tradisional, menangkap ikan dan memungut hasil hutan.
b. Areal Wisata Umum
1. Areal koridor antara 2 (dua) pusat kunjungan wisata yaitu Desa Nanga Bungan dan Tanjung Lokang.
2. Jalar transportasi masyarakat Desa Tanjung Lokang ke Desa Nanga Bungan atau ke ibukota kabupaten (Putussibau).
3. Areal budidaya tanaman oleh masyarakat Desa Bungan dan Desa Tanjung Lokang berupa kegiatan berladang dan berkebun.
4. Areal yang diperkenankan untuk aktivitas masyarakat setempat yaitu berburu secara tradisional, menangkap ikan dan memungut hasil hutan.
5. Terdapat objek wisata berbentuk sungai yaitu Sungai Bungan yang menjadi destinasi atrasi penjelajahan sungai. Hasil Penilaian objek dengan Kriteria Standar ODTWA diperoleh nilai 930 sedangkan nilai maksimum yang dapat diperoleh adalah 1030. Berarti kondisi objek wisata perlu peningkatan pengelolaan.
c. Areal Wisata Alami
1) Di dalam areal wisata alami berupa hutan primer yang belum terganggu. Objek-objek wisata yang ada di dalamnya berupa jeram dan gua pra sejarah. 2) Pada areal ini masyarakat hanya boleh memungut hasil hutan non kayu,
berburu secara tradisional dan menangkap ikan, sedangkan kegiatan perladangan dan pembukaan lahan tidak diperkenankan.
3) Terdapat objek wisata berbentuk sungai, dan jeram yang masih alami. Sedangkan objek berbentuk gua dari hasil penilaian dengan Kriteria Standard ODTWA, terdapat beberapa gangguan terhadap objek oleh tingkah laku
manusia. Sehingga perlu pengelolaan khusus untuk memulihkan kondisi alami gua-gua tersebut.
d. Areal Wisata Alami Khusus
1) Kegiatan wisata pada areal ini memang hanya dibatasi untuk satu kegiatan wisata yaitu Lintas Borneo.
2) Penilaian dengan Kriteria Estandar ODTWA, objek wisata berbentuk darat yaitu jalur lintas borneo masih memperlihatkan nilai alami yang tinggi.
3) Kondisi areal yang masih alami dan merupakan habitat berbagai satwa liar, satu diantarnya merupakan satwa endemik dengan nama lokal Kelampiau (Hylobathes mullerii). Berdasarkan Peta Tipe Ekosistem, pada areal ini sebagian besar merupakan ekosistem Dipterocarpaceae dataran tinggi dan Tipe Hutan Pegunungan yang memiliki fungsi ekologis penting sebagai habitat satwa liar. Sehingga pengunjung yang melalui areal ini harus didampingi oleh pemandu untuk menghindari dampak negatif pada areal tersebut.
4) Pada areal ini tidak diperkenankan kegiatan pemungutan hasil hutan. e. Areal Khusus Perlindungan Masyarakat
Dua lokasi pemukiman yaitu Desa Nanga Bungan dan Desa Tanjung Lokang dijadikan areal khusus karena ada kehidupan tradisional di lokasi ini yang harus tetap terjaga. Pada areal ini tidak diperkenankan untuk membangun dan menyelenggarakan aktivitas wisata. Hal ini untuk menghindari terjadinya degradasi nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat akibat hadirnya wisatawan yang sebagian besar berbudaya asing.